Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PKM Mendemonstrasikan Daun Pisang dalam Tradisi Dole-dole   Bagi Masyarakat di Kelurahan Kadolomoko Kota Bau bau Laxmi Laxmi; Erens E. Koodoh; Zainal Zainal; I Subandrio; Sarlan Adi Jaya; Rahel Anggun Nita
Indonesia Berdampak: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/z5fn1e83

Abstract

This Community Service Program (PKM) was conducted to demonstrate the role of banana leaves in the Dole-dole tradition among the community of Kadolomoko Village, Baubau City. The program was implemented by demonstrating how banana leaves—which grow abundantly in the vicinity of Kadolomoko Village—are used in the Dole-dole tradition, a life-cycle ceremony for the Buton people. The demonstration process involved the following stages: collecting the leaves, sorting those suitable for use in the ritual ceremony, and selecting the leaves to be used in the Dole-dole phase. The results of the PKM indicate that banana leaves are known to serve three primary functions for the Kadolomoko community: (1) as a mat for the baby during the swaddling ceremony, anointed with coconut oil, turmeric, and lime as a symbol of protection; (2) as a wrapper for ritual food (saba), a traditional Buton dish symbolizing patience and tranquility; and (3) as a cover for the poluka (copper pot) containing symbolic foods including eggs, glutinous rice, cassava, taro, bananas, and fish. The use of banana leaves reflects the collective cognitive knowledge system of the Buton community, which connects people, nature, and cultural traditions that have been preserved from generation to generation. Bhisa Bhawine, as the lead figure alongside a team of faculty and students in this PKM project, demonstrated the use of banana leaves to participants whose children follow the dole-dole tradition, helping them understand that the leaves serve not merely as a food flavoring, an ingredient in cake-making, or for preparing meat, but as a central element in the dole-dole tradition for children’s health and the observance of the life cycle rituals of the Buton people.  
Tradisi Melelepa sebagai Identitas Budaya Kolaka Utara: Kearifan Lokal, Ekspresi Seni, dan Urgensi Pelestarian : Penelitian Erens E. Koodoh; Rahmatullah Rahmatullah; Idaman Idaman; Abdul Jalil
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5789

Abstract

Tradisi Melelepa merupakan praktik kearifan lokal masyarakat Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan cara menangkap ikan secara tradisional secara berkelompok tanpa menggunakan alat bantu modern. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk dan prosedur tradisi Melelepa, nilai-nilai filosofis dan kearifan lokalnya, serta urgensi pelestariannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-etnografi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Melelepa bukan sekadar aktivitas subsistensi pangan, melainkan manifestasi nilai kebersamaan, kesederhanaan, keuletan, dan keharmonisan manusia dengan alam. Tradisi ini telah ditransformasikan ke dalam sebelas motif gerak tari yang merefleksikan tahapan menangkap ikan secara tradisional. Di tengah ancaman deforestasi hutan bakau dan reklamasi pantai, pengajuan Melelepa sebagai WBTB menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas kultural Kolaka Utara dan memastikan keberlanjutan warisan budaya leluhur.