Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Efektivitas Penegakan Qanun Nomor 6 Tahun 2018 dalam Penanganan Gelandangan dan Pengemis di Kota Banda Aceh: Pendekatan Hukum dan Masyarakat Rezeki Rezeki; Muhammad Nur; Siti Rahmah
Journal of Dual Legal Systems Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Dual Legal Systems
Publisher : STAI Syekh Abdur Rauf, Aceh Singkil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/jdls.v3i1.521

Abstract

The phenomenon of homelessness and begging in Banda Aceh reflects a complex socio-legal issue within the framework of Islamic local law (qanun). This study aims to analyze the effectiveness of the enforcement of Qanun No. 6 of 2018 on Public Order and Social Tranquility from a law and society perspective. The research employs an empirical legal method using juridical, sociological, and conceptual approaches. Data were collected through document analysis, field observations, and interviews with 12 informants, including municipal police officers (Satpol PP), social service officials, and homeless individuals and beggars. Informants were selected through purposive sampling based on their direct involvement in law enforcement and social realities. The findings reveal three main points. First, the persistence of homelessness and begging is shaped by structural and cultural factors, including poverty, unemployment, unskilled urbanization, and societal compassion practices. Second, law enforcement mechanisms—such as patrols, raids, data collection, and rehabilitation—remain ineffective due to the inconsistent application of sanctions prescribed by the qanun. Third, institutional and socio-cultural constraints, including limited resources, weak inter-agency coordination, inadequate rehabilitation facilities, and public behavior, hinder effective implementation. This study argues that the effectiveness of Islamic local law enforcement depends not only on normative regulations but also on institutional capacity, governance consistency, and socio-cultural integration. Strengthening these aspects is essential to ensure that qanun functions as an effective instrument of social order and justice. [Fenomena gelandangan dan pengemis di Kota Banda Aceh merupakan persoalan sosial yang kompleks dalam kerangka hukum lokal berbasis syariat (qanun). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penegakan Qanun Nomor 6 Tahun 2018 tentang Ketertiban dan Ketenteraman Masyarakat dengan pendekatan hukum dan masyarakat (law and society). Penelitian ini menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan yuridis, sosiologis, dan konseptual. Data diperoleh melalui studi dokumen, observasi lapangan, serta wawancara terhadap 12 informan yang terdiri dari Satpol PP, Dinas Sosial, serta gelandangan dan pengemis, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, keberadaan gepeng dipengaruhi oleh faktor struktural dan kultural, seperti kemiskinan, pengangguran, urbanisasi tanpa keterampilan, serta budaya belas kasihan masyarakat. Kedua, penegakan hukum melalui patroli, razia, pendataan, dan rehabilitasi belum efektif karena sanksi dalam qanun tidak diterapkan secara konsisten. Ketiga, implementasi qanun menghadapi kendala kelembagaan dan sosial, meliputi keterbatasan sumber daya, lemahnya koordinasi, minimnya fasilitas rehabilitasi, serta rendahnya partisipasi masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas penegakan hukum berbasis syariat tidak hanya bergantung pada norma hukum, tetapi juga pada kapasitas kelembagaan, konsistensi penegakan, serta integrasi dengan kondisi sosial masyarakat.]
Hubungan Peran Suami dan Peran Petugas Kesehatan terhadap Pengetahuan Ibu Hamil tentang Baby Blues Syndrome di Puskesmas Lueng Bata Kota Banda Aceh Siti Rahmah; Khaira Rizki; Nurul Sakdah
Vitamin : Jurnal ilmu Kesehatan Umum Vol. 4 No. 2 (2026): April : Jurnal ilmu Kesehatan Umum
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/vitamin.v4i2.2183

Abstract

Baby blues syndrome can have negative implications both in the short and long term, this has the potential to cause a tendency for passive attitudes in pregnant women, and result in neglect of the baby's needs, including a lack of attention and touch from the mother. This study aims to analyze the relationship between the contribution of husbands and the role of health workers with the level of understanding of pregnant women regarding Baby blues syndrome at the Lueng Bata Community Health Center, Banda Aceh. The study applied an analytical method with a cross-sectional approach, and involved all 73 pregnant women registered at the study location, with a total sampling technique. The data collection tool used was a questionnaire. The study took place from May 3 to 25, 2025. Based on the findings, there was a significant relationship between husband's support and pregnant women's knowledge regarding Baby blues syndrome (p = 0.001), and a significant relationship was also identified between the role of health workers on pregnant women's knowledge regarding the condition (p = 0.003). From the results obtained, it can be concluded that husband's support and the involvement of health workers mutually contribute to increasing pregnant women's understanding regarding Baby blues syndrome in the service area of ​​the Lueng Bata Community Health Center. It is recommended that health workers be more proactive in providing education and counseling regarding this syndrome so that pregnant women's knowledge regarding Baby blues syndrome can be maximized.
Peran Wakaf Sumur dalam Mendukung Kegiatan Pendidikan Qur’ani di Balai Pengajian An-Nisa Gampong Keumireu Kecamatan Kuta Cot Glie Kabupaten Aceh Besar Siti Rahmah; Iman Jauhari; Cut Megawati; Yulfan Yulfan; Mahdinur Mahdinur; Nurul Ismi
⁠Meuseuraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2025): Juni-November
Publisher : Universitas Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang sangat menentukan kelangsungan aktivitas pendidikan, sosial, dan kesehatan masyarakat. Balai Pengajian An-Nisa di Gampong Keumireu, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, mengalami krisis air akibat kekeringan yang menyebabkan sumur lama tidak lagi menghasilkan air. Kondisi ini menghambat kegiatan pendidikan Qur’ani, mengingat para santri harus mengandalkan air tadah hujan dan fasilitas sanitasi darurat yang tidak layak. Program pengabdian ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan air bersih dan mendokumentasikan manfaat pembangunan sumur wakaf sebagai solusi keberlanjutan. Metode yang digunakan meliputi pengecekan lokasi secara berkala (virtual dan langsung), observasi perkembangan pembangunan sumur, serta wawancara mendalam dengan pimpinan balai, pekerja, dan masyarakat. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa sumur wakaf menjadi solusi paling efektif untuk mengatasi krisis air, menyediakan pasokan air bersih yang stabil, dan memungkinkan pembangunan fasilitas sanitasi seperti MCK. Ketersediaan air berdampak signifikan terhadap peningkatan kenyamanan santri, kebersihan lingkungan, dan kelancaran proses pendidikan Qur’ani. Selain manfaat fisik, sumur wakaf memperkuat fungsi sosial dan spiritual balai pengajian sebagai pusat pembinaan keagamaan masyarakat. Secara keseluruhan, program ini membuktikan bahwa wakaf sumur merupakan instrumen pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
Kuliah Umum Praktik Kemahiran Hukum Perdata Siti Rahmah; Rahmat Rahmat; Cut Megawati; Mahdi Nur; Mutia Balqis
⁠Meuseuraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): Desember-Mei
Publisher : Universitas Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Kuliah Umum Praktik Kemahiran Hukum Perdata bertujuan memperkuat wawasan praktis mahasiswa mengenai penyelesaian sengketa perdata di pengadilan. Sasaran kegiatan adalah mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Abulyatama. Permasalahan yang dihadapi mahasiswa adalah masih terbatasnya pemahaman mengenai tahapan beracara, mulai dari pendaftaran gugatan, mediasi, pembuktian, hingga pelaksanaan putusan hakim. Kegiatan dilaksanakan melalui metode ceramah, diskusi interaktif, studi kasus, dan sesi tanya jawab dengan narasumber yang berasal dari hakim Pengadilan Negeri, serta dan simulasi persidangan. Evaluasi pascakegiatan mencakup kesesuaian materi, kejelasan penyampaian narasumber, kebermanfaatan kegiatan, interaksi dan diskusi, serta pemahaman yang dirasakan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan rerata keseluruhan 4,84 dengan kategori sangat baik; nilai tertinggi terdapat pada kejelasan penyampaian narasumber dan kebermanfaatan kegiatan, masing-masing 4,9. Hasil tersebut menunjukkan respons positif peserta, tetapi tidak dapat ditafsirkan sebagai bukti objektif peningkatan kemampuan karena evaluasi hanya dilakukan setelah kegiatan. Kegiatan ini memberikan ruang pembelajaran kontekstual yang menghubungkan materi perkuliahan dengan gambaran praktik peradilan perdata.