Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Representasi Identitas Masyarakat Laut dalam Kumpulan Cerita Pendek Nelayan Itu Berhenti Melaut Mike Wijaya Saragih; Teguh Prasetyo
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.2958

Abstract

Kumpulan cerpen Nelayan itu Berhenti Melaut karya Safar Banggai merupakan kumpulan dari 12 cerpen yang hampir seluruhnya erat dengan latar laut dan kemaritiman. Penceritaan yang diusung pun beragam dari beberapa sudut pandang di masing-masing cerpen. Namun demikian, hampir seluruhnya menyinggung perihal masyarakat laut yang dalam beberapa cerpen disebut sebagai masyarakat Bajo. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bentuk-bentuk representasi identitas masyarakat laut khususnya masyarakat Bajo yang digambarkan dalam kumpulan cerpen Nelayan itu Berhenti Melaut karya Safar Banggai. Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang mendefinisikan kembali masyarakat laut dengan narasi dikotomis untuk melihat kehidupan masyarakat laut dan peradabannya. Melalui analisis struktural serta penggunaan konsep identitas dan pendekatan sosiologis, dikotomi tersebut digunakan untuk merumuskan representasi identitas masyarakat laut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukannya lima bentuk representasi identitas masyarakat laut di dalam kumpulan cerpen ini, seperti masyarakat laut sebagai penghuni laut; masyarakat laut menjaga laut dan tradisi laut; masyarakat laut selalu setia terhadap laut; masyarakat laut dan tradisi mistik; serta masyarakat laut tidak tunduk pada batasan daratan.
Semaoen dalam Catatan Sejarah Sastra Indonesia Teguh Prasetyo
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 10 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v10i2.5408

Abstract

Abstrak Periode awal abad ke-20 merupakan tonggak penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Pada periode ini, muncul pula karya-karya sastra yang kemudian diberi label “bacaan liar”. Salah satu pengarang yang sangat penting dari tulisan-tulisan yang dicap “bacaan liar” tersebut adalah Semaoen, dengan Hikayat Kadiroen-nya. Semaoen sendiri merupakan pemikir kiri sekaligus ketua Partai Komunis Indonesia yang pertama pada 1920-an. Hikayat Kadiroen menjadi novelnya yang memiliki bentuk penceritaan yang menarik. Sebagai penelitian sejarah sastra dengan pengumpulan data melalui studi pustaka, tulisan ini mencoba untuk memaparkan posisi dan sejarah kepengarangan Semaoen di tengah-tengah sejarah kesusastraan Indonesia. Dapat disimpulkan kemudian, dalam artikel ini, Semaoen dan Hikayat Kadiroen menjadi penting dalam khazanah sastra Indonesia modern. Selain menandai kekhasanan perlawanan melalui karya sastra di awal Abad ke-20, Semaoen dan karyanya ini juga menjadi menarik karena gaya penceritaan yang berbeda dengan beberapa karya sastra mayor pada zamannya, dengan menunjukkan ciri aliran Realisme-sosialis. Kata Kunci: Hikayat Kadiroen, Sastra Indonesia, Semaoen, Abstract The early 20th century is an important milestone in the history of Indonesian literature. During this period, literary works emerged that were later labeled "wild readings". One of the most important authors of these writings labeled as "wild reading" was Semaoen, with his Hikayat Kadiroen. Semaoen himself was a leftist thinker and the first chair of the Indonesian Communist Party in the 1920s. Hikayat Kadiroen is his novel that has an interesting form of storytelling. As a literary history research with data collection through literature study, this paper tries to explain the position and history of Semaoen's authorship in the midst of Indonesian literary history. It can be concluded then, in this article, that Semaoen and Hikayat Kadiroen are important in the treasury of modern Indonesian literature. In addition to marking the distinctiveness of resistance through literature in the early 20th century, Semaoen and his work are also interesting because of the style of storytelling that differs from some of the major literary works of his day, by showing the characteristics of Socialist-Realism works. keywords: Hikayat Kadiroen, Indonesian Literature, Semaoen,
MANIFESTASI LAKU DALAM KAWRUH: TINJAUAN DESKRIPTIF PADA CERPEN “MEGURU” KARYA SENGKUNI Teguh Prasetyo
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 11 No. 1 (2024): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v11i1.6021

Abstract

Abstrak Dalam budaya Jawa, dikenal berbagai macam konsep-konsep religi. Konsep-konsep tersebut mengarah kepada perilaku mistik. Perilaku-perilaku tersebut biasanya terwujud dalam laku. Laku, dalam konteks budaya Jawa atau manusia Indonesia, merupakan sebuah upaya mencapai suatu tujuan yaitu kesempurnaan. Kawruh merupakan salah satu bentuk perilaku mencari tahu dengan berguru pada orang lain atau buku. Dalam kawruh sebagai sebuah kegiatan mencari tahu/berguru, terdapat bentuk-bentuk tindakan yang dapat dikategorikan sebagai laku. Cerpen berjudul “Meguru” karya Sengkuni memperlihatkan kelindan laku dan kawruh di dalam gambaran kehidupan masyarakat Jawa tradisional. Artikel ini akan membedah bentuk-bentuk laku yang merupakan manifestasi dari kawruh yang termuat dalam cerpen “Meguru” karya Sengkuni tersebut. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dan teknik pembacaan dekat. Untuk menelaah lebih jauh kelindan laku dan kawruh tersebut akan dirujuk konsep-konsep religi Jawa yang relevan. Dari pembacaan dekat ini, ditemukan bahwa laku-laku dalam cerpen “Meguru” ini diwujudkan dalam bentuk-bentuk seperti lelana brata, ritual dialog dengan guru, dan tindakan-tindakan asketis yang menjadi ciri keseharian tokoh yang merepresentasikan filosofi masyarakat Jawa tradisional. Kata kunci: kawruh, laku, kanoman, kasepuhan. Abstract In Javanese culture, there are various religious concepts. These concepts lead to mystical behaviors. These behaviors are usually manifested in practices. Laku, in the context of Javanese culture or Indonesian humans, is an effort to achieve a goal of perfection. Kawruh is a form of behavior to find out by studying with other people or books. In kawruh as an activity of finding out/teaching, there are forms of action that can be categorized as practice. The short story "Meguru" by Sengkuni shows the intertwining of laku and kawruh in the life of traditional Javanese society. This article will dissect the forms of laku that are manifestations of kawruh contained in the short story "Meguru" by Sengkuni. This article uses qualitative methods and close reading techniques. To further examine the intertwining of laku and kawruh, relevant Javanese religious concepts will be referred to. From this close reading, it is found that the practices in the short story "Meguru" are manifested in forms such as lelana brata, ritual dialogue with the teacher, and ascetic actions that characterize the daily life of the characters who represent the philosophy of traditional Javanese society. Keywords: kawruh, laku, kanoman, kasepuhan.
NPD DEPICTION ON DONALD TRUMP IN THE DEBATE WITH KAMALA HARRIS: CONTENT ANALYSIS DESIGN Yules Sianipar; Megarizky Hotmauli; Gunawan Tambunsaribu; Teguh Prasetyo
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 12 No. 1 (2025): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v12i1.6850

Abstract

Narcissistic Personality Disorder (NPD) is a symptom of someone considering themselves superior to others, thirsting for praise from others, and having little or no empathy for others. we can use the acronym SPECIAL ME to remember the nine traits of NPD: Sense of self-importance, Preoccupation with power, beauty, or success, Entitled, Can only be around important people, Interpersonally exploitative for their gain, Arrogant, Lack empathy, Must be admired, Envious of others or believe that others are envious of them. Many psychoanalytically oriented clinicians consider it a product of the current era and value system (A. W. Lestari, 2023). The research method used in this study is qualitative. The approach used in this study is phenomenological. Phenomenology; seeks to uncover, study, and understand phenomena and their unique contexts experienced by individuals to the level of beliefs of the individual concerned (Fadli, 2021). This study analyzes the transcript data of the debate between Trump and Harris using a content analysis design. According to Holsti, the content analysis method is a technique for concluding by objectively, systematically, and generally identifying various specific characteristics of a message (Astuti et al., 2023). The data source used is the script of the US presidential campaign debate between Donald Trump and Kamila Harris. From 110 data collected, 64 of Donald Trump's statements contain elements of a lack of empathy and arrogance. 47 data of Donald Trump's statements contain an exaggerated sense of self-importance, a need for admiration, Preoccupation with power, beauty, or success, Entitled, Arrogant, and Must be admired. This tendency can be seen in Donald Trump's statements during the presidential debate with Kamala Harris, either in answering questions from the host or responding to statements from Kamala Harris.