M. Ilham Nur
Universitas Pejuang Republik Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENINGKATAN TEMPERATUR UDARA MASUK RUANG PENGERING PADA ALAT PENGERING JAGUNG PELAT DATAR DENGAN PENUTUP KACA BERSUSUN Haslinda HS; Ramli Ramli; M. Ilham Nur
Jurnal Tematis (Teknologi, Manufaktur dan Industri) Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Tematis (Teknologi, Manufaktur dan Industri)
Publisher : Politeknik Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lama pengeringan dan efisiensi alat pengering jagung menggunakan kolektor surya pelat datar  penutup kaca tunggal dan kaca bersusun. Metode yang digunakan adalah dengan membuat sebuah alat pengering dengan pelat 0,2 mm sebagai kolektor dengan menggunakan udara panas dan tenaga matahari sebagai media pengering. Alat ini, diharapkan dapat mengeringkan jagung dengan kadar air sebesar 14 % dengan penutup kaca tunggal dan kaca bersusun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  temperatur udara maksimum yang masuk kedalam ruang pengering  sebesar  63°C dengan perbedaan temperatur antara temperatur udara masuk dengan udara lingkungan sebesar 31,8 °C pada kaca tunggal penutup kaca bersusun temperatur udara maksimum masuk ruang pengering sebesar 67,2 °C dengan perbedaan temperature sebesar 32,3 °C . Kata kunci : Temperatur Udara,, Jagung  dan Penutup Kaca
Analisis Efisiensi Absorptif Termal Kolektor Surya Terhadap Distilasi Bioetanol Nira Pada Variasi Sudut Kemiringan Muhammad Arham; M. Ilham Nur; Mahmuddin Mahmuddin; Syamsumarlin Taha
Majamecha Vol. 8 No. 1 (2026): Majamecha
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36815/majamecha.v8i1.4712

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh variasi intensitas radiasi matahari dan sudut kemiringan kolektor terhadap kinerja termal sistem kolektor surya. Pengamatan dilakukan pada rentang waktu 09.00-15.00 dengan variasi sudut kemiringan beta = 10 derajat, 15 derajat, dan 20 derajat. Hasil menunjukkan bahwa intensitas radiasi matahari berfluktuasi signifikan pada kisaran 600-1100 W/m2, dengan nilai maksimum umumnya terjadi mendekati tengah hari akibat meningkatnya sudut elevasi matahari dan berkurangnya lintasan radiasi di atmosfer. Penurunan intensitas secara tiba-tiba pada beberapa interval waktu mengindikasikan pengaruh kondisi atmosfer dinamis, seperti awan sesaat, yang memengaruhi kestabilan energi panas yang diterima kolektor. Analisis efisiensi menunjukkan bahwa efisiensi absorptif (eta_a) dan efisiensi termal (eta_t) berada pada rentang 20-65 persen dan berfluktuasi mengikuti perubahan intensitas radiasi matahari. Sudut kemiringan beta = 10 derajat secara konsisten menghasilkan efisiensi tertinggi, sedangkan peningkatan sudut kemiringan cenderung menurunkan efisiensi rata-rata. Selisih yang relatif kecil antara eta_a dan eta_t menunjukkan bahwa kerugian termal sistem masih terkendali. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis simultan efisiensi absorptif dan termal pada berbagai sudut kemiringan dalam kondisi radiasi matahari nyata, yang menunjukkan bahwa sudut kemiringan kecil lebih efektif untuk optimasi kinerja kolektor surya di wilayah tropis.
Analisis Efisiensi Absorptif Termal Kolektor Surya Terhadap Distilasi Bioetanol Nira Pada Variasi Sudut Kemiringan Muhammad Arham; M. Ilham Nur; Mahmuddin Mahmuddin; Syamsumarlin Taha
Majamecha Vol. 8 No. 1 (2026): Majamecha
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36815/majamecha.v8i1.4712

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh variasi intensitas radiasi matahari dan sudut kemiringan kolektor terhadap kinerja termal sistem kolektor surya. Pengamatan dilakukan pada rentang waktu 09.00-15.00 dengan variasi sudut kemiringan beta = 10 derajat, 15 derajat, dan 20 derajat. Hasil menunjukkan bahwa intensitas radiasi matahari berfluktuasi signifikan pada kisaran 600-1100 W/m2, dengan nilai maksimum umumnya terjadi mendekati tengah hari akibat meningkatnya sudut elevasi matahari dan berkurangnya lintasan radiasi di atmosfer. Penurunan intensitas secara tiba-tiba pada beberapa interval waktu mengindikasikan pengaruh kondisi atmosfer dinamis, seperti awan sesaat, yang memengaruhi kestabilan energi panas yang diterima kolektor. Analisis efisiensi menunjukkan bahwa efisiensi absorptif (eta_a) dan efisiensi termal (eta_t) berada pada rentang 20-65 persen dan berfluktuasi mengikuti perubahan intensitas radiasi matahari. Sudut kemiringan beta = 10 derajat secara konsisten menghasilkan efisiensi tertinggi, sedangkan peningkatan sudut kemiringan cenderung menurunkan efisiensi rata-rata. Selisih yang relatif kecil antara eta_a dan eta_t menunjukkan bahwa kerugian termal sistem masih terkendali. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis simultan efisiensi absorptif dan termal pada berbagai sudut kemiringan dalam kondisi radiasi matahari nyata, yang menunjukkan bahwa sudut kemiringan kecil lebih efektif untuk optimasi kinerja kolektor surya di wilayah tropis.