Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Eskalasi Konflik Wahabi dengan Masyarakat Lokal di Mamben Daya, Lombok Timur Hamdi, Saipul; Awalia, Hafizah; Parama, I Dewa Made Satya; -, Sukarman; -, Palahuddin
Jurnal Kawistara Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.89333

Abstract

Konflik antara anggota Wahabi dengan masyarakat lokal telah lama terjadi sejak kehadiran Wahabi 1990an di Lombok. Konflik antara keduanya muncul karena perbedaan penafsiran teks kitab suci terkait praktek ibadah dan posisi ritual yang bersumber dari non kitab suci, yang berdampak pada ketergangguan relasi sosial di antara mereka. Akibatnya, segragasi, konflik dan kekerasan sosial seringkali terjadi ketika keduanya memaksakan pemahaman dan penafsiran masing-masing untuk dipraktikkan oleh kelompok di luar mereka. Artikel ini membahas tentang konflik antara Wahabi dengan masyarakat lokal di Lombok Timur yang disertai aksi kekerasan berupa pembakaran masjid dan markas Wahabi. Secara spesifik penelitian ini betujuan untuk memahami awal mula konflik, eskalasi konflik dan aktor-aktor yang terlibat pada konflik tersebut. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan (April-Agustus 2023) dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, konflik berawal dari pembangunan masjid Wahabi di desa Mamben Daya yang kurang sosialisasi sehingga mengalami penolakan dan resistensi. Karena kedua kubu tidak menemukan kesepakatan terkait keberlanjutan izin pembangunan masjid As-Syafi’i, maka masyarakat desa Mamben Daya terutama dari unsur tokoh-tokoh agama melakukan aksi damai ke lokasi pembangunan masjid Wahabi dan kantor kepala desa. Aksi ini tidak menimbulkan kekerasan, namun di tengah negosiasi penghentian pembangunan masjid As-Syafi’i, konflik mengalami eskalasi pasca tersebar potongan video berisi ceramah oleh tokoh Wahabi yang menghina makam suci para wali di Lombok. Eskalasi konflik muncuat ketika aksi senyap dengan membakar bangunan masjid As-Syafi’i dan juga markaz As-Sunnah. Temuan lain adalah keterlibatan tokoh agama dan elit-elit sosial lainnya dalam pusaran konflik Wahabi di wilayah ini. Rekonsiliasi yang dimediasi oleh pemerintah daerah berhasil meredam konflik dengan cara membuat perjanjian damai dan membeli tanah masjid Wahabi yang dibakar.     
Edukasi Pengelolaan Air terhadap Tingkat Kehidupan Masyarakat Pesisir Teluk Gok, Sekotong Barat Parama, I Dewa Made Satya; Awalia, Hafizah; Nasrullah, Arif
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2025): Juni
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v2i2.441

Abstract

Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Teluk Gok, Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat, dengan fokus pada edukasi pengelolaan sumber daya air dan sanitasi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir usia produktif. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan akses air bersih dan kurangnya praktik sanitasi yang higienis, yang berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Metode yang digunakan mencakup penyuluhan, demonstrasi teknik mencuci tangan yang benar, diskusi kelompok terkait pengelolaan limbah domestik dan pertanian, permainan edukatif tentang perilaku sanitasi, serta kunjungan lapangan ke fasilitas sanitasi yang layak. Inovasi utama dalam program ini adalah pengenalan pengelolaan sampah organik menggunakan larva lalat black soldier fly (BSF) sebagai solusi ekologis dan ekonomis yang mendukung penguraian sampah sekaligus produksi pakan ternak. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku ramah lingkungan dan sanitasi yang baik, yang terlihat dari antusiasme serta partisipasi aktif dalam setiap sesi. Namun demikian, tantangan struktural seperti sampah kiriman dari hulu dan keterbatasan infrastruktur air bersih masih menjadi hambatan. Oleh karena itu, direkomendasikan adanya kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan infrastruktur sanitasi, peningkatan akses air bersih, edukasi berkelanjutan, serta pemantauan rutin guna menjamin efektivitas dan keberlanjutan program.
Eskalasi Konflik Wahabi dengan Masyarakat Lokal di Mamben Daya, Lombok Timur Hamdi, Saipul; Awalia, Hafizah; Parama, I Dewa Made Satya; -, Sukarman; -, Palahuddin
Jurnal Kawistara Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.89333

Abstract

Konflik antara anggota Wahabi dengan masyarakat lokal telah lama terjadi sejak kehadiran Wahabi 1990an di Lombok. Konflik antara keduanya muncul karena perbedaan penafsiran teks kitab suci terkait praktek ibadah dan posisi ritual yang bersumber dari non kitab suci, yang berdampak pada ketergangguan relasi sosial di antara mereka. Akibatnya, segragasi, konflik dan kekerasan sosial seringkali terjadi ketika keduanya memaksakan pemahaman dan penafsiran masing-masing untuk dipraktikkan oleh kelompok di luar mereka. Artikel ini membahas tentang konflik antara Wahabi dengan masyarakat lokal di Lombok Timur yang disertai aksi kekerasan berupa pembakaran masjid dan markas Wahabi. Secara spesifik penelitian ini betujuan untuk memahami awal mula konflik, eskalasi konflik dan aktor-aktor yang terlibat pada konflik tersebut. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan (April-Agustus 2023) dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, konflik berawal dari pembangunan masjid Wahabi di desa Mamben Daya yang kurang sosialisasi sehingga mengalami penolakan dan resistensi. Karena kedua kubu tidak menemukan kesepakatan terkait keberlanjutan izin pembangunan masjid As-Syafi’i, maka masyarakat desa Mamben Daya terutama dari unsur tokoh-tokoh agama melakukan aksi damai ke lokasi pembangunan masjid Wahabi dan kantor kepala desa. Aksi ini tidak menimbulkan kekerasan, namun di tengah negosiasi penghentian pembangunan masjid As-Syafi’i, konflik mengalami eskalasi pasca tersebar potongan video berisi ceramah oleh tokoh Wahabi yang menghina makam suci para wali di Lombok. Eskalasi konflik muncuat ketika aksi senyap dengan membakar bangunan masjid As-Syafi’i dan juga markaz As-Sunnah. Temuan lain adalah keterlibatan tokoh agama dan elit-elit sosial lainnya dalam pusaran konflik Wahabi di wilayah ini. Rekonsiliasi yang dimediasi oleh pemerintah daerah berhasil meredam konflik dengan cara membuat perjanjian damai dan membeli tanah masjid Wahabi yang dibakar.     
Konstruksi Sosial Sungai Sebagai Tempat Sampah: (Studi Kasus Di Desa Aikmel Barat) Awalia, Hafizah; Wijayanti, Ika; Nuraidha, Erina
Jurnal Masyarakat Maritim Vol 6 No 1 (2022): Mei, 2022
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jmm.v6i1.4396

Abstract

Penelitian ini berjudul Konstruksi Sosial Sungai Sebagai Tempat Sampah (Studi Kasus di Desa Aikmel Barat), bertujuan untuk meneliti tentang konstruksi sosial sungai sebagai tempat sampah serta, faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat menjadikan sungai sebagai tempat sampah di Desa Aikmel Barat. Teori yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini ialah teori Konstruksi Sosial memiliki konsep yakni Eksternalisasi, Objektivasi, Internalisasi oleh Peter L. Berger. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, konstruksi sosial masyarakat yang terbentuk tentang sungai telah mengalami perubahan seiring dengan dinamika pola konsumsi masyarakat sehingga sungai beralih fungsi menjadi tempat sampah. Dialektika teori konstruksi sosia loleh Peter L Berger menghasilkan tiga konsep berpikir yakni Eksternalisasi (perilaku), Objektivasi (sikap), Internalisasi (tindakan). Eksternalisasi (perilaku) yakni pengalaman-pengalaman yang diperoleh oleh masyarakat dari pengetahuan sebelumnya, pengetahuan tentang sungai yang mulai kotor dan terecemar. Objetivasi (sikap) membentuk pola piker terhadap sungai yang tercemar hanya dimanfaatkan sebagai tempat sampah. Kedua proses tersebut membentuk sebuah Internalisasi (tindakan) berupa tindakan positif dan negatif. Tindakan positif ialah tindakan masyarakat yang menjaga lingkungan sungai dan tindakan negative ialah tindakan masyarakat yang terus menerus membuang sampah dan menjadikan sungai sebagai tempat sampah. selain itu, faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat membuang sampah di sungai ialah faktor kesadaran, faktor kebiasaan, kebudayaan menyimpang, faktor pemahaman yang salah, dan fasilitas yang tidak memadai.
Penyuluhan Adaptasi Strategis Penghidupan Berkelanjutan pada Perempuan Pesisir Teluk Gok, Sekotong Lombok Barat Awalia, Hafizah; Nasrullah, Arif; I Dewa Made, Satya Parama
Madani: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Kewirausahaan Vol. 4 No. 1 (2025): Oktober 2025
Publisher : LPPM Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/madani.v4i1.10682

Abstract

Program pengabdian ini berfokus pada pemberdayaan perempuan pesisir di Teluk Gok, Lombok Barat, melalui strategi adaptasi untuk mata pencaharian berkelanjutan. Program ini dilatarbelakangi oleh berbagai tantangan yang dihadapi perempuan pesisir, termasuk akses yang terbatas terhadap teknologi, minimnya kegiatan penyuluhan, serta dampak perubahan iklim terhadap sumber penghidupan mereka. Tujuan dari program ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam pengelolaan sumber daya air, khususnya teknologi sederhana untuk mengubah air payau menjadi air layak konsumsi. Metode yang digunakan mencakup pendekatan partisipatif melalui penyuluhan, pelatihan teknis, dan pelibatan aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya kapasitas perempuan pesisir dalam mengelola sumber daya air, meningkatnya akses terhadap air bersih, serta meningkatnya peran perempuan dalam pembangunan lokal yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan mengedepankan prinsip kesetaraan gender dan keterlibatan komunitas, program ini bertujuan menciptakan masyarakat pesisir yang lebih tangguh terhadap tantangan lingkungan dan ekonomi.
The Role of Village Disaster Preparedness Teams (TSBD) in Engaging Vulnerable Groups for Tidal Flood Risk Reduction: A Case Study of Taman Ayu Village Rizky, Wanda; Komalasari, Maya Atri; Awalia, Hafizah
Journal of Southern Sociological Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Southern Perspectives in Contemporary Sociology
Publisher : Master's Program in Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vulnerable groups such as people with disabilities, the elderly, women, and communities with limited access often face greater risks when disasters occur. This study aims to analyze the role of the Village Disaster Preparedness Team (TSBD) in involving vulnerable groups in disaster risk reduction activities at the village level. Therefore, their involvement in the disaster management system is an important aspect in building community resilience. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews with VDRT members, village officials, and vulnerable groups, field observations, and analysis of village disaster documents. The results show that the VDRT plays an active role in involving vulnerable groups through various mechanisms, such as village discussion forums, direct invitations to disaster activities, and their involvement in the VDRT organizational structure. In addition, vulnerable groups are also involved in the process of preparing village disaster documents so that their needs and perspectives can be accommodated in disaster mitigation planning. The findings of this study indicate that the involvement of vulnerable groups is not only symbolic but also provides a space for participation that allows them to contribute according to their capacities and abilities.
Modal Sosial dan Resiliensi Sosial Masyarakat Pesisir: Analisis Kapasitas Adaptif Teluk Gok, Lombok Barat Nasrullah, Arif; Parama, I Dewa Made Satya; Awalia, Hafizah
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.7706

Abstract

 This study analyzes the role of social capital in shaping the social resilience of the coastal community in Teluk Gok, West Sekotong Barat, West Lombok, West Nusa Tenggara. The research uses a qualitative method with a case study approach. Data was collected through in-depth interviews, field observations, and document studies to explores the vulnerabilities experienced by the community in Teluk Gok, West Lombok, West Nusa Tenggara, and the adaptive strategies they have developed. Findings indicate that climate change and limited infrastructure such as road access, clean water, and health and education facilities exacerbate the community’s vulnerability. To survive, residents diversify livelihoods, optimize local resources, engage in labor mobility, and utilize social networks as coping mechanisms. Social capital functions importantly as bonding capital that facilitates access to jobs and collective support, while linking social capital remains limited, leaving access to external resources and structural opportunities vulnerable. The study emphasizes the need to strengthen transformative social capital, improve basic infrastructure, and implement policy interventions that enhance access to technology, capital, and public services to bolster the long-term resilience of the coastal community. Penelitian ini menganalisis peran modal sosial dalam membentuk resiliensi sosial komunitas pesisir di Teluk Gok, Sekotong Barat, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan  dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen untuk menggali kerentanan yang dialami oleh masyarakat di Teluk Gok, serta strategi adaptif yang mereka kembangkan. Temuan pada penelitian ini  menunjukkan bahwa perubahan iklim dan keterbatasan infrastruktur seperti akses jalan, air bersih, fasilitas kesehatan dan pendidikan memperburuk kerentanan masyarakat Teluk Gok. Untuk bertahan, warga melakukan diversifikasi mata pencaharian, optimalisasi sumber daya, mobilitas tenaga kerja, dan memanfaatkan jaringan sosial sebagai mekanisme coping. Modal sosial berperan penting sebagai modal pengikat (bonding) yang memfasilitasi akses pekerjaan dan dukungan kolektif, namun kapasitas modal sosial penghubung (linking social capital) masih terbatas sehingga akses terhadap sumber daya eksternal dan peluang struktural tetap rentan. penelitian ini menekankan perlunya penguatan modal sosial transformatif, perbaikan infrastruktur dasar, serta intervensi kebijakan yang meningkatkan akses teknologi, pemodalan, dan layanan publik untuk meningkatkan ketahanan jangka panjang komunitas pesisir.