Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PENYULUHAN MENYIKAT GIGI MENGGUNAKAN MEDIA BONEKA BERGIGI TERHADAP KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT SISWA KELAS III SDN 6 MANGKURAYAT KABUPATEN GARUT Ratna Dewi; Anie Kristiani; Samjaji Samjaji
Jurnal Ilmiah Keperawatan Gigi Vol 4, No 2 (2023): Juli
Publisher : Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/jikg.v4i2.1074

Abstract

Latar Belakang: Anak sekolah dasar memiliki tingkat masalah kesehatan gigi dan mulut terbesar. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran tentang menyikat gigi. Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut menyikat gigi adalah suatu prosedur yang menjadi keharusan. Tujuan: Mengetahui pengaruh penyuluhan menyikat gigi menggunakan media boneka bergigi terhadap kebersihan gigi dan mulut siswa kelas III SDN 6 Mangkurayat Kabupaten Garut. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah quasy-experimental (eksperimen semu) dengan rancangan penelitian One Group pre-test and post-test design, pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan sampel penelitian berjumlah 40 siswa. Alat ukur penelitian adalah lembar pemeriksaan OHI-S untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut siswa kelas III. Analisis data menggunakan uji wilcoxon pada program SPSS 21.00. Hasil: Sebelum diberikan penyuluhan menyikat gigi dengan boneka bergigi kriteria kebersihan gigi dan mulut terbanyak yaitu kriteria sedang sebanyak 27 siswa (67,5%), sedangkan setelah diberikan penyuluhan menyikat gigi dengan boneka bergigi meningkat menjadi kriteria baik sebanyak 38 siswa (95%), sehingga nilai rata-rata kebersihan gigi dan mulut siswa mengalami peningkatan dari 1,4 menjadi 0,7. Hasil uji wilcoxon diperoleh nilai p-value 0,000 0,05 maka dapat disimpulkan Ha diterima, artinya ada pengaruh menyuluhan menyikat gigi menggunakan media boneka bergigi. Kesimpulan: Ada pengaruh penyuluhan menyikat gigi menggunakan media boneka bergigi terhadap kebersihan gigi dan mulut siswa kelas III SDN 6 mangkurayat Kabupaten Garut..
Hubungan Indeks Masa Tubuh dan Aktifitas Olahraga dengan Risiko Ergonomi Pada Terapis Gigi dan Mulut Di Puskesmas Kota Tasikmalaya Tita Kartika Dewi; Emma Kamelia; Rudi Triyanto; Samjaji Samjaji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52648

Abstract

Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas sering menghadapi risiko ergonomi akibat tuntutan postur kerja statis berulang, yang dapat memicu Gangguan Muskuloskeletal. Selain faktor lingkungan kerja, faktor individu seperti Indeks Masa Tubuh dan tingkat aktivitas olahraga diyakini memainkan peran penting dalam kerentanan pekerja terhadap risiko ini. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara IMT, aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Tujuan: Mengetahui prevalensi risiko ergonomi, status IMT, dan kebiasaan olahraga, serta menganalisis hubungan statistik antara IMT dan aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya dengan Sampel sebanyak 30 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data IMT melalui antropometri, aktivitas olahraga menggunakan kuesioner Baecke, Risiko ergonomi menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Analisis hubungan menggunakan uji rank spearman. Hasil: Dari 30 responden TGM, 56% responden termasuk dalam kategori gemuk. Mayoritas responden menunjukkan kebiasaan fisik yang kurang aktif sebanyak 70%, 50% responden memiliki risiko ergonomi rendah. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara Indeks Masa Tubuh dengan risiko ergonomi (p-value = 0,034) dan tidak terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan olahraga dengan risiko ergonomi (p-value = 0,251). Kesimpulan: Indeks Masa Tubuh tinggi menjadi faktor risiko signifikan terhadap peningkatan risiko ergonomi pada Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Meskipun mayoritas responden memiliki kebiasaan olahraga yang tidak aktif, variabel ini tidak terbukti secara statistik berhubungan dengan risiko ergonomi. Intervensi kesehatan kerja perlu difokuskan pada program manajemen berat badan bagi TGM