Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KESEHATAN IBU DAN BAYI PADA PERNIKAHAN DINI Ernawati, Hery; Verawati, Metti
Jurnal Media Ilmu Kesehatan Vol 3 No 3 (2014): Media Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.854 KB)

Abstract

Background: Marriage under the age of 20 (early marriage) can cause variety of problems, one of which effects on the health of the mothers and the babies. Objective: This study aimed to measure the health of mothers and babies in early-married women. Methods: This was a descriptive study with a retrospective design to investigate the health of mothers and babies who married in early age. This study was conducted in May to July 2014. Instruments used was a checklist filled out by researchers based on data from the respondents or through the existing data on Kartu Menuju Sehat (KMS). The maternal health was assessed during pregnancy, childbirth and postnatal period, and the infants health was assessed by the baby's condition at birth. Research was conducted at Ngrayun District. Samples were chosen purposively, resulted in 42 respondents. Data was analysed in univariate analysis. Results: Maternal health problems during pregnancy were anemia, dizziness and swelling during  pregnancy. Problems occured during labor time were prolonged labor for 15 hours, bleeding, and postpartum infection characterized by fever, pain and itching. Infants in early marriage were mostly healthy, there were only 2 infants born preterm and one with low birth weight. Conclusion: This study indicated the presence of maternal health problems during pregnancy, childbirth and post-partum, and most infants were in good health condition. There were only 2 babies born prematurely and with low birth weight. However, efforts to diminish numbers of early marriage are stil important, with the collaboration of relevant agencies. Keywords: Maternal health during pregnancy, childbirth, postpartum, baby health, early marriage.
Pelatihan Siswa Tanggap Bencana sebagai Upaya Mitigasi Bencana di Ponorogo Sukamto, Filia Icha; Nurhidayat, Saiful; Verawati, Metti
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol 2 No 1 (2021): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v2i1.178

Abstract

Around 40.9 million Indonesians live in landslide prone areas. In the Ponorogo regency of the East Java province, there are 9 sub-districts that have been designated as landslide prone areas with the mild to severe category. One of the villages has experienced landslides in 2017, Banaran village of Pulung district, which 28 villagers became victim and 23 houses buried. Children are virtually one of the most vulnerable groups to being affected by disasters. The vulnerability of children to disasters is triggered by a limited risk understanding which results in a lack of preparedness in facing disasters. Achieving school preparedness is very important considering that Indonesia is a country with a high risk of disasters. It is very important to raise awareness of disasters as early as possible to minimize the impact of disaster risks. The preparedness of the school component is still below expectations, the regulations formed by providing education and simulations to students about disaster response and the impact of disasters are able to reduce disaster risk considering that children are one of the vulnerable groups. We counseled students of SDN Bekiring in Ponorogo to instill their understanding about landslide disaster mitigation. Sekitar 40,9 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah rawan longsor. Di Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur, terdapat 9 kecamatan yang telah ditetapkan sebagai daerah rawan longsor dengan kategori ringan sampai berat. Salah satu desa yang pernah mengalami longsor pada tahun 2017 adalah Desa Banaran Kecamatan Pulung yang mengakibatkan 28 warga menjadi korban dan 23 rumah tertimbun. Anak-anak sebenarnya merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terkena bencana. Kerentanan anak terhadap bencana dipicu oleh pemahaman risiko yang terbatas yang berakibat pada kurangnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Mewujudkan kesiapsiagaan sekolah menjadi sangat penting mengingat Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana yang tinggi. Sangat penting untuk meningkatkan kesadaran bencana sedini mungkin untuk meminimalkan dampak risiko bencana. Kesiapsiagaan komponen sekolah masih dibawah ekspektasi, regulasi yang dibentuk dengan memberikan edukasi dan simulasi kepada siswa tentang tanggap bencana dan dampak bencana mampu mengurangi risiko bencana mengingat anak merupakan salah satu kelompok rentan. Kami mendampingi siswa SDN Bekiring di Ponorogo untuk menanamkan pemahaman tentang mitigasi bencana longsor.
Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja Sebagai Upaya Pencegahan Sexual Abuse di Panti Asuhan Verawati, Metti; Purwanti, Lina Ema; Ernawati, Hery; Sukamto, Filia Icha
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i1.17126

Abstract

Background: Masalah kesehatan reproduksi remaja meningkat setiap tahun, termasuk remaja yang tinggal di panti asuhan. Remaja ini rentan mengalami sexual abuse. Santri perlu dikenalkan tentang bagaimana menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah adanya penyimpangan seksual pada remaja. Edukasi ini bertujuan untuk memberikan informasi dan mengidentifikasi pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja. Metode: Kegiatan ini diawali dengan edukasi menggunakan metode tanya jawab. Edukasi dilakukan oleh tim pengabdian dari Fakultas Ilmu Kesehatan. Selanjutnya mengisi kuesioner setelah edukasi, dan dianalisis. Kuesioner diisi oleh remaja penghuni panti dan pengasuhnya. Hasil: Didapatkan peningkatan pengetahuan remaja dan pengasuh di panti tentang kesehatan reproduksi pada remaja yang meliputi: manajemen hygiene menstruasi dan pelecehan seksual pada remaja di panti asuhan. Kesimpulan: Perilaku kewaspadaan terhadap kondisi yang dapat menyebabkan gangguan reproduksi pada usia remaja dan tindak kriminal pelecahan seksual pada remaja di lingkungan panti asuhan sangat penting. Untuk itu, perlu tersedianya informasi yang membantu penghuni panti dan pengasuh tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan pelecehan seksual pada remaja dilingkungan panti asuhan Payamuba.
Pelatihan Siswa Tanggap Bencana sebagai Upaya Mitigasi Bencana di Ponorogo: Training of Disaster Responsive Students as Disaster Mitigation Efforts in Ponorogo Sukamto, Filia Icha; Nurhidayat, Saiful; Verawati, Metti
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol. 2 No. 1 (2021): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v2i1.178

Abstract

Around 40.9 million Indonesians live in landslide prone areas. In the Ponorogo regency of the East Java province, there are 9 sub-districts that have been designated as landslide prone areas with the mild to severe category. One of the villages has experienced landslides in 2017, Banaran village of Pulung district, which 28 villagers became victim and 23 houses buried. Children are virtually one of the most vulnerable groups to being affected by disasters. The vulnerability of children to disasters is triggered by a limited risk understanding which results in a lack of preparedness in facing disasters. Achieving school preparedness is very important considering that Indonesia is a country with a high risk of disasters. It is very important to raise awareness of disasters as early as possible to minimize the impact of disaster risks. The preparedness of the school component is still below expectations, the regulations formed by providing education and simulations to students about disaster response and the impact of disasters are able to reduce disaster risk considering that children are one of the vulnerable groups. We counseled students of SDN Bekiring in Ponorogo to instill their understanding about landslide disaster mitigation. Sekitar 40,9 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah rawan longsor. Di Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur, terdapat 9 kecamatan yang telah ditetapkan sebagai daerah rawan longsor dengan kategori ringan sampai berat. Salah satu desa yang pernah mengalami longsor pada tahun 2017 adalah Desa Banaran Kecamatan Pulung yang mengakibatkan 28 warga menjadi korban dan 23 rumah tertimbun. Anak-anak sebenarnya merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terkena bencana. Kerentanan anak terhadap bencana dipicu oleh pemahaman risiko yang terbatas yang berakibat pada kurangnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Mewujudkan kesiapsiagaan sekolah menjadi sangat penting mengingat Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana yang tinggi. Sangat penting untuk meningkatkan kesadaran bencana sedini mungkin untuk meminimalkan dampak risiko bencana. Kesiapsiagaan komponen sekolah masih dibawah ekspektasi, regulasi yang dibentuk dengan memberikan edukasi dan simulasi kepada siswa tentang tanggap bencana dan dampak bencana mampu mengurangi risiko bencana mengingat anak merupakan salah satu kelompok rentan. Kami mendampingi siswa SDN Bekiring di Ponorogo untuk menanamkan pemahaman tentang mitigasi bencana longsor.
Efektivitas pemberian buah naga merah (hylocereus polyrhizus) terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi Verawati, Metti; Amanah, Sindawati Insyafiatul; Munawaroh, Siti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1582

Abstract

Background: Hypertension is common in the elderly, due to uncontrolled diet and poor blood pressure control. If not properly managed, this condition can lead to various complications. Hypertension is characterized by blood pressure ≥140/90 mmHg and can be managed through pharmacological and non-pharmacological therapies. Purpose: To determine the effectiveness of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) on blood pressure changes in hypertensive patients. Method: This study used a quasi-experimental pretest-posttest design with a non-equivalent control group. The study was conducted at the Ngariboyo Community Health Center, Ngariboyo Village, Magetan Regency, in May 2025. Twenty participants were selected using purposive sampling and divided into two groups: the intervention group and the control group. After the pretest, the intervention group was given 200 grams of sliced ​​red dragon fruit, while the control group was not given red dragon fruit. This study used univariate and bivariate analysis using the Wilcoxon test, then compared its effectiveness with the Mann-Whitney U test. Results: The Wilcoxon test showed a significant reduction in both groups (p-value = 0.005 ≤ 0.05), while the Mann-Whitney U test showed a significant difference in systolic (p-value = 0.045 ≤ 0.05) and diastolic (p-value = 0.048 ≤ 0.05) blood pressure. The intervention group consuming 200 grams of red dragon fruit every morning experienced a more consistent and effective reduction in blood pressure. Conclusion: The potassium content in red dragon fruit has been shown to enhance treatment effectiveness, making red dragon fruit an appropriate adjunct and alternative therapy for people with hypertension. Suggestion: These findings provide an initial basis for further research to test the effectiveness of combined pharmacological and non-pharmacological therapies in evidence-based nursing practice.   Keywords: Blood Pressure; Hypertensive Patients; Red Dragon Fruit (Hylocereus Polyrhizus).   Pendahuluan: Hipertensi banyak terjadi pada lansia, salah satu akibatnya dari pola makan yang tidak terkontrol dan kurangnya pengendalian tekanan darah. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Hipertensi ditandai dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg dan dapat dikelola melalui terapi farmakologi maupun nonfarmakologi Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas pemberian buah naga merah (hylocereus polyrhizus) terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental pretest-posttest non equivalent control group. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Ngariboyo, di Desa Ngariboyo, Kabupaten Magetan pada bulan Mei 2025. 20 partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi setelah dilakukan pretest diberikan buah naga merah potong sebanyak 200 gram, sedangkan pada kelompok kontrol tanpa pemberian buah naga merah. Studi ini menggunakan analisis univariat dan bivariat melalui uji Wilcoxon, selanjutnya membandingkan efektivitasnya dengan uji Mann-Whitney U. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan penurunan yang signifikan pada kedua kelompok (p-value = 0.005 ≤ 0.05), sedangkan uji Mann-Whitney U menunjukkan perbedaan yang signifikan pada tekanan darah sistolik (p-value = 0.045 ≤ 0.05) dan diastolik (p-value = 0.048 ≤ 0.05). Kelompok intervensi yang mengonsumsi 200 gram buah naga merah setiap pagi mengalami penurunan tekanan darah yang lebih konsisten dan efektif. Simpulan: Kandungan kalium dalam buah naga merah terbukti meningkatkan efektivitas pengobatan, serta menjadikan buah naga merah sebagai terapi tambahan dan alternatif yang tepat bagi penderita hipertensi. Saran: Temuan ini menjadi dasar awal bagi riset lanjutan untuk mengkaji efektivitas kombinasi terapi farmakologi dan non-farmakologi dalam praktik keperawatan berbasis bukti   Kata Kunci: Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus); Penderita Hipertensi; Tekanan Darah.
EDUKASI DAN SKRINING SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DI PANTI ASUHAN Purwanti, Lina Ema; Ernawati, Hery; Sukamto, Filia Icha; Verawati, Metti
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.27741

Abstract

Abstrak: Remaja merupakan masa pertumbuhan fisik, psikologis, dan intelektual yang pesat. Di Indonesia, gangguan mental pada remaja merupakan masalah penting karena tidak hanya mempengaruhi kesehatan generasi sekarang tetapi juga kesehatan mereka saat dewasa. Remaja yang tinggal di panti asuhan berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Panti Asuhan Muhammadiyah Babadan Ponorogo melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk melakukan deteksi dini dan peningkatan pengetahuan remaja di panti asuhan tentang kesehatan mental. Metode yang digunakan adalah skrining kepada 38 remaja penghuni panti asuhan dengan membagikan kuesioner Self Reporting Questionnaire 20 versi Indonesia. Kegiatan evaluasi pengetahuan dilakukan dengan membagikan kuesioner tentang kesehatan mental remaja sebelum dan sesudah edukasi. Terdapat peningkatan pengetahuan kesehatan mental remaja sebanyak 45% dan hasil skrining menunjukkan 46% berisiko mengalami gangguan mental. Perlu penanganan serius terhadap kesehatan mental remaja di panti asuhan dengan pemberian bimbingan dan konseling untuk menjalin komunikasi antara remaja dengan pengasuh sebagai pengganti orang tua.Abstract: Adolescence is a period of rapid physical, psychological, and intellectual growth. In Indonesia, mental disorders in adolescents are an essential problem because they affect not only the health of the current generation but also their health as adults. Adolescents living in orphanages are at risk of experiencing mental health problems. The Faculty of Health Sciences, University of Muhammadiyah Ponorogo, in collaboration with the Muhammadiyah Babadan Ponorogo Orphanage Social Welfare Institution, conducted community service activities aimed at conducting early detection and increasing the knowledge of adolescents in orphanages about mental health. The method screened 38 orphanage adolescents using the Indonesian version of the Self Reporting Questionnaire 20 questionnaire. Knowledge evaluation activities were conducted by giving questionnaires about adolescent mental health before and after education. There was an increase in adolescent mental health knowledge of 45%, and the screening results showed that 46% were at risk of experiencing mental disorders. Serious handling of adolescent mental health in orphanages is needed by providing guidance and counseling to establish communication between adolescents and caregivers as substitute parents.