Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi terhadap Pendapatan Usahatani Kopi Arabika di Desa Kendenan Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Nalaratih Uswa Lutfiah; Sri Mardiyati; Muh Ikmal Saleh
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/paspalum.v11i2.540

Abstract

The aim of this study was to determine the production and income of Arabica coffee farming, to analyze the factors that influence the production of Arabica coffee farming, to determine the effect of socio-economic factors on Arabica coffee farming income in Kendenan Village, Baraka District, Enrekang Regency. The population in this study were 120 people and 25% were taken. The sample was determined using simple random sampling technique. The samples obtained were 30 people. The data analysis used is income analysis and multiple linear regression. The results showed that the production of arabica coffee farming was 498.5 kg per hectare and the income of arabica coffee farming was IDR 9,122,887.50 per hectare. Factors that influence the production of Arabica coffee farming simultaneously are the area of land, the amount of fertilizer, labor, farming experience and the length of time they have attended formal education. Factors that significantly influence the production of Arabica coffee farming are land area and number of workers. Socio-economic factors that significantly influence the income of Arabica coffee farming are land area, labor wages and farming experience. 1. if the land area is increased by 1% (one percent), the income of Arabica coffee farming will increase by 1.6989 percent. Labor wages have a negative and significant effect on Arabica coffee farming income, meaning that if labor wages increase by 1 percent, Arabica coffee farming income will decrease by -0.87908. Farming experience has a positive and significant effect on Arabica coffee farming income, meaning that if farming experience increases by 1% (one percent), then Arabica coffee farming income will increase by 0.1974 percent.   
Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi terhadap Pendapatan Usahatani Kopi Arabika di Desa Kendenan Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Nalaratih Uswa Lutfiah; Sri Mardiyati; Muh Ikmal Saleh
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/paspalum.v11i2.540

Abstract

The aim of this study was to determine the production and income of Arabica coffee farming, to analyze the factors that influence the production of Arabica coffee farming, to determine the effect of socio-economic factors on Arabica coffee farming income in Kendenan Village, Baraka District, Enrekang Regency. The population in this study were 120 people and 25% were taken. The sample was determined using simple random sampling technique. The samples obtained were 30 people. The data analysis used is income analysis and multiple linear regression. The results showed that the production of arabica coffee farming was 498.5 kg per hectare and the income of arabica coffee farming was IDR 9,122,887.50 per hectare. Factors that influence the production of Arabica coffee farming simultaneously are the area of land, the amount of fertilizer, labor, farming experience and the length of time they have attended formal education. Factors that significantly influence the production of Arabica coffee farming are land area and number of workers. Socio-economic factors that significantly influence the income of Arabica coffee farming are land area, labor wages and farming experience. 1. if the land area is increased by 1% (one percent), the income of Arabica coffee farming will increase by 1.6989 percent. Labor wages have a negative and significant effect on Arabica coffee farming income, meaning that if labor wages increase by 1 percent, Arabica coffee farming income will decrease by -0.87908. Farming experience has a positive and significant effect on Arabica coffee farming income, meaning that if farming experience increases by 1% (one percent), then Arabica coffee farming income will increase by 0.1974 percent.   
PROFITABILITAS DAN KELAYAKAN USAHA CABAI KERITING DI DESA BALASSUKA KECAMATAN TOMBOLO PAO KABUPATEN GOWA Alfira Nurafni Kaharuddin; Amruddin Amruddin; Nadir Nadir; Muh Ikmal Saleh; Jumiati Jumiati
Jurnal Sains Agribisnis Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jsa.v5i1.1862

Abstract

Produksi cabai keriting di Desa Balassuka belum optimal akibat berbagai faktor seperti metode budidaya yang kurang tepat, pemilihan benih yang tidak sesuai, penggunaan pupuk yang belum maksimal, serta pengelolaan tanaman yang belum efisien. Selain itu, sebagian besar petani belum mampu menghitung biaya operasional usahatani secara rinci.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya produksi dan keuntungan usahatani cabai keriting serta menilai kelayakannya untuk dikembangkan. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan memilih 35 petani berdasarkan strata luas lahan (0,24–1 hektar). Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data mencakup perhitungan penerimaan, profitabilitas, dan rasio kelayakan (R/C).Hasil penelitian menunjukkan biaya produksi rata-rata sebesar Rp 8.774.954 dan pendapatan sebesar Rp 52.075.714 per musim, dengan keuntungan 4,98% dan R/C ratio 5,98. Ini menunjukkan bahwa usahatani cabai keriting sangat layak untuk dikembangkan.Disarankan adanya penguatan akses permodalan melalui kredit usaha tani dari pemerintah daerah maupun lembaga keuangan guna memperluas skala usaha. Selain itu, penyuluhan yang rutin dan berkualitas sangat dibutuhkan, karena sebagian petani masih belum memahami teknik pengendalian hama, prediksi cuaca, dan fluktuasi harga secara optimal.
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHA TERNAK SAPI BALI DI DESA POLEONRO KECAMATAN GILIRENG KABUPATEN WAJO Muh Sulfikar; Nurdin Mappa; Muh Ikmal Saleh; Widiarti Widiarti
Jurnal Sains Agribisnis Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jsa.v5i2.1867

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan usaha peternakan sapi Bali di Desa Poleonro, Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo. Masalah utama yang dihadapi peternak di daerah ini antara lain tingginya biaya operasional, keterbatasan akses terhadap pakan berkualitas, serta rendahnya pengetahuan dan keterampilan manajerial dalam pengelolaan ternak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis regresi linier berganda. Data dikumpulkan melalui survei dan wawancara terstruktur terhadap sejumlah peternak sapi Bali yang dipilih sebagai sampel penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa tiga variabel, yaitu biaya tenaga kerja, modal, dan pengalaman beternak, memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan peternak. Sementara itu, jumlah ternak, biaya pakan, biaya benih, dan harga obat-obatan tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,739 mengindikasikan bahwa 73,9% variasi pendapatan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel dalam model. Dalam praktik sehari-hari, modal yang mencukupi, pengalaman yang lebih lama dalam beternak, serta penggunaan tenaga kerja yang efisien terbukti dapat meningkatkan pendapatan peternak secara nyata. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kapasitas peternak dalam hal manajemen usaha ternak serta optimalisasi tenaga kerja merupakan kunci untuk meningkatkan pendapatan. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah dan pihak terkait memberikan dukungan melalui program pelatihan pengelolaan ternak, subsidi atau bantuan pakan berkualitas, serta akses terhadap teknologi peternakan yang efisien. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang mendukung peningkatan kesejahteraan peternak sapi Bali di daerah tersebut.