Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENGARUH TINGKAT KEPADATAN JENTIK AEDES AEGYPTI TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI DESA PANDANSARI KECAMATAN PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG Vira Tika Yuniar; Rudy Joegijantoro; Septia Dwi Cahyani
Jurnal Higiene Sanitasi Vol. 2 No. 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/hisan.v2i2.24

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by the dengue virus which is transmitted from person to person through the bite of a female Aedes Aegypti sp mosquito that contains the dengue virus. Dengue virus is a member of the flavivirus genus which has 4 serotypes, namely Den-1, up to Den-4. Aedes aegypti and Aedes albopictus are mosquitoes which transmit dengue disease. The purpose of this research is to analyze the influence of the density level of Aedes Aegypti mosquito larva on the Incidence of Dengue Fever (DHF) at Pandansari Village, Poncokusumo District, Malang Regency. This research method was cross-sectional research. The population of this research are all houses in Pandansari Village, ammounted as much as 1520 houses. The sample were taken by simple random sampling and obtained a sample of 316 houses consisting of 3 kampoongs namely Krajan (192 Houses), Wonosari (69 Houses), and Sukosari ( 55 Houses). Based on the research results it is found that the index house (HI) in Pandansari Village is (87.75%), container index (CI) (54.79%), Bretue index (BI) (101.2%), and ABJ (14.2%). the results of statistical test using logistic regression test showed that there is an effect but not significant between the level of larva density and the incidence of DHF. The density of Aedes Aegypti larvae has an effect of 17.6% and 82.4% which influenced by other factors. So, it is suggesled for the people who live at Pandansari, Poncokusumo District, to maintain the cleanliness of the water tub to be drained at least once a week, and cover the water reservoir, so that the mosquitoes can not lay eggs there.
PENGARUH FAKTOR INTERNAL TERHADAP KEJADIAN DERMATITIS KONTAK IRITAN (DKI) PADA NELAYAN DI DESA PADELEGEN KABUPATEN PAMEKASAN Erwin Cahya Meilanda; Septia Dwi Cahyani; Rudy Joegijantoro
Jurnal Higiene Sanitasi Vol. 2 No. 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/hisan.v2i2.31

Abstract

ABSTRACT Irritant contact dermatitis is a non-immunologic reaction/skin inflammation caused by irritant substances. Factors that influence the occurrence of Irritant Contact Dermatitis, among others, work period, personal hygiene and use of Personal Protective Equipment. Complaints of Contact Dermatitis Irritants such as pain, itching, erythema, stinging, scaly and cracked skin, and thickening of the skin. This study aims to analyze the influence of internal factors on the incidence of Irritant Contact Dermatitis in fishermen in Padelegen Village, Pamekasan Regency. This study used an analytic observation method with a retrospective cross sectional approach. The research sample amounted to 32 people who were taken based on inclusion data and exclusion data. In this research the sampling technique was simple random sampling. The instruments used in this study were questionnaires, interviews, and documentation. Analysis of research results using ordinal logistic regression test. Based on the research that has been done, it can be concluded that the variables which influence the logistic results partially, is the service period with a sig value of 0.049, Personal Protective Equipment with a value of sig. 0.000 and personal hygiene 0.625. The results of the regression test simultaneously obtained results with a sig value of 0.044. So, it can be stated that there is an influence of internal factors on the incidence of Irritant Contact Dermatitis in fishermen in Padelegen Village, Pamekasan Regency. Advice for related agencies need to be held counseling or education about irritant contact dermatitis to fishermen in order to reduce the occurrence of occupational contact dermatitis. Keyword: Incidence Of Irritant Contact Dermatitis, Working Period, Personal Hygiene, PPE
Analisis Risiko Lingkungan Fisik Rumah dan Kebiasaan Merokok terhadap Kasus Pneumonia pada Balita di Pamekasan Hazainudin, Gilang Dewi Fauziah; Sari, Devita; Joegijantoro, Rudy
Jurnal EnviScience (Environment Science) Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/jev.v7i1.514

Abstract

Pneumonia adalah infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia yang menginfeksi saluran pernapasan bagian atas orang dewasa dan anak-anak. Kasus tertinggi pneumonia balita terjadi di Kabupaten Pamekasan yaitu terdapat di Puskesmas Sopa’ah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh faktor risiko lingkungan fisik rumah dan kebiasaan merokok terhadap kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Sopa’ah. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cohort. Sampel penelitian dibagi menjadi 2 (dua), yaitu 50 balita yang sakit dan 24 balita yang sudah sembuh. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner, lembar observasi, lux meter dan sound level meter. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariate dengan menggunakan uji chi-square dan Relative Risk (RR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin dan suhu tidak berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita. Kepadatan hunian berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita (p=0,032 RR=1,431), ventilasi berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita (p=0,021 RR=1,479), pencahayaan berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita (p=0,032 RR=1,421), kelembaban berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita (p=0,031 RR=1,449), dan kebiasaan merokok berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita (p=0,017 RR=2,008). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berisiko terhadap kejadian pneumonia pada balita yaitu kebiasaan merokok anggota keluarga dengan nilai relative risk (RR) 2,008.Kata kunci: Pneumonia, Lingkungan Fisik Rumah, Kebiasaan Merokok
HUBUNGAN ANTARA KETERSEDIAAN SUMBER AIR MINUM, SANITASI DAN PENGELOLAAN SAMPAH TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS TEMPEH Nindi, Nindia Puteri; Sari, Devita; Joegijantoro, Rudy
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.31426

Abstract

Prevalensi stunting berdasarkan hasil studi status gizi Indoneisa (SSGI) tahun 2021 menunjukkan angka prevalensi stunting di 34 provinsi berada pada kisaran 10,9 % dan 37,8%. Data stunting di wilayah kerja Puskesmas tempeh tahun 2020 jumlah angka stunting yaitu sebanyak 240 anak, tahun 2021 jumlah angka stunting sebanyak 195 anak, tahun 2022 jumlah angka stunting sebanyak 154 anak, tahun 2023 jumlah angka stunting sebanyak 142 anak. Sedangkan, tahun 2024 jumlah angka stunting sebanyak 145 anak. Jadi, tahun tertinggi jumlah angka stunting ada di tahun 2020 sebanyak 145 anak. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan antara ketersediaan air minum bersih, sanitasi yang layak, dan pengelolaan sampah yang baik dengan penurunan kasus stunting pada anak di wilayah kerja UPT Puskesmas Tempeh. Desain penelitian ini analitik observasional dengan pengumpulan data kuantitatif melalui pendekatan case control. Jumlah sampel pada penelitian ini sampel kasus sebanyak 59 anak ditambah sampel kontrol sebanyak 59 anak. Berdasarkan hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan antara tempat pembuangan kotoran (jamban) terhadap kejadian stunting pada anak (P-value 0,127 OR 2,073). Variabel CTPS ada hubungan antara CTPS terhadap kejadian stunting pada anak (P-value 0,002 OR 0,282). Variabel ketersediaan air minum da hubungan antara ketersediaan air minum terhadap kejadian stunting pada anak (P-value 0,002 OR 0,449). Variabel pengelolaan sampah rumah tangga ada hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga terhadap kejadian stunting pada anak (P-value 0,002 OR 0,282). Variabel SPAL ada hubungan antara SPAL terhadap kejadian stunting pada anak (P-value 0,007 OR 0,282).
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, KARAKTERISTIK, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PERSEPSI TENTANG KESEHATAN DAN KEBERSIHAN AIR MINUM DI DESA RANAH KARYA KECAMATAN LUBUK PINANG KABUPATEN MUKOMUKO Anggela, Thesa; Joegijantoro, Rudy; Sari, Devita
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.31490

Abstract

Disisi lain riset mengenai sanitasi depot air minum masih sangat kurang dilakukan di Desa Ranah Karya. Hal ini lah yang membuat saya tertarik dan ingin mengetahui tentang persepsi masyarakat terhadap kesehatan dan kebersihan dari pilihan air minum yang mereka gunakan. Dampak persepsi masyarakat terhadap pemilihan air minum tersebut dalam kehidupan sehari-hari yaitu dapat dilihat dari pertimbangan dan pemahaman masyarakat terhadap kualitas air minum yang baik dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka, karena kualitas air minum nantinya akan berpengaruh terhadap kesehatan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi pengetahuan, karakteristik, sikap, dan perilaku tentang kesehatan dan kebersihan air minum yang dikonsumsi. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel menggunakan rancangan non probability sampling dengan jumlah 288 sampel dari pengguna DAMIU, DARIU, dan air sumur gali yang direbus dari 2.271 populasi yang dihitung menggunakan rumus slovin dengan tingkat kesalahan 10%. Metode analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat uji Rank Spearman. Kesimpulan penelitian adalah Pada variabel umur,mayoritas yang menjadi responden adalah yang berusia 36-45 tahun. Dilanjutkan oleh variabel pendidikan yang paling banyak menjadi responden adalah responden dengan pendidikan terakhir SD. Untuk variabel pekerjaan, mayoritas responden menjawab bekerja sebagai petani, sedangkan pada variabel pekerjaan yang paling banyak menjadi responden untuk pengguna DAMIU dan DARIU adalah petani dan untuk responden pengguna air sumur gali yang direbus kebanyakan responden bekerja sebagai karyawan. Dari hasil keseluruhan penelitian, yang memiliki hubungan dengan persepsi yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, dan perilaku. Dengan arah hubungan yang positif.
ANALISIS RISIKO KECELAKAAN KERJA DENGAN METODE JOB SAFETY ANALYSIS (JSA) STUDI KASUS PERAWAT IGD RS X JOMBANG Putri , Azuan Ludia; Subhi , Misbahul; Joegijantoro, Rudy
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32005

Abstract

Rumah sakit merupakan tempat pelayanan fasilitas kesehatan yang memiliki risiko tinggi terjadinya paparan penyakit infeksi, kecelakaan kerja, dan penyakit akibat kerja. Terdapat beberapa faktor yang menjadi penunjang kecelakaan kerja terjadi pada perawat seperti : bahaya fisik, biologi, ergonomi dan psikologi. Menurut hasil data studi pendahuluan didapatkan kasus kecelakaan kerja tertusuk jarum suntik pada RS X Jombang pada tahun 2022 terdapat 18 kasus, sedangkan pada tahun 2023 terjadi peningkatan sejumlah 29 kasus keluhan tertusuk jarum suntik dan ergonomi. Karena itu penelitian dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja dengan metode JSA (Job Safety Analysis) pada perawat IGD di Rumah Sakit X Kabupaten Jombang.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif  kuantitatif.Teknik sampling yang digunakan yaitu total sampling dengan sampel 34 perawat IGD dengan menggunakan instrument kuisoner, lembar observasi dengan acuan dasar AS/NZS 4360:2004. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh temuan bahwa dari seluruh tindakan di IGD terdapat   6 tindakan yang memiliki 28 potensi bahaya. sehingga didapatkan basic risk 20,5% pada kategori acceptable; 7,1% pada kategori priority 3; 53,5% pada kategori substansial dan 17,8 % pada priority 1. Pengendalian  risiko kecelakaan kerja pada perawat IGD RS X Jombang adalah substitusi: seperti pergantian peralatan sebagai penunjang keselamatan kerja, administratif, pelatihan dengan komunikasi hazard,   dan alat pelindung diri untuk mengurangi tingkat risiko paparan penyakit .Untuk mencegah dan menurunkan angka terjadinya kecelakaan kerja disarankan agar pihak rumah sakit melaksanakan rekomendasi pengendalian risiko sejalan dengan hierarki pengendalian risiko serta penunjang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap perawat ketika  melakukan tindakan.
FAKTOR RESIKO KONDISI SANITASI RUMAH, KEAKTIFAN KADER JUMANTIK DAN TINGKAT KEPADATAN RUMAH TERHADAP KEJADIAN DBD DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ARJOWINANGUN KOTA MALANG Priyo Santoso, Fany Dwi; Joegijantoro, Rudy; Wahyuni, Ike Dian
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32975

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan masih menjadi permasalahan kesehatan baik di wilayah perkotaan maupun wilayah semi- perkotaan. Provinsi Jawa Timur merupakan daerah endemik DBD,salah satunya di Puskesmas Arjowinangun wilayah Kota Malang,tahun 2023 di temukan sebanyak 48 Kasus DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko sanitasi rumah, keaktifan kader dan tingkat kepadatan rumah terhadap kejadian DBD. Metode penelitian yang digunakan adalah desain penelitian retropektif  dengan menggunakan case control. Sampel yang digunakan sebanyak 56 responden  terdiri dari kelompok kasus dan kelompok kontrol. Teknik sampling yang digunakan adalah Total sampling dan analisa hasil penelitian menggunakan Odd Ratio (OR) dengan tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan analisis Odds Ratio (OR) diperoleh sebesar 0,756 dengan CI = 95% yang artinya sanitasi rumah yang buruk memiliki kecenderungan untuk terjangkit DBD sebesar 0,756 atau 0,7 kali lebih kecil dibandingkan dengan sanitasi rumah yang baik. Ketidakaktifan kader Jumantik memiliki kecenderungan untuk terjangkit DBD sebesar  2,000 atau 2 kali lebih besar dibandingkan dengan keaktifan kader Jumantik. Kepadatan rumah yang tidak memenuhi sarat kesehatan memiliki kecenderungan untuk terjangkit DBD sebesar  3,000 atau 3 kali lebih besar dibandingkan dengan kepadatan rumah yang memenuhi.Dapat disimpulkan bahwa kondisi sanitasi rumah, keaktifan kader Jumantik,tingkat kepadatan rumah memiliki faktor resiko terhadap kejadian DBD.
Meningkatkan Efisiensi Dan Kinerja Rumah Sakit Dalam Melayani Peserta BPJS Kesehatan Menggunakan Quality Function Deployment (QFD) : Sebuah Tinjauan Pustaka Joegijantoro, Rudy
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol2.iss2.art12

Abstract

Latar Belakang : Meningkatnya jumlah peserta BPJS Kesehatan menyebabkan beban kerja semakin meningkat bagi rumah sakit, sehingga kinerja dan efisiensi rumah sakit tidak optimal. rumah sakit yang kurang optimal kinerja dan efisiensi dalam melayani peserta BPJS Kesehatan dapat menyebabkan penurunan pelayanan kesehatan kualitas, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di antara pasien dan masyarakat. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja rumah sakit dalam melayani peserta BPJS Kesehatan. Tujuan : Tujuannya adalah untuk memanfaatkan metodologi QFD untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja rumah sakit dalam melayani peserta BPJS Kesehatan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi faktor kritis yang mempengaruhi efisiensi dan kinerja rumah sakit dari perspektif pasien BPJS Kesehatan, rumah sakit, pemerintah, dan penyedia BPJS Kesehatan, mengembangkan model QFD untuk meningkatkan kinerja rumah sakit, dan mengevaluasi efektivitas model dalam meningkatkan kinerja rumah sakit.Metode : Metodologi penelitian yang digunakan adalah studi pustaka, pengumpulan data melalui survei dan wawancara dengan pasien BPJS Kesehatan, staf rumah sakit, pejabat pemerintah, dan BPJS Perwakilan provider kesehatan, dan analisis data menggunakan teknik statistik dan QFD metodologi. Model QFD dikembangkan untuk meningkatkan kinerja rumah sakit dengan mengatasi faktor kritis yang mempengaruhi efisiensi dan kinerja rumah sakit dalam melayani BPJS Kesehatan peserta. Keefektifan model QFD dievaluasi untuk menilai peningkatan dalam kinerja dan efisiensi rumah sakit.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kinerja rumah sakit dan efisiensi dalam melayani Peserta BPJS Kesehatan melalui model QFD. Simpulan : Metodologi QFD dapat meningkatkan kinerja rumah sakit, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memuaskan peserta BPJS Kesehatan.Kata kunci: efisiensi rumah sakit, kinerja, BPJS Kesehatan, Quality Function Deployment, kualitas pelayanan kesehatan.
Comparison of Machine Learning as an Inference Engine to Improve Expert Systems in Dengue Disease Istiadi, -; Marisa, Fitri; Joegijantoro, Rudy; Suksmawati, Affi Nizar; Rahman, Aviv Yuniar
JOIV : International Journal on Informatics Visualization Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Society of Visual Informatics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62527/joiv.9.3.3192

Abstract

Dengue disease remains a significant public health challenge in tropical and subtropical regions, with rising incidence and mortality rates over the past few decades. While expert systems have been developed for early detection, traditional approaches often rely on rigid rule-based inference engines, which are limited by their dependence on expert-defined structures and lack adaptability to evolving knowledge sources. This study introduces a novel approach to enhance the flexibility and adaptability of expert systems by integrating machine learning (ML) techniques into the inference engine, leveraging the growing availability of medical record data as a dynamic knowledge source. Using a dataset of 90 medical records, balanced to 126 items via the Synthetic Minority Over-sampling Technique (SMOTE), we evaluated the performance of multiple ML algorithms, including Decision Trees (DT), Support Vector Machines (SVM), and Artificial Neural Networks (ANN), against traditional models like Naive Bayes (NB) and K-Nearest Neighbors (KNN). The DT, SVM, and ANN models demonstrated exceptional performance, achieving average accuracy, precision, recall, and F1 scores of 97.73%, 98.33%, 97.22%, and 97.41%, respectively. The key innovation of this research lies in developing an adaptive inference engine that can dynamically learn from medical data, reducing reliance on static rule bases and enabling the expert system to evolve with new knowledge. This approach improves diagnostic accuracy and provides a scalable and flexible framework for addressing other infectious diseases. By bridging the gap between expert systems and machine learning, this study paves the way for more intelligent, data-driven healthcare solutions with significant implications for public health and disease management.
Health and Relaxation Corner: Empowering Food Vendors Around Hospitals Through Innovative Training Apryanto, Frengki; Ramadhani, Rahmaniah; Joegijantoro, Rudy
Journal of Community Service for Health Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jcsh.v6i2.1278

Abstract

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in the culinary sector play a vital role in supporting the economy, particularly around hospitals where food demand is consistent. However, many vendors face challenges such as poor hygiene practices, limited menu innovation, inadequate financial literacy, and lack of consumer-friendly facilities, which reduce competitiveness and pose risks to public health. To address these issues, the Healthy & Relaxing Corner community service program was implemented with 20 vendors from 10 stalls around Saiful Anwar Hospital, Malang, through outreach, training, mentoring, provision of simple technologies, and participatory evaluation. The training modules included Clean and Healthy Living Behavior; PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), food safety, herbal menu diversification, financial management, product photography, digital marketing, waste management, and stall layout improvements. The results demonstrated significant progress: knowledge improved from 65% poor to 90% good, PPE use rose from 25% to 100%, and all participants achieved proper financial recording skills. Additionally, 75% reached good practice in product photography, 50% attained good ability in digital promotion, and 100% adopted correct waste sorting. All stalls successfully introduced herbal drinks, while half modified cooking techniques for healthier food preparation. However, only 30% of vendors created relaxing corners, suggesting that financial and space constraints limited physical restructuring. Overall, the program effectively improved hygiene, entrepreneurship, and innovation, contributing to healthier food environments and more sustainable income for vendors. The model is replicable for MSME empowerment in other communities, with future initiatives recommended to combine training with micro-financing or infrastructure support to maximize outcomes.