Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sifat Sifat Kuantitatif Kambing Peranakan Ettawa (Pe) Betina Sebagai Sumber Bibit Di Kabupaten Lombok Tengah (Studi Kasus Pada Petani Ternak Kambing PE) Muhammad Dohi; Kertanegara; I Nym. Sadia; A. Rai S. Asih; Bulkaini
Journal of Classroom Action Research Vol. 5 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan IPA, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jcar.v5i1.4590

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat kuantitatifi kambing PE betina yang dipelihara oleh petani ternak kambing PE yang dipelihara secara kelompok yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1 sampai 30 November 2021 menggunakan metode survey dengan penentuan desa sampel berdasarkan keberadaan kelompok tani ternak kambing di suatu desa, sedangkan penentuan responden petani ternak dan ternak kambing PE dilakukan secara sensus, yaitu seluruh petani ternak dan ternak kambing PE yang dipelihara pada kelompok tani ternak sebagai responden. Penelitian ini telah dilaksanakan dengan metode survei melalui wawancara responden dan pengukuran langsung berkaitan dengan sifat-sifat kuantitatip kambing PE betina yang dipelihara oleh kelompok petani ternak. Variabel yang diukur dilapangan adalah jumlah dan jenis pakan yang diberikan, ukuran-ukuran tubuh yang merupakan sifat-sifat kuantitatif kambing PE betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran sifat-sifat kuantitatif kambing PE betina yang dipelihara oleh petani ternak responden lebih kecil dari ukuran sifat-sifat kuantitatif bibit kambing PE betina yang ditetapkan oleh SNI indonesia. Hal ini disebabkan karena menejemen pemeliharaan yang dilakukan oleh petani ternak responden kurang intensif, keadaan ini dapat dilihat dari pemberian pakan yang tidak memenuhi kualitas dan kuantitasnya. Pemberian pakan khususnya untuk kambing PE betina masih kurang yaitu sebanyak 2,8 kg, sedangkan kebutuhannya 3,4 kg, kurang 0,6 kg per ekor ternak. Pakan yang diberikan hanya berupa hijauan baik rumput dan dedaunan, sedangkan konsentrat tidak pernah diberikan. Keadaan ini disebabkan pengetahuan dan keterampilan responden masih rendah sebagai akibat rendahnya tingkat pendidikan responden, yaitu sebanyak 81,63 % berpendidikan tingkat dasar ( SD dan SMP ).
Study of Ettawa Crossbreed’s Grade for Source at Livestock Farmer in East Lombok Regency (Case Study on Livestock Farmers) Muhammad Dohi; Kertanegara; I Nyoman Sadia; A Rai Somaning Asih; Hermansyah Pany
Jurnal Biologi Tropis Vol. 23 No. 2 (2023): Special Issue
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v23i2.6345

Abstract

This study to determine the performance of shoulder height, body weight and grade of PE goats kept by livestock farmers in East Lombok Regency. This research was conducted from June to July 2022 using survey methods, observations and direct interviews with livestock farmers in East Lombok Regency. the location where the research was carried out based on recommendations from the Puskeswan. Pringgabaya, Sakra Barat and Jerowaru sub-districts are the 3 sub-districts that are the research locations, from each selected sub-district there are 3 villages representing each sub-district and 10 livestock farmers in each village, with details of 3 sub-districts, 9 villages and 90 livestock farmers. The variables observed in this study included the identity of the livestock farmer, the rearing system, the housing system, performance (body weight and shoulder height) and the farmer's grade of PE goat. Data were analyzed using Arithmetic Mean and Standard Deviation. Most of the high shoulder performance of PE goats in East Lombok Regency is not standardized by SNI 7352;2015. The grade of PE goats in East Lombok Regency were 58 PE goats aged 4-8 months which entered grade D and 9 goats entered grade C, 75 PE goats aged 8-12 months which entered grade D and some livestock in Jerowaru District is included in E while 13 goats in West Sakra District are included in grade C, 165 PE goats aged 12-36 months are included in grade D and 9 goats are included in grade C, 58 PE goats aged 4-8 months are included into grade D and 9 goats entered into grade C, 38 PE goats aged 36 months and over entered into grade C.
Evaluasi Body Condition Score (BCS) dan Grade Kambing Peranakan Ettawa (PE) di Kelompok Tani Ternak Desa Mendana Raya Lombok Timur : Evaluation of Body Condition Score (BCS) and Grading of Peranakan Ettawa (PE) Goats in Livestock Farmer Groups in Mendana Raya Village East Lombok Ica Ayu Wandira; Muhammad Dohi; I Nyoman Sadia; Ine Karni; Ridwan Saedi
Jurnal Ilmiah Peternakan Halu Oleo Vol. 7 No. 4 (2025): JIPHO (Jurnal Ilmiah Peternakan Halu Oleo)
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56625/jipho.v7i4.376

Abstract

Evaluasi performa fisik dan kondisi tubuh ternak kambing PE sangat penting untuk mengetahui kualitas dan produktivitasnya, serta sebagai dasar dalam perbaikan manajemen pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Body Condition Score (BCS) dan grade morfometrik kambing PE pada dua kelompok tani ternak di Desa Mendana Raya, Kabupaten Lombok Timur, serta mengkaji hubungan keduanya dengan sistem pemeliharaan dan nilai ekonomi ternak. Penelitian dilakukan selama 35 hari menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui observasi, pengukuran langsung (BCS dan tinggi pundak), serta wawancara kepada peternak. Populasi yang diamati sebanyak 39 ekor kambing PE, terdiri atas berbagai kelompok umur dan jenis kelamin. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar kambing memiliki nilai BCS 2–3 dan tinggi pundak yang umumnya sesuai atau melampaui standar SNI 7352:2015. Nilai grade berkorelasi erat dengan tinggi pundak dibandingkan BCS, dan berpengaruh signifikan terhadap harga jual. Kambing dengan grade lebih tinggi (B dan C) memiliki harga jual lebih tinggi dibandingkan grade D atau E, meskipun dengan BCS yang serupa. Evaluasi BCS dan grade penting untuk dilakukan dalam upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha peternakan rakyat secara berkelanjutan.