Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Flourishing Journal

Regulasi Belajar Mahasiswa Rantau Jurusan Psikologi Semester 5 Universitas Negeri Malang yang Bekerja Ardha Reza Anabillah; Azzahra Fancika Putri Kurniawan; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i32023p90-103

Abstract

Working while in college or studying while working is not a new thing to be found in the world of lectures. There are many reasons for students. The challenge for students who also work is the division of time between study and work. One of the main competencies for successfully living life as a worker and a student is self-regulation learning. The purpose of this research is to find out how self-regulation learning is aimed at students at State University of Malang majoring in Psychology in semester 5 who live a life of migrating and working in terms of students' ability to regulate and monitor their thoughts, feelings, and behavior in carrying out their assignments. as a student who has responsibility as an academic scientist on campus and as a working person. This study uses a qualitative approach method. This study uses 5 people as informants. Using a phenomenological research type, research data were obtained by conducting participant observation, document analysis, in-depth interviews, and Focus Group Discussion (FGD). The results of the study show that the motivation behind them is studying while working because they want to live independently. AbstrakBekerja sambil kuliah atau kuliah sambil bekerja bukanlah hal baru ditemui dalam dunia perkuliahan. Ada banyak hal yang menjadi alasan bagi mahasiswa. Tantangan bagi mahasiswa yang juga bekerja adalah pembagian waktu antara kuliah dan bekerja. Salah satu kompetensi utama untuk sukses manjalani kehidupan sebagai seorang pekerja dan seorang mahasiswa ialah self-regulation learning. Tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana self-regulation learning yang ditujukan kepada mahasiswa Universitas Negeri Malang jurusan Psikologi pada semester 5 yang menjalani kehidupan merantau dan bekerja dalam kaitannya dalam hal kemampuan mahasiswa ketika mengatur dan memonitor pikiran, perasaan, dan perilakunya dalam menjalankan tugas sebagai mahasiswa yang mempunyai tanggung jawab sebagai ilmuwan akademik dikampus dan sebagai orang yang bekerja. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan 5 orang sebagai narasumber. Menggunakan tipe penelitian fenomenologi, data penelitian didapat dengan melakukan observasi partisipan, analisis dokumen, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi yang melatarbelakangi mereka berkuliah sambil bekerja karena ingin hidup secara mandiri
Perilaku Phubbing pada Remaja dalam Hubungan Keluarga Faizah Rizqika Sugma Putri; Edwin Rochmad Mendiota; Fiola Rosa Anggela; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i42023p120-124

Abstract

The process of developing times makes the development of technology and the internet also become more sophisticated. This is in line with the many conveniences offered for everyday life, such as the growing development of communication tools such as Smartphones. But even so, the existing developments also have more or less negative impacts. One of the negative impacts is the emergence of phubbing behavior in the community. This study describes the background behind the emergence of phubbing behavior in adolescence, especially in family relationships. This study uses a qualitative approach with data collection techniques using semi-structured interviews and participant observation as a whole. The study results show that the cause of phubbing behavior in adolescents during family events is due to an obsession with smartphones and FoMO (Fear of Missing Out). The obsession with smartphones found in the participants indicated that they felt left behind in all forms of information when not using smartphones, which was done because the participants had been used to playing smartphones since childhood and were not involved in conversations when gathering with family. AbstrakProses berkembangnya zaman membuat perkembangan teknologi dan internet juga menjadi semakin canggih. Hal ini sejalan dengan banyaknya kemudahan yang ditawarkan untuk kehidupan sehari-hari, seperti semakin berkembangnya alat komunikasi seperti smartphone. Namun meskipun begitu, perkembangan yang ada juga sedikit banyak memiliki dampak negatif. Salah satu dampak negatif tersebut adalah munculnya perilaku phubbing pada masyarakat. Penelitian ini mendeskripsikan latar belakang di balik munculnya perilaku phubbing pada masa remaja, terutama dalam hubungan keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipan secara menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab perilaku phubbing yang terjadi pada remaja saat acara keluarga adalah karena obsesi terhadap smartphone dan FoMO (Fear of Missing Out). Obsesi terhadap smartphone yang ditemukan dalam partisipan menunjukkan bahwa mereka merasa tertinggal akan segala bentuk informasi bila tidak menggunakan smartphone, yang mana hal tersebut dilakukan karena partisipan sudah dibiasakan bermain smartphone sejak kecil dan tidak dilibatkan dalam obrolan saat berkumpul dengan keluarga.
Reviu Gambaran Perbedaan Perilaku dalam Latar Belakang Multikultural Lintas Budaya Qanita Audrey Apsarini; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 5 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i52023p188-194

Abstract

The behavior of children and adolescents can vary from the background of the social, cultural, and economic environment where the child is raised. This literature review raises the topic of the behavior of people within different cultural backgrounds and several other aspects, such as socio-economics, from all over the world. This literature review aims to find out about the description of differences in children's backgrounds that can have impacts on certain aspects of children during their development periods that might affect their adult selves. This literature review was compiled by collecting a number of related and relevant articles regarding the differences shown in the development of children from various backgrounds around the world over the past 15 years that have been posted previously through several online journal database pages that the author can freely access. The author categorizes the results of this literature review into three parts, namely differences between cultures in Western countries (America and Europe), in Western versus non-Western countries (Africa versus Africa/America/Europe), and only in between Asian countries (Indonesia, Singapore, and Israel). AbstrakPerilaku anak-anak dan remaja dapat bervariasi dari bagaimana gambaran latar belakang lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi dimana anak dibesarkan. Kajian literatur ini mengangkat topik mengenai perilaku manusia dengan latar belakang budaya, dan beberapa aspek lainnya seperti sosioekonomi, dari seluruh penjuru dunia. Kajian literatur ini bertujuan untuk mencari tahu mengenai bagaimana gambaran perbedaan latar belakang anak dapat berdampak pada aspek-aspek tertentu dalam diri anak pada masa perkembangannya sehingga berpengaruh pada diri dewasanya. Kajian literatur ini disusun dengan mengumpulkan sejumlah artikel yang berkaitan dan relevan mengenai perbedaan yang ditunjukkan dalam perkembangan anak dari berbagai latar belakang di penjuru dunia selama 15 tahun terakhir yang telah diunggah sebelumnya lewat beberapa laman online journals database yang dapat secara bebas diakses penulis. Penulis dapat mengkategorikan hasil kajian literatur yang diperoleh menjadi tiga bagian yaitu perbedaan antarkultur dalam negara di Barat (Amerika dan Eropa), dalam negara di Barat versus non-Barat (Afrika/Amerika/Eropa versus Asia), dan hanya dalam antarnegara di Asia saja (Indonesia, Singapura, dan Israel).
Pengaruh Budaya terhadap Remaja Wirantika Sucipto; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 5 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i52023p205-210

Abstract

Culture has an important role in shaping the behavior and attitudes of adolescents. Cultural influences on adolescents can come from various sources, such as family, peers, media, and society. This literature review describes the impact of culture on adolescent development, including their beliefs, values, and lifestyle choices. The paper also examines how cultural norms and practices influence adolescent mental health, education, and social interactions. The results of the research show the influence of culture on adolescents. The literature review used in this article was taken through an online journal database with a span of the last ten years (2011-2020). Several articles and results from reviews were obtained which showed that cross-cultural parenting research in Indonesia, namely (1) through a comprehensive literature analysis, this study concluded that cultural influences can have positive and negative effects on adolescents, (2) it is important to create awareness and understanding of cultural diversity and (3) promoting acceptance and tolerance among youth to minimize negative effects and increase the positive impact of culture on their lives. AbstrakBudaya memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan sikap remaja. Pengaruh budaya terhadap remaja dapat berasal dari berbagai sumber seperti keluarga, teman sebaya, media, dan masyarakat. Kajian literatur ini menjelaskan dampak budaya terhadap perkembangan remaja, termasuk kepercayaan, nilai, dan pilihan gaya hidup mereka. Makalah juga menelaah bagaimana norma dan praktik budaya mempengaruhi kesehatan mental, pendidikan, dan interaksi sosial remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya memiliki pengaruh terhadap remaja. Kajian literatur yang digunakan pada artikel ini diambil melalui database jurnal online dengan rentang sepuluh tahun terakhir (2011-2020). Didapatkan beberapa artikel dan hasil dari reviu yang menunjukkan jika penelitian pola asuh lintas budaya di Indonesia yakni (1) melalui analisis literatur yang komprehensif, penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaruh budaya dapat memiliki efek positif dan negatif pada remaja, (2) penting untuk menciptakan kesadaran dan pemahaman tentang keragaman budaya dan (3) mempromosikan penerimaan dan toleransi di kalangan remaja untuk meminimalkan efek negatif dan meningkatkan dampak positif budaya pada kehidupan mereka.
Literature Review: Perbedaan Budaya Negara Individualis dan Kolektivis Antesenden Manajemen Privasi di Jejaring Sosial (SNS) Sonia Bella Prastika; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p211-222

Abstract

In this Literature Review, we examine the psychological antecedents of privacy management strategies on social networking (SNS) sites and expand our understanding of collective privacy management by using articles that review various individualistic and collectivistic countries. In these countries, there are differences regarding privacy management in social networks (SNS). Articles were collected using the systematic review method through a search process on Google Scholar to sort articles according to the topic of privacy management in individualistic and collectivistic countries. The results of the articles are based on predetermined categories, namely based on point results (Dutch America), (German America), (Korean Chinese America), and (Singaporean American Korean). So, in this case, it is proven that America, as an individualistic country, holds the highest privacy management power compared to collectivistic countries such as China, Korea, the Netherlands, Germany, and Singapore. In addition, the authors found that, in general, users' privacy attitudes, social norms, and self- or collective control beliefs substantially predicted the adoption of privacy management strategies. These findings contribute to explaining the adoption of behavioral privacy management strategies by users. We conclude with global and country-specific recommendations regarding future privacy designs for privacy management. AbstrakTujuan penulisan artikel ini adalah pemeriksaan anteseden psikologis dari strategi manajemen privasi di situs jejaring sosial (SNS) dan memperluas pemahaman untuk manajemen privasi kolektif. Menggunakan artikel yang mengulas Negara individualistik dan kolektivistik. Terlihat adanya perbedaan pada Negara tersebut mengenai manajemen privasi di jejaring sosial (SNS). Artikel dikumpulkan menggunakan metode systematic review melalui proses pencarian pada google scholar dan memilah artikel yang sesuai dengan topik manajemen privasi di Negara individualistik dan kolektivistik. Hasil artikel berdasarkan kategori yang telah ditentukan yaitu berdasarkan point result (Amerika Belanda), (Amerika Jerman), (Amerika Cina Korea) (Amerika Singapura Korea). Sehingga dalam hal ini terbukti bahwa Amerika sebagai Negara individualistik memegang kekuasaan manajemen privasi tertinggi dibandingkan dengan Negara koletivistik seperti cina, korea, belanda, jerman dan singapura. Selain itu, penulis menemukan bahwa secara umum sikap privasi pengguna, norma sosial, dan keyakinan kontrol diri atau kolektif secara substansial memprediksi penerapan strategi manajemen privasi. Temuan ini berkontribusi pada penjelasan penerapan strategi manajemen privasi perilaku oleh pengguna.
Literature Review Perilaku Prososial: Faktor Pengaruh, Manfaat, dan Penelitian Perilaku Prososial di Indonesia Zanjabila Ubaida; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p227-234

Abstract

Prosocial behavior is one of the most important behaviors in social life. In practice, there are a variety of influencing factors that can lead to variations in the level of prosocial behavior in different cultures or countries. This study aims to review the influence factors of prosocial behavior, the impacts, and benefits of prosocial behavior, and to review research related to prosocial behavior in Indonesia. This study reviews and systematically reviews ten articles on the theme of prosocial behavior using different methodologies and approaches. From the literature review that has been conducted, there are several factors that influence the level of individual prosocial behavior, namely parental expectations, empathy, target power, and parenting patterns in the individual's early development phase. Then, prosocial behavior has an impact or benefit, namely it can increase the level of happiness in individuals to be one factor that can be a predictor in the formation of close and warm relationships between mothers and children. In addition, research related to prosocial behavior conducted in Indonesia shows that there are no significant differences in the level of prosocial behavior in Indonesian society, even though Indonesia is a country with a variety of values and cultures. AbstrakPerilaku prososial merupakan salah satu perilaku yang penting ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam praktiknya, terdapat berbagai macam faktor pengaruh yang dapat menyebabkan variasi pada tingkat perilaku prososial di budaya atau negara yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas terkait faktor pengaruh dari perilaku prososial, manfaat dari perilaku prososial, serta mengulas terkait penelitian perilaku prososial di Indonesia. Penelitian ini meninjau serta mengulas secara sistematik sepuluh artikel dengan tema perilaku prososial yang menggunakan metodologi serta pendekatan yang berbeda. Dari literatur review yang telah dilakukan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi tingkat perilaku prososial individu, yaitu parental expectations, empati, target’s power, dan pola pengasuhan di fase perkembangan awal individu. Kemudian, perilaku prososial memiliki manfaat yaitu dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan pada individu menjadi salah satu faktor yang dapat menjadi pemrediksi dalam terbentuknya hubungan yang akrab dan hangat antara ibu anaknya. Selain itu, penelitian terkait perilaku prososial yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat perilaku prososial pada masyarakat Indonesia meskipun Indonesia merupakan salah satu negara dengan variasi nilai serta kebudayaan.
Are We Different?, Tinjauan Kepribadian secara Lintas Budaya dalam Implikasinya terhadap Kehidupan Manusia Rayza Ilfie Azkya Ashgarie; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p243-260

Abstract

This article aims to find out personality with cross-cultural views and its various implications for human life. The process of compiling this article uses a qualitative approach in the form of a literature review. The results obtained are that cross-cultural personality has at least implications for changes in personality, maturity, religiosity, culture shock, motivation and cognition, enjoyment of entertainment, cultural intelligence, bullying behavior, subjective well-being, and self-representation. In addition, intercultural personality differences were also obtained on the continents of Asia vs. Europe, Asia vs. America, and Europe vs. America. Based on the implications, there are three levels of implications, namely cultural differences in personality affect these implications differently, such as changes in personality; cultural differences in personality affect these implications in the same way, such as enjoying entertainment; and cultural differences in personality do not greatly affect these implications such as bullying behavior. Meanwhile, by region, Asia tends to be collectivist, so it has a closer personality than Europe and America. America tends to be individual, so it is more open than Asia and Europe, and Europe can be both collectivist and individualist depending on who the comparison is. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui kepribadian dengan tinjauan lintas budaya dalam berbagai implikasinya terhadap kehidupan manusia. Proses penyusunan artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif berjenis literature review. Adapun hasil yang diperoleh yakni kepribadian secara lintas budaya berimplikasi setidaknya terhadap perubahan kepribadian, kedewasaan, religiusitas, culture shock, motivasi dan kognitif, menikmati hiburan, kecerdasan budaya, perilaku bullying, subjective well-being, dan representasi diri. Selain itu, diperoleh juga perbedaan kepribadian antarbudaya secara benua Asia vs Eropa, Asia vs Amerika, dan Eropa vs Amerika. Berdasarkan implikasi, terdapat tiga tingkat implikasi yakni perbedaan kepribadian secara budaya mempengaruhi implikasi tersebut secara berbeda pula seperti perubahan kepribadian, perbedaan kepribadian secara budaya mempengaruhi implikasi tersebut secara sama seperti menikmati hiburan, dan perbedaan kepribadian secara budaya tidak terlalu mempengaruhi implikasi tersebut seperti perilaku bullying. Sedangkan berdasarkan wilayah, Asia cenderung kolektivis sehingga berkepribadian tertutup daripada Eropa dan Amerika, Amerika cenderung individual sehingga lebih terbuka daripada Asia dan Eropa, dan Eropa dapat bersifat kolektivis dan individualis bergantung pada siapa pembandingnya.
Analisis Dampak Konformitas bagi Perilaku Konsumtif Remaja Masa Kini Halim Maulana Adhiatma; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 12 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i122023p512-517

Abstract

Analysis of the impact of conformity on the consumer behavior of today's teenagers is a complex and important topic in the field of psychology. In this context, qualitative research can provide in-depth insight into individuals' experiences and perceptions related to their social conformity and consumer behavior. Qualitative research methods that can be used include in-depth interviews, participant observation, focus groups, and qualitative content analysis. In this impact analysis, there are arguments showing that social conformity has a significant effect on adolescent consumer behavior. Factors such as the influence of family, peers, and mass media can influence teenagers' conformity in adopting consumer behavior. The psychological impacts of conformity can include uncontrolled spending, emotional influence, and disregard for personal values. It is important to reduce the negative impacts of conformity with strategies that include raising awareness, education about responsible consumption, strengthening personal values, and building social and emotional skills. It is also important to consider cross-cultural approaches, considering variations in cultural norms and values and the influence of globalization on adolescent consumer behavior. However, this research has limitations in terms of sample, cultural context, subjectivity, internal and external validity, as well as limitations of qualitative research methods. Therefore, the results of this study need to be interpreted carefully and paying attention to the limitations of existing research. AbstrakAnalisis dampak konformitas bagi perilaku konsumtif remaja masa kini merupakan topik yang kompleks dan penting dalam bidang psikologi. Dalam konteks ini, penelitian kualitatif dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang pengalaman dan persepsi individu terkait dengan konformitas sosial dan perilaku konsumtif mereka. Metode penelitian kualitatif yang dapat digunakan meliputi wawancara mendalam, pengamatan partisipatif, fokus kelompok, dan analisis konten kualitatif. Dalam analisis dampak ini, terdapat argumen yang menunjukkan bahwa konformitas sosial berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja. Faktor-faktor seperti pengaruh keluarga, teman sebaya, dan media massa dapat mempengaruhi konformitas remaja dalam mengadopsi perilaku konsumtif. Dampak psikologis konformitas dapat mencakup pengeluaran yang tidak terkendali, pengaruh emosional, dan pengabaian nilai pribadi. Penting untuk mengurangi dampak negatif konformitas dengan strategi yang meliputi peningkatan kesadaran, pendidikan tentang konsumsi yang bertanggung jawab, penguatan nilai pribadi, dan pembangunan keterampilan sosial dan emosional. Penting juga untuk mempertimbangkan pendekatan lintas budaya, mengingat variasi norma dan nilai budaya serta pengaruh globalisasi terhadap perilaku konsumtif remaja. Namun, penelitian ini memiliki batasan dalam hal sampel, konteks budaya, subjektivitas, validitas internal dan eksternal, serta keterbatasan metode penelitian kualitatif. Oleh karena itu, hasil penelitian ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati dan memperhatikan batasan penelitian yang ada.
Benarkah Faktor Budaya sebagai Biang Normalisasi Fenomena Pernikahan Dini? Queen Kusuma Berliana; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i12024p11-20

Abstract

Marriage needs to be prepared carefully to create an ideal marriage, such as physical, psychological and financial readiness. Therefore, it is important not to enter into early marriage because it has a high risk for various aspects of well-being in life. Unfortunately, the phenomenon of early marriage is still considered normal and the number is recorded to continue to increase. This article was prepared with the aim of discussing and identifying factors that cause the persistence of early marriage based on previous research. This article was written using the literature review method. Articles were selected based on the criteria for the research method used, namely quantitative methods with questionnaires and qualitative methods in the form of interviews and observations. Based on the literature review analysis, it is known that socio-cultural factors play an important role in creating people's mindset towards early marriage. Marriage is considered a solution to problems such as financial problems, promiscuity, and conformity. However, this can be overcome by increasing educational factors, thereby increasing awareness of the risks of early marriage. However, collaboration is needed between these two factors so that there is no overlap in dominance which hinders the process of alleviating the problem of early marriage. AbstrakPernikahan perlu disiapkan secara matang untuk menciptakan pernikahan yang ideal, seperti kesiapan fisik, kesiapan psikologis, dan kesiapan finansial. Oleh karena itu, penting untuk tidak melakukan pernikahan dini karena memiliki risiko yang tinggi terhadap berbagai aspek kesejahteraan dalam kehidupan. Nahas, fenomena pernikahan dini masih dianggap normal dan jumlahnya tercatat terus meningkat. Artikel ini disusun dengan tujuan untuk membahas dan mengidentifikasi faktor penyebab langgengnya pernikahan dini berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya. Penulisan artikel ini menggunakan metode literature review. Artikel dipilih dengan kriteria metode penelitian yang digunakan ialah metode kuantitatif dengan kuesioner dan metode kualitatif berupa wawancara dan observasi. Berdasarkan analisis literature review diketahui bahwa faktor sosial budaya berperan penting menciptakan pola pikir masyarakat terhadap pernikahan dini. Pernikahan dianggap sebagai solusi keluar dari masalah, seperti masalah finansial, pergaulan bebas, dan konformitas. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan peningkatan faktor pendidikan, sehingga meningkatkan kesadaran tinggi terhadap risiko pernikahan dini. Akan tetapi, diperlukan kolaborasi antara kedua faktor tersebut agar tidak ada tumpang tindih dominasi yang menghambat proses pengentasan masalah pernikahan dini.
Literature Review: Eksplorasi Perbedaan Ideologi Peran Gender di Berbagai Lingkup Kehidupan dalam Perspektif Lintas Budaya Safira Calfina Izzumi; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i32024p93-102

Abstract

Gender adalah ekspektasi peran sosial terbentuk akibat pengalaman dan budaya yang berkembang. Ekspektasi peran gender sangat beragam sesuai dengan budaya yang berkembang di wilayah setempat. Perilaku gender ini tidak terlepas dari konteks sosiokultural, yakni menyesuaikan dengan tempat individu tinggal dan berkembang. Tujuan studi literatur ini untuk mengetahui adanya perbedaan ideologi peran gender dari perspektif lintas budaya. Temuan dari studi literatur ini dapat diimplikasikan dalam manfaat praktis, kebijakan, dan penelitian selanjutnya. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi literatur melalui database online journal yaitu Google Scholar. Perbedaan ideologi peran gender terlibat dalam berbagai aspek seperti niat kewirausahaan, ekonomi, pendidikan, aktivitas agrikultural, self-esteem, dan aktivitas yang dilakukan saat waktu luang. Peran gender dapat kaku dan fleksibel tergantung keadaan. Norma terhadap gender seringkali berbeda dalam lintas generasi, bidang ilmu dalam perkuliahan, kelompok etnik dan kultural, dan wilayah geografis. Di berbagai negara, perbedaan gender akan tetap melekat pada masyarakat akibat keyakinan mengenai peran gender yang sudah tertanam. Namun di sisi lain, perkembangan kesetaraan gender mulai terlihat dengan berkurangnya dominasi laki-laki serta perempuan yang semakin menunjukkan eksistensinya. AbstrakGender is a social role expectations are formed due to experience and developing culture. Gender role expectations vary greatly according to the culture that develops in the local area. Gender behavior cannot be separated from the sociocultural context, namely adapting to where the individual lives and develops. The method used in this article is a literature study through an online journal database, namely Google Scholar. This literature study aims to determine differences in gender role ideology from a cross-cultural perspective. The findings from this literature study can have implications for practical benefits, policies, and further research. Differences in gender role ideologies involve various aspects such as entrepreneurial intentions, economics, education, agricultural activities, self-esteem, and activities carried out in free time. Gender roles can be rigid and flexible depending on circumstances. Norms regarding gender often differ across generations, fields of study, ethnic and cultural groups, and geographic regions. In various countries, gender differences will remain embedded in society due to ingrained beliefs about gender roles. On the other hand, developments in gender equality are starting to be seen with the reduction of male dominance and women increasingly showing their existence.