Uly Agustine
Poltekkes Kemenkes Kupang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SYSTEMATIC REVIEW: FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PRESSURE ULCERS Wanto Paju; Dessy Natalia Riti; Shelfi Dwi Retnani Putri Santoso; Uly Agustine
Journal of Nursing and Health Vol. 8 No. 2 (2023): Journal of Nursing and Health
Publisher : Yakpermas Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52488/jnh.v8i2.229

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Luka tekanan semakin meningkat di layanan kesehatan dan dapat memperpanjang perawatan serta memperlambat pemulihan pasien. Di Indonesia, prevalensi luka tekanan di rumah sakit mencapai 33%. Tujuan: mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pressure ulcers dan mengenali faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya pressur ulcers. Studi appraisal dan metode sintesis: Dilakukan pencarian secara sistematis dengan menggunakan kata kunci pada database Ebsco, Pubmed, Medline, dan Google Scholar. Setelah itu, kualitas artikel penelitian akan dinilai menggunakan CASP, kemudian data akan diekstrak dan dianalisis secara mandiri. Hasil: Terdapat tiga artikel yang menggunakan studi retrospektif untuk mengevaluasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan luka tekanan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendasarinya. Sebagai bagian tim kesehatan yang bertanggung jawab atas perawatan pasien secara menyeluruh, peran perawat sangat penting dalam mencegah terjadinya luka tekanan dan mengenali faktor-faktor yang berkontribusi pada terjadinya luka tekanan. Kesimpulan dan Implikasi Hasil : Perawat bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan yang komprehensif, termasuk mencegah terjadinya luka tekanan dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya. Dengan melakukan hal ini, angka kejadian luka tekanan dapat menurun, serta mengurangi biaya dan waktu perawatan di rumah sakit dan mempercepat program rehabilitasi bagi pasien. Keyword: pencegahan, perawat, pressure ulcers
Edukasi Peran Anak Sekolah SDN Pangadu Rade sebagai Duta Sehat Paru di Lingkungan Rumah Uly Agustine; Wanto Paju; Shelfi Dwi Retnani Putri Santoso; Alpian Umbu Dewa
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25359

Abstract

ABSTRAK Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi menahun yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis dan menyerang jaringan parenkim paru-paru. Penderita TB paru berpotensi menyebarkan bakteri penyebabnya melalui droplet di udara ketika batuk, bersin, atau berbicara tanpa mengenakan masker. Meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan paru dan pencegahan TB, serta membentuk duta sehat paru yang berperan sebagai perubahan di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan desain intervensi edukatif dengan metode pre-test dan post-testuntuk menilai peningkatan pengetahuan dan peran siswa sebagai duta sehat paru di lingkungan rumah. penelitian menunjukkan pada pre-test, 5% siswa memiliki pengetahuan baik, 70% cukup, dan 25% kurang. Pada post-test, 100% siswa berada dalam kategori baik. Kegiatan ini menekan pada edukasi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai kesehatan paru melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Kata Kunci: Tuberkulosis Paru, Edukasi, Pencegahan.  ABSTRACT Pulmonary tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis that attacks the lung parenchyma. Individuals with pulmonary TB can transmit the bacteria through airborne droplets when coughing, sneezing, or speaking without wearing a mask. To improve students’ knowledge about lung health and TB prevention, and to establish lung health ambassadors who act as agents of change within the school environment. This study employed an educational intervention design using pre-test and post-test methods to assess the improvement of students’ knowledge and their role as lung health ambassadors at home. The findings showed that in the pre-test, 5% of students had good knowledge, 70% had sufficient knowledge, and 25% had poor knowledge. In the post-test, 100% of students were in the good knowledge category. This activity emphasizes educational efforts that effectively enhance students’ knowledge and awareness of lung health through the implementation of clean and healthy living behaviors. Keywords: Pulmonary Tuberculosis, Education, Prevention.
Pelatihan dan Pendampingan Pemanfaatan Bahan Pangan Lokal untuk Pemberian Makan Tambahan (PMT) Pemulihan bagi Anak Stunting Ririn Widyastuti; Grasiana Florida Boa; Petrus Belarminus; Mariana Ngundju Awang; Wanti Wanti; Irfan Irfan; Juni Gressilda L Sine; Uly Agustine; Maria Mencyana Paty Saghu; Demsa Simbolon
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.23350

Abstract

ABSTRAK Angka stunting di Indonesia terus menunjukkan penurunan signifikan, dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 19,8% pada tahun 2024, namun masih terdapat kesenjangan antarwilayah dengan prevalensi tinggi di beberapa provinsi. Salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya pengetahuan dan keterampilan orang tua serta kader posyandu dalam pemenuhan gizi anak, khususnya dalam pengolahan bahan pangan lokal untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Pelatihan dan pendampingan pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kemampuan tersebut sekaligus mendorong kemandirian pangan keluarga. Melalui optimalisasi potensi pangan lokal yang melimpah, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting secara berkelanjutan di Indonesia. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua serta kader posyandu dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi PMT pemulihan bagi anak stunting serta mendukung pemenuhan gizi balita secara mandiri dan berkelanjutan, serta berkontribusi dalam menurunkan prevalensi stuntingdi tingkat keluarga dan masyarakat. Kegiatan dalam bentuk pelatihan, pendampingan dan lomba kreasi cipta menu bahan pangan lokal untuk anak stunting. Hasil: kegiatan pelatihan dan pendampingan pemberian PMT 90 hari menunjukkan hasil 4 balita berat badan normal, 2 balita berisiko gizi lebih dan 2 balita dengan gizi kurang. 1 Balita dengan penyakit infeksi telah dilakukan rujukan ke RS. Pelatihan dan pendampingan pemanfaatan bahan pangan lokal efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian orang tua serta kader dalam pembuatan PMT bergizi seimbang bagi anak stunting. Kegiatan ini berkontribusi nyata terhadap perbaikan status gizi anak dan percepatan penurunan angka stunting di masyarakat. Kata Kunci: Pelatihan, Pendampingan, Kader, Orangtua, PMT, Bahan Pangan Lokal, Stunting.  ABSTRACT The stunting rate in Indonesia continues to show a significant decline, from 27.7% in 2019 to 19.8% in 2024. However, disparities remain between regions, with high prevalence in several provinces. One contributing factor is the low knowledge and skills of parents and integrated health post (Posyandu) cadres in meeting children's nutritional needs, particularly in processing local food ingredients for supplementary feeding (PMT). Training and mentoring in the use of local food ingredients is an effective strategy to improve these skills while encouraging family food self-sufficiency. By optimizing the abundant potential of local food, this activity is expected to strengthen the role of communities in sustainable stunting prevention and management efforts in Indonesia. Increasing the knowledge and skills of parents and integrated health post (posyandu) cadres in processing local food ingredients into recovery PMT for stunted children and supporting the fulfillment of toddler nutrition independently and sustainably, as well as contributing to reducing the prevalence of stunting at the family and community level. Activities in the form of training, mentoring and competitions to create local food menus for stunted children. 90-day PMT training and mentoring activities showed results for 4 toddlers with normal weight, 2 toddlers at risk of overnutrition, and 2 toddlers with malnutrition. One toddler with an infectious disease was referred to the hospital. Training and mentoring on the use of local food ingredients effectively increases the knowledge, skills, and independence of parents and cadres in preparing nutritionally balanced PMT for stunted children. This activity significantly contributes to improving children's nutritional status and accelerating the reduction of stunting rates in the community. Keywords: Training, Mentoring, Cadres, Parents, PMT, Local Food Ingredients, Stunting.