Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Produk Selai Bunga Mawar Untuk Mendukung Ekonomi Lokal Bandungan Semarang Denny Kurniawati; Achmad Syaichu; Putut Ade Irawan; Dewi M.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Peduli Aksi (JPAKSI) Vol. 1 No. 01 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Peduli Aksi (JPAKSI)
Publisher : Jurnal Pengabdian Masyarakat Peduli Aksi (JPAKSI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman bunga mawar merah (Rosa damascena) memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap berbagai kondisi iklim, sehingga dapat tumbuh baik di wilayah subtropis/dingin maupun wilayah beriklim tropis/panas seperti Indonesia. Bunga mawar memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami. Beberapa senyawa kimia yang terdapat dalam bunga mawar antara lain tannin, geraniol, nerol, citronellol, asam geranik, terpene, flavonoid, pektin, polifenol, vanillin, karotenoid, stearopten, farnesol, eugenol, feniletil alkohol, serta vitamin B, C, E, dan K. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam mengenai teknik dan aspek ekonomi dalam pengolahan bunga mawar di daerah Bandungan Ambahrawa, yang dirumuskan adalah Untuk mengetahui teknik pengolahan bunga mawar menjadi produk bernilai tambah di daerah Bandungan Ambahrawa agar tidak terbuang percuma serta Untuk mengetahui perhitungan Harga Pokok Produksi dari produk selai mawar. Dari Analisa diatas bisa disimpulkan bahwa Mengolah kelopak mawar menjadi selai yang dapat dijual sebagai produk kuliner khas. Proses ini melibatkan pencucian kelopak, perendaman dengan gula, dan pengolahan hingga menjadi selai. Perhitungan Harga Pokok Produksi dari produk selai mawar adalah dengan menjumlahkan semua biaya dari kategori bahan baku, bahan pendukung, tenaga kerja, dan overhead variabel, total biaya produksi mencapai Rp 59,330. Jumlah unit yang diproduksi adalah 20 unit. Oleh karena itu, harga pokok produksi per pcs adalah Rp 2.967,00 yang diperoleh dari total biaya produksi dibagi jumlah unit produksi
Pembuatan dan Ujicoba Probiotik Untuk Budidaya Ikan Lele di Pondok Modern Sumber Daya At-Taaqwa Kabupaten Nganjuk Putut Ade Irawan; Agustin Sukarsono; Achmad Syaichu
JMM - Jurnal Masyarakat Merdeka Vol. 9 No. 1 (2026): MEI
Publisher : Universitas Merdeka Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51213/jmm.v9i1.209

Abstract

Budidaya ikan lele Sangkuriang di Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (Pomosda), Desa Tanjunganom, Nganjuk, menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Selama ini, para pembudidaya menghadapi tantangan serius penggunaan pestisida secara masif telah mengganggu keseimbangan mikrobiota air kolam, meruntuhkan populasi bakteri pengurai, dan pada akhirnya merenggut nyawa ikan-ikan yang seharusnya bisa tumbuh optimal. Melihat kondisi ini, tim pengabdian masyarakat hadir bukan sekadar membawa ilmu, melainkan membawa harapan yang dapat diolah dengan tangan sendiri. Solusi yang ditawarkan sederhana namun berdampak luar biasa, probiotik berbahan lokal. Dengan memanfaatkan molase dan kultur starter yang mudah dijangkau, masyarakat diajak memahami bahwa kekuatan sesungguhnya ada di sekitar mereka. Melalui rangkaian sosialisasi dan pelatihan fermentasi selama tujuh hari, para peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu menciptakan solusi sendiri. Hasilnya berbicara nyata, Uji laboratorium membuktikan probiotik yang dihasilkan mengandung Saccharomyces cerevisiae sebanyak 4,9 × 106 CFU/mL, Lactobacillus acidophilus 9,1 × 106 CFU/mL, dan Bacillus subtilis 2,0 × 102 CFU/mL — komposisi yang ideal untuk mendukung ekosistem kolam. Ketika diaplikasikan pada pakan dengan dosis 1,5 ml/g, lele Sangkuriang tumbuh mencapai panjang 14,88 cm, berat 26,60 g, dan survival rate membanggakan sebesar 94%, dalam kondisi suhu 270C dan pH 7 yang terjaga sempurna. Lebih dari sekadar angka, keberhasilan ini mencerminkan perubahan nyata dalam cara pandang masyarakat terhadap budidaya berkelanjutan. Ketika kualitas air membaik, pencernaan ikan lebih optimal, dan daya tahan tubuh lele meningkat, para pembudidaya pun merasakan bahwa ilmu pengetahuan bisa benar-benar berpihak pada mereka. Inilah esensi pengabdian yang sesungguhnya — ilmu yang hidup, bermanfaat, dan mengakar di tengah masyarakat.