Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DISEMINASI PENGGUNAAN SHOPEE PAY LATER BERDASARKAN PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Nur Sulistiyaningsih; Solikhah Solikhah; Luthfiyah Trini Hastuti; Burhanudin Harahap
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelian produk menggunakan paylater di shopee merupakan salah satu bentuk muamalah yang sedang trend di Indonesia. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang hukum pembelian produk melalui shopee dengan cara membayar nanti (paylater) dan pengenaan denda akibat keterlambatan pembayaran tagihan paylater di Shopee menurut perspektif Hukum Islam. Adapun sasaran diseminasi ini adalah anggota Komunitas Emak Blogger Solo dan masyarakat umum. Akad yang dilaksanakan pada praktik pembelian produk dengan cara membayar paylater di Shopee adalah akad Qardh. Pada praktik pembelian dengan paylater ini terdapat bunga minimal 2,95%. Sehingga pembelian produk di Shopee menggunakan paylater merupakan bentuk muamalah yang tidak diperbolehkan. Pengenaan denda akibat keterlambatan pembayaran tagihan paylater yang bersifat fluktuatif dan tidak sesuai dengan biaya administrasi sebenarnya maka denda ini tidak sesuai dengan prinsip syariah. Metode pelaksanaan program ini melalui diskusi interaktif dengan penyampaian informasi secara langsung kepada Komunitas Emak Blogger Solo mengenai penggunaan shopee paylater. Pengabdian ini penting dilakukan karena hasil diseminasi diulas oleh para blogger yang menjadi peserta berupa reportase tulisan dan video, sehingga masyarakat mendapat informasi mengenai hukum shoppe pay later dalam perspektif Hukum Islam.
Determining the Legal Identity of Murābaḥah: Akad Design, Documentary Sequence, and Juridical Consequences in Indonesian Islamic Banking Alvin Yahya; Burhanudin Harahap; Solikhah Solikhah
Jurnal Al-Hakim: Jurnal Ilmiah Mahasiswa, Studi Syariah, Hukum dan Filantropi Vol. 8 No. 1 May 2026
Publisher : Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/jurnalalhakim.v8i1.14378

Abstract

The accuracy of akad design is central to determining the legal identity of Sharia financing contracts in Indonesian Islamic banking, particularly in murābaḥah. While prior studies emphasize Sharia compliance, governance, and product standardization, limited attention has been given to how clause architecture and documentary sequence affect whether murābaḥah remains legally identifiable as a sale-based contract. This article examines three issues: the role of akad design in clarifying legal relations between banks and customers; the juridical consequences of inaccurate design, including nullity and wanprestasi; and the use of Religious Court decisions as empirical references for harmonizing civil law, Sharia principles, and regulatory frameworks. Using a normative-doctrinal approach, the study analyzes the Indonesian Civil Code, Law No. 21 of 2008, Law No. 4 of 2023, POJK provisions, KHES, DSN-MUI fatwas, OJK standards, and two Pekanbaru Religious Court decisions. The findings show that murābaḥah’s legal identity depends on coherence between subject matter, price, margin, procurement sequence, ownership or control, wakālah authority, and handover documentation. Inaccurate design leads to different consequences across validity and performance tracks. The study identifies recurring documentary failures and argues for a shift from macro-level compliance toward micro-level contractual architecture, emphasizing stronger pre-akad disclosure, coherent documentary chains, and clearer separation between validity and performance in dispute resolution.