Hoemardani, Aida SD
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Recent progress in immunotherapy for skin cancer Mughni, Fadhli Aulia; Astriningrum, Rinadewi; Hoemardani, Aida SD; Bramono, Kusmarinah; Sampurna, Adhimukti T.; Sutarjo, Agassi Suseno
Journal of General - Procedural Dermatology & Venereology Indonesia Vol. 6, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skin cancer is a global health concern due to its growing incidence and high mortality rate. The most common therapeutic modalities in skin cancer include surgery, radiotherapy, and chemotherapy. However, those therapies do not specifically target cancer cells and may damage healthy tissues. Cancer induces immune response by releasing soluble antigens and danger signals caused by tumor cellular stress or death, while the immune system continuously monitor and control malignant proliferation through cancer immunoediting. Therefore, targeting this mechanism is a promising approach to manage cancer, especially those unresponsive to conventional therapies. Immunotherapy is a specific therapy that manipulates the immune system to fight the disease. Previous studies have shown promising results in its clinical use in melanoma and non-melanoma skin cancer (NMSC). However, its potential toxicity and tolerability may pose significant obstacles in developing effective cancer immunotherapy. Biomedical, immunological, and clinical research in skin cancer is still needed to elaborate further on its pathogenesis and design safe and effective therapy for each skin cancer.
Skrining pada Kanker Kulit Chairista, Inadia Putri; Paramitha, Larisa; Sampurna, Adhimukti T; Krisanti, RR Inge Ade; Wahyudi, Danang T; Hoemardani, Aida SD; Sujudi, Yufanti; Legiawati, Lili
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 3 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i3.423

Abstract

Tingginya insiden, prevalensi, morbiditas, dan mortalitas kanker kulit telah menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Skrining kanker kulit dilakukan sebagai salah satu upaya dalam mengurangi beban kanker kulit yang ditimbulkan. Skrining kanker kulit meliputi total body skin examination yang bersifat non-invasif, mudah, cepat, dan hemat biaya bila dibandingkan dengan skrining untuk kanker lainnya. Akan tetapi, efektivitas skrining kanker kulit pada tingkat populasi masih diperdebatkan. Tenaga kesehatan, khususnya dokter spesialis kulit berperan penting dalam pelayanan skrining kanker kulit. Pengetahuan lebih lanjut mengenai skrining kanker kulit, rekomendasi, dan berbagai teknik pendekatan diagnostik sangat diperlukan untuk memajukan program skrining kanker kulit. 
PIODERMA GANGRENOSUM PASCA INFEKSI HERPES ZOSTER PADA PASIEN KANKER PAYUDARA Jaclyn, Adeline; Mughni, Fadhli Aulia; Sutarjo, Agassi Suseno; Wahyudi, Danang Tri; Hoemardani, Aida SD
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 2 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i2.461

Abstract

Pendahuluan: Pioderma gangrenosum (PG) adalah dermatosis inflamasi neutrofilik langka yang ditandai dengan gambaran klasik berupa ulkus kulit yang khas, berkembang dengan cepat dan menyakitkan. Lebih dari 50% lesi berkembang karena fenomena patergi, yaitu timbulnya lesi PG di lokasi kulit yang mengalami trauma. Sebanyak 50-75% kasus memiliki penyakit sistemik yang mendasari, misalnya keganasan organ padat. Diagnosis PG biasanya sulit ditegakkan secara dini. Kasus: Wanita 68 tahun dengan riwayat kanker payudara menunjukkan lesi ulseratif progresif di area perut hingga punggung, yang muncul setelah infeksi herpes zoster (HZ). Biopsi dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan suatu keganasan, infeksi, atau vaskulitis, dan mendukung diagnosis PG. Terapi kortikosteroid sistemik dosis tinggi menunjukkan respons yang baik dalam 1 minggu. Diskusi: PG ulseratif adalah varian yang paling sering ditemui, termasuk pada PG yang terkait paraneoplastik. Terdapat dua kriteria diagnostik yang dapat membantu penegakkan diagnosis PG, yaitu kriteria diagnostik PG ulseratif dan sistem penilaian PARACELSUS. Kesimpulan: PG perlu menjadi pertimbangan diagnosis pada kasus ulseratif dengan kemungkinan adanya fenomena patergi dan penyakit sistemik yang mendasari. Pemeriksaan histopatologis perlu dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding dan pengobatan dengan agen imunosupresif dianjurkan untuk PG.