Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

METODE PENAFSIRAN ACHMAD CHODJIM DALAM TAFSIR SURAH AL-FATIHAH Yulia Zhana Safira; Ahmad Zainuddin; Amir Mahmud; M.Mukhid Mashuri
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.45

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realita yang memperhatikan dan membutuhkan perhatian, yaitu untuk membantu indonesia atau bangsa lain yang merasa perlu surah ini dibacakan untuk membuka mata batin kita. Dengan memahami dan menghayati surah ini, kami berharap dapat membuka mata hati agar kita mengetahui isi kitab Allah, baik kitab-kitab yang tertulis maupun yang tidak tertulis, yaitu kitab-kitab yang tersebar di seluruh alam semesta, termasuk kitab yang ada pada kita. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan apa yang sudah penulis mencari dan mengetahui bahwa tafsir Achmad Chodjim Surah Al-Fatihah ini bercorak tafsir teologi dan metode yang digunakannya adalah metode tahlili serta gagasan tafsirnya. Tafsir semacam ini merupakan salah satu bentuk penafsiran Al-Quran yang tidak hanya ditulis oleh simpatisan kelompok teologis tertentu, tetapi lebih jauh lagi merupakan tafsir yang dimanfaatkan untuk membela sudut pandang teologi tertentu. Tafsir dengan metode tahlili menjelaskan secara berbeda aspek-aspek yang terkandung dalam ayat-ayat yang ditafsirkan, seperti makna kosa kata, makna kalimat, latar belakang kalimat, keterkaitan dengan kalimat lain (masuk akal), dan pendapat-pendapat yang telah diungkapkan tentang penafsiran ayat-ayat tersebut diriwayatkan oleh nabi, sahabat, tabi'in dan para mufassir lainnya. Metode tahlili ini melibatkan penjelasan dan interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an. Tafsir dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti tafsir bil ma’tsur, tafsir bil ra’yi, tafsir tematik, dan tafsir ta’wil.
KENIKMATAN SURGAWI (Studi komparatif Ath-Thabari, Fakhruddin Ar-Razi dan Al-Manar) Ummy Machila; Ahmad Zainuddin; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.46

Abstract

Kenikmatan merupakan sebuah rasa atau sifat manusia yang muncul ketika manusia tersebut dalam keadaan senang atau bahagia. Surga merupakan kehidupan akhirat yang menjanjikan kebahagian terhadap roh manusia ketika berada didalamnya serta kekal didalamnya. Kenikmatan surgawi merupakan salah satu bentuk kenikmatan yang Allah janjikan. Di dalam surga Allah memfasilitasi banyak sekali kenikmatan, bahkan suatu perkara yang sebelumnya bernilai haram ketika di surga berubah menjadi halal, maka sebagai umat Muslim hendaknya kita tetap menjalankan yang telah di perintahkan.Kendati itu, muncul ragam perbedaan pemaknaan kenikmatan surgawi dalam pergeseran atau periodisasi mufassir. Di setiap masanya tafsir selalu mengalami perkembangan yang disebabkan oleh faktor berubahnya zaman serta tempat. Periode penafsiran digolongkan menjadi tiga generasi yakni klasik, pertengahan, kontemporer. Dari ketiga mufassir ini memunculkan sudut pandang yang berbeda, menurut Ath-Thabari dalam periode klasik, beliau memaknai kenikmatan surgawi yang digambarkan Al-Qur’an sesuai dengan yang disebut. Jadi adanya surga itu memang bisa dilihat berupa sungai dan lain-lain. Kedua, Menurut Ar-Razi dalam periode pertengahan, kenikmatan surgawi di maknai dan di takwilkan sebagai rahmat Allah terlepas apakah yang digambarkan Al-Qur’an berupa sesuatu yang bisa dirasakan panca indera atau tidak. Ketiga, Menurut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam kitab Al-Manar, ayat - ayat Al-Qur’an hanyalah symbol dari adanya kenikmatan yang lebih besar dari yang digambarkan.Maka dari itu, dengan melihat gambaran atas segala kenikmatan yang Allah berikan seharusnya menjadi motivasi agar lebih meluruskan niat untuk tetap berada di jalan Allah yang benar serta dapat merasakan kenikmatan-kenikmatan yang diturunkan Allah.
ANXIETY DISORDER DALAM AL-QUR’AN (Telaah Lafadz Khauf, Halu’ dan Huzn) Amira Fauziah; Ahmad Zainuddin; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.48

Abstract

Anxiety Disorder merupakan salah satu jenis gangguan mental dengan karakterisitik merasakan ketakutan dan kekhawatiran secara berlebihan. kecemasan dan ketakutan ini terus-menerus muncul, disertai dengan gejala seperti jantung berdebar, keringat berlebih, serta perasaan tidak nyaman di perut atau dada dapat disebabkan oleh kenangan buruk atau trauma masa lalu, perasaan tidak diterima dengan baik oleh lingkungan hingga disebabkan karena lemahnya daya pikir yang ketika dihadapkan hal-hal yang tidak diharapkan, penderita akan berusaha merespon dengan penolakan berlebihan. Masalah kejiwaan seperti ini sangat dekat dengan realita kehidupan sehingga kemudian menjadikannya penting untuk membahas fungsi dan peran Al-Qur’an terhadap masalah psikologi manusia khususnya pada fenomena Anxiety disorder yang dalam hal ini akan diungkap melalui metode Tafsir Mudlu’i dan dilakukan secara konseptual yaitu melalui langkah mengumpulkan term-term yang menjadi konsep terjadinya Anxiety Disorder antara lain : Khauf, Halu’, Huzn. Yang terdapat dalam al-Qur’an Dengan ditafsirkan secara Maudlu’i, yaitu dengan membahas tematik sebagai hal utama yang dilakukan metode penelitian ini dengan mengumpulkan ayat-ayat dengan satu tema yang sama dan ditafsirkan, melalui dua kajian ini makna dari term konseptual akan dikonfirmasi posisinya terhadap term utama Anxiety Disorder, setelah terkonfirmasi bahwa term-term tersebut memang cocok dijadikan konsep term Anxiety Disorder kemudian akan menghasilkan makna psikologis (Tafsir Al-Nafs) yang dijadikan tawaran solusi bagi penderita Anxiety Disorder dan dapat diterapkan pada realita kehidupan.
RELASI TUHAN DAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Rizqotul Maulidiah; Ahmad Zainuddin; Wiwin Ainis Rohtih; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 1 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agama merupakan gambaran hubungan antara Tuhan dan manusia, baik dari segi antara sang pencipta dan ayang diciptakan atau pun pemberi hukum dan yang terkena hukum. Agama sering disebut juga dengan istilah religi. Kata religi dalam bahasa Inggris religion yang juga merupakan kata serapan dari bahasa latin religare yang artinya mengikat bersama.[1] Sedangkan dalam istilah Arab, agama disebut Din, menurut Mahmud Syaltut sebagaimana yang dikutib Quraisy Shihab, istilah itu menggambarkan “hubungan antara dua pihak dimana yang pertama mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada yang kedua.” Seluruh kata yang menggunakan huruf dal,ya’, dan nun seperti dain yang berarti utang atau dana yadinu yang berarti menghukum atau taat, dan sebagainya, kesemuanya menggambarkan adanya dua pihak yang melakukan interaksi seperti yang di gambarkan diatas. Maka dengan demikian, Agama adalah “hubungan antara makhluq dan Khaliq-nya”. Hubungan ini mewujud dalam sikap batinya sertatampak dalam ibadah yang dilaksanakanya dan tercermin pula dalam sikap keseharianya [1] Ronald L. Johnstone,Religion in Society: A Sociology of Religion (New York: Routledge, 2016), 8