Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

The Hadith on Purifying Dog Licks: In Search of the Authenticity from Scientific Perspective Arifuddin Ahmad; Amir Mahmud
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 9 No. 1 (2019): JUNI
Publisher : Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.682 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2019.9.1.24-43

Abstract

The Prophet tradition, which explains on how to purify a vessel licked by a dog, has a different editorial (text) and substance (content). This difference gives the impression that the Prophet is showing inconsistencies in giving teaching to his companions, which results in confusion for the next generation in understanding the hadith. To examine the truth of the hadith, the researcher aims at locating two standard methods in the study of the hadith that are to examines the chains (sanad) and content (matn). By these two methods, the validity of the hadith can be considered for its authenticity. Besides, scientific evidence by examining the saliva content of dogs could be an alternative way to prove the truth of the h}adi>th. It argues that the truth of the various hadith is in line with that of scientific research. The saliva of a pet can be cleaned by seven times of water rinse. While seven rinses of water can clean the saliva of wild dogs, and one of them should be mixed with soil.
PRAKTEK TRADISI SESAJEN MENJELANG PANEN ANTARA WARGA PETANI NAHDLATUL ULAMA DAN MUHAMMADIYAH DESA KRAI LUMAJANG Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rahtih
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.1602

Abstract

Abstract; Offerings are part of the existing tradition and are often practiced by the Indonesianpeople. One of them is the practice of ritual offerings before harvest in Krai Village, Kec. Yosowilangun Kab. Lumajang East Java. Organizationally, some are associated with NU and some are Muhammadiyah. In religious beliefs, there is an intersection between offerings and religious teachings. However, people who are affiliated with NU and Muhammadiyah have different responses to this religious belief. Therefore, it is necessary to investigate the perception and impact of practicing and leaving this offering practice. This type of research is descriptive qualitative. The way it works is to find and collect data by means of interviews, observations and documentation. This type of research is categorized as phenomenological research. This is because the object of this research is an event that occurs in the community. The research findings show that there are differences in perceptions between NU and Muhammadiyah farmers. NU farmers practice offerings before harvest and are perceived as respect, while Muhammadiyah farmers reject the tradition of offerings. However, both of them can carry out social harmony without being disturbed by differences in perceptions about offerings.?Keywords: offerings, harvest, NU and Muhammadiyah, Lumajang.?Abstrak;Sesajen merupakan bagian tradisi yang ada dan sering dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia. Salah satunya praktek ritual sesajen menjelang panen di Desa Krai Kec. Yosowilangun Kab. Lumajang Jawa Timur. Masyarakat di Desa ini, mayoritas beragama Islam. Secara keorganisasisan, sebagian berasosiasi NU dan sebagian lainnya Muhammadiyah. Dalam keyakinan keberagamaan terdapat persinggungan antara sesajen dan ajaran agama. Namun, terhadap akidah keagamaan tersebut disikapi berbeda oleh masyarakat yang berafiliasi dengan NU dan Muhammadiyah. Oleh karena itu perlu penelusuran tentang persepsi dan dampak atas mengamalkan dan meninggalkan praktek sesajen ini. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Cara kerjanya adalah mencari dan mengumpulkan data dengan cara wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian fenomenologi. Sebab, objek penelitian ini merupakan kejadian yang terjadi di tengah masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara petani warga NU dan Muhammadiyah. Petani warga NU mengamalkan sesajen menjelang panen dan dipersepsikan sebagai penghormatan, sedangkah petani warga Muhammadiyah menolak tradisi sesajen. Namun, keduanya bisa menjalankan kerukunan sosial kemasyarakatan tanpa diganggu oleh perbedaan persepsi tentang sesajen.?Kata Kunci: sesajen, panen, NU dan Muhammadiyah, Lumajang.
METODE PENAFSIRAN ACHMAD CHODJIM DALAM TAFSIR SURAH AL-FATIHAH Yulia Zhana Safira; Ahmad Zainuddin; Amir Mahmud; M.Mukhid Mashuri
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.45

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realita yang memperhatikan dan membutuhkan perhatian, yaitu untuk membantu indonesia atau bangsa lain yang merasa perlu surah ini dibacakan untuk membuka mata batin kita. Dengan memahami dan menghayati surah ini, kami berharap dapat membuka mata hati agar kita mengetahui isi kitab Allah, baik kitab-kitab yang tertulis maupun yang tidak tertulis, yaitu kitab-kitab yang tersebar di seluruh alam semesta, termasuk kitab yang ada pada kita. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan apa yang sudah penulis mencari dan mengetahui bahwa tafsir Achmad Chodjim Surah Al-Fatihah ini bercorak tafsir teologi dan metode yang digunakannya adalah metode tahlili serta gagasan tafsirnya. Tafsir semacam ini merupakan salah satu bentuk penafsiran Al-Quran yang tidak hanya ditulis oleh simpatisan kelompok teologis tertentu, tetapi lebih jauh lagi merupakan tafsir yang dimanfaatkan untuk membela sudut pandang teologi tertentu. Tafsir dengan metode tahlili menjelaskan secara berbeda aspek-aspek yang terkandung dalam ayat-ayat yang ditafsirkan, seperti makna kosa kata, makna kalimat, latar belakang kalimat, keterkaitan dengan kalimat lain (masuk akal), dan pendapat-pendapat yang telah diungkapkan tentang penafsiran ayat-ayat tersebut diriwayatkan oleh nabi, sahabat, tabi'in dan para mufassir lainnya. Metode tahlili ini melibatkan penjelasan dan interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an. Tafsir dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti tafsir bil ma’tsur, tafsir bil ra’yi, tafsir tematik, dan tafsir ta’wil.
KENIKMATAN SURGAWI (Studi komparatif Ath-Thabari, Fakhruddin Ar-Razi dan Al-Manar) Ummy Machila; Ahmad Zainuddin; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.46

Abstract

Kenikmatan merupakan sebuah rasa atau sifat manusia yang muncul ketika manusia tersebut dalam keadaan senang atau bahagia. Surga merupakan kehidupan akhirat yang menjanjikan kebahagian terhadap roh manusia ketika berada didalamnya serta kekal didalamnya. Kenikmatan surgawi merupakan salah satu bentuk kenikmatan yang Allah janjikan. Di dalam surga Allah memfasilitasi banyak sekali kenikmatan, bahkan suatu perkara yang sebelumnya bernilai haram ketika di surga berubah menjadi halal, maka sebagai umat Muslim hendaknya kita tetap menjalankan yang telah di perintahkan.Kendati itu, muncul ragam perbedaan pemaknaan kenikmatan surgawi dalam pergeseran atau periodisasi mufassir. Di setiap masanya tafsir selalu mengalami perkembangan yang disebabkan oleh faktor berubahnya zaman serta tempat. Periode penafsiran digolongkan menjadi tiga generasi yakni klasik, pertengahan, kontemporer. Dari ketiga mufassir ini memunculkan sudut pandang yang berbeda, menurut Ath-Thabari dalam periode klasik, beliau memaknai kenikmatan surgawi yang digambarkan Al-Qur’an sesuai dengan yang disebut. Jadi adanya surga itu memang bisa dilihat berupa sungai dan lain-lain. Kedua, Menurut Ar-Razi dalam periode pertengahan, kenikmatan surgawi di maknai dan di takwilkan sebagai rahmat Allah terlepas apakah yang digambarkan Al-Qur’an berupa sesuatu yang bisa dirasakan panca indera atau tidak. Ketiga, Menurut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam kitab Al-Manar, ayat - ayat Al-Qur’an hanyalah symbol dari adanya kenikmatan yang lebih besar dari yang digambarkan.Maka dari itu, dengan melihat gambaran atas segala kenikmatan yang Allah berikan seharusnya menjadi motivasi agar lebih meluruskan niat untuk tetap berada di jalan Allah yang benar serta dapat merasakan kenikmatan-kenikmatan yang diturunkan Allah.
RAGAM PEMAKNAAN QIRO’AH Analisis Deskripsi Ayat-Ayat Hukum Dalam Tafsir Al-Bahr Muhith Lukman; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.47

Abstract

Skripsi ini berjudul Ragam Pemaknaan Qiro’ah Sab’ah Analis Deskripsis ayat-ayat hukum Dalam Tafsir Al-Bahr merupakan Karya Al-imam Atsiruddin abu hayyan muhammad ibn yusuf ibn ali ibn yusuf ibn hayyan al-Andalusi al-Gharnathi Al-Nafzi yang popupler di panggil dengan Abu hayyan. kitab tafsir yang bercorak lughowi dan membahas keragaman ilmu Qiro’ah pada tafsir tersebut apakah perbedaan qiro’ah bisa mempengaruhi pemaknaan dan penafsiran? dan bagaimana cara Abu hayyan menafsirakan Ayat-Ayat memiliki keragaman Qiro’ah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemaknaan dan penafsiran Abu hayyan terhadap ayat-ayat hukum yang memiliki perbedaan Qiro’ah. Serta pemakaian Qiro'ah sebagai sarana penafsiran al-Qur'an dalam Tafsir Al-Bahr Al-Muhith Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research) dengan mengunakan metode diskriptif-analitis yaitu mengambarkan atau menjelaskan perbedaan Qiro’ah yang menimbulkan perbedaan makna dan penafsiran yang berkaitan dengan penelitian tersebut menggali makna-makna yang terkandung dalam penafsiran ayat. Selama ini penelitian-penelitian tentang ’ilmu al-Qiro’ah yang dikaitkan dengan adanya perbedaan pemaknaan dan penafsiran masih sangat sedikit, beberapa penelitian menyimpulkan bahwa sebagian perbedaan tersebut juga berpengaruh besar terjadinya perbedaan penafsiran, bahkan juga meliputi dalam hukum fikih. Kesimpulan dari penelitian ini, bahwa Abu hayyan menggunakan perbedaan Qiro’ah sebagai salah satu saranah penafsiran pada aya-tayat yang memiliki perbedaan bacaan, bila dinilai perbedaan bacaan tersebut mempunyai implikasi terhadap berbedanya makna yang dihasilkan.
ANXIETY DISORDER DALAM AL-QUR’AN (Telaah Lafadz Khauf, Halu’ dan Huzn) Amira Fauziah; Ahmad Zainuddin; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.48

Abstract

Anxiety Disorder merupakan salah satu jenis gangguan mental dengan karakterisitik merasakan ketakutan dan kekhawatiran secara berlebihan. kecemasan dan ketakutan ini terus-menerus muncul, disertai dengan gejala seperti jantung berdebar, keringat berlebih, serta perasaan tidak nyaman di perut atau dada dapat disebabkan oleh kenangan buruk atau trauma masa lalu, perasaan tidak diterima dengan baik oleh lingkungan hingga disebabkan karena lemahnya daya pikir yang ketika dihadapkan hal-hal yang tidak diharapkan, penderita akan berusaha merespon dengan penolakan berlebihan. Masalah kejiwaan seperti ini sangat dekat dengan realita kehidupan sehingga kemudian menjadikannya penting untuk membahas fungsi dan peran Al-Qur’an terhadap masalah psikologi manusia khususnya pada fenomena Anxiety disorder yang dalam hal ini akan diungkap melalui metode Tafsir Mudlu’i dan dilakukan secara konseptual yaitu melalui langkah mengumpulkan term-term yang menjadi konsep terjadinya Anxiety Disorder antara lain : Khauf, Halu’, Huzn. Yang terdapat dalam al-Qur’an Dengan ditafsirkan secara Maudlu’i, yaitu dengan membahas tematik sebagai hal utama yang dilakukan metode penelitian ini dengan mengumpulkan ayat-ayat dengan satu tema yang sama dan ditafsirkan, melalui dua kajian ini makna dari term konseptual akan dikonfirmasi posisinya terhadap term utama Anxiety Disorder, setelah terkonfirmasi bahwa term-term tersebut memang cocok dijadikan konsep term Anxiety Disorder kemudian akan menghasilkan makna psikologis (Tafsir Al-Nafs) yang dijadikan tawaran solusi bagi penderita Anxiety Disorder dan dapat diterapkan pada realita kehidupan.
KONSEPSI PACARAN DALAM AL-QUR’AN (Kajian Tematik) Siti Fatimah; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.52

Abstract

Pacaran adalah ketika dua orang yang tidak sama jenis kelamin berusaha mengenal satu sama lain. Ini bisa menjadi termin awal sebelum keduanya menikah. Pacaran adalah suatu hal yang dianggap kalangan masyarakat hal negatif. Pranikah sering diartikan sebagai pacaran yang membuat hubungan antara laki-laki dan perempuan seperti tidak ada batasnya. Dalam Al-Qur’an terdapat penekanan pentingnya menjaga batasan-batasan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan sebelum pernikahan dengan menjaga pandangan, menjaga kesucian dan perbuatan zina. Namun, di Al-Qur’an tidak ada ayat yang secara spesifik membahas tentang konsepsi pacaran pranikah. Oleh karena itu, penting untuk merujuk penafsiran ulama dan pemahaman terkait konsep ini yang bervariasi diantara individu dan mazhab-madzab dalam Islam. Dengan fenomena-fenomena yang terjadi pada saat ini dan diungkap melalui mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang relevan dengan subjek penelitian, Analisis data secara tematik dengan menggabungkan ayat-ayat yang berkaitan dengan pacaran pranikah dengan menggunakan teknik penyajian deskriptif. Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Al-Azhar, dan Tafsir Al-Misbah digunakan sebagai sumber data yaitu (Q.S An-Nur ayat 26) tentang mengajarkan bahwa jodoh yang kita dapatkan merupakan cerminan dari diri kita sendiri dan memberikan panduan tentang pentingnya memilih pasangan hidup yang baik dan menjaga kesucian serta pemurnian diri, (Q.S Al-Isra’ ayat 7) tentang menekankan pentingnya melakukan perbuatan baik, yang akan membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain dan bahwa kebaikan akan kembali kepada orang yang berbuat baik, sedangkan kerusakan dari perbuatan jahat juga akan kembali pada orang yang melakukan jahat, (Q.S An-Nur ayat 30) tentang perintah dari Allah Swt kepada seluruh hamba-Nya yang beriman untuk menjaga kehormatan diri mereka dengan cara menjaga pandangan dan kemaluan dan mengajarkan agar seluruh hamba-Nya yang beriman bertaubat kepada Allah Swt agar beruntung, dan (Q.S An-Nur ayat 32) tentang anjuran untuk menikah, yang berlaku bagi seluruh hamba sahaya laki-laki dan perempuan yang ingin menikah dan dengan menikah, manusia dapat terjaga dan terpelihara dari segala perkara yang diharamkan oleh Allah, seperti zina.
EPISTEMOLOGI TAFSIR SURAT AL-FATIHAH KARYA MAHMUD YUNUS DAN PEUNOH DALY Achmad Najib; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 2 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i2.621

Abstract

Kitab tafsir surat al-Fatihah karya Mahmud Yunus dan Peunoh Daly merupakan kitab tafsir yang awal penulisanya hanya ditujukan untuk mahasiswa IAIN Imam Bonjol, kemudian setelahnya baru ditujukan untuk masyarakat umum. Didalamnya disajikan dengan bahasan yang lebih luas dan mendalam mengenai makna ayat-ayat al-Qur’an. Penelitian ini secara khusus mengkaji tafsir surat al-fatihah dari sisi epistemologi untuk mengetaahui metode, sumber, corak, validitas penafsiran, seta kekurangan dan kelebihan dari kitab tafsir ini. Penelitian ini meinggunakan meitodei deiskriiptiif-analiisiis dengan meimaparkan data seicara meindeitaiil meingeinaii masalah yang dii teiliitii.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi Tafsir surat al-Fatihah ini berdasarkan sumbernya masuk dalam kategori tafsir bil-Ma’sur, karena mahmud Yunus dan Peunoh Daly dalam menjelaskan ayat banyak memakai sumber riwayat. Tetapi selain menggunakan tafsir bil-Ma’sur beliau juga banyak menggunakan tafsir bil-Ra’yu dan bil al-Itqirani. Sedangkan metode yang digunakan dalam tafsir ini masuk pada kategori metode tahlili, serta coraknya cenderung menggunkan corak al-Adabi al-Ijtima’i, corak al-Fiqhi, dan Tarbawi. Setelah melihat sumber, metode dan corak penafsiran, Tafsir surat al-Fatihah ini berkategori valid, hal ini bisa dibuktikan menggunakan teori pragmatis, penafsirannya mampu menjawab problem yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
EPISTEMOLOGI PENAFSIRAN ACENG ZAKARIA DALAM KITAB TAFSIR AL-FATIHAH. Ibnu Mas’ud; Ahmad Zainuddin; Amir Mahmud; Mukhid Mashuri
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 2 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i2.702

Abstract

Penelitian ini ditulis dengan tujuan untuk mengetahui Epistemologi penafsiran pada kitab tafsir Surah Al-Fatihah karya Aceng Zakaria. Berangkat dari berbagai macam tafsir yang beredar pada masa sekarang, tentulah terdapat gaya penafsiran serta aliran-aliran tafsir yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan motivasi penulis untuk mengupas kitab tafsir karya Aceng Zakaria. Selain itu, hal menarik yang menjadi latar belakang memilih kitab tafsir karya Kiayi Aceng, karena tafsir ini dikarang oleh Ulama yang namanya masyhur berasal dari organisasi Persis (Persatuan Islam). Maka dirasa perlu untuk mengkaji terlebih dahulu mengenai sumber penafsiran serta kevalidannya sebelum dikonsumsi oleh masyarakat luas.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Pustaka (Library research) dengan pendekatan kualitatif, karena bertujuan untuk mendiskripsikan Epistemologi penafsiran pada karyanya Kitab Tafsir Al-Fatihah.Sebagaimana pada umumnya penelitian ini juga menggunakan dua sumber dalam penguraiannya, yaitu kitab Tafsir surah Al-Fatihah sebagai sumber primernya, dan beberapa kitab tafsir dan ulumul Qur’an sebagai sumber sekundernya.Kitab Tafsir Al-Fatihah ini tergolong kepada Tafsir Bi al-Iqtiran, karena sumber yang digunakan adalah kombinasi dari al-Qur’an, hadist, pendapat Shahabat, serta pemikiran Mufassir. Adapun setelah membaca dan melakukan pengamatan, kitab tafsir Al-Fatihah karya Aceng Zakaria ini dikatakan Valid. Dengan diukur menggunakan teori Korespondensi dan teori Pragmatisme. teori korespondensi adalah teori yang mengukur kebenaran sebuah penafsiran ketika terdapat keselarasan penafsiran dengan kejadian di alam raya. Sedangkan teori Pragmatisme penafsiran dikatakan valid yaitu penafsiran mengandung solusi atau pencerahan terhadap masyarakat.
KRITIK TAFSIR AL-FATIHAH KARYA EKO PRASETYO DALAM BUKU “BANGKITLAH GERAKAN ISLAM” (STUDI KAIDAH TAFSIR M.QURAISH SHIHAB) Rina Afizah; Miftarah Ainul Mufid; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i2.754

Abstract

Paradigma yang dipakai Eko Prasetyo dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah mengacu kepada dua paradigma keilmuwan sekaligus, yakni paradigma tafsir al-Qur’an dan paradigm ilmu pengetahuan. Akan tetapi dalam realitanya ia banyak menekankan kepada paradigma ilmu pengetahuan dan mengesampingkan paradigma yang seharusnya digunakan untuk menganalisis ayat-ayat kauniyah yakni paradigm tafsir al-Qur’an, sehingga masih terkesan melegitimasi ilmu pengetahuan. Metode yang diterapkan Eko Prasetyo tidak selalu konsisten dalam penggunaannya, sehingga terkesan melegitimasi ilmu pengetahuan. Kaidah-kaidah yang telah ditetapkan mufassir terdahulu banyak diabaikan, seperti halnya analisis bahasa yang mendalam dan kaitannya dengan prinsip-prinsip penafsiran. Inilah yang menjadi titik lemah karya Eko Prasetyo. Walaupun begitu, Penafsiran yang dilakukan Eko Prasetyo patut untuk dijadikan batu lonjakkan sebagai awal dari kebangkitan Islam yang ada di Indonesia.Prinsip-prinsip yang dipegangi oleh Eko Prasetyo dilihat dari metode kaidah tafsir M. Quraish Shihab, masih tidak seimbang banyak rambu-rambu yang diterjang oleh Eko Prasetyo dalam menganalisis makna, sehingga hasil yang didapatkanpun masih belum maksimal untuk dikatakan tafsir yang tergolong objektif.