Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS PENULISAN PREFIKS PADA KARANGAN DESKRIPSI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 3 TUALANG; KAJIAN MORFOFONEMIK Clara Veronica; Lusi Komala Sari
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.22515

Abstract

Pentingnya penulisan awalan pada suatu kata dapat menghasilkan makna baru sehingga kalimat menjadi efektif. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan mengenai jenis awalan dan ragamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penulisan awalan ditinjau dari morfofonemik dan makna gramatikal kata dengan awalan yang terdapat dalam karangan deskriptif siswa kelas VII SMP Negeri 3 Tualang. Penelitian ini menggunakan teori Abdul Cher yang mengkaji awalan morfofonemik. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik tes dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 173 ketepatan penulisan prefiks dan 1 kesalahan penulisan prefiks pada 26 karangan deskriptif siswa, yaitu: 1) fonem tambahan, terdapat 52 ketepatan pada awalan me-, 2) pembubaran fonem, terdapat 11 kesalahan ejaan. kesalahan /r/ pada awalan ber, me-, dan ter-, dan saya salah mengeja kesalahan pada awalan ter-, 3) fonem hancur, ada 27 yang benar dari basis /s/ menjadi /nyl, basis /p/ menjadi /m/, batang // menjadi /n, dan /k/ menjadi Ing/ pada awalan me- dan pe-, 4) perubahan fonem, terdapat 5 ketelitian: perubahan fonem /r/ menjadi /I/ pada awalan ber-, 5) kekekalan fonem, terdapat 78 ketepatan pada awalan ber-, me-, pe-, dan ter-. Makna yang paling dominan muncul adalah makna “melakukan” yakni awalan ber- dan me-. Oleh karena itu, penelitian ini dapat menjadi sumber pencerahan bagi para guru bahasa Indonesia akan pentingnya penulisan awalan dan dapat memberikan ide untuk mengajarkan awalan yang benar, sehingga siswa dapat menguasai materi tersebut.
Public speaking training to improve the rhetorical skills of prospective trainers Lusi Komala Sari
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 2 No. 2 (2024): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v2i2.78574

Abstract

The importance of public speaking in education is something that needs to be considered in the world of education in Indonesia, especially for prospective trainers in the Kampar Regency Education Office. Therefore, public speaking training for prospective trainers is important so that later trainers can deliver learning materials well to students. This community service aims to train public speaking face-to-face in order to improve the rhetorical skills of prospective trainers in the Kampar Regency environment. This community service is carried out using the PAR (Participatory Action Research) method with various stages, namely problem identification, observation followed by training action planning, implementation through the implementation of public speaking training, selection of the best participants, and evaluation at the end of the program. The public speaking skills of prospective trainers improved significantly after the training was conducted. The results of the training show that teachers have global insights, are motivated to improve their abilities to plan to continue their education abroad, and almost all teachers have smoother and more confident public speaking skills. The public speaking training had a positive impact on improving teachers' speaking skills and motivation.   Abstrak Pentingnya public speaking dalam dunia pendidikan menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya untuk calon trainer di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar. Oleh karena pelatihan public speaking untuk calon trainer menjadi penting dilakukan supaya nantinya trainer dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan baik kepada siswa. Pengabdian ini bertujuan untuk melatih public speaking secara tatap muka supaya dapat meningkatkan keterampilan retorika calon trainer di lingkungan Kabupaten Kampar. Pengabdian ini dilakukan dengan metode PAR (Participatory Action Research dengan berbagai tahapan yaitu identifikasi masalah, observasi dilanjutkan dengan perencanaan aksi pelatihan, implementasi melalui pelaksanaan pelatihan public speaking, pemilihan peserta terbaik, dan evaluasi pada akhir program. Keterampilan public speaking calon trainer meningkat secara signifikan setelah pelatihan dilakukan. Hasil pelatiihan menunjukkan bahwa guru memiliki wawasan global, termotivasi untuk meningkatkan kemampuan diri hingga merencanakan melanjutkan pendidikan untuk ke luar negeri, dan hampir seluruh guru memiliki keterampilan public speaking yang lebih smooth dan percaya diri. Pelatihan public speaking berdampak positif bagi peingkatan keterampilan berbicara dan motivasi guru. Kata Kunci: berbicara di depan umum; guru; pelatihan
Invention sebagai Strategi Persuasi dalam Pidato Oprah Winfrey dan Relevansinya dalam Penguatan Pembelajaran Retorika di Bahasa Indonesia Lusi Komala Sari
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 8, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v8i3.9065

Abstract

Pidato publik merupakan praktik retorika yang berperan penting dalam membentuk cara pandang, nilai, dan sikap audiens. Dalam retorika klasik, kekuatan persuasi pidato bertumpu pada invention (inventio), yaitu proses penemuan dan perumusan gagasan utama sebagai dasar argumentasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji invention sebagai fondasi persuasi dalam pidato Oprah Winfrey serta relevansinya bagi pendidikan bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis retorika klasik. Data berupa tuturan dalam pidato Oprah Winfrey yang diperoleh dari arsip video YouTube dan dianalisis melalui teknik simak-catat. Analisis difokuskan pada identifikasi bentuk invention, fungsi persuasif, serta konstruksi otoritas moral dalam pidato. Hasil penelitian menunjukkan bahwa invention terwujud dalam tiga kategori utama, yaitu definisi diri dan identitas, redefinisi kesuksesan (kategori paling dominan), serta etika dan tanggung jawab. Ketiga kategori tersebut membentuk kerangka nilai yang memperkuat persuasi melalui dimensi emosional, moral, dan ideologis. Novelty penelitian ini terletak pada penegasan bahwa invention dalam retorika klasik berfungsi tidak hanya sebagai penemuan argumen, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan persuasi etis dan ideologis dalam pidato motivasional modern. Temuan ini menunjukkan bahwa prinsip retorika klasik tetap relevan dalam wacana publik kontemporer. Dalam konteks pendidikan bahasa Indonesia, hasil penelitian ini berimplikasi pada pengembangan pembelajaran retorika, public speaking, dan literasi kritis melalui penguatan kemampuan menemukan gagasan, membangun argumentasi, dan kesadaran etis.
Membangun Ethos dan Pathos dalam Pembukaan Pidato Cinta Laura: Perspektif Retorika Aristotelian Lusi Komala Sari
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 8, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v8i3.9033

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi retorika dalam pembukaan pidato Cinta Laura dengan fokus pada penerapan arrangement dalam retorika klasik dan kontemporer. Kajian mengenai pembukaan pidato publik selama ini lebih banyak menitikberatkan pada isi utama pidato, sehingga fungsi persuasif bagian pembukaan, khususnya dalam konteks audiens multikultural dan generasi muda, masih relatif jarang dikaji. Data penelitian diperoleh dari video pidato yang diunggah di YouTube dan dianalisis menggunakan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembukaan pidato memanfaatkan enam strategi retorika utama, yaitu salam multikultural, penghormatan formal terhadap tokoh, penegasan identitas generasi, humility appeal, penyampaian harapan, dan penyamaan sudut pandang. Strategi tersebut secara simultan membangun ethos, pathos, dan logos melalui harmonisasi prinsip retorika klasik dengan adaptasi komunikasi kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan novelty berupa fungsi ganda salam lintas budaya dan humility appeal dalam memperkuat ethos dan pathos secara bersamaan, serta penggunaan framing isu sosial yang mengintegrasikan logos dan pathos untuk meningkatkan keterlibatan audiens. Penelitian ini berkontribusi memperluas kajian retorika pidato publik, khususnya pada strategi pembukaan pidato generasi muda di ruang digital, serta memberikan implikasi bagi pembelajaran retorika, komunikasi publik, dan pendidikan bahasa Indonesia.