Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PENGOLAH SAMPAH (MINI INCENERATOR) UNTUK MENGATASI LIMBAH DIAPERS DI KELURAHAN KEDUNGPANE KOTA SEMARANG Fajrul Falakh; Eko Purnomo; Amri Zarois Ismail; Elina Lestariyanti; M Rikza Chamami; Teguh Wibowo
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 10 No 3 (2023): September
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v10i3.4466

Abstract

Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang terdapat banyak keluarga yang memiliki anak bayi dan balita yang tentunya banyak menggunakan popok sekali pakai. Belum tersedianya mekasnime pengelolaan popok sekali pakai membuat kondisi sampah tidak tertangani dengan baik. solusi yang efektif dalam menangani permasalahan sampah popok sekali pakai yaitu dengan pemanfaatan teknologi tepat guna berupa mini incinerator skala rumah tangga. Pembuatan mini-incinerator ini dimaksudkan untuk menekan sumber daya yang diperlukan dalam membuat dan mengoperasikan insinerator komunal yang umumnya berukuran besar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan tujuan menyediakan serta memberikan pemhaman kepada masyarakat untuk dapat mengelola sampah sekali pakai dengan pendekatan teknologi tepat guna yang murah, aman dan tepat guna.
KONTRIBUSI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN AL-AMANAH DALAM MENINGKATKAN NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA Taufiqul Huda; Nurul Erlina; Lisa Damayanti; Ailsya Fauzia Haryono; Dwi Amalia; M Rikza Chamami
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1761

Abstract

Penelitian ini membahas kontribusi Pondok Pesantren Al-Amanah dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama melalui kegiatan pendidikan dan kehidupan sehari-hari santri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai moderat seperti sikap seimbang, toleransi, dan keadilan ditanamkan melalui pembelajaran kitab, keteladanan para pengasuh dan ustadz, serta pembiasaan dalam berbagai aktivitas sosial dan keagamaan. Lingkungan pesantren yang dihuni santri dari beragam daerah turut memperkuat terbentuknya sikap saling menghargai dan keterbukaan. Meski demikian, penelitian juga menemukan sejumlah tantangan, seperti kemampuan santri yang beragam, pengaruh konten digital yang tidak tervalidasi, serta keterbatasan sarana dan sumber daya pendidik. Temuan ini menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam memperkuat moderasi beragama, sekaligus membutuhkan penguatan literasi digital dan strategi pembelajaran yang lebih adaptif agar nilai moderasi dapat diinternalisasi secara lebih optimal.
REKONSTRUKSI SEJARAH BERDIRINYA PESANTREN USWATUN HASANAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN ISLAM DI WILAYAH MANGKANG Bunga Fitri Lestari; Habib Aifan Kamil; Atina Asnassyifa; Ika Alief Affifah; Ilza Fadilatun Nadifa; M Rikza Chamami
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1798

Abstract

Penelitian ini bertujuan merekonstruksi secara historis proses berdirinya Pondok Pesantren Uswatun Hasanah di Mangkang serta menganalisis peran dan kontribusinya terhadap perkembangan Islam dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat setempat. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan menelusuri latar sosial-keagamaan, peran tokoh pendiri, dinamika kelembagaan, serta pengaruh pesantren terhadap pembentukan tradisi keislaman di wilayah Mangkang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis karena fokus kajian adalah rekonstruksi proses berdirinya Pondok. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi, wawancara dengan pengasuh, keluarga pendiri, dan observasi terhadap aktivitas kependidikan dan keagamaan di lingkungan pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pesantren Uswatun Hasanah berkembang dari pondok berbasis tradisional menjadi kompleks pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan formal, nonformal, dan kepesantrenan, sekaligus berperan sebagai pusat dakwah, kaderisasi, dan penguatan identitas keagamaan masyarakat Mangkang. Temuan ini menegaskan posisi pesantren sebagai agen penting dalam pembinaan generasi muslim berilmu dan berakhlak serta sebagai motor transformasi sosial-keagamaan di tingkat lokal.​
PENJADWALAN KULIAH DAN SINKRONISASI WAKTU SHALAT FARDHU DALAM MEWUJUDKAN KEDISIPLINAN IBADAH MAHASISWA DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO, SEMARANG Habib Aifan Kamil; Suci Analisa; Atina Asnassyifa; Ika Alief Affifah; M Rikza Chamami
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1799

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana jadwal kuliah memengaruhi jumlah waktu yang dihabiskan untuk sholat fardhu di UIN Walisongo Semarang. Mahasiswa seringkali tidak konsisten dalam melaksanakan sholat tepat waktu karena benturan waktu antara kewajiban ibadah dan kegiatan akademik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana melihat penjadwalan kuliah memengaruhi pelaksanaan sholat fardu oleh mahasiswa, serta bagaimana dalam meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan beribadah siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang mengumpulkan data dan wawancara mendalam dengan 6 mahasiswa. Fokus penelitian adalah pengalaman, persepsi, dan praktik mahasiswa dalam menjalankan sholat fardhu selama jadwal perkuliahan yang padat. Untuk mendukung pelaksanaan sholat fardu secara konsisten, metode penugasan dan latihan dipelajari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jadwal kuliah sangat memengaruhi waktu sholat mahasiswa, terutama ketika jadwal kuliah berdekatan atau berbenturan dengan waktu sholat.
Akulturasi Budaya Jawa dan Islam dalam Tradisi Dugderan di Masjid Agung Kauman Semarang: Bentuk, Makna dan Proses Historis amalia, Finta; Muh Maula Ulil Absor; Muhammad Azizi Muslih; Fajar Adhim Nugraha; Lutfi Adil Fatih; Olivia Sofvi; M Rikza Chamami
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 2 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24203

Abstract

Abstract: The Dugderan tradition in Semarang City is a cultural phenomenon rich in acculturation values between Javanese and Islamic culture. This study aims to describe its forms, analyze its meanings and values, and identify the historical process of acculturation within the Dugderan tradition centered at the Kauman Great Mosque of Semarang. Using a qualitative-historical approach, this study finds that Dugderan functions not only as an official marker for the beginning of the Ramadan fasting period, but also as a contextual medium of da'wah and a unifying force for a multicultural society. The most prominent expressions of acculturation appear in the symbols of Warak Ngendog and the ritual processions of “dug” (drum beating of the bedug) and “der” (cannon). The values contained include tolerance, self-purification (wara') before Ramadan, and joy. Historically, this tradition originated in 1881 AD during the reign of the Regent of Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat, as an effort to unite differences in determining the beginning of the fast among Muslims in Semarang. This research contributes to the literature on Nusantara Islamic studies and the preservation of local cultural heritage. Abstrak: Tradisi Dugderan di Kota Semarang merupakan fenomena budaya yang kaya akan nilai akulturasi antara Budaya Jawa dan Islam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk, menganalisis makna dan nilai, serta mengidentifikasi proses historis akulturasi dalam tradisi Dugderan yang berpusat di Masjid Agung Kauman Semarang. Menggunakan pendekatan kualitatif- historis , studi ini menemukan bahwa Dugderan berfungsi tidak hanya sebagai penanda resmi dimulainya ibadah puasa Ramadan, tetapi juga sebagai media dakwah yang kontekstual dan pemersatu masyarakat multikultural. Wujud akulturasi yang paling menonjol tampak pada simbol Warak Ngendog dan prosesi ritual 'dug' (bedug) dan 'der' (meriam). Nilai-nilai yang terkandung mencakup toleransi, kesucian diri (wara') menjelang Ramadan, dan kegembiraan (sukacita). Secara historis, tradisi ini berawal sejak tahun 1881 Masehi pada masa pemerintahan Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat , sebagai upaya menyatukan perbedaan penentuan awal puasa di kalangan umat Islam Semarang. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur studi Islam Nusantara dan pelestarian warisan budaya lokal.
MANAJEMEN INTEGRASI KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA KELAS TAKHASSUS KITAB DI MTs DARUL ULUM LAMPUNG Hilma Aulia; M Rikza Chamami
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.2268

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi dengan permasalahan banyaknya pendidikan dibawah naungan pondok pesantren Penelitian mengalami kesulitan dalam menyelaraskan pemahaman tentang agama kepada para siswa, hal itu menyebabkan banyak santri yang kesusahan dalam membagi waktu belajar dan membagi kefokusan antara pelajaran sekolah formal dengan pelajaran pesantren. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai manajemen integrasi kurikulum Takhasssus Kitab di MTs Darul Ulum. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian data tersebut dianalisis melalui reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa: Perencanaan integrasi kurikulum takhassus kitab dilakukan mulai dari membentuk tim penyusunan perencanaan integrasi kurikulum yang terdiri dari ketua yayasan, kepala madrasah diniyah, dan kepala MTs serta beberapa anggota lain, serta menentukan rencana pembelajaran kurikulum yang akan dijalankan. Pengorganisasian integrasi kurikulum dilakukan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab untuk semua anggota tim integrasi kurikulum dan koordinasi hasil perencanaan kepada para guru yang terlibat dalam pelaksanaan integrasi kurikulum takhassus kitab. Pelaksanaan integrasi kurikulum takhassus kitab yaitu proses pembelajaran dikelas dengan bahan ajar pendukung kitab kuning. Selanjutnya, evaluasi dilakukan dengan dua jenis yaitu evaluasi proses yang dilakukan untuk para guru dan evaluasi hasil yang dilakukan pada para siswa.
Tasawuf sebagai Pendekatan Spiritual dalam Pencegahan Krisis Mental pada Generasi Z di Lingkungan Kampus UIN Walisongo Semarang Aghisna Tsanil Mafasa; Nasila Ayu Natasya; M Rikza Chamami
Al-Tarbiyah : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Al-Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam
Publisher : STAI YPIQ BAUBAU, SULAWESI TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59059/al-tarbiyah.v4i3.3082

Abstract

Sufism as a spiritual approach has a great potential to prevent mental health problems among Generation Z students at UIN Walisongo Semarang. This is because Sufism focuses on inner balance, self-awareness, and strengthening spiritual values that can be a source of psychological resilience. This study aims to investigate how Sufism practices such as dhikr, self-reflection, and spiritual guidance can help prevent mental health problems, such as stress, anxiety, and loneliness among Generation Z students. The method used in this study is a qualitative study with a phenomenological design. Data were obtained from in-depth interviews with students, observations of religious activities on campus, and focus group discussions, then analyzed thematically. Interviews were conducted with three students: Wilda Ismatus Sarifah (Faculty of Tarbiyah and Teacher Training), Sinta Wahdatul Khusna (Faculty of Tarbiyah of Social and Political Sciences), and Umi Fathonah (Faculty of Tarbiyah and Teacher Training). The study found that regular Sufism practice guided by experienced individuals helped students feel more meaningful, more socially connected, and develop coping strategies. This was associated with reduced symptoms of stress and anxiety, as well as improved well-being. The study recommends integrating Sufism-based spiritual programs into campus counseling services and character development activities. It also recommends training spiritual mentors and fostering collaboration between student welfare units and religious institutions on campus to support the mental health of young people.
Menjaga Hati dari FOMO: Living Tasawuf dan Qana’ah Santri Al-Ihya’ 2 dalam Manajemen Media Sosial Shofa Ishmatus Sanaya; Fitriana Wijaya; Millati Asyfa Azkiya'; M Rikza Chamami
Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat Vol. 3 No. 3 (2026): Juli: Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/akhlak.v3i3.2209

Abstract

The phenomenon of Fear of Missing Out (FOMO), which has emerged as a result of social media use, poses a mental and spiritual challenge for the younger generation, including student residents at Islamic boarding schools. The rapid flow of information and the pressure to constantly keep up with others’ activities often lead to anxiety, feelings of inadequacy, and social pressure. This study aims to explore the understanding and practice of qana’ah as a Sufi value in addressing FOMO, identify forms of living Sufism that have developed within the boarding school environment, and analyze the effectiveness of the values of qana’ah and muhasabah in supporting the mental and spiritual well-being of student boarders. This study employs a qualitative field approach using a phenomenological method conducted at the Al-Ihya’ 2 Putri Student Islamic Boarding School. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation of student boarders who actively use social media. The results indicate that qana’ah is understood not merely as a theoretical concept but is internalized as an attitude of contentment, gratitude, and self-control in social media use. The identified practices of living tasawuf include limiting social media usage time, performing daily muhasabah, strengthening religious activities, and fostering collective awareness within the pesantren community. The values of qana’ah and muhasabah have proven effective in reducing the tendency toward FOMO, promoting inner peace, strengthening self-control, and helping students cope with social media pressures in a healthier way. This study confirms that Sufism, particularly the concept of qana’ah, is relevant as a spiritual approach to fostering balanced social media usage among the younger generation