Yuliati Widiastuti
Institut Kesehatan Immanuel

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hilirisasi Hasil Penelitian Abon E-Lele Sebagai Pangan Tinggi Protein Dalam Upaya Pencegahan Stunting Melalui Pemberdayaan Kader Posyandu Di Desa Cihampelas Maria Emilia Putri Parera; Ferdinan Sihombing; Yuliati Widiastuti; Ellen Stephanie Rumaseuw; Maria Alfa Raniadita; Carissa Wityadarda
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 3 (2026): Agustus (In Progress)
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/32jxpy69

Abstract

Stunting masih menjadi masalah gizi prioritas di Indonesia sehingga diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas kader Posyandu. Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan Abon E-LeLe, produk hasil penelitian berbasis ekstrak ikan lele dengan kandungan protein 43,30%, sebagai pangan lokal tinggi protein untuk mendukung pencegahan stunting. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu mengenai pemanfaatan Abon E-LeLe melalui edukasi dan demonstrasi. Pengabdian dilaksanakan menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dan Community-Based Education pada 8 Juli 2026 di Desa Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Peserta terdiri atas 76 kader Posyandu dari 89 kader yang diundang (85,4%). Kegiatan meliputi ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi pembuatan Abon E-LeLe, serta evaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test berisi 12 pertanyaan disertai observasi partisipatif. Mayoritas peserta berpendidikan SMA/sederajat (46,1%) dan SMP/sederajat (42,1%). Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rerata nilai pengetahuan dari 64,6 pada pre-test menjadi 86,4 pada post-test, atau meningkat sebesar 21,8 poin (33,7%). Peserta juga mampu menjelaskan kembali manfaat, kandungan gizi, dan tahapan utama pembuatan Abon E-LeLe. Edukasi dan demonstrasi efektif meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam memanfaatkan pangan lokal tinggi protein sebagai media edukasi pencegahan stunting serta berpotensi menjadi model hilirisasi hasil penelitian berbasis pemberdayaan masyarakat.  
Hubungan Asupan Protein dan Konsumsi Tanin dengan Kadar Hemoglobin Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS Santo Yusup Bandung Anastasia Yohana; Yuliati Widiastuti; Asysyfa Riana
Jurnal Ilmiah Gizi dan Kesehatan (JIGK) Vol 7 No 02 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jigk.v7i02.1798

Abstract

Chronic Kidney Disease (CKD) patients undergoing hemodialysis have a high risk of anemia due to decreased hemoglobin levels, one of which is caused by inadequate protein intake and tannin consumption that inhibits iron absorption. This study aims to determine the relationship between protein intake and tannin consumption with hemoglobin levels in CKD patients undergoing hemodialysis at Santo Yusup Hospital, Bandung. The study design was cross-sectional and involved 86 respondents selected using a simple random sampling technique. The variables studied included protein intake, tannin consumption, and hemoglobin levels. Data were collected using a Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) questionnaire and medical records, and analyzed using the chi-square test. The results showed that 50% of respondents had insufficient protein intake, 31.4% consumed tannins frequently, and 56.9% had low hemoglobin levels. The chi-square test showed a significant relationship between protein intake and hemoglobin levels (p=0.000), as well as between tannin consumption and hemoglobin levels (p=0.017). Patients with low protein intake and high tannin consumption are at higher risk of low hemoglobin levels. Appropriate nutritional interventions are needed to improve hemoglobin levels in CKD patients undergoing hemodialysis. Keywords: Chronic Kidney Disease, Hemodialysis, Protein Intake, Tannin Consumption, Hemoglobin
Pengaruh Penambahan Minyak Sacha Inchi dan Ekstrak Bunga Telang Terhadap Kandungan Omega-3 dan Antioksidan Produk Mie Untuk Diabetes Syalwa Destrianti Sukma Sukma; Asysyfa Riana; Yuliati Widiastuti
Jurnal Ilmiah Gizi dan Kesehatan (JIGK) Vol 7 No 02 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jigk.v7i02.1801

Abstract

Wheat flour-based noodles have a high glycemic index and low fiber content, making them less suitable for individuals with diabetes. This study aimed to evaluate the effect of adding sacha inchi oil and butterfly pea extract on the omega-3 and antioxidant content of mocaf-based noodles. The research was conducted experimentally with three formulations: F1 (93% mocaf flour, 2% sacha inchi oil, and 5% butterfly pea extract), F2 (87% mocaf flour, 3% sacha inchi oil, and 10% butterfly pea extract), and F3 (81% mocaf flour, 4% sacha inchi oil, and 15% butterfly pea extract). Analyses included proximate tests, omega-3 levels, antioxidant activity, and organoleptic evaluations. Organoleptic data were analyzed using one-way ANOVA followed by Tukey’s post hoc test to determine significant differences between formulations. Univariate results showed a significant increase in omega-3 content in F1 (p<0.05), and the highest antioxidant activity was also found in F1, with a moderate antioxidant activity value. Bivariate analysis indicated a significant relationship between the addition of functional ingredients and the improvement of nutritional content and organoleptic scores. F1 was the best formulation in terms of taste and color. It was concluded that F1 is the most optimal combination. Further studies are needed to assess glycemic index and shelf life. Keywords: Diabetes mellitus, mocaf noodles, sacha inchi oil, butterfly pea, Omega-3, antioxidant
Hubungan Asupan Zat Gizi Makro, Zat Gizi Mikro, Dan Lila Ibu Hamil Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6-59 Bulan Di Puskesmas Babakan Tarogong Revida Dwi Leonita; Yuliati Widiastuti; Galuh Irawan
Jurnal Ilmiah Gizi dan Kesehatan (JIGK) Vol 7 No 02 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jigk.v7i02.1803

Abstract

Stunting adalah kondisi terhambatnya pertumbuhan anak akibat kurang gizi kronis dan infeksi berulang. Masalah gizi ini masih tinggi di Indonesia, termasuk Jawa Barat dan Kota Bandung, salah satunya dipengaruhi oleh asupan gizi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara asupan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak), zat gizi mikro (kalsium, vitamin D), serta riwayat Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu hamil dengan kejadian Stunting pada balita usia 6-59 bulan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif observasional dengan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 93 balita usia 6-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Babakan Tarogong. Data asupan gizi makro dan mikro diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ FFQ), sedangkan riwayat Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu hamil dicatat dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas balita sampel berusia 6-36 bulan (69,9%) dan berjenis kelamin laki-laki (58,1%). Hasil uji statistik menggunakan chi square diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan karbohidrat dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,000), asupan protein dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,000), asupan lemak dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,000), asupan kalsium dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,002), asupan vitamin D dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,004), dan riwayat LILA ibu saat hamil dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,015). Puskesmas perlu mengintensifkan edukasi gizi dan pemantauan pertumbuhan melalui konseling posyandu, penelitian selanjutnya disarankan memperluas variabel dengan memasukkan faktor infeksi, lingkungan, dan pola asuh untuk pencegahan Stunting yang lebih komprehensif.