Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA SUKU REJANG DAN JAWA PADA MAYARAKAT DESA KOTA AGUNG: Analisis Model Komunikasi Antarbudaya Gudykunst dan Kim Taufik Hidayat; Mely Eka Karina
Jurnal Sarjana Ilmu Komunikasi (J-SIKOM) Vol 4 No 2 (2023): Vol.4 No.2 Oktober 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jsikom.v4i2.5837

Abstract

Karena kita dapat memperoleh pemahaman tentang sikap, perilaku, dan tindakan dari lingkungan sosial kita melalui komunikasi tidak langsung, komunikasi akan memainkan peran penting dalam kehidupan sosial. Kita semua harus berurusan dengan orang-orang yang termasuk dalam kelompok, ras, etnis, atau budaya lain pada suatu saat dalam hidup kita. Dalam enelitian ini peneliti berpokus pada masyarakat yang ada di Desa Kota Agung Kecamatan Bermani Ilir Kabupaten Kepahiang dan bertujuan untuk mengidentifikasi model komunikasi antar budaya pada masyarakat etnis Jawa dan Rejang. Analisis data yang deskriptif digunakan dalam pendekatan kualitatif. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti yang akan untuk menentukan signifikansi data yang telah dikumpulkannya dikenal dengan teknik analisis data. Penelitian ini menggunakan Model Komunikasi Antarbudaya dari Gudykunst dan Kim sebagai alat analisis yang digunakan dalam penelitian. Menurut teori ini, empat faktor—budaya, sosial-budaya, psiko-budaya, dan lingkungan— menentukan model komunikasi yang sukses atau berhasil. Menurut temuan penelitian, komunikasi tatap muka adalah bentuk atau jenis komunikasi yang paling efektif. Sangat penting juga untuk mengatur bagaimana kita berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Sepanjang proses dan interaksi sosial, baik pendatang maupun penduduk lokal sama sekali tidak mengalami konflik atau masalah antar komunitas yang ada. Di Desa Kota Agung, di mana toleransi terjalin, kehidupan sosial terbuka dan sangat harmonis KeywordsModel Komunikasi Antarbudaya, Rejang, Jawa
Membangun Kemandirian Perempuan Pedesaan Melalui Pelatihan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Desa Talang Berangin. Kec. Kinal Kab. Bengkulu Selatan Linda Safitra; Eceh Trisna Ayu; Mely Eka Karina; Hafri Yuliani
JURNAL ABDIMAS SERAWAI Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Abdimas Serawai (JAMS)
Publisher : Program Studi Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Bengkulu 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jams.v3i2.5291

Abstract

Kegiatan membentuk kemandirian perempuan pedesaan melalui pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga memiliki tujuan sebagai berikut : (1) Memberikan memotivasi kepada ibu-ibu rumah tangga untuk memanfaatkan potensi dan kreatifitas yang dimiliki untuk mengelola barang yang tidak berguna menjadi kreatifitas yang memiliki nilai, meminimalkan pengeluaran bahkan bisa menambah penghasilan dengan mengelola sampah rumah tangga (botol plastik bekas ) menjadi barang yang bisa digunakan dan bernilai ekonomis dalam hal ini pot bunga (2) Melatih perempuan khususnya ibu rumah tangga tentang cara pengelolaan sampah rumah tangga menjadi hal yang bisa dimanfaatkan dalam hal ini pot bunga unik yang bernilai ekonomis, dan. Khalayak sasaran kegiatan PPM adalah ibu-ibu rumah tangga di Desa Talang Berangin. Kec. Kinal Kab. Bengkulu Selatan sebanyak 20 orang. Metode kegiatan PPM menggunakan metode ceramah dan demonstrasi. Langkah-langkah kegiatan PPM adalah ceramah untuk menjelaskan kajian sampah, jenis sampah, dan sumber sampah, pengelolaan sampah dan 3R (reduce, reuse, recycle), serta pengelolaan sampah ruamh tangga (botol plastik bekas) menjadi pot bunga, dilanjutkan tanya jawab, demonstrasi pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pot bunga. Faktor pendukung kegiatan pengabdian adalah adanya dukungan dari Kepala Desa, Ibu Ketua PKK, dan antusiasme peserta pengabdian, sedangkan faktor penghambat kegiatan adalah keterbatasan waktu pelaksanaan pengabdian. Kegiatan pengabdian secara keseluruhan dapat dikatakan baik dan berhasil, dilihat dari keberhasilan target jumlah peserta pelatihan (100%), ketercapaian tujuan pelatihan (80%), ketercapaian target materi yang telah direncanakan (80%), dan kemampuan peserta dalam penguasaan materi (80%). Kegiatan pengabdian dapat meningkatkan pengetahuan ibu-ibu rumah tangga tentang pengelolaan sampah menjadi barang yang bisa digunakan yaitu pot bunga serta memberdayakan mereka dalam pengelolaan sampah rumah tangga (botol plastik bekas) menjadi pot bunga
Menakar Etika Komunikasi Digital di Tengah Maraknya Disinformasi E-Commerce Mely Eka Karina; Rasianna Br. Saragih; Rifa’i
Jurnal Khabar: Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : STAI Bumi Silampari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37092/khabar.v7i2.1355

Abstract

The development of e-commerce in Indonesia has changed the communication pattern of digital marketing, but on the other hand poses a serious challenge in the form of increasing disinformation that threatens communication ethics and consumer trust. This study aims to analyze how digital communication practices in e-commerce violate the principles of communication ethics and its impact on consumer trust, focusing on the phenomenon of fake reviews, hidden endorsements, and excessive product claims. The method used was descriptive qualitative by collecting data through in-depth interviews with business actors, influencers, and active consumers, as well as digital observation of promotional content on Tokopedia, Shopee, and TikTok Shop. Data analysis uses the Miles & Huberman model with triangulation validation of theories, sources, and methods. The results show that e-commerce disinformation reflects a crisis of digital communication ethics, where economic persuasion takes precedence over honesty and transparency. Based on the theory of the Elaboration Likelihood Model (ELM), consumers are more easily influenced by peripheral paths such as high ratings and influencer imagery without critical evaluation. This condition lowers public trust and strengthens the need for the implementation of digital communication ethics, increasing people's digital literacy, and strict regulation of misleading communication practices.