Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Asuhan Keperawatan Penerapan Senam Kaki Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Dengan Perfusi Perifer Tidak Efektif Eka Kurniawati; Eko Wardoyo; Mesya Mesya
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang menjadi penyebab utama kematian di dunia dan penyebab utama penyakit jantung, ginjal, dan kebutaan. Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan. Senam kaki, aliran darah meningkat, reseptor menjadi lebih aktif, sehingga mengurangi peningkatan glukosa darah pada pasien diabetes. Tujuan penelitian ini untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan perfusi perifer tidak efektif di RSUD Jend A Yani Metro. Karya Ilmiah Akhir ini berfokus pada tindakan keperawatan, dengan menggunakan metode Pre Eksperimen yaitu penulis melakukan tindakan Pre dan Post, jumlah sampel pada penelitian 2 responden yaitu Ny. S dan Ny. L. Tindakan keperawatan yang dipilih yaitu penerapan terapi senam kaki diabetes. Terapi senam kaki diabetes dilakukan selama 30 menit selama 3 hari. Hari pertama sebelum perlaku 257 menjadi 230 mg/dl. Perlakuan hari kedua melakuan pengecekan sebelum dan sesudah dari 230 mg/dl menjadi 203 mg/dl. Untuk hari ketiga diterapkan terapi dengan hasil penurunan gllukosa darah dari 203 mg/dl menjadi 176mg/dl. Penelitian ini diharapkan menjadi tambahan ilmu bagi keluarga khususnya pada klien DM selama dirumah sehingga klien dapat menurunkan glukosa darah pada penderita DM.Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang menjadi penyebab utama kematian di dunia dan penyebab utama penyakit jantung, ginjal, dan kebutaan. Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan. Senam kaki, aliran darah meningkat, reseptor menjadi lebih aktif, sehingga mengurangi peningkatan glukosa darah pada pasien diabetes. Tujuan penelitian ini untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan perfusi perifer tidak efektif di RSUD Jend A Yani Metro. Karya Ilmiah Akhir ini berfokus pada tindakan keperawatan, dengan menggunakan metode Pre Eksperimen yaitu penulis melakukan tindakan Pre dan Post, jumlah sampel pada penelitian 2 responden yaitu Ny. S dan Ny. L. Tindakan keperawatan yang dipilih yaitu penerapan terapi senam kaki diabetes. Terapi senam kaki diabetes dilakukan selama 30 menit selama 3 hari. Hari pertama sebelum perlaku 257 menjadi 230 mg/dl. Perlakuan hari kedua melakuan pengecekan sebelum dan sesudah dari 230 mg/dl menjadi 203 mg/dl. Untuk hari ketiga diterapkan terapi dengan hasil penurunan gllukosa darah dari 203 mg/dl menjadi 176mg/dl. Penelitian ini diharapkan menjadi tambahan ilmu bagi keluarga khususnya pada klien DM selama dirumah sehingga klien dapat menurunkan glukosa darah pada penderita DM.
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Pemberian Foot Spa Diabetic Untuk Mengurangi Gejala Neuropati Terhadap Nilai Ankle Brachial Index Nur Hasanah Pratiwi; Hana Zumaedza Ulfa; Eko Wardoyo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data terbaru International Diabetes Federation (IDF) edisi ke-11 tahun 2025, diperkirakan 1 dari 9 (11.1%), salah satu komplikasi pada pasien diabetes melitus adalah neuropati diabetik. Neuropati diabetik merupakan gangguan saraf yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa darah yang kronis sehingga merusak serabut saraf tepi. Penurunan perfusi perifer menyebabkan penurunan sensasi, nyeri neuropatik, dan peningkatan risiko ulkus diabetik. Foot spa diabetic merupakan intervensi komplementer yang bertujuan meningkatkan sirkulasi darah perifer melalui perendaman air hangat dan pijatan lembut. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penerapan foot spa diabetic dalam meningkatkan nilai ABI dan mengurangi gejala neuropati pada pasien DM tipe 2. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus, subjek dalam penelitian ini adalah pasien yang mengalami neuropai diabetik, variabel dalam penelitian ini adalah Nilai ABI dengan foot spa diabetic, dengan melakukan intervensi foot spa diabetik selama 3 hari pemberian. Intervensi dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Pengukuran ABI pra-intervensi menunjukkan nilai 0,58 pada Klien 1 dan 0,46 pada Klien 2, yang mengindikasikan gangguan perfusi sedang hingga berat. Setelah tiga sesi foot spa, Pada pasien 1 hari ke 1 : 0,62 hari ke 2 :0,82 dan hari ke 3 : 0,94. Pada pasien 2 hari ke 1 : 0,50 hari ke 2 : 0,75 dan hari ke 3 : 0,91. terjadi peningkatan nilai ABI masing-masing menjadi 0,94 dan 0,91. Selain itu, pasien melaporkan penurunan kesemutan, peningkatan rasa hangat pada kaki, dan perbaikan kenyamanan. Hasil ini menunjukkan bahwa foot spa dapat meningkatkan perfusi perifer melalui vasodilatasi, stimulasi sirkulasi, dan relaksasi neuromuskular. Kesimpulannya, foot spa diabetic merupakan intervensi sederhana, non-invasif, dan efektif untuk meningkatkan nilai ABI serta mengurangi gejala neuropati pada pasien DM tipe 2. Intervensi ini direkomendasikan sebagai bagian dari praktik perawatan kaki diabetik.
Senam Diabetes Efektif Menurunkan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Asih Yuliyanti; Hardono Hardono; Mesya Mesya; Eko Wardoyo
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 12 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.256

Abstract

Abstrak Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat resistensi insulin dan gangguan fungsi sel beta pankreas. Salah satu pilar penatalaksanaan DM tipe 2 adalah aktivitas fisik seperti senam diabetes, yang berfungsi menurunkan kadar glukosa darah. Mengetahui pengaruh senam diabetes terhadap kadar glukosa darah pasien diabetes melitus tipe 2 di Prolanis PRB Puskesmas Rawa Bening Kecamatan Buay Madang Timur. Artikel ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimental one group pre-test post-test. Sampel berjumlah 28 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu dilakukan sebelum dan sesudah senam diabetes selama empat minggu. Uji normalitas data menggunakan Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi tidak normal (p < 0,05), sehingga analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Median kadar glukosa darah sebelum senam sebesar 241 mg/dL (188–400 mg/dL), menurun menjadi 198 mg/dL (110–339 mg/dL) sesudah senam. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), artinya terdapat perbedaan signifikan antara kadar glukosa darah sebelum dan sesudah senam diabetes. Senam diabetes berpengaruh signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe 2. Senam ini dapat dijadikan kegiatan rutin dalam program Prolanis di Puskesmas sebagai sarana non-farmakologis yang efektif untuk pengendalian glukosa darah. Kata Kunci:   Diabetes Melitus Tipe 2; Kadar Glukosa Darah; Senam Diabetes;   Abstract Type 2 diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterised by elevated blood glucose levels due to insulin resistance and impaired pancreatic beta cell function. One of the pillars of type 2 DM management is physical activity such as diabetes exercise, which serves to lower blood glucose levels. To determine the effect of diabetes exercise on blood glucose levels in type 2 diabetes mellitus patients at Prolanis PRB Puskesmas Rawa Bening, Buay Madang Timur District. This article uses a quantitative design with a pre-experimental one-group pre-test post-test approach. The sample consisted of 28 respondents selected using total sampling technique. Blood glucose levels were checked before and after four weeks of diabetes exercise. The Shapiro-Wilk normality test showed a non-normal distribution (p < 0.05), so the analysis used the Wilcoxon Signed Rank Test. The median blood glucose level before exercise was 241 mg/dL (188–400 mg/dL), decreasing to 198 mg/dL (110–339 mg/dL) after exercise. The Wilcoxon test results showed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference between blood glucose levels before and after the diabetes exercise programme. Diabetes exercise significantly affects the reduction of blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus. This exercise can be used as a routine activity in the Prolanis programme at the Community Health Centre as an effective non-pharmacological means of controlling blood glucose. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus; Diabetes Exercise; Blood Glucose Levels;