Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Transforming Heritage: Analyzing Cultural Capital and Value Shifts in Indonesia's Ngunjung Buyut Tradition Arief, Dwi; Komariah, Siti; Wulandari, Puspita
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/z10ewc27

Abstract

Social change and modernization have impacted various traditions in Indonesia, including Ngunjung Buyut, an ancestral homage tradition that holds significant meaning for the Indramayu community, West Java. In the context of changing times, this tradition has undergone a shift in values. This research employs a qualitative approach with a case study method conducted in Penganjang Village, Indramayu Regency. Data collection was carried out through in-depth interviews and participatory observation involving informants from both older and younger generations. Data analysis focuses on identifying forms of cultural capital that have emerged within the Ngunjung Buyut tradition in the contemporary era. Findings indicate that objectified cultural capital, such as ngarak processions and artistic performances, has become the primary attraction for younger participants, shifting the focus away from religious activities like communal prayer. While these supporting activities have successfully increased youth engagement, this shift poses a risk to the internalization of religious values. Additionally, this transformation has created a new dynamic in social solidarity, where recreational aspects now overshadow the tradition’s original spiritual significance. Perubahan sosial dan modernisasi telah memengaruhi berbagai tradisi di Indonesia, termasuk Ngunjung Buyut, tradisi penghormatan leluhur yang penting bagi masyarakat Indramayu, Jawa Barat. Dalam konteks perkembangan zaman, tradisi ini mengalami pergeseran nilai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di Desa Penganjang, Kabupaten Indramayu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif yang melibatkan informan dari golongan tua dan muda. Analisis data berfokus pada identifikasi bentuk modal budaya yang terbentuk dalam tradisi Ngunjung Buyut di era sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objectified cultural capital, seperti kegiatan ngarak dan pertunjukan seni, kini menjadi daya tarik utama bagi generasi muda, menggeser fokus dari kegiatan religius seperti doa bersama. Meskipun kegiatan pendukung berhasil meningkatkan partisipasi generasi muda, pergeseran ini menimbulkan risiko berkurangnya internalisasi nilai keagamaan. Selain itu, perubahan ini juga menciptakan dinamika baru dalam solidaritas sosial, di mana aspek rekreatif lebih menonjol dibandingkan dengan makna spiritual awal tradisi.
SPIRITUAL TRANSFORMATION: A RELIGIOUS PERSPECTIVE FOR ADDRESSING GANGSTERISM THROUGH THE PRACTICES OF PADEPOKAN SAPU JAGAT EAST JAVA Fadillah, Annisa; Arief, Dwi; Trianti, Rani; Pradana, Dhiyaa Rifqi; Azis, Abdul
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v18i1.2955

Abstract

The prevention and management of social issues that are considered normal are addressed using legal methods, such as implementing social penalties and legal-formal penalties through the court system. This study aims to propose a religious perspective as a means of addressing gangsterism. The research aims to elucidate the application of spiritual principles by the social institution, Padepokan Sapu Jagat, to those who have previously engaged in thuggery. This study employs a qualitative approach through the use of a case study methodology. Data gathering strategies were carried out in three ways, namely: 1) Firstly. The methods employed include the utilization of visual media such as photographs and movies, as well as direct observation at Padepokan Sapu Jagat Sukabumi. Conducted semi-structured interviews with 5 administrators of hermitages and 9 individuals who were previously involved in acts of thuggery. The findings indicated that Padepokan Sapu Jagad used the practice of pencak silat, which encompasses spiritual principles, as a method of exerting social influence over former delinquents. The spiritual ideals are derived from the Qur'an and Hadith, aiming to facilitate a constant transformation in the social conduct of former criminals.Pencegahan dan penanganan masalah sosial normatif dilakukan melalui pendekatan hukum, seperti pemberian sanksi sosial dan sanksi legal-formal melalui proses lembaga peradilan. Penelitian ini bermaksud menawarkan pendekatan relijius sebagai salah satu upaya untuk menangani premanisme. Fokus dari studi adalah mendeskripsikan bagaimana institusi sosial yakni Padepokan Sapu Jagat menerapkan nilai-nilai spiritual kepada mantan pelaku premanisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara, yaitu: 1). Dokumentasi dalam bentuk foto dan video; 2) observasi ke Padepokan Sapu Jagat Sukabumi; dan 3). Wawancara semi terstruktur ke 5 pengurus padepokan dan 9 mantan pelaku aksi premanisme. Hasil penelitian menunjukan bahwa Padepokan Sapu Jagad menggunakan pencak silat yang memiliki muatan nilai-nilai spiritual sebagai sarana kontrol sosial para mantan preman. Nilai-nilai spiritual ini diambilkan dari teks Al Quran dan Hadist (perkataan Nabi Muhammad) dengan tujuan agar mantan preman dapat secara konsisten merubah perilaku sosial mereka.
Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa Arief, Dwi; Khoirunnisa, Syifa
EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI ) Vol 8 No 2 (2025): Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/es.v8i2.3572

Abstract

Hadirnya perkembangan teknologi digital di kehidupan masyarakat menyebabkan perubahan secara fundamental terjadi. Perubahan tersebut dikenal dengan istilah era disrupsi yang bukan hanya membawa dampak positif saja, melainkan dampak negatif juga. Salah satu dampak negatifnya alah beredar berita hoax yang dapat menimbulkan suatu pertentangan. Untuk mengatasi dampak negatif yang dimaksudkan maka memerlukan suatu kemampuan, yaitu kemampuan nalar kritis. Kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh seseorang seringkali berkaitan dengan minat baca. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengindetifikasi keterkaitan antara minat baca dengan nalar kritis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data statistic deskriptif dan inferensial melalui regresi linear sederhana. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Aktif Pendidikan Sosiologi, Universitas Pendidikan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 4,015 > ttabel sebesar 1,984. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa minat baca dapat memengaruhi kemampuan nalar kritis seseorang mahasiswa.
Membangun Kehidupan Pasca Migrasi: Sebuah Kajian tentang Ketahanan Keluarga dan Modal Sosial dalam Proses Strukturasi Sosial Purna Pekerja Migran di Desa Sende Pujiati, Sri; Parwitaningsih, Parwitaningsih; Arief, Dwi; Laili, Fuji Nurul
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.67431

Abstract

ABSTRAKFenomena pekerja migran Indonesia (PMI) telah menjadi strategi keluarga perdesaan dalam meningkatkan kesejahteraan, termasuk di Desa Sende, Kabupaten Cirebon. Meskipun memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, kehidupan pasca migrasi sering kali menghadirkan tantangan baru bagi purna pekerja migran dan keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika ketahanan keluarga, modal sosial dan proses strukturasi sosial dalam membangun kehidupan pasca migrasi purna pekerja migran di Desa Sende. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi fenomenologi melalui teknik wawancara mendalam dengan purna pekerja migran, keluarga, tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan keluarga menjadi fondasi utama yang menopang purna pekerja migran dalam menghadapi hambatan ekonomi-sosial, dengan dukungan dari pasangan, orang tua dan keluarga besar. Modal sosial yang terbangun melalui jaringan antar keluarga migran dan difasilitasi oleh pemerintah desa berperan sebagai instrumen penting dalam mendorong usaha produktif kolektif, seperti penggilingan padi, peternakan ayam dan usaha rumah tangga. Selanjutnya, proses strukturasi sosial tercermin dari terbentuknya pola relasi baru yang inklusif, di mana masyarakat non-migran turut terlibat dalam aktivitas ekonomi purna pekerja migran, sehingga memperluas distribusi kesempatan kerja sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan reintegrasi purna pekerja migran di Desa Sende merupakan hasil dari interaksi antara ketahanan keluarga, pemanfaatan modal sosial dan intervensi kebijakan desa yang melahirkan struktur sosial baru.Kata kunci: Ketahanan Keluarga, Modal Sosial, Purna Pekerja Migran, Strukturasi SosialABSTRACTThe phenomenon of Indonesian migrant workers (PMI) has become a strategy for rural families to improve their welfare, including in Sende Village, Cirebon Regency. Although they make a significant economic contribution, post-migration life often presents new challenges for former migrants and their families. This study aims to analyze the dynamics of family resilience, social capital, and the process of social structuring in building the post-migration lives of former migrant workers in Sende Village. The method used is a qualitative approach with a phenomenological study through in-depth interviews with former migrant workers, families, community leaders, and stakeholders. The results show that family resilience is the main foundation that supports former migrant workers in facing economic and social obstacles, with support from spouses, parents, and extended families. Social capital built through networks between migrant families and facilitated by the village government plays an important role in encouraging collective productive enterprises, such as rice mills, chicken farms, and household businesses. Furthermore, the process of social structuring is reflected in the formation of new inclusive relationship patterns, in which non-migrant communities are involved in the economic activities of former migrant workers, thereby expanding the distribution of employment opportunities and strengthening social solidarity. This study concludes that the successful reintegration of former migrant workers in Sende Village is the result of the interaction between family resilience, the utilization of social capital, and village policy interventions that have given rise to a new social structure.Keywords: Family Resilience, Retired Migrant Workers, Social Capital, Social Structuration
Ketahanan Perempuan Purna Pekerja Migran: Potret Agensi Perempuan Dalam CBO Ibu-Tin Berseri Wulandari, Puspita; Utami, Nindita Fajria; Meilani, Tati; Arief, Dwi; Hibrizi, Sultan Akmal
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.61787

Abstract

ABSTRAKKetahanan perempuan dan agensi mereka dalam berbagai konteks sosial merupakan aspek penting dalam memahami dinamika pemberdayaan gender. Artikel ini mengkaji konsep ketahanan perempuan dalam aspek ekonomi, sosial dan keluarga dengan menyoroti peran agensi perempuan, khususnya bagi perempuan purna pekerja migran. Penelitian ini dilakukan di Desa Tinumpuk, Kabupaten Indramayu dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literature. Subjek penelitian berjumlah 11 orang yang terdiri dari pengurus komunitas, perempuan purna pekerja migran, pemangku kepentingan dan keluarga pekerja migran, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agensi perempuan berperan dalam meningkatkan ketahanan keluarga melalui pengambilan keputusan strategis dalam aspek ekonomi, pendidikan dan sosial. Perempuan purna pekerja migran juga mampu mengembangkan otonomi finansial dan memperkuat peran mereka dalam keluarga maupun komunitas setelah kembali ke tanah air. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa agensi perempuan pekerja migran tidak hanya berkontribusi terhadap ketahanan keluarga, tetapi juga memperluas ruang keberdayaan di ranah sosial. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya dukungan kelembagaan dan kebijakan berbasis gender, khususnya melalui penguatan peran komunitas berbasis community based organization (CBO), untuk mempercepat proses reintegrasi sosial-ekonomi perempuan purna pekerja migran secara berkelanjutan.Kata kunci: Ketahanan perempuan, agensi perempuan, perempuan purna pekerja migran, pemberdayaan genderABSTRACT Women's resilience and agency in various social contexts are important aspects in understanding the dynamics of gender empowerment. This article examines the concept of women's resilience in economic, social, and family aspects by highlighting the role of women's agency, especially for former female migrant workers. This research was conducted in Tinumpuk Village, Indramayu Regency, using a qualitative approach and phenomenological methods through in-depth interviews, participatory observation, and literature study. The research subjects consisted of 11 people, including community leaders, female former migrant workers, stakeholders, and families of migrant workers, who were selected using purposive sampling based on their experiences. The results show that women's agency plays a role in increasing family resilience through strategic decision-making in economic, educational, and social aspects. Former female migrant workers are also able to develop financial autonomy and strengthen their roles in their families and communities after returning to their homeland. The conclusion of this study confirms that the agency of female migrant workers not only contributes to family resilience but also expands the space for empowerment in the social. The implications of this study show the importance of institutional support and gender-based policies, particularly through strengthening the role of community-based organizations (CBOs), to accelerate the process of sustainable socio-economic reintegration of former female migrant workers.Keywords: Women's resilience, women's agency, migrant workers, gender empowerment