Serial drama Netflix The Trauma Code mengonstruksi wacana dilema etis medis melalui penciptaan ruang absurd situasi darurat medis, pengkarakteran dokter absolut, dan tindakan penyelamatan nyawa sebagai moral tertinggi. Konstruksi tersebut memicu urgensi akademik akibat perbenturan narasi fiktif dengan realitas medis yang berhubungan dengan tingginya dugaan kasus malapraktik di Indonesia. Penelitian ini berangkat dari keterbatasan kajian resepsi drama yang selama ini lebih banyak berfokus pada isu kesehatan mental, sementara pemaknaan khalayak terhadap representasi dilema etis medis masih relatif jarang dieksplorasi. Tujuan penelitian adalah menganalisis pemaknaan mahasiswa rumpun kesehatan serta memetakan posisi resepsi mereka terhadap representasi dilema etis medis dalam serial tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif Encoding-Decoding Stuart Hall, data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara sembilan informan, lalu dianalisis dengan NVivo 12 serta divalidasi melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan dominasi posisi negosiasi (negotiated reading), di mana informan menerima sebagian pesan yang ditawarkan serial, tetapi secara kritis menegosiasikannya berdasarkan pengetahuan akademis dan pengalaman klinis masing-masing. Temuan ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan kesehatan berperan sebagai filter interpretatif yang membentuk proses pemaknaan terhadap representasi idu dilema etis medis dalam media massa suatu drama.