Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Etika Komunikasi Politik Dalam Pandangan Al-Quran Zikrullah; Mena Sari
Jurnal Adijaya Multidisplin Vol 1 No 04 (2023): Jurnal Adijaya Multidisiplin (JAM)
Publisher : PT Naureen Digital Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berpolitik kejujuran sangat memerlukan keberanian suatu keberanian yang dilandasi kesadaran, proses berpolitik yang tak sehat tak hanya merusak proses demokrasi yang tengah dibangun, Pada konteks komunikasi politik tentu interaksi-interaksi yang diperlukan dan nilai-nilai apa yang dipahami adalah berdasarkan Al-qur’an, karena sesuatu pemikiran yang baik dengan landasan baik akan menghasilkan sesuatu yang baik, Etika komunikasi dibangun berdasarkan petunjuk Alquran, Islam mengajarkan bahwa berkomunikasi itu harus dilakukan secara beradab, penuh penghormatan, penghargaan terhadap orang yang diajak bicara, dan sebagainya. Ketika berbicara dengan orang lain, Islam memberikan landasan yang jelas tentang tata cara berbicara, Konsepsi etika komunikasi menurut Al-Qur’an adalah hubungan timbal balik yang menyebabkan terjadinya ketergantungan sepihak atau kedua belah pihak dengan cara yang bijaksana atau yang disebut dengan al-akhlaq al-karimah (akhlak mulia).
Hubungan Empati Dan Keterbukaan Diri Dengan Keharmonisan Rumah Tangga Dalam Perspektif Islam Mena Sari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3834

Abstract

Keharmonisan rumah tangga merupakan tujuan utama pernikahan yang ditegaskan dalam Islam melalui konsep sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa banyak rumah tangga menghadapi konflik akibat komunikasi yang buruk, kurangnya pemahaman emosional, serta lemahnya keterbukaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan empati dan keterbukaan diri dengan keharmonisan rumah tangga dalam perspektif Islam melalui metode studi literatur. Data dikumpulkan dari artikel ilmiah, buku akademik, serta dokumen resmi yang terbit pada 2015–2025, kemudian dianalisis secara sintesis naratif untuk mengidentifikasi pola dan relevansi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa empati berperan sebagai faktor penting dalam meningkatkan kepuasan pernikahan, mengurangi konflik, dan memperkuat dukungan emosional antar pasangan. Keterbukaan diri terbukti memperkuat rasa percaya, meningkatkan kedekatan emosional, serta membantu penyelesaian konflik secara konstruktif. Integrasi keduanya memberikan dampak yang lebih kuat terhadap keharmonisan rumah tangga, terutama ketika dikaitkan dengan nilai Islam. Perspektif Islam menempatkan empati sebagai manifestasi rahmah dan keterbukaan diri sebagai wujud amanah serta syura, sehingga keduanya menjadi fondasi spiritual sekaligus psikologis dalam pernikahan.Implikasi praktis dari penelitian ini terletak pada perlunya pengembangan bimbingan pranikah dan konseling keluarga berbasis Islam yang menekankan keterampilan empati dan keterbukaan diri. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya literatur akademik sekaligus memberikan rekomendasi nyata bagi upaya penguatan keharmonisan rumah tangga muslim di Indonesia.
Pengaruh Media Sosial terhadap Komunikasi Organisasi: Studi Kasus pada Manajemen Krisis: The Influence of Social Media on Organizational Communication: A Case Study on Crisis Management Mena Sari; Julian Chandra; Machfud
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 1: Januari 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i1.6972

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh media sosial terhadap komunikasi organisasi dalam konteks manajemen krisis menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran strategis dalam penyebaran informasi, interaksi dengan publik, dan pengelolaan persepsi selama krisis. Media sosial memungkinkan organisasi untuk merespons krisis dengan cepat, meskipun menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi yang salah (hoaks). Komunikasi yang efektif melalui media sosial membutuhkan kecepatan, kredibilitas, dan transparansi untuk membangun kepercayaan publik. Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi dua arah, yang memungkinkan organisasi untuk menunjukkan empati dan meningkatkan keterlibatan publik. Pendekatan ini didukung oleh teori komunikasi dialogis, yang menekankan pentingnya interaksi timbal balik dalam menciptakan hubungan yang lebih kuat antara organisasi dan audiens. Penelitian ini juga menemukan relevansi dengan studi terdahulu yang menggarisbawahi peran media sosial sebagai alat utama dalam manajemen krisis modern. Secara praktis, temuan ini memberikan wawasan bagi organisasi untuk mengembangkan strategi komunikasi krisis berbasis media sosial yang efektif, mencakup sistem monitoring informasi, analisis sentimen publik, dan respons real-time. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya teori komunikasi massa dan manajemen krisis tetapi juga menawarkan panduan praktis untuk mengoptimalkan penggunaan media sosial di era digital.
Perceived AI Utilization and Digital Literacy as Predictors of Government Social Media Communication Effectiveness in Aceh Province Mena Sari
Journal of Deep Learning, Computer Vision, and Digital Image Processing Volume 4 Issue 2 June 2026
Publisher : CV. Sakura Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61255/decoding.v4i2.1612

Abstract

Purpose – This study examines the associations and predictive contributions of perceived AI-supported government communication and digital literacy to perceived public communication effectiveness through official government social media in Aceh Province.Methods – A quantitative cross-sectional survey was conducted among 180 Aceh residents who had accessed or interacted with at least one official government social media account. Data were collected using a five-point Likert-scale questionnaire and analyzed using descriptive statistics, preliminary instrument assessment, regression-assumption testing, and multiple linear regression.Findings – Perceived AI-supported government communication was positively associated with perceived public communication effectiveness (B = 0.389, β = 0.347, p < 0.001). Digital literacy was also positively associated with perceived public communication effectiveness (B = 0.472, β = 0.441, p < 0.001) and showed a relatively larger standardized coefficient, although the difference between coefficients was not formally tested. Together, both predictors explained 52.4% of the variance in perceived public communication effectiveness (R² = 0.524. Research implications – The findings suggest that government institutions in Aceh should combine responsible AI-supported communication practices with staff capability development, human oversight, accessible public information, and initiatives that strengthen citizens’ digital literacy. Because the study used cross-sectional, purposive, and citizen-reported data, these implications should be verified through more representative, longitudinal, and multi-source research.Originality – This study integrates citizens’ perceptions of AI-supported government communication and digital literacy within a single analytical model, providing empirical evidence on their joint relationship with perceived public communication effectiveness in a local-government social media context