Alzefin Yolandi Roos Mareike Sinolungan
Universitas Negeri Manado

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penyuluhan Wirausaha Home Industri untuk Meningkatkan Pendapatan Perekonomian Keluarga dengan Barang Bekas Alzefin Yolandi Roos Mareike Sinolungan; Rahel Widiawati Kimbal
Journal of Accounting, Management, Economics, and Business (ANALYSIS) Vol. 3 No. 3 (2025)
Publisher : Edupedia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/analysis.v3i3.2032

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk menjelaskan pentingnya penyuluhan wirausaha home industri berbasis barang bekas sebagai upaya meningkatkan pendapatan perekonomian keluarga di Kecamatan Kawangkoan Utara, Kelurahan Talikuran Barat, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permasalahan sampah rumah tangga serta adanya peluang ekonomi dari pemanfaatan barang bekas. Metode kegiatan menggunakan pendekatan multi metode yang didukung oleh multimedia dan berbagai sumber pembelajaran. Prosedur pelaksanaan meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian. Materi penyuluhan mencakup pengelolaan barang bekas, konsep bank sampah, dasar-dasar UMKM, mindset kewirausahaan, pola pikir dan pola aksi wirausaha, serta pemasaran produk home industri. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa barang bekas seperti plastik, kertas, kaleng, botol bekas, besi, tembaga, dan aluminium memiliki potensi untuk didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomi. Penyuluhan ini mendorong masyarakat memahami pentingnya growth mindset, manajemen usaha sederhana, administrasi pembukuan, serta strategi pemasaran dalam mengembangkan home industri. Pemanfaatan barang bekas dapat menjadi alternatif usaha keluarga, mengurangi sampah, dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini memberikan kontribusi melalui integrasi konsep kewirausahaan, pengelolaan lingkungan, bank sampah, dan pemberdayaan ekonomi keluarga berbasis barang bekas. Studi ini bermanfaat bagi masyarakat, pelaku UMKM, pemerintah daerah, dan pendamping kewirausahaan dalam mengembangkan usaha ramah lingkungan berbasis potensi lokal.
Peranan UMKM dan Koperasi Merah Putih dalam Mewujudkan Ekonomi Kerakyatan di Provinsi Sulawesi Utara Alzefin Yolandi Roos Mareike Sinolungan; Rahel Widiawati Kimbal
Journal of Accounting, Management, Economics, and Business (ANALYSIS) Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : Edupedia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/analysis.v4i3.2404

Abstract

Tujuan – Penelitian ini bertujuan menganalisis peranan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Koperasi Merah Putih dalam mewujudkan ekonomi kerakyatan di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilatarbelakangi oleh dominannya UMKM dalam aktivitas ekonomi daerah serta munculnya Koperasi Merah Putih sebagai kelembagaan ekonomi baru berbasis desa. Metodologi – Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode library research dan analisis data sekunder. Data diperoleh secara purposif dari publikasi ilmiah, regulasi pemerintah, publikasi statistik resmi, dan basis data pemerintah daerah yang berkaitan dengan UMKM, koperasi, pembangunan ekonomi desa, dan Koperasi Merah Putih. Data dianalisis melalui pengelompokan tematik, perbandingan temuan, dan sintesis interpretatif. Temuan – Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM merupakan salah satu fondasi utama ekonomi kerakyatan di Sulawesi Utara. Usaha Mikro dan Kecil (UMK) mendominasi aktivitas ekonomi daerah dengan proporsi 98,95%. Koperasi memiliki potensi memperkuat UMKM melalui akses kolektif terhadap pembiayaan, pasar, bahan baku, informasi, dan jaringan usaha. Koperasi Merah Putih berpotensi menjadi penghubung antara potensi ekonomi desa dan pelaku UMKM. Namun, efektivitasnya bergantung pada kualitas tata kelola, kapasitas manajerial, partisipasi masyarakat, digitalisasi, dan kesesuaian model usaha dengan potensi lokal. Kebaruan – Penelitian ini menawarkan perspektif integratif yang menghubungkan UMKM dan Koperasi Merah Putih sebagai dua komponen yang saling melengkapi dalam pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis desa di Sulawesi Utara Signifikansi – Temuan penelitian bermanfaat bagi pemerintah daerah, pembuat kebijakan, pengelola koperasi, pelaku UMKM, dan praktisi pemberdayaan masyarakat dalam merancang strategi penguatan ekonomi kerakyatan yang lebih terintegrasi.
Penyuluhan Manajemen Koperasi Merah Putih sebagai Upaya Penguatan Tata Kelola Koperasi di Desa Rambunan, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa Alzefin Yolandi Roos Mareike Sinolungan; Rahel Widiawati Kimbal
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v5i2.2403

Abstract

Koperasi Merah Putih merupakan salah satu bentuk kelembagaan ekonomi desa yang diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Pengelolaan koperasi membutuhkan pemahaman mengenai manajemen organisasi, tata kelola, administrasi, pengelolaan usaha, serta partisipasi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan penyuluhan mengenai manajemen Koperasi Merah Putih sebagai upaya mendukung penguatan tata kelola koperasi di Desa Rambunan, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa. Kegiatan menggunakan pendekatan deskriptif-partisipatif dengan dokumentasi kegiatan sebagai sumber informasi utama. Pelaksanaan kegiatan dianalisis berdasarkan dokumentasi visual mengenai lingkungan desa, kelembagaan desa, dan aktivitas pengabdian yang tersedia. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penyuluhan manajemen koperasi relevan ditempatkan sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas pengelolaan Koperasi Merah Putih di tingkat desa. Materi manajemen koperasi diarahkan pada pentingnya pengelolaan organisasi, pembagian tugas, administrasi, pengelolaan usaha dan keuangan, pelayanan anggota, serta pengembangan koperasi berdasarkan karakteristik dan potensi desa. Dokumentasi juga menunjukkan bahwa kegiatan berlangsung dalam konteks kelembagaan Desa Rambunan sehingga pengembangan koperasi perlu memperhatikan kondisi lokal. Karena kegiatan tidak menggunakan instrumen pretest, posttest, atau kuesioner terstruktur, peningkatan pengetahuan peserta tidak dapat diukur secara kuantitatif. Kegiatan ini menjadi langkah awal penguatan pemahaman manajemen koperasi, sedangkan kegiatan lanjutan disarankan menggunakan evaluasi yang lebih terstruktur dan pendampingan berkelanjutan.