Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mitigation of 3-MCPDE and GE in palm oil in Indonesia Jenny Elisabeth
Menara Perkebunan Vol. 91 No. 2 (2023): 91 (2), 2023
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v91i2.549

Abstract

Among consumed-vegetable oils, RBDPO (refined, bleached and deodorized palm oil) is indicated containing higher level of 3-MCPDE and GE, which have been classified as potentially carcinogenic and/or genotoxic to human. Those contaminants in RBDPO are formed during deodorization process with high temperature and also correlate with chloride content and quality of CPO as raw material.  The maximum limit for 3-MCPDE and GE content in vegetable oil has been set at 2500 and 1000 µg kg-1, and as low as 750 and 500 µg kg-1 when used for production of baby food and cereal-based foods for infants and young children. The mitigation of 3-MCPDE and GE in RBDPO is quite challenging for palm oil refineries in producing a good quality of palm oil in term of sensory, stability, safety, and nutritional value, especially in Indonesia.  It has been proven that modification of conventional refining process can reduce the 3-MCPDE and GE content. They are including pre-treatment of CPO by water washing to reduce the chloride content, alkali neutralization to remove any acids present in the oil prior to deodorization, using neutral bleaching earth, adding antioxidants after bleaching to reduce free radical-mediated formation of 3-MCPDE and GE, lowering the deodorization temperature with a longer time, and even double bleaching and/or double deodorization of the palm oil.  Post-refining treatment using specific adsorbents is also applied to remove the 3-MCPDE  and GE. However, palm oil  refineries  have  to  apply combination of several mitigation strategies to adequately reduce the levels of 3-MCPDE and GE, including using good quality of CPO with low FFA, chloride, and oxidized components content. 
PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT UNTUK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DI KELOMPOK TANI PEMATANG TOBAT Dany Juhandi; Natalia Lusianingsih Sumanto; Jenny Elisabeth; Samuel Stevenson Situmorang; Azril Qrul Tanjung
Studi Kasus Inovasi Ekonomi Vol. 9 No. 02 (2025)
Publisher : Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenaikan harga dan keterbatasan ketersediaan pupuk kimia dalam beberapa tahun terakhir, sebagian disebabkan oleh konflik Rusia–Ukraina, telah meningkatkan biaya produksi pertanian di Indonesia. Pupuk bersubsidi hanya dapat diakses oleh anggota kelompok tani aktif dengan jumlah terbatas, sehingga terjadi ketimpangan akses dan kelangkaan pasokan. Pupuk organik menjadi alternatif yang dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 30% tanpa sepenuhnya menggantikannya. Namun, sebagian besar petani belum memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis untuk memproduksinya secara mandiri, meskipun bahan baku lokal seperti limbah tanaman tersedia melimpah di pedesaan. Program pengabdian ini dilaksanakan pada Kelompok Tani Pematang Tobat di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara—sentra produksi kelapa sawit—dengan tujuan mengenalkan, melatih, dan mendampingi petani dalam pembuatan pupuk organik berbasis limbah kelapa sawit, yaitu tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan solid decanter. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi masalah dan sosialisasi, penyerahan mesin pencacah, pelatihan teknis pengomposan sesuai SOP, serta monitoring selama empat minggu. Hasil pelatihan menghasilkan dua tumpukan kompos: cacahan TKKS dan solid decanter yang diberi aktivator mikroba. Hasil monitoring menunjukkan bahwa pengomposan solid decanter berhasil, sedangkan TKKS belum terurai sempurna akibat kondisi panas dan kering berkepanjangan yang menurunkan aktivitas mikroba. Temuan ini menegaskan pentingnya pengendalian suhu dan kelembapan pada proses pengomposan. Program ini membuktikan bahwa dengan pelatihan, pendampingan, dan sarana yang memadai, petani dapat memenuhi sebagian kebutuhan pupuknya secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta menekan biaya produksi.