Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Dinamika Fungsi Keluarga Pasca Reunifikasi Anak Korban Kekerasan Seksual Di Kabupaten Garut Sri Pujiati; Parwitaningsih Parwitaningsih; Nur Hayati
Sosioglobal Vol 7, No 2 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v7i2.45654

Abstract

ABSTRAK Kekerasan seksual merupakan kejahatan yang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak yang seringkali dianggap sebagai kelompok yang rentan. Pemerintah Indonesia menyatakan sepanjang tahun 2021, sekitar 58,6 persen kasus kekerasan terhadap anak adalah kekerasan seksual. Salah satu kasus yang dilaporkan adalah kasus enam anak di Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, yang mengalami kekerasan seksual oleh pemilik Yayasan tempat mereka mengenyam pendidikan formal dan keagamaan. Kejadian kekerasan seksual ini tentunya berdampak tidak hanya bagi para korban tetapi juga bagi keluarga mereka yang mau tidak mau harus menerima kondisi baru anaknya.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana proses reunifikasi korban dilakukan dan dinamika fungsi keluarga korban pasca proses reunifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian lapangan diketahui bahwa para korban melalui proses reunifikasi yang diadakan oleh pemerintah daerah. Namun, terjadi pergeseran fungsi dalam keluarga korban pasca proses reunifikasi, terutama pada keluarga korban yang memiliki anak akibat kekerasan seksual yang dialaminya. Kata Kunci: Fungsi Keluarga, Kekerasan Seksual, Kekerasan Seksual Anak, Reunifikasi. ABSTRAK Pelecehan seksual merupakan kejahatan yang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak yang seringkali dianggap sebagai kelompok rentan. Pemerintah Indonesia menyatakan sepanjang tahun 2021, sekitar 58,6 persen kasus kekerasan terhadap anak adalah kekerasan seksual. Salah satu kasus yang dilaporkan adalah kasus enam anak di Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, yang mengalami pelecehan seksual oleh pemilik yayasan tempat mereka mengenyam pendidikan formal dan keagamaan. Kejadian pelecehan seksual ini tentunya berdampak tidak hanya bagi para korban tetapi juga bagi keluarga mereka yang mau tidak mau harus menerima kondisi baru anaknya.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana proses reunifikasi korban dilakukan dan dinamika fungsi keluarga korban pasca proses reunifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian lapangan diketahui bahwa para korban melalui proses reunifikasi yang diadakan oleh pemerintah daerah. Namun, terjadi perubahan fungsi dalam keluarga korban pasca proses reunifikasi, terutama pada keluarga korban yang memiliki anak akibat pelecehan seksual yang dialaminya. Kata kunci: Fungsi keluarga, Pelecehan seksual anak, Reunifikasi, Pelecehan Seksual.
Terpaan Lingkungan terhadap Kesetaraan Gender dalam Keluarga Parwitaningsih Parwitaningsih; Hendrikus Ivoni Bambang Prasetyo; Nur Hayati; Sri Pujiati
Jurnal Humaya: Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya.v3i1.4927

Abstract

Gender socialization in the family is intended for children to learn about gender roles. It is the family that begins to teach a boy to adhere to masculine traits and a daughter to adhere to feminine traits. This gender learning process is often influenced by factors outside the family which then have an impact on gender equality. Therefore, research was conducted to examine how the environment influences the implementation of gender equality in the family. This study used a combined approach to collect and analyze quantitative and qualitative data because researchers wanted to see trends in data regarding the influence of the environment on gender equality in the family. The results of the study showed that the environment has a significant influence on the implementation of gender equality in the family. The higher the environmental exposure, the higher tendency of respondents not to implement gender equality. This means that there are still differences between boys and girls related to the type of task, type of toys, type of character, pride, and type of color. Every boy or girl already has their own references that have been determined by the family and influenced by the environment. The neighboring factor becomes the dominant factor, in which respondents are aware of these differences, compared to the mass media, friends, and parents. This implies that neighbors are a factor that has a significant influence on respondents in applying differentiation.
Women: Between Solidarity and Tradition in Society Puspita Wulandari, Puspita Wulandari; Sri Pujiati, Sri Pujiati; Dwi Arief, Dwi Arief
Sosioglobal Vol 8, No 2 (2024): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v8i2.51869

Abstract

ABSTRAKArtikel ini membahas mengenai peran perempuan dalam tradisi Majengan di Kabupaten Indramayu, yang seringkali dipertanyakan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Praktik mempromosikan perempuan di belakang seperti pada dapur dan sumur seringkali mengabaikan potensi dan peran sesungguhnya yang dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengungkap nilai pengakuan terhadap peran perempuan, tidak hanya terbatas pada peran dan posisi fisiknya, tetapi juga pada hasil kontribusi yang mereka berikan. Pendekatan analisis fenomenologi digunakan untuk mengekplorasi urgensi peran perempuan dalam konteks tradisi kemasyarakatan, terutama di masyarakat Indramayu, Jawa Barat. Konstruksi sosial tentang perempuan mempengaruhi cara perempuan ditempatkan dalam struktur sosial secara lebih luas, sementara di sisi lain, solidaritas diantara perempuan menciptakan kekuatan kolektif yang memungkinkan perempuan untuk tetap relevan dalam lingkungan sosial masyarakat. Temuan penelitian menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam struktur sosial masyarakat Indramayu. Solidaritas diantara perempuan menjadi sumber kekuatan yang mendorong pemberdayaan perempuan dalam ranah sosial kemasyarakatan. Melalui temuan ini, kita memahami bahwa peran perempuan tidak hanya terbatas pada ranah domestic, tetapi mampu menggunakan ranah domestic sebagai pijakan awal dalam upaya pemberdayaan perempuan dalam struktur sosial masyarakat yang lebih luas. Kata kunci: Nilai Perempuan, Sistem Sosial, Solidaritas ABSTRACTThis article discusses the role of women in Majengan tradition in Indramayu district, which is often questioned in various social activities. The practice of promoting women in the back like in the kitchen and wells often ignores the real potential and role that the woman herself has. The aim of this article is to reveal the value of recognition of women's roles, not only limited to their physical roles and positions, but also to the results of their contributions. The phenomenological analysis approach is used to explore the urgency of the role of women in the context of social tradition, especially in Indramayu, West Java. The social construction of women affects the way women are placed in the broader social structure, while on the other hand, solidarity among women creates collective forces that enable women to remain relevant in the social environment of society. Research findings confirm that women have an important role in the social structure of Indramayu society. Solidarity among women is a source of strength that encourages women's empowerment in the social sphere of society. Through these findings, we understand that women's roles are not only limited to the domestic sphere, but are able to use domestic as a starting point in efforts to empower women in the wider social structure of society.Keywords: Social system, Solidarity, Women's values.  
Membangun Kehidupan Pasca Migrasi: Sebuah Kajian tentang Ketahanan Keluarga dan Modal Sosial dalam Proses Strukturasi Sosial Purna Pekerja Migran di Desa Sende Pujiati, Sri; Parwitaningsih, Parwitaningsih; Arief, Dwi; Laili, Fuji Nurul
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.67431

Abstract

ABSTRAKFenomena pekerja migran Indonesia (PMI) telah menjadi strategi keluarga perdesaan dalam meningkatkan kesejahteraan, termasuk di Desa Sende, Kabupaten Cirebon. Meskipun memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, kehidupan pasca migrasi sering kali menghadirkan tantangan baru bagi purna pekerja migran dan keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika ketahanan keluarga, modal sosial dan proses strukturasi sosial dalam membangun kehidupan pasca migrasi purna pekerja migran di Desa Sende. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi fenomenologi melalui teknik wawancara mendalam dengan purna pekerja migran, keluarga, tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan keluarga menjadi fondasi utama yang menopang purna pekerja migran dalam menghadapi hambatan ekonomi-sosial, dengan dukungan dari pasangan, orang tua dan keluarga besar. Modal sosial yang terbangun melalui jaringan antar keluarga migran dan difasilitasi oleh pemerintah desa berperan sebagai instrumen penting dalam mendorong usaha produktif kolektif, seperti penggilingan padi, peternakan ayam dan usaha rumah tangga. Selanjutnya, proses strukturasi sosial tercermin dari terbentuknya pola relasi baru yang inklusif, di mana masyarakat non-migran turut terlibat dalam aktivitas ekonomi purna pekerja migran, sehingga memperluas distribusi kesempatan kerja sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan reintegrasi purna pekerja migran di Desa Sende merupakan hasil dari interaksi antara ketahanan keluarga, pemanfaatan modal sosial dan intervensi kebijakan desa yang melahirkan struktur sosial baru.Kata kunci: Ketahanan Keluarga, Modal Sosial, Purna Pekerja Migran, Strukturasi SosialABSTRACTThe phenomenon of Indonesian migrant workers (PMI) has become a strategy for rural families to improve their welfare, including in Sende Village, Cirebon Regency. Although they make a significant economic contribution, post-migration life often presents new challenges for former migrants and their families. This study aims to analyze the dynamics of family resilience, social capital, and the process of social structuring in building the post-migration lives of former migrant workers in Sende Village. The method used is a qualitative approach with a phenomenological study through in-depth interviews with former migrant workers, families, community leaders, and stakeholders. The results show that family resilience is the main foundation that supports former migrant workers in facing economic and social obstacles, with support from spouses, parents, and extended families. Social capital built through networks between migrant families and facilitated by the village government plays an important role in encouraging collective productive enterprises, such as rice mills, chicken farms, and household businesses. Furthermore, the process of social structuring is reflected in the formation of new inclusive relationship patterns, in which non-migrant communities are involved in the economic activities of former migrant workers, thereby expanding the distribution of employment opportunities and strengthening social solidarity. This study concludes that the successful reintegration of former migrant workers in Sende Village is the result of the interaction between family resilience, the utilization of social capital, and village policy interventions that have given rise to a new social structure.Keywords: Family Resilience, Retired Migrant Workers, Social Capital, Social Structuration