Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SOSIALISASI DAN PELATIHAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI SEDERHANA PADA PEMBUATAN PREPARAT BASAH BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN GURU DAN SISWA DI SMA NEGERI 1 MENGWI Desak Nyoman Budiningsih; Dewa Ayu Puspawati; Dewa Ayu Sri Ratnani; I Made Diarta; Ni Komang Dina Suciari
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 3 No. 5: Oktober 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v3i5.6481

Abstract

Untuk meningkatkan mutu pengajaran di bidang biologi tidak cukup hanya dilakukan dengan memahami materi di ruang kelas saja, namun perlu didukung dengan kegiatan praktikum di laboratorium (Puger, 2012). Tujuan kegiatan PkM ini adalah melatih guru dan para siswa/siswi dalam pembuatan preparat basah/ segar Biologi yang akan dimanfaatkan dalam melaksanakan praktikum di laboratorium, untuk mendukung proses belajar mengajar Biologi di kelas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti peserta sebanyak 30 siswa/i dan Guru- Guru Biologi SMA Negeri 1 Mengwi diawali dengan tahap observasi, dilanjutkan dengan sosialisasi tentang materi pengabdian sesuai topik yang akan diberikan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan/pendampingan secara praktek langsung untuk membuat preparat basah di laboratorium. Preparat basah yang dihasilkan pada saat pelatihan dengan metode template stomata ada 3 macam preparat yaitu preparat stomata pada daun Rhoeo discolor, trikoma pada daun durian (Durio zibethinus), trikoma pada daun waru (Hibiscus tiliaceus) dan 1 preparat sel epitel mukosa pipi. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang dapat meningkatkan keterampilan Guru- Guru Biologi dan siswa-siswi dalam membuat preparat basah pada saat praktikum di laboratorium.
PENERAPAN MODEL JIGSAW MODIFIKASI MELALUI PENDEKATAN PHOTOVOICE TERHADAP HASIL PHOTOVOICE MAHASISWA CALON GURU Ni Komang Dina Suciari
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 3 No. 2: Oktober 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis model Jigsaw modifikasi melalui pendekatan photovoice terhadap hasil photovoice mahasiswa calon guru. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalaha mahasiswa calon guru di program studi pendidikan biologi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dengan menggunakan instrument rubrik. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif kuantitatif berupa tabel dan histogram bahwa penerapan Model Jigsaw modifikasi melalui pemetaan berpartisipatif lanskap budaya subak berpengaruh signifikan terhadap hasil photovoice mahasiswa calon guru. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan pentingnya terus mengeksplorasi dan memperbaiki metode pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan calon guru, dengan fokus pada penggabungan aspek-aspek budaya dan lingkungan, serta keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Hal ini akan membawa manfaat positif bagi pembelajaran dan pengalaman pendidikan para siswa yang akan diajarkan pada masa depan.
Persepsi Literasi Sains Calon Guru IPA: Domain Manakah yang Bermasalah? Anak Agung Inten Paraniti; Ni Komang Dina Suciari; Putu Budi Adnyana
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha Vol. 13 No. 2 (2026): In Progress
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v13i2.115819

Abstract

Literasi sains merupakan kompetensi esensial untuk membentuk masyarakat yang responsif terhadap isu lingkungan dan kemajuan teknologi. Mahasiswa calon guru IPA memegang peran kunci dalam mewujudkan generasi melek ilmiah, sehingga penguasaan domain literasi sains yang komprehensif menjadi keharusan. Penelitian survei deskriptif kuantitatif ini mengeksplorasi persepsi literasi sains 216 mahasiswa calon guru di wilayah Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur yang berasal dari lima institusi pendidikan.Temuan menunjukkan bahwa secara umum persepsi responden berada pada kategori "baik" (98,6%). Namun, domain "etika sains" memerlukan perhatian khusus karena 20,4% responden masih berada pada kategori "rendah". Rendahnya pemahaman pada domain ini berisiko menciptakan pemisahan antara sains modern dan nilai-nilai etnosains (kearifan lokal). Tanpa dasar etika sains yang kuat, calon guru cenderung menganggap kearifan lokal sekadar tradisi budaya dan bukan ilmu pengetahuan yang valid, sehingga gagal mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran kontekstual. Hal ini menegaskan bahwa penguatan etika sains dalam kurikulum persiapan guru sangat krusial untuk memastikan efektivitas pendidikan sains yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan realitas sosial-budaya siswa.