Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Analisis GC-MS dari Senyawa Bioaktif Ekstrak Etanol Daun Tanaman Sirsak (Annona muricata L.) sebagai Obat Tradisional I Putu Bayu Agus Saputra; Ni Made Wiasty Sukanty
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 12, No 1 (2024): June
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v12i1.10330

Abstract

Soursop leaves (Annona muricata L.), have long been recognized in various parts of the world, especially in tropical regions, as a plant with various health benefits and traditional uses. The rich history of its use has been intertwined in various cultures, where the leaves are used not only as a food ingredient, but also as a herbal medicine. The phytochemical content in soursop leaves, such as acetogenin, alkaloids, and flavonoids has been the subject of intensive research in the last decade, highlighting their potential in treating a variety of health conditions, from inflammation to anti-cancer potential. The chemical structure and biological activity of these compounds have attracted the attention of researchers, especially in the search for alternative therapies for difficult-to-treat diseases. Soursop leaf extract has antioxidant, antimicrobial, antiparasitic, and antitumor properties that offer new insights into its therapeutic potential. This research method uses the maceration method, where soursop leaves will be extracted using ethanol solvent and then the compounds contained in the extract will be analyzed using Gas-Mass Spectrometry (GC-MS). The results of GC-MS analysis show that soursop leaves contain the compounds 2,3-Dihydro-3,5-dihydroxy-6-methyl-4H-pyran-4-one, Trans-Caryophyllene, Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid, 2-Hexadecen- 1-ol, 3,7,11,15-tetramethyl (Phytol), 9,12-Octadecadienoic acid (Z,Z) - (CAS) Linoleic acid, 9,12,15-Octadecadienoic acid methyl ester, Octadecanoic acid (CAS ) Stearic acid. The results of the analysis of compounds in soursop leaves can be a reference for further research to develop the potential of soursop fruit which leads to traditional medicine.
POTENSI INHIBITOR SENYAWA PADA SUKUN (Artocarpus altilis) TERHADAP PROTEIN POLY (ADP-RIBOSE) POLYMERASE 2 (PARP2) PADA KANKER OVARIUM DENGAN MODEL MOLECULAR DOCKING: Inhibitor Potency of Compounds in Breadfruit (Artocarpus altilis) Against Protein Poly (ADP-Ribose) Polymerase 2 (PARP2) in Ovarian Cancer with The Molecular Docking Model I Putu Bayu Agus Saputra; Ni Made Wiasty Sukanty; I Putu Deddy Arjita; I Gede Angga Adnyana
Biomedika Vol 15, No 1 (2023): Biomedika Februari 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v15i1.1748

Abstract

ABSTRACT Ovarian cancer is the third leading cause of cancer death in Indonesia. The mechanism of cancer needs to be understood to create drugs that play a role in inhibiting the development of cancer cells. PARP is a prime protein in cancer cell development. PARP is a target of chemotherapy, namely through its inhibition by 3-aminobenzamide compounds. Treatment using natural ingredients is safer than using synthetic drugs. Breadfruit (Artocarpus altilis) is a plant that grows in Indonesia. It is efficacious because it contains many compounds used in the manufacture of various types of drugs. The PARP receptor (3KCZ) was examined for the value of binding affinity with the flavonoid derivative ligands contained in breadfruit (Artocarpus altilis) using the help of the software Pyrx version 0.8. The test results showed tamoxifen (-8 kcal/mol), quercetin (-8 kcal/mol), cyclocommunal (-9.6 kcal/mol), morusin (-6.7 kcal/mol), and cyclomulberrin (-9 kcal /mol) have a lower binding affinity value compared to 3-aminobenzamide (-6.6 kcal/mol) which is the native ligand of PARP. These results prove that the flavonoid-derived compounds in breadfruit can potentially act as PARP inhibitors in ovarian cancer cells. ABSTRAK Kanker ovarium merupakan kanker penyebab kematian ketiga terbesar di Indonesia. Mekanisme kanker sangat perlu dipahami untuk menciptakan obat yang berperan menghambat perkembangan sel kanker. PARP merupakan protein yang berperan penting pada perkembangan sel kanker. PARP telah terbukti dapat menjadi target kemoterapi, yaitu melalui penghambatannya oleh senyawa 3-aminobenzamide. Pengobatan menggunakan bahan alami lebih aman dibandingkan penggunaan obat sintetis. Sukun (Artocarpus altilis) merupakan tumbuhan yang tumbuh di Indonesia yang berkhasiat karena mengandung senyawa yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan berbagai jenis obat. Reseptor PARP (3KCZ) dilihat nilai binding affinity dengan ligan turunan flavonoid yang terkandung pada sukun (Artocarpus altilis) menggunakan bantuan softwere pyrx versi o,8. Hasil uji menunjukkan senyawa tamoxifen (-8 kcal/mol), quercetin (-8 kcal/mol), cyclocommunal (-9,6 kcal/mol), morusin (-6,7 kcal/mol), dan cyclomulberrin (-9 kcal/mol) memiliki nilai binding affinity yang lebih kecil dibandingkan dengan 3-aminobenzamide (-6,6 kcal/mol) yang merupakan native ligan dari PARP. Hasil ini membuktikan bahwa senyawa-senyawa turunan flavonoid pada sukun dapat berpotensi sebagai inhibitor PARP pada sel kanker ovarium.
UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN RENGGAK (Amomum dealbatum) SEBAGAI BIOLARVASIDA LARVA NYAMUK Aedes aegypti Farida Ariani; Ni Made Wiasty Sukanty; Lina Yunita
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 4 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i4.11775

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit disebabkan oleh virus dengue yang dapat ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Jumlah kasus DBD yang dilaporkan oleh World Health Organization (WHO) semakin meningkat dari 2,5 juta pada tahun 2010 menjadi 4,2 juta pada tahun 2019. Pada tahun 2021, WHO memperkirakan jumlah infeksi DBD secara global sekitar 100-400 juta setiap tahunnya. Penggunaan larvasida kimia secara terus menerus dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan resistensi pada organisme target. Alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah menggunakan larvasida alami dengan memanfaatkan senyawa aktif pada tanaman yaitu daun Renggak (Amomum dealbatum). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektifitas ekstrak daun Renggak dengan abate (temephos) terhadap jumlah kematian larva Aedes aegypti. Jenis rancangan dalam penelitian ini adalah Posttest Only Control Group Design, yang merupakan penelitian True Experimental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Renggak memiliki efek larvasida terhadap larva Aedes aegypti. Perbandingan perlakuan antara penggunaan ekstrak daun Renggak dan abate menunjukkan efektifitas yang sama terhadap larva Aedes aegypti setelah 12 jam perlakuan. Nilai LC50 ekstrak etanol daun Renggak terhadap mortalitas larva diperoleh pada konsentrasi 0,3% yang berarti bahwa pada konsentrasi 0,3% ekstrak etanol daun renggak mampu membunuh 50% larva Aedes aegypti.
Fragrant Pandan (Pandanus ammaryllifolius) Leaves Ethanol Extract as an Enhancer of Endogenous Antioxidant Defence under High-Fat Diet Conditions Ni Made Wiasty Sukanty; Laksmi Nur Fajriani; I Putu Bayu Agus Saputra; Iptan Ariki; I Ketut Agus Yura Aditya
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2025.142.1171-1176

Abstract

Excessive fat consumption, especially saturated and trans fatty acids, plays a significant role in metabolic disorders such as obesity, dyslipidemia, and cardiovascular disease through increased oxidative stress. Malondialdehyde (MDA), the end product of lipid peroxidation, serves as a biomarker of oxidative damage, whereas indirect bilirubin acts as an endogenous antioxidant. This study aimed to evaluate the effect of fragrant pandan leaves ethanol extract (FPLEE) in reducing MDA levels and modulating indirect bilirubin activity in rats fed a high-fat diet (HFD). The experimental method used 24 male Rattus norvegicus divided into six treatment groups: normal control (NC), positive control (C+), negative control (C-), and three FPLEE treatment groups with different doses (8, 16, and 32 mg/200 g BW/day). Administration was carried out for 14 days after 14 days of HFD induction. MDA levels were measured using the ELISA method, while total bilirubin and direct bilirubin were measured using spectrophotometry to determine indirect bilirubin levels. Statistical analysis was performed using one-way ANOVA and the post hoc Bonferroni test. The results showed that there were no significant differences in MDA levels between groups, although the C+ group fed a HFD showed a tendency toward increased MDA. Indirect bilirubin levels increased significantly in the low-dose FPLEE group (8 mg/200 g BW/day), indicating increased endogenous antioxidant activity, while higher doses did not. Thus, FPLEE has the potential to be an effective natural phytopharmaceutical agent in enhancing the body's antioxidant defence against oxidative stress caused by excessive fat consumption, especially at low doses.
PERAN NRF2 DAN NF-ΚB DALAM PATOGENESIS DIABETES MELITUS: NARRATIVE REVIEW I Putu Bayu Agus Saputra; Ni Made Wiasty Sukanty; Suci Fitriana Pramudya; Putu Kermawan; Irna Olvaliani Aimang
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/7hf4mg65

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolik kronis dengan prevalensi global yang meningkat pesat, yang ditandai oleh hiperglikemia persisten akibat resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas. Pada tingkat molekuler, patogenesisnya berkaitan erat dengan stres oksidatif dan inflamasi kronis yang dimediasi oleh interaksi antara jalur Nuclear factor erythroid 2-related factor 2 (Nrf2) dan Nuclear Factor Kappa B (NF-κB). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif hubungan silang (crosstalk) antara kedua jalur tersebut melalui tinjauan naratif dengan pencarian literatur terstruktur dari PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Hasil kajian menunjukkan bahwa hiperglikemia kronis meningkatkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS), yang memicu aktivasi NF-κB serta meningkatkan ekspresi sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-6, yang berkontribusi terhadap resistensi insulin dan kerusakan pankreas. Sebaliknya, Nrf2 berperan sebagai regulator antioksidan utama dengan menginduksi enzim seperti glutathione peroxidase; namun, aktivitasnya menurun pada kondisi stres oksidatif yang berkepanjangan. Ketidakseimbangan antara hiperaktivasi NF-κB dan disfungsi Nrf2 ini mempercepat progresivitas penyakit. Sebagai kesimpulan, penargetan keseimbangan antara kedua jalur tersebut merupakan strategi terapeutik yang menjanjikan untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan luaran metabolik pada DMT2.
Hubungan Pola Makan Terhadap Kekambuhan Gastritis Pada Generasi Muda Di Kecamatan Maluk Baiq Amelia Eka Helvyana Putri; Widani Darma Isasih; Ni Made Wiasty Sukanty; Novia Zuriatun Solehah; M. Thonthowi Jauhari
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.952

Abstract

Gastritis adalah kumpulan gejala seperti rasa panas di dada, mual, muntah, dan rasa penuh yang dialami oleh penderita gastritis. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori atau oleh makanan tertentu yang dapat mengiritasi lambung. Berdasarkan studi pendahuluan, banyak generasi muda masih kurang memperhatikan pola makan karena kesibukan di kehidupan sehari – hari. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian terkait hubungan pola makan terhadap tingkat kekambuhan gastritis di Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan terhadap tingkat kekambuhan gastritis pada generasi muda di Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross – sectional pada 39 orang yang menderita gastritis, dan menggunakan teknik pengambilan sampel total sampling. Analisis data ini menggunakan uji chi – square dengan uji alternatif berupa uji Fisher exact. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi makan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value 0,054 > α 0,05), tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis makanan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value = 0,711 > α 0,05), dan tidak ada hubungan yang signifikan antara porsi makan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value 0,121> α 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola makan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kekambuhan gastritis dapat disebabkan karena adanya perubahan pola makan selama gastritis.
Audiovisual Education: Efforts to Increase Knowledge of Animal Foods in Breast Cancer Patients Begum Hijratul Halida Zia; M. Thonthowi Jauhari; Widani Darma Isasih; Anisah Anisah; Ni Made Wiasty Sukanty
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.948

Abstract

Kanker payudara adalah penyakit dengan kejadian tinggi yang membutuhkan dukungan nutrisi optimal selama kemoterapi. Rendahnya pengetahuan pasien mengenai pentingnya mengonsumsi lauk pauk berbasis hewan dapat mempengaruhi asupan protein dan meningkatkan pemborosan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan nutrisi menggunakan media audio-video terhadap tingkat pengetahuan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Provinsi NTB. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest dua kelompok non-acak pada 34 responden yang dibagi menjadi kelompok audio-video dan leaflet. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan bahwa skor rata-rata pengetahuan pada kelompok audio-video meningkat dari 16,88 menjadi 18,59 dengan nilai p 0,001, menunjukkan adanya pengaruh signifikan pendidikan nutrisi menggunakan media audio-video dalam meningkatkan pengetahuan pasien. Disimpulkan bahwa pendidikan nutrisi melalui media audio-video efektif dalam meningkatkan pengetahuan pasien kanker payudara mengenai pentingnya mengonsumsi lauk pauk berbasis hewan selama kemoterapi.
Hubungan Konsumsi Protein dan Tekanan Darah dengan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe II Azelia Nurpateha Putri; Ni Made Wiasty Sukanty; Junendri Ardian; M. Thonthowi Jauhari; Widani Darma Isasih
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.934

Abstract

Abstrak: Diabetes melitus tipe II merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi akibat pengendalian glukosa darah yang tidak optimal. Pola konsumsi protein dan tekanan darah diduga berperan dalam pengendalian kadar glukosa darah sehingga perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi protein dan tekanan darah dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe II. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 80 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), pengukuran tekanan darah dengan tensimeter, serta pemeriksaan glukosa darah. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Agustus 2025. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki konsumsi protein rendah, sebagian mengalami hipertensi (53,8%) dan kadar glukosa darah abnormal (93,8%). Rata-rata kadar glukosa darah tergolong tinggi. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara konsumsi protein dan kadar glukosa darah (p=0,401) serta tekanan darah dengan kadar glukosa darah (p=0,176). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi protein dan tekanan darah tidak berhubungan secara signifikan dengan kadar glukosa darah. Disarankan pendekatan komprehensif melalui pengaturan diet, aktivitas fisik, dan kepatuhan terapi untuk meningkatkan kontrol glikemik.
Aktivitas Fisik Sebagai Faktor Risiko Hipertensi Pada Masyarakat Desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat: Physical Activity as a Risk Factor for Hypertension among the Community of Batu Layar Village, West Lombok Regency I Putu Bayu Agus Saputra; Ni Made Wiasty Sukanty; Anisah; Laksmi Nur Fajrini; I Gede Angga Adnyana
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9028

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan istirahat. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengidentifikasi masalah kesehatan, menentukan prioritas masalah, merencanakan intervensi pemecahan masalah khususnya terkait masyarakat desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat. Metode yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah dari komunitas masyarakat desa Batu Layar yakni menggunakan metode delphi, prioritas masalah yang didapatkan pada komunitas masyarakat desa Batu Layar yaitu Hipertensi. Hasil penelitian dengan jumlah sampel 136 orang. Hasil dari penelitian ini didapatkan 61 orang. dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara tingkat aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi. Analisis data statistik menunjukkan bahwa individu dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami peningkatan tekanan darah dibandingkan dengan individu yang melakukan aktivitas fisik sedang hingga tinggi