Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENENTUAN C-ORGANIK PADA TANAH UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN DAN KEBERLANJUTAN UMUR TANAMAN DENGAN METODA SPEKTROFOTOMETRI UV VIS Risma Sari; Maryam; Rahayu A. Yusmah
JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/jtp.v12i1.2598

Abstract

Karbon merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme tanah, sehingga dengan adanya C-organik di dalam tanah akan memacu aktivitas mikroorganisme sehingga dapat meningkatkan proses dekomposisi tanah dan juga reaksi-reaksi bahan organik di dalam tanah. Meningkatkan proses dekomposisi tanah dan juga reaksi-reaksi yang membutuhkan bantuan mikroorganisme. Penentuan kadar C-organik ini dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri uv vis berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh nilai kadar hara C-organik pada sampel tanah dengan kode lab T46-44/21-LA/IRG sebanyak 44 sampel yang dianalisa diperoleh hasil kadar C-organik berkisar antara 0,81-4,08%. Terdapat beberapa kadar C-organik yang berada pada kisaran defisiensi yaitu 1 sampel kategori sangat rendah (<1,00%), 24 sampel kategori rendah (1,00-2,00%) dan 6 sampel kategori tinggi (3,01-5,00%) serta terdapat juga 13 sampel yang berada pada kisaran optimal dengan kategori sedang (2,01-3,00%). Hasil analisis yang diperoleh, kadar C-organik banyak yang berada pada kisaran defisiensi. Kisaran defisiensi (rendah), dampak dari kurangnya kadar C-organik tanah adalah pertumbuhan tanaman yang kurang baik. Agar tanah menjadi baik maka untuk meningkatkan kadar C-organik tanah dan kualitas tanah, maka dilakukan penambahan pupuk kompos atau pupuk urea agar mendapatkan kualitas tanah yang baik dengan kadar C-organik tanah yang baik dengan kadar C-organik tanah sesuai standar.
ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS OIL LOSSES PADA PROSES PEREBUSAN MENGGUNAKAN QUALITY CONTROL CIRCLE PADA INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT DI SUMATERA BARAT Fuji Kharnofa; Maryam
SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri Vol. 19 No. 1 (2022)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52759/

Abstract

Salah satu industri pengolahan kelapa sawit di Sumatera Barat memiliki bahan baku berupa tandan buah segar yang berasal dari perkebunan sendiri dan masyarakat. Dalam proses pengolahannya terjadi permasalahan kehilangan minyak sawit pada proses produksinya. Hal ini akan berdampak pada kualitas produk, sehingga perlu dilakukan pengendalian kualitas pada proses produksi yakni perebusan. Berdasarkan hasil observasi awal, stasiun perebusan mengalami kehilangan minyak sawit pada pembuangan air kondensat dan kehilangan minyak sawit pada tandan kosong. Kehilangan minyak sawit pada tandan kosong ditetapkan standar <0.129% oleh perusahaan. akan dilakukan aalisa terkait pengendalian kualitas khususnya pada proses perebusan salah satu Pabrik Kelapa Sawit di Sumatera menggunakan metode QCC (quality control circle). Dari hasil analisa Quality Control Circle dapat dlihat bahwa lama waktu perebusan dan tekanan perebusan sangat berpengaruh terhadap kehilangan minyak sawit. Semakin lama waktu perebusan maka semakin besar kehilangan minyak sawit, sedangkan semakin kecil tekanan perebusan maka semakin besar kehilangan minyak sawit.Terdapat beberapa faktor yang menyebab terjadinya kehilangan minyak sawit pada proses perebusan diantaranya faktor mesin, manusia, bahan baku dan metoda. Faktor mesin merupakan faktor utama karena mesin sterilizer tidak mampu beroperasi secara optimal sehingga tekanan yang diharuskan tidak tercapai.
ANALISIS PENERAPAN PRINSIP 5S BAGIAN PROSES PRODUKSI CRUDE PALM OIL PADA PT XYZ Elja Afriyanti; Maryam
SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52759/

Abstract

Konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke) adalah metode manajemen tempat kerja yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan kualitas produksi melalui pemilahan, penataan, pembersihan, pemantapan, serta pembiasaan kerja yang baik. Penelitian ini dilakukan di PT XYZ, sebuah perusahaan yang bergerak di industri pengolahan kelapa sawit dengan tujuan mengevaluasi penerapan metode 5S. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa penerapan konsep 5S di perusahaan masih tergolong rendah, terutama pada aspek Seiri, Seiton, Seiso, dan Seiketsu. Beberapa masalah seperti tumpukan bahan baku, kurangnya kebersihan area produksi, serta minimnya perawatan mesin dan peralatan menjadi tantangan utama. Untuk mengatasi masalah ini, berbagai usulan perbaikan diajukan, seperti pembersihan area kerja secara berkala, penataan bahan baku yang lebih rapi, serta pelatihan karyawan untuk meningkatkan tanggung jawab dan disiplin kerja. Setelah implementasi usulan perbaikan, terjadi peningkatan skor penilaian penerapan metode 5S dari 40% menjadi 75,55%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode 5S yang baik dapat meningkatkan efektivitas produksi, kualitas produk, dan keselamatan kerja di perusahaan, serta berdampak positif terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Pemberdayaan Masyarakat Karibia melalui Pelatihan Pengolahan Mango Jelly dan Pemanfaatan Limbah Mangga Irna Ekawati; Maryam; Khairun Nadiyah; Adlina Safitri Helmi; Khairul Akli; Ester Edwar; Lisa Nesti; Dian Hasni; Eko Supriadi
JICE : Journal of Industrial Community Empowerment Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52759/jice.v4i2.45

Abstract

The Caribbean region, despite its abundance of tropical agricultural commodities such as mangoes, continues to face challenges in product diversification and value-added processing. This community engagement program aimed to strengthen the productive capacity and economic empowerment of Caribbean communities—particularly small-scale farmers, agroindustry actors, and homemakers—through mango-based product development. Implemented by Politeknik ATI Padang in collaboration with the Non-Aligned Movement Center for South-South Technical Cooperation (NAM-CSSTC), the program was conducted virtually over two days in May 2025 using an integrated explicit–tacit knowledge transfer approach. Explicit knowledge was delivered through structured digital materials and video-based instruction, while tacit knowledge was reinforced through experiential learning, practical assignments, and interactive discussions. A total of 297 participants enrolled for the program, with 30 participants actively engaging through Zoom sessions and 267 participants accessing the training via YouTube livestreaming. The primary outcomes of the program included measurable improvements in participants’ technical competence, production readiness, and sustainability awareness. Evaluation results showed an increase in participants’ average scores from 84.4 (pre-test) to 89.2 (post-test), indicating enhanced understanding of mango jelly processing, packaging, waste utilization, and basic business planning. Moreover, participants successfully demonstrated their ability to independently produce mango jelly and apply organic waste management practices using mango peel residues. Beyond skill acquisition, the program fostered entrepreneurial motivation and promoted the adoption of circular economy principles at the community level. These findings highlight the effectiveness of virtual community empowerment initiatives in achieving tangible capacity-building outcomes and supporting sustainable, resource-based economic development across geographically dispersed regions.
ANALISIS STABILITAS PROSES WWTP BERDASARKAN COD MENGGUNAKAN STATISTICAL QUALITY CONTROL DI PT. A Verra Syahmer; Maryam; Wahyu Yasril; Hermiza Mardesci
JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/vscwhs35

Abstract

This study aims to analyze the quality control of Chemical Oxygen Demand (COD) levels in the Waste Water Treatment Plant (WWTP) process at PT. A using the Statistical Quality Control (SQC) method. The data used consist of primary data obtained from laboratory testing and secondary data from company records. The analysis was conducted using X̄ and R control charts to monitor process stability and fishbone diagrams to identify the root causes of deviations. The results indicate that the COD treatment process still shows variations, suggesting that the process is not fully under statistical control during certain periods. The main contributing factors include human, method, machine, material, and environmental aspects. Therefore, continuous improvement efforts are required to ensure that the wastewater quality meets the established standards.  
Work Posture Evaluation of Manual Onion Finishing After Mechanical Peeling in a Food Processing Industry Rizki Alfi; Rahma Sawitri; Khairun Nadiyah; Maryam
Jurnal Sistem Teknik Industri Vol. 27 No. 4 (2025): JSTI Volume 27 Number 4 September 2025
Publisher : TALENTA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jsti.v27i4.21350

Abstract

Automation is increasingly applied in food-processing industries to enhance production efficiency. However, in onion-processing operations, peeling machines often fail to completely remove the outer skin, requiring workers to perform manual re-peeling to ensure raw-material quality. This task involves repetitive hand motions and forward-leaning postures, which may contribute to musculoskeletal strain. This study aims to evaluate the work posture of manual onion re-peeling workers using the Nordic Body Map (NBM) and Rapid Upper Limb Assessment (RULA) methods. Four workers participated in the study through direct observation, photo documentation, and questionnaire administration. NBM results indicated that the most frequent complaints occurred in the the shoulders, upper arms, elbows, forearms, wrists, and lower back. The average RULA score of 6 indicates a high-risk posture requiring prompt ergonomic intervention. The strong alignment between NBM and RULA findings reinforces the accuracy of the ergonomic diagnosis. This study highlights the need for ergonomic improvements such as workstation height adjustment, provision of lumbar-supported seating, micro-break scheduling, and simple tool redesign to reduce MSD risks and improve productivity in food-processing operations.