Ouedraogo Saidou
Islamic Revealed Knowledge and Science (IRKHS), International Islamic University Malaysia (IIUM), Malaysia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Challenges of Islamic Education in Street Punk Families in Temanggung Agustin Wulandari; Luluk Ifadah; Nur Alfi Muanayah; Ouedraogo Saidou
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 2 No. 3 Agustus 2023: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v2i3.30

Abstract

This study describes a unique phenomenon that occurs in Mulyo Hamlet, Pandemulyo Village, Bulu District, Temanggung Regency. Where in Dudun Mulyo there are several families who have experiences or backgrounds that are different from parents in general, namely having experience in participating in street punk or the modern language, namely street punk. Punk itself is synonymous with violence, anarchy, resistance. Families with basic street punk tend to be less harmonious in their household. This challenge for a family with a street punk background has several factors that influence it. So there are several strategies to increase religious understanding, establish good communication between family members, have free time with family, improve the economy.
The Tingkeban in Temanggung from an Anthropological Perspective Baedhowi; Adib Subhan; Ouedraogo Saidou
Jurnal Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam Vol. 2 No. 2 December 2024: Jurnal Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jshei.v2i2.615

Abstract

Tingkeban Ritual is one of the Javanese cultural traditions that continues to be preserved by communities in Temanggung Regency, particularly within the life-cycle rituals related to pregnancy. This tradition functions not merely as a ceremonial practice, but also embodies philosophical, religious, and social values that reflect the Javanese worldview. This study aims to analyze the meanings and functions of the Tingkeban Ritual from an anthropological perspective, with a focus on ritual symbolism and its relevance to the social and religious life of the community. This research employs a qualitative approach with a descriptive-interpretative method. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with traditional leaders, religious figures, and community members involved in the ritual, as well as documentation studies. The data were analyzed qualitatively using a symbolic interpretive approach to uncover the philosophical meanings embedded in ritual elements such as rujak, nasi tumpeng, and ayam ingkung, and their relationship to religious values and social concern. The findings indicate that the Tingkeban Ritual contains philosophical values emphasizing hope for safety, balance, and blessing, while simultaneously strengthening social relations and community solidarity. This tradition also represents a dialectical process between local Javanese culture and Islamic religious values, functioning as a medium for cultural and spiritual education within the community. Thus, the Tingkeban Ritual serves not only as a form of cultural heritage but also plays a significant role in maintaining identity, social harmony, and the sustainability of Javanese cultural values in Temanggung.
Motif Pernikahan Siri pada Masa Pandemi Tahun 2021 (Studi Kasus di KUA Kecamatan Wonoboyo) Iyan Hidayah; Hidayatun Ulfa; Eko Sariyekti; Ouedraogo Saidou
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 1 No. 1 Juli 2022: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.239 KB) | DOI: 10.59944/amorti.v1i1.7

Abstract

Penyebaran Covid19 di Indonesia menjadikan salah satu penyebab terjadinya pernikahan siri. Karena dengan adanya virus tersebut dalam proses pernikahan menjadi terhambat, hal ini terjadi di KUA KecamatanWonoboyo, berdasarkan surat edaran dari menteri agama Nomor: P-001/DJ.III/HK.007/07/2021 tentang “petunjuk teknis layanan nikah pada Kantor Urusan Agama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat darurat”. Dalam isi surat tersebut terdapat syarat swab antigen yang menjadikan salah satu syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk melaksanakan pernikahan, swab berlaku 1x24 jam. Persyaratan itu berlangsung dari awal mula PPKM terjadi yaitu pada tanggal 03juli2021 dan masih berlangsung sampai saat ini karena belum ada pencabutan surat edaran tersebut. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah dapat mengetahui penyebab terjadinya peningkatan pernikhan siri dan mengetahui peran KUA dalam mengantisipasi peningkatan pernikahan pada masa pandemi tahun 2021. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah metode penelitian lapangan dan bersifat penelitian kualitatif serta menggunakan data–data primer dan sekunder yang dihasilkan adalah wawancara dengan pelaku pernikahan siri dan juga kepala KUA beserta Stafnya dan buku-buku pelaksanaan pernikahan di KUA. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan wawancara, observasi, metode dokumentasi. Hasil dari penelitian adalah masyarakat di Kecamatan Wonoboyo melaksanakan pernikahan secara siri terlebih dahulu dengan alasan mereka takut bila harus melaksanakan swab dan jika nanti hasil swabnya positif mereka tidak dapat melaksanakan pernikahan, karena anaknya sudah terlanjur hamil duluan, sudah menggelar pesta hajatan, adat, pitungan weton, masih adanya tokoh Agama yang menikahkan siri serta biaya swab yang mahal yang menjadikan mereka melaksanakan pernikahan secara siri terlebih dahulu.