Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas sering menghadapi risiko ergonomi akibat tuntutan postur kerja statis berulang, yang dapat memicu Gangguan Muskuloskeletal. Selain faktor lingkungan kerja, faktor individu seperti Indeks Masa Tubuh dan tingkat aktivitas olahraga diyakini memainkan peran penting dalam kerentanan pekerja terhadap risiko ini. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara IMT, aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Tujuan: Mengetahui prevalensi risiko ergonomi, status IMT, dan kebiasaan olahraga, serta menganalisis hubungan statistik antara IMT dan aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya dengan Sampel sebanyak 30 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data IMT melalui antropometri, aktivitas olahraga menggunakan kuesioner Baecke, Risiko ergonomi menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Analisis hubungan menggunakan uji rank spearman. Hasil: Dari 30 responden TGM, 56% responden termasuk dalam kategori gemuk. Mayoritas responden menunjukkan kebiasaan fisik yang kurang aktif sebanyak 70%, 50% responden memiliki risiko ergonomi rendah. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara Indeks Masa Tubuh dengan risiko ergonomi (p-value = 0,034) dan tidak terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan olahraga dengan risiko ergonomi (p-value = 0,251). Kesimpulan: Indeks Masa Tubuh tinggi menjadi faktor risiko signifikan terhadap peningkatan risiko ergonomi pada Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Meskipun mayoritas responden memiliki kebiasaan olahraga yang tidak aktif, variabel ini tidak terbukti secara statistik berhubungan dengan risiko ergonomi. Intervensi kesehatan kerja perlu difokuskan pada program manajemen berat badan bagi TGM