Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN SERTA SIKAP TENTANG PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN PENGALAMAN KARIES GIGI PADA SISWA KELAS VII SMP PLUS ULIL ALBAB DEPOK KABUPATEN CIREBON Farah Aulia; Rudi Triyanto; Culia Rahayu
Jurnal Ilmiah Keperawatan Gigi Vol 4, No 2 (2023): Juli
Publisher : Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/jikg.v4i2.1086

Abstract

Latar Belakang : Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut diantaranya faktor  perilaku yang kurang tepat yang dilandasi oleh pengetahuan dan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Usia remaja sering mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut salah satunya karies gigi. Tujuan : Menganalisis hubungan pengetahuan serta sikap tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan pengalaman karies gigi pada siswa kelas VII. Metode : Menggunakan penelitian dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian siswa kelas VII sebanyak 65 orang menggunakan teknik total sampling. Alat ukur penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan serta sikap tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta pemeriksaan pengalaman karies gigi menggunakan indeks DMF-T. Hasil : Hasil penelitian terbanyak 34 siswa (52,3%) memiliki pengetahuan tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan kriteria baik, 34 siswa (52,3%) memiliki sikap tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan kriteria baik dan 25 siswa (38,5%) memiliki pengalaman karies gigi dengan kriteria sangat rendah. Uji korelasi Spearman Rank didapat nilai p - Value  0,000 p0,05 artinya terdapat hubungan antara pengetahuan serta sikap tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan pengalaman karies gigi siswa kelas VII. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara pengetahuan serta sikap tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan pengalaman karies gigi siswa kelas VII.
HUBUNGAN MOTIVASI PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DENGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA LANSIA PENDERITA DIABETES MELITUS PESERTA PROLANIS DI UPTD PUSKESMAS HANDAPHERANG KABUPATEN CIAMIS Amelia Rosiyana; Culia Rahayu; Rudi Triyanto
Jurnal Ilmiah Keperawatan Gigi Vol 4, No 2 (2023): Juli
Publisher : Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/jikg.v4i2.1070

Abstract

Latar Belakang: Lansia yang memiliki riwayat diabetes melitus beresiko mengalami penyakit gigi dan mulut. Motivasi yang baik dalam pemeliharaan kesehatan gigi sangat penting untuk mencegah penyakit gigi dan mulut. Menjaga kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara motivasi pemeliharaan kesehatan gigi dengan status kebersihan gigi dan mulut pada lansia penderita diabetes melitus peserta prolanis di UPTD Puskesmas Handapherang Kabupaten Ciamis. Metode: Penelitian survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian diambil menggunakan metode total sampling yaitu 30 orang lansia penderita diabetes melitus peserta prolanis yang berusia 60 tahun ke atas. Responden mengisi kuesioner untuk melihat motivasi pemeliharaan kesehatan gigi. Status kebersihan gigi dan mulut diperiksa menggunakan OHI-S. Data disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis dengan korelasi Rank Spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan mayoritas motivasi pemeliharaan kesehatan gigi lansia dalam kategori baik (56,7%) dengan rata-rata 59,6 dan OHI-S kategori sedang (63,3%) dengan rata-rata 2,1. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan (p-value) = 0,000 ( α = 0,05). Kesimpulan: Ada hubungan antara motivasi pemeliharaan kesehatan gigi dengan status kebersihan gigi dan mulut pada lansia penderita diabetes melitus peserta prolanis di UPTD Puskesmas Handapherang Kabupaten Ciamis.
Hubungan Indeks Masa Tubuh dan Aktifitas Olahraga dengan Risiko Ergonomi Pada Terapis Gigi dan Mulut Di Puskesmas Kota Tasikmalaya Tita Kartika Dewi; Emma Kamelia; Rudi Triyanto; Samjaji Samjaji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52648

Abstract

Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas sering menghadapi risiko ergonomi akibat tuntutan postur kerja statis berulang, yang dapat memicu Gangguan Muskuloskeletal. Selain faktor lingkungan kerja, faktor individu seperti Indeks Masa Tubuh dan tingkat aktivitas olahraga diyakini memainkan peran penting dalam kerentanan pekerja terhadap risiko ini. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara IMT, aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Tujuan: Mengetahui prevalensi risiko ergonomi, status IMT, dan kebiasaan olahraga, serta menganalisis hubungan statistik antara IMT dan aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya dengan Sampel sebanyak 30 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data IMT melalui antropometri, aktivitas olahraga menggunakan kuesioner Baecke, Risiko ergonomi menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Analisis hubungan menggunakan uji rank spearman. Hasil: Dari 30 responden TGM, 56% responden termasuk dalam kategori gemuk. Mayoritas responden menunjukkan kebiasaan fisik yang kurang aktif sebanyak 70%, 50% responden memiliki risiko ergonomi rendah. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara Indeks Masa Tubuh dengan risiko ergonomi (p-value = 0,034) dan tidak terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan olahraga dengan risiko ergonomi (p-value = 0,251). Kesimpulan: Indeks Masa Tubuh tinggi menjadi faktor risiko signifikan terhadap peningkatan risiko ergonomi pada Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Meskipun mayoritas responden memiliki kebiasaan olahraga yang tidak aktif, variabel ini tidak terbukti secara statistik berhubungan dengan risiko ergonomi. Intervensi kesehatan kerja perlu difokuskan pada program manajemen berat badan bagi TGM