p-Index From 2021 - 2026
0.659
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Ebers Papyrus
Alexander Halim Santoso
Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI KORELASI ANTARA LINGKAR PINGGANG DENGAN HIPERURISEMIA PADA DEWASA USIA PRODUKTIF DI KECAMATAN CENGKARENG JAKARTA BARAT Steven Hizkia Lucius; Alexander Halim Santoso
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/qym9hj57

Abstract

Hiperurisemia adalah kondisi yang dicirikan oleh tingginya konsentrasi asam urat dalam darah, yang dapat berperan dalam munculnya berbagai penyakit metabolik seperti gout, hipertensi, penyakit ginjal, dan sindrom metabolik. Obesitas sentral merupakan salah satu faktor risiko hiperurisemia yang masih dapat dimodifikasi dan dievaluasi menggunakan parameter lingkar pinggang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara kejadian hiperurisemia dan ukuran lingkar pinggang pada populasi dewasa usia produktif di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Studi ini dirancang sebagai penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, diselenggarakan pada bulan April 2025 terhadap 184 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih melalui metode non-random sampling. Pengumpulan data melalui kuesioner, pengukuran lingkar pinggang, dan alat Point of care testing untuk kadar asam urat. Hasil studi menunjukkan, seluruh responden tercatat memiliki kadar asam urat yang masih berada dalam rentang normal, dengan rata-rata sebesar 4,3 mg/dL pada responden laki-laki dan 3,81 mg/dL pada responden perempuan. Namun, sebanyak 63,04% responden memiliki lingkar pinggang yang tinggi. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif lemah namun signifikan antara lingkar pinggang dan kadar asam urat (r=0,311; p<0,01). Temuan ini mendukung hipotesis peningkatan ukuran lingkar pinggang terkait dengan meningkatnya kadar asam urat meskipun masih dalam batas normal. Kesimpulannya, Lingkar pinggang merupakan salah satu faktor yang berkorelasi dengan hiperurisemia, sehingga pengendalian lingkar pinggang dapat menjadi strategi preventif terhadap risiko gangguan metabolik di masyarakat usia produktif.
USIA DAN GULA DARAH PUASA SEBAGAI PREDIKTOR KELEMAHAN GENGGAMAN TANGAN: STUDI MULTISENTER DI ENAM KELURAHAN DKI JAKARTA Tjie Haming Setiadi; Alexander Halim Santoso; Daniel Goh; Gracienne
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.38472

Abstract

Kekuatan genggaman tangan merupakan indikator penting dalam menilai status fungsional dan kesehatan umum, serta menjadi salah satu komponen dalam diagnosis sarkopenia. Usia dan gangguan metabolik seperti hiperglikemia diduga berperan dalam menurunkan fungsi otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran usia dan kadar gula darah puasa sebagai prediktor kelemahan genggaman tangan pada laki-laki dewasa. Penelitian ini merupakan studi potong lintang multicenter yang melibatkan 121 laki-laki dewasa berusia ≥18 tahun di enam kelurahan wilayah DKI Jakarta. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan kadar gula darah puasa dan profil lipid menggunakan metode dry strip chemical analyzer, serta pengukuran kekuatan genggaman tangan menggunakan dynamometer digital. Analisis statistik dilakukan dengan metode Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk menilai nilai prediktif masing-masing variabel terhadap kelemahan otot. Rerata usia responden adalah 48,06 tahun dan rerata kadar gula darah puasa 107,35 mg/dL, dengan nilai maksimum mencapai 524 mg/dL. Sebanyak 34,7% responden mengalami kelemahan genggaman tangan. Analisis ROC menunjukkan bahwa usia merupakan prediktor paling kuat (AUC = 0,763; p < 0,001), diikuti oleh kadar gula darah puasa (AUC = 0,647; p = 0,008), sedangkan parameter lipid tidak menunjukkan signifikansi (p > 0,05). Usia dan kadar gula darah puasa merupakan prediktor signifikan terhadap kelemahan genggaman tangan pada laki-laki dewasa, sehingga dapat dijadikan indikator klinis dalam deteksi dini penurunan fungsi otot. Pemeriksaan sederhana ini sebaiknya dimasukkan ke dalam skrining rutin, khususnya pada populasi usia paruh baya, guna mendukung upaya preventif terhadap gangguan muskuloskeletal.