Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KRITIK SOSIAL PRAKTIK KEAGAMAAN DALAM CERPEN ”ROBOHNYA SURAU KAMI”: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK Dewi Umi Kulsum; Ken Widyatwati; Muhammad Suryadi
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 21 No 2 (2025)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/kj3fta41

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini didasari oleh asumsi bahwa agama di Indonesia berperan penting dalam membentuk etika sosial dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, praktik keagamaan masa kini cenderung bergeser menjadi lebih formalistik dan ritualistik, mengikis aspek sosial dan empati. Realitas ini juga dipotret dalam karya sastra, yang mengangkat isu-isu sosial keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kritik sosial terhadap praktik keagamaan dalam cerpen  “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan dasar teori Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan fokus pada analisis struktur intrinsik cerita, konteks sosial pascakolonial, serta pandangan dunia tokoh sebagai cerminan kesadaran kolektif. Hasil penelitian menemukan pembacaan baru terhadap cerpen ini, yang menampilkan kritik terhadap formalistik dan fatalistik religius, serta rendahnya kepedulian sosial. Ketegangan antara tradisi lama dan keberagamaan progresif yang digambarkan melalui tokoh dan narasi, mengisyaratkan perubahan kesadaran kolektif menuju agama yang lebih kontekstual, sosial, dan humanistik sebagai respons atas realitas Indonesia tahun 1950-an. Analisis ini menunjukkan bagaimana karya sastra dapat menjadi cerminan dari dinamika sosial dan intelektual di masyarakat. KATA KUNCI: Kritik Sosial; Praktik keagamaan; Sosiologi  Sastra; Sztrukturalisme genetik   SOCIAL CRITICISM OF RELIGIOUS PRACTICES IN THE SHORT STORY “ROBOHNYA SURAU KAMI”: A GENETIC STRUCTURALISM STUDY   ABSTRACT: This study is based on the assumption that religion in Indonesia plays an important role in shaping social ethics and human values. However, current religious practices tend to shift towards being more formalistic and ritualistic, eroding social aspects and empathy. This reality is also portrayed in literary works, which raise socio-religious issues. This study aims to analyze social criticism of religious practices in the short story  “Robohnya Surau Kami” by A.A. Navis using a sociological approach to literature based on Lucien Goldmann's Genetic Structuralism theory. The method used is descriptive qualitative with a focus on analyzing the intrinsic structure of the story, the postcolonial social context, and the characters' worldviews as a reflection of collective consciousness. The results of the study reveal a new reading of this short story, which presents a critique of religious formalism and fatalism, as well as a lack of social awareness. The tension between old traditions and progressive religiosity, as depicted through the characters and narrative, suggests a shift in collective consciousness toward a more contextual, social, and humanistic religion in response to the realities of 1950s Indonesia. This analysis demonstrates how literary works can reflect the social and intellectual dynamics of society. KEYWORDS: Social criticism; Religious practices; Sociology of literature; Genetic structuralism Diterima: 23 September 2025 Direvisi: 28 September 2025 Disetujui: 1 Oktober 2025 Dipublikasi: 30 Oktober 2025 Pustaka  : Kulsum, D. U., Widyatwati, K., & Suryadi, M. (2025). Kritik sosial praktik keagamaan dalam cerpen "Robohnya Surau Kami": Kajian strukturalisme genetik. Jurnal Fon Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 21(2), 566-580.  Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.  
Benturan Performativitas Maskulin dan Heteronormativitas dalam Pembentukan Identitas Queer Tokoh Utama Cerpen Brokeback Mountain (1997) Karya Annie Proulx Sekar Hanifah; Ken Widyatwati
Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 21, No 1: Mei 2026
Publisher : Indonesian literature Program, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nusa.21.1.47-62

Abstract

Performativitas gender dan dominasi heteronormativitas dapat membatasi ruang ekspresi identitas di luar biner. Benturan antara performativitas maskulin dan norma heteroseksual dalam cerpen Brokeback Mountain menjadi masalah utama dalam pembentukan identitas queer Jack dan Ennis yang rapuh dan terbatas. Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif, objek material adalah cerpen Brokeback Mountain (1997) karya Annie Proulx. Data penelitian dianalisis menggunakan teori performativitas gender Butler dan konsep heteronormativitas Warner. Hasil analisis menunjukkan bahwa tekanan sosial memaksa kedua tokoh menjalankan peran heteroseksual sebagai strategi bertahan hidup, sehingga hubungan queer mereka terkurung dalam ruang privat, eksklusif, dan bersifat sementara. Identitas queer hanya dapat muncul di ruang liminal seperti di Brokeback Mountain, jauh dari pengawasan masyarakat. Disimpulkan bahwa norma dominan tidak menghapus identitas queer, melainkan membentuknya sebagai keberadaan terbatas yang terus dinegosiasikan di luar struktur sosial utama.
Intellectual freedom against patriarchal society in Elizabeth Barrett Browning’s Aurora Leigh: Liberal feminism study Dennis Audria Pramana; Ken Widyatwati; M. Suryadi
Metathesis: Journal of English Language, Literature, and Teaching Vol. 10 No. 1 (2026): Metathesis: Journal of English Language, Literature, and Teaching
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/metathesis.v10i1.3636

Abstract

The study of Victorian literature is crucial in order to gain a comprehensive understanding of literary works as a medium for criticizing patriarchal social structures. In the context of this study, this is particularly relevant in terms of constructing female identity and roles. Elizabeth Barrett Browning's poem Aurora Leigh has been extensively studied in the context of feminism and gender relations. However, studies of this poem using Mary Wollstonecraft's liberal feminist perspective are relatively limited. This study aims to analyze Aurora's struggle to attain intellectual freedom and independence for women. In addition, this study also discusses her struggle to reject patriarchal norms and traditional gender roles in the Victorian era. This study employs a qualitative descriptive method with close reading techniques. The theoretical framework used in this study is Mary Wollstonecraft's liberal feminism in A Vindication of the Rights of Woman (1792). The results show that Aurora is represented as a rational woman who demands education, freedom of thought, and rejects the institution of marriage that limits her freedom. Aurora's struggle ultimately voices the principles of liberal feminism regarding rationality, education, and women's independence in a patriarchal society.
Unggah-Ungguh sebagai Etika Jawa: Analisis Sosiologi Sastra dalam Film Kartini Karya Hanung Bramantyo Nur Khasanatun Ni'mah; Ken Widyatwati; Muhammad Suryadi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8341

Abstract

This study aims to describe the manners of Javanese nobility in the Kartini film. Using qualitative methods, with a sociology of literature approach based on Ian Watt's theory and semiotics according to Charles Sanders Peirce. Data collection techniques include observing and taking notes. Primary data was obtained from the film in the form of dialogue, visual expressions, and interactions between characters, while secondary data came from various supporting literature. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, interpretation of visual-verbal signs, and drawing conclusions. The results of the study show that the character Kartini represents a Javanese noble figure who still holds fast to the values of manners despite having a critical view of customs that limit the role of women. The character Kartini does not fight tradition head-on, but chooses a dialogical path by continuing to carry out aristocratic ethics such as sembah, ndodhok, and timpuh. This attitude reflects that manners are a cultural awareness that plays a role in maintaining social harmony, not just a formality. Thus, the Kartini film emphasizes that tradition does not have to be a barrier to change, but can be a dialectical space between respect for cultural heritage and the courage to think progressively. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unggah-ungguh bangsawan Jawa dalam film Kartini. Menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan sosiologi sastra berdasarkan teori Ian Watt dan semiotika menurut Charles Sanders Peirce. Teknik pengumpulan data berupa simak dan catat. Data primer diperoleh dari film dalam bentuk dialog, ekspresi visual, dan interaksi antartokoh, sedangkan data sekunder bersumber dari berbagai literatur pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi tanda visual-verbal, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Kartini merepresentasikan sosok bangsawan Jawa yang tetap memegang teguh nilai unggah-ungguh meskipun memiliki pandangan kritis terhadap adat yang membatasi peran perempuan. Tokoh Kartini tidak melawan tradisi secara frontal, tetapi memilih jalan dialogis dengan tetap menjalankan etika aristokratik seperti sembah, ndodhok, dan timpuh. Sikap ini mencerminkan bahwa unggah-ungguh merupakan kesadaran budaya yang berperan menjaga harmoni sosial, bukan sekadar formalitas. Dengan demikian, film Kartini menegaskan bahwa tradisi tidak harus menjadi penghalang perubahan, melainkan dapat menjadi ruang dialektika antara penghormatan terhadap warisan budaya dan keberanian untuk berpikir progresif.