Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

TEHNIK DASAR PENULISAN KARYA ILMIAH PENDIDIKAN Rumina, Rumina
ILJ: Islamic Learning Journal Vol. 2 No. 2 (2024): April
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam STIT al Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54437/iljjislamiclearningjournal.v2i2.1824

Abstract

The research was carried out starting from the existence of a problem. Problems are "deviations" from what should be and what happens, deviations between plans and implementation, deviations between theory and practice, and deviations between rules and implementation. The problem appears at a certain time and space. Before conducting research, a researcher must understand the rules of writing scientific papers, namely determining the study area in accordance with the study program, breaking the area into sub-regions, the researcher determining whether to study certain figures, the topic must attract the reader's attention, the topic must be The author knows that the topic should not be too technical. Original, Necessary, Scientific, Consistent and objective. The next step is to prepare a research proposal that broadly includes three main questions, namely: What will be researched?, Why researched?, How will research be done? The research design must be made systematically and logically so that it can be used as a guide that is really easy to follow. The research design, which is often called a research proposal, contains at least four main components, namely the problem, theoretical basis and hypothesis submission, research methods, organization and research schedule.
MAKNA FILOSOFI DAUN SAMBABELUM DALAM UPACARA PERKAWINAN AGAMA HINDU KAHARINGAN DI DESA PENDA NANGE KECAMATAN BUKIT RAYA KABUPATEN KATINGAN Rumina, Rumina; Arta, I Gede Arya Juni
Widya Katambung Vol 16 No 1 (2025): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v16i1.1506

Abstract

Sambabelum leaves are one of the plants that are easily found around the environment and are also found in Hindu Kaharingan wedding ceremonies. Hindu Kaharingan people generally only know their use as equipment in wedding ceremonies and consider them as ordinary plants. Based on this, this study focuses on the philosophical meaning of sambabelum leaves in Hindu Kaharingan wedding ceremonies. This study uses a qualitative method, with a field study type of research. Qualitative data is used as the main data, while quantitative data is only as additional data. Determination of informants using purposive sampling techniques. Based on the research results, it is known that sambabelum leaves (kalanchoe pinneta) have a deep philosophical meaning in the Hindu Kaharingan wedding ceremony, as follows: a). The meaning of fertility, namely sambabelum leaves symbolize the hope for healthy offspring, a prosperous family, and an abundant life. b). The meaning of purity and purification, where sambabelum leaves are used in the purification process, cleansing negative energy and bringing purity to the couple who are going to get married. c). The meaning of blessing and prosperity, namely sambabelum leaves become prayers and requests to spiritual powers to provide blessings, protection, and prosperity in married life. d). The meaning of balance, where sambabelum leaves symbolize balance and harmony between the bride and groom, as well as a balanced relationship between humans and nature. e). The meaning of togetherness, namely sambabelum leaves describe a commitment to support each other, complement each other, and share life together in joy and sorrow. f). The meaning of harmony and happiness, namely the sambabelum leaf is a symbol of hope for a married life full of happiness and success for married couples. g). The meaning of religion and tradition, namely the sambabelum leaf is part of the tradition and cultural heritage of the Hindu Kaharingan religion, strengthening the cultural identity of the local community and preserving important traditional values
EKSISTENSI MASJID AULA GONDANG DI TINJAU DARI SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM KECAMATAN PACE KABUPATEN NGANJUK Rumina, Rumina
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 11 No. 2 (2016): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.442 KB)

Abstract

Berasal dari bahasa Arab, masjid secara etimologis berarti tempat sujud. Sedangkan secara terminologis, masjid adalah tempat melakukan kegiatan ibadah dalam makna luas. Dengan demikian, masjid merupakan bangunan yang sengaja didirikan umat muslim untuk melaksanakan shalat berjamaah dan berbagai keperluan lain yang terkait dengan kemaslahatan umat muslim. Akan tetapi, bila mencermati perkembangan dewasa ini, fungsinya yang kedua ini cenderung mulai berkurang, hal ini lantaran masjid sering hanya dipahami semata-mata untuk sujud sebagaimana dilakukan dalam shalat. Masjid memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan dan membangun kapabilitas intelektual umat, kegiatan sosial kemasyarakatan, meningkatkan perekonomian umat, dan menjadi ruang diskusi untuk mencari solusi permasalahan umat terkini. Pada masa Nabi dan khulafa ar Rasyidin, masjid berfungsi sebagai tempat beribadah, menuntut ilmu, dan merencanakan kegiatan kemasyarakatan. Kaum muslimin membicarakan masalah-masalah agama, pendidikan, sosial, politik, dan berbagai masalah kehidupan di masjid, mengajak manusia pada keutamaan, kecintaan, pengetahuan, kesadaran sosial, serta pengetahuan tentang hak dan kewajiban kepada Tuhan dan Negara. Bermula dari masjid pula, mereka menyebarkan akhlak Islam dan memberantas kebodohan. Oleh karena itu, masjid merupakan tempat paling baik bagi kegiatan pendidikan dan pembentukan moral keagamaan. Prosedur penelitian: Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif, yang memiliki karakteristik alami (natural setting). Sumber data dalam penelitian ini adalah prilaku/tindakan warga masjid dan sekitarnya dan dokumen sebagai sumber utama, sedangkan sumber data lisan, dalam hal ini diperolah melalui wawancara, adalah sumber data tambahan yang akan digunakan jika diperlukan. Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, dan wawancara. Setelah data terkumpul, untuk selanjutnya data tersebut diklasifikasikan dan dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif analitik. Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaruhi dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas). Derajat kepercayaan keabsahan data (kredebilitas) dapat diadakan pengecekkan dengan tehnik pengamatan yang tekun, dan triangulasi. Hasil penelitian: Ditinjau dari segi sosiologi pendidikan Islam, masjid Aula Gondang adalah masjid yang mempunyai peran besar dalam kehidupan masyarakat Gondang. Masjid Aula telah mampu melaksanakan fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah. Namun lebih dari itu bisa diikatakan bahwa masjid Aula bisa menjadi agen perubahan sosial masyarakat. Untuk menunjukan eksistensi masjid Aula sebagaimana yang disebut di atas, pihak Masjid Aula melakukan beberapa tindakan berikut ini: 1) Mengintensifkan Kajian-kajian Keislaman (Majelis Ta’lim). 2)Melibatkan pemuda dalam kegiatan di masjid Aula, baik kegiatan rutin maupun kegiatan yang bersifat insidental. 3)Mendirikan perpustakaan masjid.
EFEKTIFITAS KINERJA KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU Rumina, Rumina
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 12 No. 1 (2017): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.27 KB)

Abstract

Pada dasarnya tingkat kompetensi pedagogik guru dipengaruhi oleh faktor dari dalam guru itu sendiri yaitu bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan yang diemban. Sedangkan faktor luar yang berpengaruh terhadap kompetensi profesional seorang guru yaitu kepemimpinan kepala sekolah dimana kepala sekolah menurut Wahyosumidjo adalah “seorang tenaga fungsional guru diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat dimana terjadi interaksi antar guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran”.Di dalam lingkungan pendidikan sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab penuh untuk mengelola dan memberdayakan para guru agar terus meningkatkan kemampuan kerjanya. Selain itu seorang kepala sekolah juga harus mampu membatu guru dalam meberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan masyarakat yang terus berkembang. Dalam hal inilah peran kepala sekolah sebagai supervisor yang setiap hari berhadapan dengan guru harus diterapkan.Dalam peningkatan kompetensi guru dapat dicapai dengan cara pendidikan In-Service yaitu dengan cara mengikutkan pelatihan-pelatihan sesuai dengan bidangnya baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan yang ada; pertemuan guru yang disebut MGBS (musyawarah guru bidang studi) yang dilaksanakan baik secara intern di sekolah maupun hubungan antar sekolah; penataan-penataan personalia sesuai dengan tugasnya masing-masing, pembinaan disiplin, pemberian motifasi serta penghargaan kepada guru.Dan faktor yang mempengaruhi peningkatan kompetensi pedagogik guru dapat dibedakan atas faktor internal yaitu berupa kesiapan mental serta faktor eksternal yaitu berupa dana dan waktu yang dimiliki oleh seorang guru.
Pengembangan Potensi Staf Lembaga Pendidikan Islam Dalam Peningkatan Kinerja Rumina, Rumina
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 13 No. 2 (2017): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.255 KB)

Abstract

Komponen yang tak lepas dari organisasi adalah staf. Staf adalah salah satu dari komponen yang memiliki peranan cukup penting dalam mengembangkan organisasi. Tidak adanya staf yang professional akan menyebabkan kemunduran suatu lembaga. Antara satu staf dengan staf yang lain (baru dan lama,senior dan junior) berbeda, apakah dari profesionalismenya atau dari kesiapan dalam mengemban tugas. Setiap organisasi/staf harus tumbuh dan berkembang seirama dengan tuntutan zaman, untuk dapat tumbuh kembang , maka harus didukung oleh kualitas pegawai (staf) yang memadai, karena itulah diperlukan pengembangan staf (employee development) Pengembangan potensi staf dalam mencapai kinerja yang baik harus didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan organisasi yang harus seharusnya dicapai. Akan tetapi sebelum mengadakan pengembangan dan selanjutnya pelatihan, seorang pimpinan harus memiliki ketrampilan, antara lain: teknis, professional, interpersonal, manajerial, administrative,directing, coordinating, dan decion making. Model pengembangan yang dapat digunakan adalah on the job programs: pengembangan yang dilaksanakan berdasarkan pengalaman langsung dalam bekerja di organisasi tertentu. Dan Off the job programs: Model pengembangan diluar jabatan yang dilaksanakan secara formal misalnya melalui kursus-kursus, pendidikan dan pelatihan. Sedangkan dalam pengembangan tersebut juga harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar pelasanaan program. Sehingga pengembangan yang dicanangkan dapat membuahkan hasil yang diinginkan. Pemimpin yang efektif adalah mereka yang dapat mengadaptasikan diri pada situasai yang bervariasai, dan kepemimpinan yang demokratis, dengan memperhatikan pendekatan “situasional” pada organisasi dapat meningkatkan produktivitas kinerja staf.
Sekolah Unggulan Sebagai Upaya Membentuk Generasi Bangsa Yang Berkualitas Dan Religius Rumina, Rumina
Tasyri` : Jurnal Tarbiyah-Syari`ah-Islamiyah Vol. 26 No. 2 (2019): October 2019
Publisher : LPPM STAI Ihyaul Ulum Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29138/tasyri.v26i2.75

Abstract

In carrying out the development of a nation, it takes a tough and qualified and moral generation. For this reason, one way to establish a quality and moral generation requires quality education. One way that can be taken to realize these ideals is to form a superior school that is expected later with a superior school will be born of generations of people who are superior and qualified to continue the struggle and development of this beloved Indonesian Nation. How to form superior schools that are expected to be able to produce qualified and religious national generations. In carrying out a country's development process, it turns out to require a formidable generation physically, mentally and spiritually. Just being physically healthy does not guarantee success, and even spiritual mental health but physically fragile, and even that will result in less than perfect results of a development. And it turns out that with a superior school, it will be able to produce a quality generation of the nation both physically, mentally and spiritually. And to form a superior school itself, an educational institution, must implement its role and function as an educational institution optimally. Besides that the factors that influence the success of an institution in order to excel must be met as a whole. Because all aspects greatly influence the development of an educational institution. For this reason, optimizing all roles and functions in each element of the institution will strongly support the realization of a superior school which will produce quality and moral output. Factors that determine the success of superior schools are internal factors that are formed from the students themselves and the external factors which include curriculum, programs, facilities, facilities and good school teachers who are able to produce generations of creative and moral personalities.
Analisis Teoretis Model Hybrid Penelitian Tindakan Kelas Berbasis Digital Ethnography Rumina, Rumina
AR ROSYAD: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Qur'an And Culture Studies
Publisher : LPPM IAI Hasanuddin Pare-Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55148/pcakqp52

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa implikasi mendalam terhadap praktik dan dinamika pembelajaran di lingkungan pendidikan. Penelitian ini menyajikan analisis teoretis terhadap sebuah model hybrid metodologis yang menggabungkan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan Digital Ethnography untuk mendeteksi perubahan-perubahan dalam perilaku belajar peserta didik secara lebih kontekstual dan real-time. Model hybrid ini dirancang untuk memadukan kekuatan refleksi siklus PTK dengan kedalaman pemahaman pola interaksi digital melalui etnografi maya — mencakup aktivitas pada platform pembelajaran daring, interaksi sosial mediasosial akademik, serta partisipasi dalam Learning Management System (LMS). Kajian ini mengeksplorasi dasar filosofis, kerangka teoritik, serta prosedur operasional model — termasuk strategi triangulasi data dan etika penelitian di ruang digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa model hybrid PTK–Digital Ethnography menawarkan validitas ekologis yang lebih tinggi, sensitifitas lebih besar terhadap perubahan perilaku belajar dalam konteks digital, serta dokumentasi yang lebih komprehensif dibandingkan PTK konvensional. Oleh karena itu, model ini direkomendasikan sebagai paradigma metodologis kontemporer untuk penelitian pendidikan di abad ke-21, terutama dalam konteks pembelajaran yang semakin terdigitalisasi.