Carel Hot Asi Siburian
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Lateness Eschatology: Analisis Kritis atas Keterlambatan Kedatangan Mempelai Laki-laki dalam Matius 25:1-13 Siburian, Carel Hot Asi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 6 No. 2 (2024): Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i2.604

Abstract

Tema mengenai penundaan parousia sering kali menjadi bagian sentral dalam eskatologi Perjanjian Baru. Namun pemahaman tersebut hanya berhenti sebatas “pengharapan” oleh manusia saja. Artinya, yang ditunggu masih belum tiba. Menariknya, hanya dalam perumpamaan sepuluh gadis (Mat. 25:1-13) saja, “sosok” yang diharapkan tiba, telah tiba. Ia adalah mempelai laki-laki. Di sinilah letak kebaruan penelitian dalam artikel ini, sebab ketibaan “sosok” yang ditunggu ini menimbulkan paham lateness eschatology dan bukan delayed eschatology. Argumen utama dari artikel ini adalah bahwa 1) sangat aneh menerima kenyataan bahwa Yesus datang terlambat dalam pesta-Nya sendiri (jika pembaca masih menyejajarkan figur Yesus dengan mempelai laki-laki), dan oleh sebab itu, 2) muncul paham tentang lateness eschatology hanya dalam perumpamaan ini. Namun baik itu delayed maupun lateness, keduanya bukan karena Allah pada diri-Nya sendiri menyampaikan keterlambatan atau penundaan kedatangan-Nya, melainkan akibat pengharapan berlebih oleh manusia. Akhirnya, artikel ini membuka wacana apakah memang ada “keterlambatan” seperti itu dan mengapa tema tersebut muncul dalam Injil Matius.
Lateness Eschatology: Analisis Kritis atas Keterlambatan Kedatangan Mempelai Laki-laki dalam Matius 25:1-13 Siburian, Carel Hot Asi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 6 No. 2 (2024): Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i2.604

Abstract

Tema mengenai penundaan parousia sering kali menjadi bagian sentral dalam eskatologi Perjanjian Baru. Namun pemahaman tersebut hanya berhenti sebatas “pengharapan” oleh manusia saja. Artinya, yang ditunggu masih belum tiba. Menariknya, hanya dalam perumpamaan sepuluh gadis (Mat. 25:1-13) saja, “sosok” yang diharapkan tiba, telah tiba. Ia adalah mempelai laki-laki. Di sinilah letak kebaruan penelitian dalam artikel ini, sebab ketibaan “sosok” yang ditunggu ini menimbulkan paham lateness eschatology dan bukan delayed eschatology. Argumen utama dari artikel ini adalah bahwa 1) sangat aneh menerima kenyataan bahwa Yesus datang terlambat dalam pesta-Nya sendiri (jika pembaca masih menyejajarkan figur Yesus dengan mempelai laki-laki), dan oleh sebab itu, 2) muncul paham tentang lateness eschatology hanya dalam perumpamaan ini. Namun baik itu delayed maupun lateness, keduanya bukan karena Allah pada diri-Nya sendiri menyampaikan keterlambatan atau penundaan kedatangan-Nya, melainkan akibat pengharapan berlebih oleh manusia. Akhirnya, artikel ini membuka wacana apakah memang ada “keterlambatan” seperti itu dan mengapa tema tersebut muncul dalam Injil Matius.
Wajah Allah yang Tersembunyi Disingkapkan: Etika Eskatologis Matius 25:31-46 sebagai Locus Allah yang Tersembunyi dalam Menyatakan Diri-Nya Siburian, Carel Hot Asi; Sitanggang, Asigor Parongna
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1097

Abstract

AbstractMatthew 25:31-46 is a text that uniquely illustrates Jesus’ concept of the end times. The text shows that faith is not the important dimension in the end times, but attitude and deeds. The cursed and the righteous also do not know that what they “have” done is also for Jesus. This passage is not only present in the tension between faith and unknowing but also as a transformative solution for the people amid the reality of life. Through a narrative approach to Matthew 25:31-46, a construction of thinking will be built that finding the “hidden face of Jesus” is a difficult thing to do (especially for those who are “foreign”) if people do not know that Jesus revealed Himself as the lowly. In practice, the dimension of tension between faith and ignorance is very large in the search for the hidden face of Jesus which makes eschatological ethics precisely present at this time. The result of this study is that the text of Matthew 25:31-46 cannot be read as a justification for the help given to others, without maintaining the tension between faith and unknowing. AbstrakMatius 25:31-46 merupakan teks yang menggambarkan dengan unik konsep Yesus tentang akhir zaman. Teks memperlihatkan bahwa iman bukanlah dimensi penting pada akhir zaman, melainkan sikap dan perbuatan. Orang-orang terkutuk dan benar juga tidak tahu bahwa apa yang “telah” mereka lakukan ternyata juga untuk Yesus. Perikop ini tidak sekadar hadir dalam ketegangan antara iman dan ketidaktahuan, tetapi juga sebagai solusi transformatif umat di tengah realitas kehidupan. Melalui pendekatan naratif terhadap Matius 25:31-46, akan dibangun konstruksi berpikir bahwa menemukan “wajah Yesus yang tersembunyi” merupakan hal yang sulit dilakukan (terlebih kepada mereka yang “asing”) apabila orang tidak mengetahui bahwa Yesus mengungkapkan diri-Nya sebagai yang hina. Dalam praksisnya, dimensi ketegangan antara iman dan ketidaktahuan sangat besar dalam pencarian wajah Yesus yang tersembunyi yang membuat etika eskatologis justru hadir di saat ini. Hasil penelitian ini melihat bahwa teks Matius 25:31-46 tidak dapat dibaca sebagai pembenaran akan bantuan yang diberikan kepada sesama, tanpa mempertahankan ketegangan antara iman dan ketidaktahuan tersebut. 
Antikristus di antara Empat Entitas Personal Akhir Zaman (Why. 6:1-8) Siburian, Carel Hot Asi; Hermanto, Hermanto
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v5i1.208

Abstract

The story of the four horsemen that appear in Revelation 6:1-8 has always been read with an allegorical approach. This approach sees the horsemen as symbolizing disasters such as death, war, famine, and a conquest by pestilence; all of which take a heavy toll. This article offers a different reading in that the image of the four horsemen does not speak of a future catastrophe, but of a personal entity that will indeed be present at the end of time. It also criticizes the interpretation that the rider on the white horse that appears in Revelation 6:2 is Jesus. With a brief narrative-critical approach and biblical exegesis of the text of Revelation 6:1-8, this article offers two developing readings, first that Jesus is not the first horseman, but the antichrist, and the second one is, the four horsemen represent personal entities, not symbols of disaster. The output of this article is to offer the view that the four horsemen are evil entities that God allows to inflict suffering and torture on the earth at the end of time.Narasi empat penunggang kuda yang hadir dalam Wahyu 6:1-8 selalu dibaca dengan pendekatan alegoris. Pendekatan tersebut melihat bahwa penunggang kuda sedang melambangkan bencana seperti kematian, peperangan, kelaparan, hingga sebuah penaklukan akan wabah penyakit; di mana seluruhnya memakan banyak korban jiwa. Artikel ini hadir untuk menawarkan pembacaan yang berbeda bahwa gambaran dari keempat penunggang kuda tidak sedang berbicara mengenai gambaran bencana di masa depan, melainkan mengenai suatu entitas personal yang memang benar-benar akan hadir di akhir zaman. Artikel ini juga mengkritisi ulang tafsir yang mengatakan bahwa penunggang kuda putih yang muncul dalam Wahyu 6:2 adalah Yesus. Dengan pendekatan naratif-kritis singkat dan tafsir biblis terkait teks Wahyu 6:1-8, artikel ini menawarkan dua pengembangan pembacaan; pertama, Yesus bukanlah penunggang kuda pertama, melainkan antikristus, dan kedua yaitu keempat penunggang kuda sedang mewakili entitas personal, bukan simbol bencana. Luaran dari artikel ini adalah menawarkan pandangan bahwa keempat penunggang kuda merupakan entitas jahat yang diizinkan Allah menaruh penderitaan dan penyiksaan di bumi di akhir zaman.