Abdul Hairuddin Angkat
Poltekkes Kemenkes Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR IBU SEBAGAI PENYEBAB STUNTING PADA BADUTA DI DESA SELAYANG BARU KECAMATAN SELESAI Liza afsiah Seniati; Haripin Togap Sinaga; Efendi Selamat Nainggolan; Abdul Hairuddin Angkat
NUTRIENT Vol. 3 No. 1 (2023): Nutrient: Jurnal Gizi
Publisher : POLTEKKES KEMENKES MEDAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36911/nutrient.v3i1.1551

Abstract

Stunting (pendek) adalah kondisi dimana kegagalan untuk mencapai perkembangan fisik yang diukur berdasarkan tinggi badan atau panjang badan menurut umur dengan nilai Z-score <-2 SD. Faktor dari ibu juga dapat yang menyebabkan stunting diantaranya adalah tinggi badan ibu gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran yang terlalu dekat, kehamilan remaja, hipertensi. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor faktor dari ibu sebagai penyebab stunting pada baduta. Metode desain penelitian ini bersifat observasional analitik dan rancangan yang digunakan cross sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 37 ibu yang mempunyai baduta. Pengukuran tinggi ibu menggunakan microtoise sedangkan pada baduta menggunakan papan ukur setelah itu ibu diberikan kuesioner. Analisis yang digunakan adalah chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak hubungan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting dengan p-value 0.596, tidak ada hubungan usia saat hamil dengan kejadian stunting dengan p-value 0.811, tidak ada hubungan usia kehamilan dengan kejadian stunting dengan p-value 0.347 dan tidak ada hubungan jarak kelahiran dengan kejadian stunting dengan p-value 0.415. Kesimpulan tidak ada hubungan tinggi badan ibu,usia saat hamil,usia kehamilan,dan jarak kelahiran dengan kejadian stunting pada baduta. Kata kunci : Faktor ibu, Stunting, Baduta
Pengaruh Variasi Sari Jambu Biji Merah (Psidium guajava) dan Sari Wortel (Daucus carota) Terhadap Daya Terima dan Mutu Kimia Minuman Yogurt Theresia Dwi Putri Situmeang; Abdul Hairuddin Angkat
Media Gizi Ilmiah Indonesia Vol 4 No 2 (2026): AUGUST 2026
Publisher : Kabar Gizi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62358/mgii.v4i2.178

Abstract

Yogurt produk susu fermentasi dapat dikembangkan dengan bahan pangan fungsional. Penambahan sari jambu biji merah (Psidium guajava) dan sari wortel (Daucus carota) diharapkan meningkatkan mutu organoleptik dan kimia. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi sari jambu biji merah terhadap daya terima yogurt dengan sari wortel tetap serta mutu kimia formulasi terbaik.  Penelitian  merupakan eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan dua kali pengulangan. Sari jambu biji merah divariasikan sebanyak 15 g, 20 g, dan 25 g. Uji daya terima dilakukan terhadap 50 panelis dengan parameter warna, konsistensi, rasa, dan aroma menggunakan skala hedonik 1–5. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Data mutu kimia disajikan secara deskriptif dan dibandingkan dengan persyaratan mutu yogurt berdasarkan SNI 2981:2009. Formulasi dengan nilai rata-rata daya terima tertinggi selanjutnya dianalisis secara kimia meliputi kadar air, kadar abu, protein, lemak, karbohidrat, dan kalium. Hasil penelitian variasi sari jambu biji merah berpengaruh nyata terhadap daya terima yogurt (p<0,05). Perlakuan C (25 g jambu biji merah dan 5 g sari wortel) memperoleh nilai kesukaan tertinggi warna (4,04), konsistensi (4,16), dan rasa (4,17), sedangkan nilai kesukaan aroma tertinggi diperoleh pada perlakuan B sebesar 4,00. Berdasarkan rata-rata keseluruhan parameter organoleptik, perlakuan C memperoleh nilai tertinggi sebesar 4,06. Hasil analisis mutu kimia perlakuan C menunjukkan kadar air 84,73%, kadar abu 0,69%, kadar lemak 2,37%, kadar protein 2,77%, kadar karbohidrat 9,44%, dan kalium 159,485 mg/100 g. Perlakuan C 2(5 g  jambu biji merah dan 5 g  wortel) merupakan formulasi daya terima tertinggi.