Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN DIEBETES MELITUS TIPE II DI PUSKESMAS JANTI MALANG Yohana Srihartini Soleman; Ellia Ariesti; Yafet Pradikatama Prihanto; Oda Debora
Jurnal Keperawatan Dirgahayu (JKD) Vol 5 No 2 (2023): October
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, STIKES Dirgahayu Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52841/jkd.v5i2.388

Abstract

ABSTRAKDiabetes melitus merupakan kondisi dimana kandungan gula dalam darah melebihi normal dan cenderungtinggi (>200 mg/dl). Diabetes termasuk dalam penyakit kronis atau terminal yang artinya penyakit yangtidak bisa disembuhkan tetapi dapat dikontrol dengan menjaga kadar gula darah tetap dalam rentan normal.Untuk melakukan pengontrolan kadar gula darah, penderita DM harus patuh dalam mengkonsumsi obatantidiabetes. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pasien DM adalah pengetahuantentang penyakitnya. Pengetahuan seseorang akan berpengaruh dalam menentukan sikap dalam mengelolapenyakitnya serta dapat mengurangi terjadinya komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan pengetahuan tentang penyakit Diabetes Melitus dengan kepatuhan minum obat pada pasienDiabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Janti Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatifkorelasional. Penelitian ini dilakukan pada penderita Diabetes Melitus Tipe II yang berusia 15 tahun ke atasdi Puskesmas Janti Malang. Teknik yang digunakan untuk menentukan besarnya sampel yaitu mengunakanteknik probability sampling (simple random sampling). Jumlah total responden adalah 95 orang sesuaidengan kriteria inklusi. Instrumen penelitian ini menggunakan kuisioner. Pengambilan data dilakukandengan metode wawancara dan analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian ini adalahterdapat hubungan pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe II diPuskesmas Janti Malang dengan hasil analisis korelasi spearman yang menunjukkan nilai p=0.000(p<0.05)yaitu semakin baik pengetahuan seseorang tentang penyakitnya maka semakin tinggi tingkat kepatuhanminum obat. Pengetahuan yang baik dapat mempengaruhi pola perilaku responden dan membuat penderitaDM memahami tentang penyakitnya dan menstimulus motivasinya untuk meningkatkan kepatuhan dalammengkonsumsi obat secara benar dan teratur dalam upaya mengontrol kadar gula darah serta mencegahkomplikasi yang terjadi di masa mendatang.
Pemberdayaan kader kesehatan melalui pelatihan caregiver informal dalam Perawatan Jangka Panjang (PJP) lansia Oda Debora; Venny Kurnia Andika; Febrina Secsaria Handini
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27449

Abstract

Abstrak Saat ini Indonesia sedang menghadapi peningkatan morbiditas akibat penyakit tidak menular dan penyakit degeneratif. Menurut Riskesdas 2018, penyakit tidak menular terbanyak yang dialami lansia adalah tekanan darah tinggi (hipertensi). Sama halnya di Kota Malang, hipertensi dan diabetes mellitus adalah penyakit tidak menular yang paling banyak ditemukan. Menurut survei yang dilakukan tahun 2028, 74,3% lansia masih tergolong mampu melakukan aktivitas secara mandiri, sedangkan sisanya memiliki tingkat ketergantungan ringan hingga berat. Kondisi ini juga ditemukan di salah satu wilayah kerja Puskesmas Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang, yaitu Kelurahan Sukoharjo. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyelesaikan permasalahan terkait penyakit tidak menular di Sukoharjo. Kegiatan ini bermitra dengan kader kesehatan Kelurahan Sukoharjo, kecamatan Klojen, kota Malang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi edukasi, praktik, demonstrasi, dan pelatihan yang terbagi kedalam 9 kali pertemuan tatap muka. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan kader kesehatan yang semula banyak berpengetahuan kurang sebesar 84,2%, setelah dilakukan kegiatan meningkat menjadi baik sebesar 100%. Begitupun dengan praktik dan demonstrasi yang dilakukan, seluruh kader kesehatan memahami dan dapat melakukan demonstrasi secara mandiri. Dengan dilaksanakannya kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan kader dapat menyebarluaskan ilmu yang telah didapatkan kepada caregiver informal di wilayahnya masing-masing. Kata kunci: caregiver informal; lansia; perawatan jangka panjang Abstract Currently, Indonesia is facing an increase in morbidity due to non-communicable diseases and degenerative diseases. According to Riskesdas 2018, the most non-communicable disease experienced by the elderly is high blood pressure (hypertension). Similarly in Malang, hypertension and diabetes mellitus are the most common non-communicable diseases. According to a survey conducted in 2028, 74.3% of the elderly are still classified as able to carry out activities independently, while the rest have a mild to severe dependency rate. This condition was also found in one of the working areas of the Bersama Health Center, Klojen District, Malang City, namely Sukoharjo Village. The purpose of this activity is to solve problems related to non-communicable diseases in Sukoharjo. This activity partners with health cadres of Sukoharjo Village, Klojen District, Malang City. Methods used in this activity include education, practice, demonstration, and training divided into 9 face-to-face meetings. The results of this activity show that there is an increase in the knowledge and ability of health cadres who originally had a lot of knowledge, which was less than 84.2%, after the activity was carried out, it increased to a good level of 100%. Along with the practices and demonstrations carried out, all health cadres understand and can carry out demonstrations independently. With the implementation of this community service activity, it is hoped that cadres can disseminate the knowledge that has been obtained to informal caregivers in their respective regions. Keywords: elderly; informal caregiver; long-term caregiving