Moh. Samsul Arifin
STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

STRATEGI KOMUNIKASI BRANDING PERGURUAN TINGGI Moh. Samsul Arifin
AL - IBRAH Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v6i1.125

Abstract

Persaingan kampus-kampus baru di kabupaten Bangkalan beberapa tahun terakhir menjadi lebih ketat. Dari data Kopertais wilayah-IV Surabaya, sudah ada 10 perguruan tinggi yang terdaftar dalam kurun waktu tak sampai 15 tahun, dan diperkirakan beberapa kampus baru akan bermunculan lagi di masa yang akan datang. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, STIT Al-Ibrohimy Bangkalan memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik, mengelola dan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan demikian diharapkan para lulusannya dapat berguna dan diterima oleh masyarakat, serta dapat diserap dengan baik oleh lapangan kerja. Akan tetapi untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan suatu usaha dan strategi yang tepat mengingat semua perguruan tinggi memiliki tujuan yang sama. STIT Al-Ibrohimy Bangkalan sendiri didirikan pada tahun 2007 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Ibrohimy desa Galis Kabupaten Bangkalan. Memiliki 3 Program Studi, yaitu Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah/SD dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini, STIT Al-Ibrohimy Bangkalan yang juga secara geografis berada di tengah-tengah kabupaten Bangkalan memiliki jarak tempuh seimbang baik ke ujung barat dan timur atau utara ke selatan kabupaten ini, memiliki status strategis yang seharusnya dimanfaatkan dengan baik oleh pengelola kampus. Dijadikan nilai unggul yang tidak dimiliki kampus lainnya di Bangkalan, juga dapat disampaikan kepada masyarakat melalui strategi branding yang terencana dengan baik.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERIODISASI SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM Muhammad Fauzi; Moh. Samsul Arifin
AL - IBRAH Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v7i1.187

Abstract

Karakter berkaitan dengan teknis dan cara yang digunakan untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan ke dalam sebuah tingkah laku maupun tindakan. Karakter diperoleh dari nilai-nilai atau pandangan seseorang yang diwujudkan ke dalam bentuk tingkah laku. Dalam menanamkan sebuah karakter pada peserta didik yang paling utama adalah lembaga pendidikan yang memberikan penanaman karakter serta akhlak kepada peserta didik dalam segenap aktivitasnya di lingkungan belajarnya. Meliputi pendidikan tata karma, disiplin, kerjakeras, sopan, santun, kejujuran serta memiliki rasa tanggung jawab seperti yang biasa diprankan oleh lembaga pendidikan madrasah. Pentingnya penguatan pendidikan berkarakter salah satu usaha dalam mengembangkan peserta didik sesuai dengan dalam nilai-nilai Pancasila sekaligus selaras dengan lingkungan dimana peserta didik tersebut berinteraksi.
FENOMENA MANDI LUMPUR LIVE TIKTOK DALAM PERSPEKTIF ISLAM Muhammad Fauzi; Moh. Samsul Arifin; Hibrul Umam
AL - IBRAH Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v7i2.209

Abstract

Perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) membawa beberapa perubahan di masyarakat. TikTok, Facebook, dan Instagram, sebagai Media sosial terlaris, memainkan peran sangat penting dalam perubahan-perubahan sosial budaya tersebut, khususnya pemuda yang paling banyak menjadi konsumennya. Khususnya kehadiran TikTok (yang pada tahun 2021 menjadi aplikasi media sosial yang paling banyak diunduh, dikutip melalui laman blog resmiApptopia, Minggu [2/1/2022], TikTok memiliki 656 juta unduhan secara global, mengalahkan Instagram, 545 juta, Facebook 416 juta, WhatsApp 395 juta, dan Telegram 329 juta) memiliki pengaruh yang begitu besar dalam terjadinya fenomena-fenomena baru perubahan sosial dan budaya. Tiktok merebut perhatian netizen, beberapa fitur dan algoritmanya yang ramah bagi pendatang baru, membuat media sosial ini mengalahkan “media sosial senior” seperti facebook dan instagram. Fitur tayangan langsung (live) yang memiliki menu kirim hadiah berupa gift dan bisa ditukar dengan rupiah oleh penerimanya mengundang kreativitas tanpa batas. Banyak pengguna yang mencari sensasi dengan menayangkan aktivitas unik bahkan “nyeleneh” guna merebut viewer dan mendapat gift. Namun sayangnya, istilah kreativitas kreator konten TikTok belakangan dinilai cukup meresahkan, banyak dari mereka yang menayangkan aktivitas mandi lumpur, joget, menampar diri sendiri, tidur di dekat WC dan hal-hal aneh lainnya. Mereka seperti lupa untuk menjaga harga dirinya demi penonton yang banyak dan gift yang tidak pasti. Islam mengajarkan kita untuk menjaga harga diri dan mengindari aktivitas yang tidak bermanfaat. Apalagi aktivitas yang dengan sengaja mempertontonkan “kebodohan” kepada khalayak melalui media sosial. Berangkat dari pandangan terebut, kami mencoba mencari tahu bagaimana fenomena ini bisa berkembang, apa motivasi kreator konten dalam menayangkan fenomena tersebut dan bagaimana islam memandang hal tersebut melalui riset pustaka media. The development of technology, information and communication (ICT) has brought several changes in society. TikTok, Facebook and Instagram, as the best-selling social media, play a very important role in these socio-cultural changes, especially youth who are the most consumers. Especially the presence of TikTok (which in 2021 became the most downloaded social media application, quoted by Apptopia, Sunday [2/1/2022], TikTok has 656 million downloads globally, beating Instagram, 545 million, Facebook 416 million, WhatsApp 395 million, and Telegram 329 million) have such a big influence in the occurrence of new phenomena of social and cultural change. Tiktok grabs the attention of netizens, some of its features and algorithms are friendly for newcomers, making this social media beats senior social media like facebook and instagram. The live broadcast feature, which has a menu to send gifts and can be exchanged for rupiah by recipients, invites unlimited creativity. Many users are looking for sensation by broadcasting unique and even "odd" activities in order to seize viewers and get gifts. But unfortunately, the term creativity of TikTok content creators has recently been considered quite disturbing, many of them broadcast mud baths, dancing, slapping themselves, sleeping near the toilet and other strange things. They seem to have forgotten to keep their pride for the sake of a large audience and an uncertain gift. Islam teaches us to maintain self-respect and avoid useless activities. Moreover, activities that deliberately show "stupidity" to the public through social media. Departing from this view, we are trying to find out how this phenomenon can develop, what is the motivation of content creators and how Islam views it through media literature research.
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PENDIDIKAN ISLAM Muhammad Fauzi; Moh. Samsul Arifin
AL - IBRAH Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v8i1.217

Abstract

The goal of the study is to examine further the use of information and communication technology in the realm of Islamic education, especially in the field of education. Islamic education has become the main focus in many Islamic countries around the world. In this digital era, Information and Communication Technology (ICT) plays a crucial role in the development of Islamic education. ICT has brought many changes to the Islamic education system, ranging from learning methods to administrative management. This article discusses the use of ICTs in Islamic education, its benefits, and how its use can maintain Islamic values. First, the use of ICTs in Islamic education has allowed distance learning. In distance learning, teachers and students can communicate using video conference technology. This method is very helpful for those who live far from the education center or do not have the financial ability to study in a distant place. The use of ICTs also allows students to have access to educational resources such as books, articles, and videos online. A wise decision was made to use ICT in Islamic education through the development of Islamic education applications. This Islamic education application can be used to facilitate students in accessing subject materials or extracurricular activities. Some Islamic education applications also offer interactive features that can help students understand the subject matter in a more meaningful way. Third, the use of social media can also help expand the reach of Islamic education. Many Islamic education communities have used social media as a platform to share information and promote education activities. However, it should be remembered that the use of ICTs in Islamic education could also pose risks. Inaccurate information, negative content, and misuse of technology are some of these risks. Therefore, it is critical to maintain Islamic values in the use of ICT in education. This can be done by developing ICT platforms that are in accordance with Islamic principles. In addition, it can be done by educating students about the use of ICTs that are responsible and in accordance with Islamic values. The use of ICTs also needs to be carefully monitored to ensure that Islamic values are maintained. Therefore, the use of ICTs in Islamic education needs to be developed. In this study, the library method, or what is known as library research, analyses literature, books, notes, and various other reports related to the problem. integration of this technology has many benefits that can be put into practice.
ARTIFICIAL INTELEGENCE (AI) DAN POLITIK: ANALISIS TERHADAP PERAN DAN SIGNIFIKANSI AI DALAM KOMUNIKASI POLITIK 2024 DI INDONESIA Arifin, Moh. Samsul
Hudan Lin Naas: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 1 (2025): Jurnal Hudan Linnaas Vol 6 No. 1, 2025
Publisher : Al-Amien Prenduan University, Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/hudanlinnaas.v6i1.1860

Abstract

In this digital era, Artificial Intelligence (AI) has emerged as a profound and innovative tool across various aspects of human life—including entertainment, economy, education, and increasingly, the political sphere. The rapid development of AI in recent years has shown significant impact, including its involvement in political party decision-making processes. This study explores the political relevance of AI utilization within the realm of political communication, focusing on the analysis of its role and significance in the dynamics of Indonesia’s 2024 general election campaign. The aim is to examine AI’s potential in the political landscape by identifying the types of AI employed, both as supporting tools and in other assistive capacities. Through a qualitative approach, this research investigates the impact of AI on modernizing political campaign strategies, enhancing the efficiency of political communication, and influencing decision-making processes within political contexts. The methodology includes content analysis of campaign materials involving AI technologies and observation of political interactions mediated by artificial intelligence. Accordingly, this study seeks to provide an in-depth understanding of how the utilization of AI in political campaigns can shape political dynamics, public opinion, and democratic processes in Indonesia. The findings reveal that AI has been employed not only as a tool for generating visual content and political narratives but also as a strategic communication medium to shape voter perception and increase public engagement. Generative AI technologies, such as image generators, have demonstrated emotional appeal in political campaigns, as evidenced in the campaigns of Prabowo-Gibran and Andra-Dimyati. These findings indicate that AI contributes significantly to the transformation of modern political communication, influencing both public opinion and the democratic process in Indonesia.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERIODISASI SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM Fauzi, Muhammad; Arifin, Moh. Samsul
AL - IBRAH Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v7i1.187

Abstract

Karakter berkaitan dengan teknis dan cara yang digunakan untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan ke dalam sebuah tingkah laku maupun tindakan. Karakter diperoleh dari nilai-nilai atau pandangan seseorang yang diwujudkan ke dalam bentuk tingkah laku. Dalam menanamkan sebuah karakter pada peserta didik yang paling utama adalah lembaga pendidikan yang memberikan penanaman karakter serta akhlak kepada peserta didik dalam segenap aktivitasnya di lingkungan belajarnya. Meliputi pendidikan tata karma, disiplin, kerjakeras, sopan, santun, kejujuran serta memiliki rasa tanggung jawab seperti yang biasa diprankan oleh lembaga pendidikan madrasah. Pentingnya penguatan pendidikan berkarakter salah satu usaha dalam mengembangkan peserta didik sesuai dengan dalam nilai-nilai Pancasila sekaligus selaras dengan lingkungan dimana peserta didik tersebut berinteraksi.