Erwin Mulyana, Erwin
Unknown Affiliation

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

SIKLON TROPIS WASHI DAN PENGARUHNYA TERHADAP SEBARAN HUJAN DI INDONESIA Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 13, No 2 (2012): December 2012
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3725.04 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v13i2.2573

Abstract

Siklon Tropis Washi yang menghantam Pulau Mindanao FIlipina selatan pada 14 - 18 Desember 2011 merupakan siklon paling mematikan di dunia yang terjadi pada tahun 2011.
KONVERGENSI ATMOSFER LAPISAN BAWAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN HUJAN EKSTRIM (STUDI KASUS: BANJIR CIREBON 15 FEBRUARI 2017) Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 20, No 1 (2019): June 2019
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.594 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v20i1.3943

Abstract

IntisariTelah dilakukan analisis kondisi atmosfer di berbagai lapisan ketinggian untuk melihat keterkaitannya dengan kejadian hujan ekstrim di wilayah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah pada tanggal 15 Februari 2017. Area penelitian difokuskan di area 108.00-109.50 BT dan 6.50-7.50 LS yang merupakan area hujan ekstrim (AHE). Analisis sebaran dan waktu kejadian hujan menggunakan data GSMaP dengan resolusi 0.10 x 0.10 dan periode setiap satu jam, data satelit MERRA2 dengan resolusi 0.6250 x 0.50 dengan periode setiap 3 jam, data Radiosonde stasiun Cengkareng jam 07.00 dan 19.00 WIB, serta citra satelit Himawari 8. Hujan di wilayah AHE berlangsung pada jam 13.00?23.00 WIB dengan puncak hujan terjadi pada jam 18.00 WIB. Saat terjadi hujan ekstrim, terdapat perlambatan angin baratan di wilayah AHE serta adanya pertemuan angin dari utara dan dari selatan di wilayah tersebut. Area AHE merupakan area dengan konvergensi kuat pada level ketinggian 925 mb dan 850 mb, sebaliknya terjadi divergensi pada level ketinggian 700 mb dan 500 mb. Data Radiosonde menunjukkan kelembapan udara dari permukaan hingga lapisan 400 mb umumnya lebih dari 80%. Freezing level pada jam 07.00 WIB terdapat di level 571 mb (4.622 m) dan pada jam 19.00 WIB terdapat di level 585 mb (4.820 m).  AbstractHave been analyzed of the atmospheric conditions at various altitudes in its relationship with extreme rainfall over West Java-Central Java border area on February 15th, 2017. The study area is focused on the 108.00-109.50 East and 6.50-7.50 South, which is the extreme rainfall area (AHE). The data used in this study are GSMaP hourly rainfall (0.10 x 0.10), MERRA2 satellite three-hourly data (0.6250 x 0.50), Cengkareng Radiosonde data at 07.00 LT and 19.00 LT, and Himawari 8 Satellite imagery. The rainfall in the AHE area occurred at 13.00?23.00 LT, with the peak rainfall, occurred at 18.00 LT. The lower atmospheric westerly wind became slower over the AHE area, while the northerly and southerly wind converged at this area. The AHE area has a strong convergence at level 925 mb, and 850 mb, conversely divergence occurred at level 700 mb and 500 mb. The Radiosonde data shows that the air humidity is generally more than 80% from the surface to 400 mb. The freezing level at 07.00 LT found at 571 mb (4,622 m) while at 19.00 LT found at 585 mb (4,820 m).
ANALISIS CUACA SELAMA KEGIATAN TMC REDISTRIBUSI CURAH HUJAN Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 1 (2013): June 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.381 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v14i1.2677

Abstract

IntisariPada tanggal 26 Januari sampai dengan 27 Februari 2013 telah dilaksanakan penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk redistribusi curah hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Selama kegiatan tersebut fenomena ENSO dan IOD dalam kondisi normal. MJO menunjukkan adanya peningkatan aktifitas konvektif di wilayah Indonesia pada pertengahan hingga akhir bulan Februari 2013. Temperatur  permukaan laut di perairan sekitar Jawa bagian barat sekitar 29-300C. Kelembagan udara pada level 850 mb sekitar 75-80%. Pertumbuhan awan umumnya berada di sebelah barat laut hingga barat daya Jakarta.AbstractApplication of weather modification has carried out to redistribute of precpitiaion over Jakarta and the surrounding during  26 January to 27 February 2013. During this period, ENSO and IOD was normal condition. The MJO shows that the convection enhanched over Indonesia region on mid to late February 2013. The sea surface temperature over west part of Java waters was 29-300C. The 850 mb relative humidity on February 2013 was 75-80%. Cloud development mainly over northwest to southwest of Jakarta,
ANALISIS CUACA PADA SAAT PELAKSANAAN PENYEMAIAN AWAN DI WADUK PLTA KOTA PANJANG BULAN APRIL - MEI 2013 Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 15, No 1 (2014): June 2014
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.606 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v15i1.2655

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan analisis cuaca selama pelaksanaan TMC pada bulan April dan Mei 2013 di Waduk PLTA Kota Panjang. Temperatur permukaan laut di daerah Nino 3.4 menunjukkan ENSO netral dengan temperatur rata-rata pada bulan April dan Mei 2013 antara 27.6 s.d  27.7 oC serta nilai anomaly antara -0.03 s.d -0.1 oC. Penjalaran MJO aktif yang menunjukkan terjadinya peningkatan aktifitas konvektif di wilayah Sumatra terjadi pada awal April dan akhir Mei 2013. Arah angin pada level gradient bertiup dari barat daya ? barat laut dengan kecepaan 5-15 knot. Siklon Tropis Mahasen di utara Sumatera yang terjadi pada pertengahan bulan Mei  berpengaruh terhadap berkurangnya hujan di daerah target. Kecepatan angin yang cukup tinggi di level 700-600 mb pada  awal kegiatan mengakibatkan pertumbuhan awan di daerah target tidak berkembang dengan optimal. Dalam kondisi kelembaban rendah masih dijumpai pembentukan awan orografik di sepanjang pegunungan Bukit Barisan bagian barat DAS Waduk PLTA Kota Panjang.
OBSERVASI PERTUMBUHAN AWAN DI DAS MAMASA SULAWESI BARAT DENGAN RADAR CUACA Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 12, No 2 (2011): December 2011
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2289.723 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v12i2.2190

Abstract

Telah dilakukan pengamatan awan di DAS Mamasa berdasarkan data X-band Mobile Radar untuk mengetahui karakteristik pertumbuhan awan di daerah tersebut. Pengamatan awan dilakukan pada saat kegiatan penyemaian awan tangal 21 Oktober - 19 November 2009. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan awan di DAS Mamasa dipengaruhi oleh proses orografik dan arah angin. Pada saat angin baratan, pertumbuhan awan terkonsentrasi di sisi bagian barat DAS Mamasa. Sebaliknya, pertumbuhan awan terkonsentrasi di sisi bagian timur DAS Mamasa ketika terjadi angin timuran.Study on the characteristic of cloud development at Mamasa catchment area is very important since the water supply for Bakaru hydro-electric power is highly depend on the rain fall over this area. During rain enhancement project on 21 October to 19 November 2009, convective clouds have been analized based on X-band mobile weather radar observation over Mamasa River catchment area. The observation result shows that cloud development in this area are influenced by orographic processes and wind direction. During westerly wind, the clouds developed over the western part of catchment area. On the contrary, the clouds were observed over the east side of cathment area during easterly wind.
PENYEBARAN POLUTAN DALAM KASUS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI SUMATERA SELATAN TAHUN 2015 Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 18, No 2 (2017): December 2017
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.46 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v18i2.2611

Abstract

IntisariKebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan tahun 2015 menimbulkan bencana kabut asap yang sangat masif sehingga kualitas udara dalam beberapa hari mencapai kategori berbahaya. Dalam tulisan ini dibahas penyebaran polutan di wilayah Sumatera Selatan akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hotspot dari satelit MODIS dengan tingkat kepercayaan 70 %, curah hujan TRMM serta curah hujan dari penakar yg ada di Sumatera Selatan,data kualitas udara (ISPU), data black carbon dari MERRA-2 Model M2T1NXAER v5.12.4. dengan resolusi 0.5o x 0.625o, serta arah dan kecepatan angin lapisan 925 mb. Analisis spasio temporal penyebaran black carbon yang dipadukan dengan arah dan kecepatan angin menggunakan perangkat lunak Grid Analysis and Display System (GrADS). Intensitas hujan dari 16 penakar hujan sejak minggu kedua bulan Agusus 2015 hingga akhir Oktober 2015 sebesar 36 mm. Selama bulan Juni-November 2015, Jumlah hotspot terbanyak terjadi pada bulan September (6.839 titik) dan Oktober (7.709 titik). Lokasi hotspot sebagian besar berada di Kabupaten OKI dengan jumlah mencapai 10.581 titik. Kualitas udara pada bulan September 2015 dominan masuk kategori tidak sehat sedangkan bulan Oktober 2015 dominan masuk kategori sangat tidak sehat ? berbahaya. Angin pada lapisan 925 mb umumnya bertiup dari arah tenggara hingga timur sehingga black carbon dari kebakaran di daerah OKI menyebar ke arah wilayah Kabupaten Musi Banyuasin serta Kabupaten Banyuasin.  AbstractIn 2015, Forest and Land fires inflict serious and massive smoke disaster so that air quality in several days laid in dangerous category. This paper discussed pollutant dispersed in South Sumatera due to forest and land fire in this area. Data that used in this paper were MODIS satellite hotspot data with 70 % confidence level, rainfall from TRMM satellite and from ground observation at South Sumatera, Air quality data (ISPU), MERRA-2 Model M2T1NXAER v5.12.4 black carbon data, also wind direction and speed at 925 mb height. Spatio temporal analysis of black carbon dispersion combined with wind speed and direction using Grid Analysis and Display System (GrADS) software. Rain intensity from 16 rainfall gauge since week two of August 2015 until end of October 2015 was 36 mm. During June-November 2015, the number on highest hotspot observed was in September (6.839) and October (7.709). Hotspot location mainly in OKI district as much as 10.581. Air quality in September 2015 mainly laid in unhealthy category, meanwhile in October 2015 laid mainly stated as unhealthy to dangerous. Wind at 925 mb height generally came from South East and East so black carbon came from fires at OKI district dispersed to Musi Banyuasin and Banyuasin district. 
HUBUNGAN ANTARA ENSO DENGAN VARIASI CURAH HUJAN DI INDONESIA Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 3, No 1 (2002): June 2002
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.07 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v3i1.2153

Abstract

Telah dihitung hubungan antara Index Osilasi Selatan (SOI) dengan curah hujan diwilayah Indonesia dengan menggunakan data rata-rata bulanan SOI dan curah hujanselama 33 tahun (1961-1993). Berdasarkan rata -rata tiga bulanan diperoleh bahwa bulan September-Oktober -Nopember merupakan periode dimana SOI memiliki hubungan sangat kuat (r +0.6) dengan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Daerah tersebut adalah Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Irian Jaya. Sedangkan curah hujan di Sumatra Barat, Riau, Sumatra Utara dan Aceh tidak terpengaruh oleh perubahan nilai SOI (-0.3 r +0.3). Pengaruh El Nino di setiap daerah di Indonesia pada umumnya berlangsung pada masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan.The correlation between Southern Oscillation Index (SOI) and precipitation overIndonesia have been analyzed for period 1961-1993. Strong correlation found duringSeptember-October -November season over South Sumatra, Bengkulu, Lampung, Java,Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, South Sulawesi, Southeast Sulawesi, North Sulawesi,North Maluku, and Irian Jaya. Precipitation over these areas decrease during El Ninoepisode. Whereas precipitation over West Sumatra, Riau, North Sumatra and Aceh doesnot have good correlation with SOI. El Nino influences the precipitation during thetransition period especially from dry season to rainy season.
ANALISIS CUACA PADA SAAT PELAKSANAAN TMC PENANGGULANGAN BANJIR JAKARTA JANUARI FEBRUARI 2014 Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 16, No 1 (2015): June 2015
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.829 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v16i1.2634

Abstract

AbstrakPada tanggal 11 Januari sampai dengan 14 Februari 2014 telah dilaksanakan penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menanggulangi banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Selama kegiatan tersebut fenomena ENSO dan IOD dalam kondisi normal. MJO menunjukkan aktifitas konvektif netral di wilayah Indonesia pada pertengahan Januari hingga pertengahan Februari 2014. Temperatur  permukaan laut di perairan Jawa bagian barat sekitar 28-290C. Kelembagan udara pada level 850 mb sekitar 70-80%. Pertumbuhan awan umumnya berada di sebelah barat daya, barat dan barat laut Jakarta. Indeks Monsoon Australia positif berpengaruh terhadap peningkatan pembentukan awan hujan di Jawa.Abstract Application of weather modification has carried out to reduce precipitation over Jakarta on 11 January to 14 February 2013. During this period, El Nino Southern Oscillation and Indian Ocean Dipole Mode were normal condition. The Madden Julian Oscillation shows that the convection over Indonesia region was netral condition. The sea surface temperature over west part of Java waters was 29-30 290C. The 850 mb average of relative humidity on mid January - mid February 2014 was 70-80%. Based on visual and weather radar observation, cloud development mainly over northwest to southwest of Jakarta. Positive Australian Summer Monsoon Index affected to increase precipitation over Java area.
ANALISIS ANGIN ZONAL DI INDONESIA SELAMA PERIODE ENSO Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 3, No 2 (2002): December 2002
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.484 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v3i2.2167

Abstract

Telah dianalisis angin zonal di Indonesia selama periode ENSO berdasarkan databulanan angin zonal dari National Center Environmental Prediction / National Center for Atmospheric Research (NCEP/NCAR) reanalisys grid data (2.5 x 2.5 ) pada ketinggian850 mb selama periode tahun 1961 sampai dengan 1993. Berdasarkan rata -rata tigabulanan diperoleh bahwa pada tahun El Nino terjadi penguatan angin timuran pada MAMdan SON. Sementara pada JJA angin timuran yang berhembus di wilayah Indonesiaterutama di sebelah selatan equator tidak mengalami perubahan berarti. Sedangkanpada DJF angin baratan yang berhembus di wilayah Indonesia sebelah selatan equatorkecepatannya melemah.The zonal wind (850 mb) over Indonesia have been analyzed for period 1961-1993.Intensified easterly wind during El Nino years over Indonesia mainly in the south ofequator region found in MAM and SON. During JJA the easterly wind remain constant inboth El Nino years and La Nina years. During DJF, westerly wind in El Nino years decreases over Indonesia mainly in the south of equator.
PENGARUH ANGIN TERHADAP PERTUMBUHAN AWAN HUJAN DI DAS WADUK PLTA KOTA PANJANG Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 15, No 2 (2014): December 2014
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2256.956 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v15i2.2674

Abstract

Abstrak Telah dianalisis hubungan antara pembentukan awan hujan dengan kecepatan angin di Waduk PLTA Kota Panjang. Penelitian ini menggunakan data angin dan kelembaban udara dari NCEP reanalysis, data angin hasil pengukuran dengan pilot balon, pengamatan awan dengan pesawat terbang serta data hujan dari penakar hujan terpasang serta data hujan TRMM. Hasil analisis menunjukkan kejadian hujan sangat terkait dengan besarnya kecepatan angin di lapisan atas. Kejadian tidak ada hujan pada tanggal 12 ? 19 April 2013 berhubungan dengan tingginya kecepatan angin pada lapisan 700 ? 600 mb yang merncapai 40 knot serta kelembaban udara kurang dari 60%. Angin kencanag terkait dengan adanya pusat tekanan rendah di Samudra Hindia di sebelah barat Sumatera Barat. Sebaliknya pada tanggal 20 ? 30 April 2013, ketika kecepatan angin jauh berkurang hingga di bawah 5 knot, terjadi peningkatan curah hujan di DAS Waduk PLTA Kota Panjang. Agin kencang pada lapisan 700 ? 600 mb mengakibatkan pertumbuhan awan terganggu sehingga sulit membentuk awan hujan. Awan yang terbentuk umumnya berupa awan Stratocumulus dan Stratus yang tidak berpotensi hujan.