Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MODIFIKASI SIKAT GIGI ELEKTRIK UNTUK ANAK DOWN SINDROM Rieza Zulfahmi Taftazani; Emma Kamelia
Jurnal Ilmiah Keperawatan Gigi Vol 3, No 3 (2022): November
Publisher : Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/jikg.v3i3.985

Abstract

Pendahuluan: Anak Down Syndrome mempunyai kendala dalam kemampuan kognitif, efektif dan kemampuan merawat diri. Kelainan ini menyebabkan ketidakmampuan dalam segala hal, termasuk menjaga kebersihan rongga mulutnya sehingga masalah dalam rongga mulut pun tidak dapat dihindari. Hal ini mengakibatkan mereka memerlukan pendidikan khusus. Individu dengan Down Sindrom membutuhkan lebih banyak bantuan dari pengasuh dalam memelihara kesehatan mulut. Cara terbaik untuk mengeliminasi debris dan dental plak adalah dengan menyikat gigi menggunakan sikat gigi manual ataupun sikat gigi elektrik. Keuntungan penggunaan sikat gigi elektrik adalah kemudahan yang dicapai dengan sikat tersebut. Sikat gigi elektrik juga membantu individu yang cacat jasmaninya. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui sikat gigi jenis apa yang efektif untuk membersihkan plak gigi pada anak down sindrom. Metode: Jenis penelitian ini adalah Research and Development (RnD). Penelitian dan pengembangan merupakan suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada.  Hasil penelitian: Adapun hasil penelitian menunjukkan modifikasi sikat gigi elektrik lebih efektif untuk menghilangkan plak gigi.
Peningkatan Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak Melalui Pemberdayaan Guru di SDN 3 Sumelap Kota Tasikmalaya Emma Kamelia; Cahyo Nugroho; Rieza Zulfahmi Taftazani
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i4.6897

Abstract

Kesehatan gigi dan mulut adalah aspek kesejahteraan anak-anak yang sering terabaikan. Berdasarkan survey awal yang dilakukan di SDN 3 Sumelap Kota Tasikmalaya 48,4% di dapatkan pengetahuan tentang Kesehatan gigi dan mulut dengan kriteria buruk. Untuk mengatasi masalah ini, program pemberdayaan guru di SDN 3 Sumelap, Kota Tasikmalaya, telah dilaksanakan. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada guru-guru dalam upaya meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya merawat gigi dan mulut mereka secara dini. Dalam program ini, guru-guru diberikan pelatihan intensif tentang kesehatan gigi dan mulut, teknik menyikat gigi yang benar, dan cara memberikan edukasi kesehatan gigi kepada siswa. Hasil pengetahuan awal dan akhir guru-guru serta siswa-siswi yang diukur menunjukkan peningkatan yang signifikan. Program ini memiliki dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan gigi dan mulut di kalangan guru dan siswa. Dengan dukungan yang berkelanjutan dan keterlibatan komunitas yang lebih luas, diharapkan program ini dapat menciptakan generasi yang lebih sadar akan pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut mereka.
Peningkatan Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak Melalui Pemberdayaan Guru di SDN 3 Sumelap Kota Tasikmalaya Emma Kamelia; Cahyo Nugroho; Rieza Zulfahmi Taftazani
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i4.6897

Abstract

Kesehatan gigi dan mulut adalah aspek kesejahteraan anak-anak yang sering terabaikan. Berdasarkan survey awal yang dilakukan di SDN 3 Sumelap Kota Tasikmalaya 48,4% di dapatkan pengetahuan tentang Kesehatan gigi dan mulut dengan kriteria buruk. Untuk mengatasi masalah ini, program pemberdayaan guru di SDN 3 Sumelap, Kota Tasikmalaya, telah dilaksanakan. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada guru-guru dalam upaya meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya merawat gigi dan mulut mereka secara dini. Dalam program ini, guru-guru diberikan pelatihan intensif tentang kesehatan gigi dan mulut, teknik menyikat gigi yang benar, dan cara memberikan edukasi kesehatan gigi kepada siswa. Hasil pengetahuan awal dan akhir guru-guru serta siswa-siswi yang diukur menunjukkan peningkatan yang signifikan. Program ini memiliki dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan gigi dan mulut di kalangan guru dan siswa. Dengan dukungan yang berkelanjutan dan keterlibatan komunitas yang lebih luas, diharapkan program ini dapat menciptakan generasi yang lebih sadar akan pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut mereka.
Hubungan Indeks Masa Tubuh dan Aktifitas Olahraga dengan Risiko Ergonomi Pada Terapis Gigi dan Mulut Di Puskesmas Kota Tasikmalaya Tita Kartika Dewi; Emma Kamelia; Rudi Triyanto; Samjaji Samjaji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52648

Abstract

Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas sering menghadapi risiko ergonomi akibat tuntutan postur kerja statis berulang, yang dapat memicu Gangguan Muskuloskeletal. Selain faktor lingkungan kerja, faktor individu seperti Indeks Masa Tubuh dan tingkat aktivitas olahraga diyakini memainkan peran penting dalam kerentanan pekerja terhadap risiko ini. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara IMT, aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Tujuan: Mengetahui prevalensi risiko ergonomi, status IMT, dan kebiasaan olahraga, serta menganalisis hubungan statistik antara IMT dan aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya dengan Sampel sebanyak 30 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data IMT melalui antropometri, aktivitas olahraga menggunakan kuesioner Baecke, Risiko ergonomi menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Analisis hubungan menggunakan uji rank spearman. Hasil: Dari 30 responden TGM, 56% responden termasuk dalam kategori gemuk. Mayoritas responden menunjukkan kebiasaan fisik yang kurang aktif sebanyak 70%, 50% responden memiliki risiko ergonomi rendah. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara Indeks Masa Tubuh dengan risiko ergonomi (p-value = 0,034) dan tidak terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan olahraga dengan risiko ergonomi (p-value = 0,251). Kesimpulan: Indeks Masa Tubuh tinggi menjadi faktor risiko signifikan terhadap peningkatan risiko ergonomi pada Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Meskipun mayoritas responden memiliki kebiasaan olahraga yang tidak aktif, variabel ini tidak terbukti secara statistik berhubungan dengan risiko ergonomi. Intervensi kesehatan kerja perlu difokuskan pada program manajemen berat badan bagi TGM