Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Taman Cendikia sebagai pengembangan Alat Permaianan Edukatif berbasis Ecomedia Havidz Cahya Pratama; Irham Muhammad Azama; Bayu Dwi Cahyono
Jurnal Literasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 2, No 2 (2023): September
Publisher : CV Litera Inti Aksara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61813/jlppm.v2i2.40

Abstract

Alat Permainan Edukatif sebagai sarana yang penting untuk memicu perkembangan saraf dan motorik anak. Ecomedia menjadi salah satu bentuk media pembelajaran yang dikembangkan secara ramah lingkungan dengan memanfaatkan pengelolaan barang bekas. “Taman Cendikia” merupakan alat peraga permainan edukasi tersebut dibuat dengan model ADDIE dengan beberapa tahap yaitu: analisis, perencanaan, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Pengenalan alat permaian edukasi ini bagi kader baru memiliki respon positif. Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan alat peraga ini dengan memberikan sosialisasi dan pelatihan dengan metode ceramah dan praktik/ drill. Pelatihan ini bertujuan mengembangkan kreativitas alat peraga edukasi sebagai inovasi media pembelajaran berbasis ecomedia dan menciptakan produk alat peraga permainan edukatif secara ramah lingkungan dengan memanfaatkan pengelolaan barang bekas. Hasil kegiatan pelatihan ini dengan membuat alat permainan edukatif berbasis ecomedia dalam penanaman nilai agama dan moral anak. Praktik menciptakan model permainan edukasi Montessori, yakni permainan yang bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan anak dengan melatih perkembangan kognitif dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan social. Adapun desain permainan edukasi berbasis ecomedia mempunyai nama “Taman Cendikia”diantaranya permaiannya mempunyai luaran berupa: 1) Miniatur masjid sebagai pusat pendidikan dan keagamaan, 2) Flashcard pengenalan tokoh, 3) Papan pintar doa harian dan suratan pendek Alquran, 3) Taman Huruf Hijaiyyah,Rumah pintar sebagai tempat berbagi ilmu pengetahuan keagamaan.
Pemberdayaan Jasa Pijat Penyandang Tuna Netra Berbasis Nilai Syariah Melalui Pendampingan Komunitas: Empowerment of Sharia-Based Massage Services for Visually Impaired Persons Through Community Assistance Firdaus Firdaus; Muntohar Muntohar; Irham Muhammad Azama; Bayu Dwi Cahyono; Itsna Nurrahma Mildaeni
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 7 (2026): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v11i7.12499

Abstract

Visually impaired individuals who work as traditional massage therapists often face challenges related to professionalism, service standardization, and the integration of religious values into daily economic practices. This community engagement program developed a sharia-based empowerment model by strengthening literacy in Islamic contract law, internalizing Islamic professional ethics, and formulating a community-based Islamic service standard. A participatory approach was applied through an initial needs assessment, training on Islamic values and service contracts, mentoring in implementing service standards, and pre- and post-activity evaluations. The results indicate a substantial increase in participants’ average understanding from 53.6% to 94.6%, representing a 41-percentage-point improvement. Behavioral changes were also observed in the consistent agreement on service fees prior to treatment, adherence to sharia boundaries in service interactions, and more professional communication with clients. In addition, a collectively agreed Islamic massage service guideline was established, strengthening professional identity and social legitimacy. The empowerment model not only enhanced cognitive capacity but also reinforced awareness of values and professional dignity within an Islamic framework. The integration of sharia principles into informal service practices proved to be an effective, contextual, and sustainable strategy for inclusive economic empowerment.