Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT UNTUK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DI KELOMPOK TANI PEMATANG TOBAT Dany Juhandi; Natalia Lusianingsih Sumanto; Jenny Elisabeth; Samuel Stevenson Situmorang; Azril Qrul Tanjung
Studi Kasus Inovasi Ekonomi Vol. 9 No. 02 (2025)
Publisher : Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenaikan harga dan keterbatasan ketersediaan pupuk kimia dalam beberapa tahun terakhir, sebagian disebabkan oleh konflik Rusia–Ukraina, telah meningkatkan biaya produksi pertanian di Indonesia. Pupuk bersubsidi hanya dapat diakses oleh anggota kelompok tani aktif dengan jumlah terbatas, sehingga terjadi ketimpangan akses dan kelangkaan pasokan. Pupuk organik menjadi alternatif yang dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 30% tanpa sepenuhnya menggantikannya. Namun, sebagian besar petani belum memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis untuk memproduksinya secara mandiri, meskipun bahan baku lokal seperti limbah tanaman tersedia melimpah di pedesaan. Program pengabdian ini dilaksanakan pada Kelompok Tani Pematang Tobat di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara—sentra produksi kelapa sawit—dengan tujuan mengenalkan, melatih, dan mendampingi petani dalam pembuatan pupuk organik berbasis limbah kelapa sawit, yaitu tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan solid decanter. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi masalah dan sosialisasi, penyerahan mesin pencacah, pelatihan teknis pengomposan sesuai SOP, serta monitoring selama empat minggu. Hasil pelatihan menghasilkan dua tumpukan kompos: cacahan TKKS dan solid decanter yang diberi aktivator mikroba. Hasil monitoring menunjukkan bahwa pengomposan solid decanter berhasil, sedangkan TKKS belum terurai sempurna akibat kondisi panas dan kering berkepanjangan yang menurunkan aktivitas mikroba. Temuan ini menegaskan pentingnya pengendalian suhu dan kelembapan pada proses pengomposan. Program ini membuktikan bahwa dengan pelatihan, pendampingan, dan sarana yang memadai, petani dapat memenuhi sebagian kebutuhan pupuknya secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta menekan biaya produksi.