Ni Made Dian Sulistiowati
Universitas Udayana

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Gambaran Persepsi dan Pengalaman Mahasiswa Baru Keperawatan pada Fase Awal Perkuliahan Putu Sri Febriyanti; Ni Made Dian Sulistiowati; Kadek Eka Swedarma
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/formil.v8i2.488

Abstract

Mahasiswa baru program studi keperawatan mengalami berbagai perubahan yang disebabkan oleh peralihan dari sekolah menengah ke perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan pengalaman mahasiswa baru Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Udayana pada beberapa bulan pertama perkuliahannya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yang dilakukan pada bulan Oktober 2022. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling dan diperoleh 33 orang mahasiswa baru sebagai responden penelitian. Desain penelitian ini menggunakan metode cross-sectional, dengan kuesioner online yang digunakan sebagai instrumen pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 responden (57,57%) berusia 18 tahun, dan sebagian besar berjenis kelamin perempuan (93,93%). Sebanyak 17 responden (51,51%) merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), dan sisanya merupakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan. 29 responden (87,87%) menyatakan bahwa kuliah di program studi keperawatan merupakan pilihannya sendiri. Sistem pendukung yang paling dominan dimiliki oleh responden adalah teman sebaya (57,57%). Sebanyak 14 responden (42,42%) menyatakan bahwa materi ajar dan praktik di program studi keperawatan tergolong berat. 21 responden (63,63%) mengatakan bahwa jadwal perkuliahan tergolong padat, dan 9 responden (21,21%) mengatakan bahwa perkuliahan di program studi keperawatan tidak sesuai dengan ekspektasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 25 responden (75,75%) mengalami cemas dan perasaan berat untuk menghadiri perkuliahan dalam waktu 30 hari terakhir. Berdasarkan beberapa masalah tersebut, ditemukan bahwa 7 responden (21,21%) ingin pindah dari program studi keperawatan. Data-data tersebut menunjukkan bahwa kuliah di program studi keperawatan memberikan beban psikologis yang cukup besar bagi mahasiswa baru. Maka dari itu, peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya dapat mengembangkan intervensi yang mampu meningkatkan kenyamanan mahasiswa baru dan mampu membantu mahasiswa untuk beradaptasi dengan proses pendidikannya.
GAMBARAN KEJADIAN BURNOUT SYNDROME PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT DAERAH MANGUSADA BADUNG Ni Putu Ika Pertiwi; Kadek Eka Swedarma; Putu Ayu Emmy Savitri Karin; Ni Made Dian Sulistiowati
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i03.p11

Abstract

Burnout syndrome merupakan kondisi stres kronis yang dialami oleh perawat akibat beban kerja yang tinggi, tekanan emosional, serta tuntutan pekerjaan yang berlebihan. Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan mental perawat dan kualitas pelayanan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian burnout syndrome pada perawat di Rumah Sakit Daerah Mangusada Badung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 90 perawat rawat inap yang diambil dengan teknik proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Maslach Burnout Inventory Human Service Survey (MBI-HSS). Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat mengalami burnout pada kategori sedang. Berdasarkan karakteristik responden, burnout lebih banyak terjadi pada perempuan (55,1%), kelompok usia dewasa awal (56,3%), tingkat pendidikan S1/Ners (61,2%), dan masa kerja ≥3 tahun (47,8%). Simpulan dalam penelitian ini yaitu kejadian burnout syndrome pada perawat di RSD Mangusada Badung berada pada kategori sedang. Diperlukan upaya promotif dan preventif seperti edukasi manajemen stres, pengaturan beban kerja, dan pemberian dukungan psikologis untuk menurunkan risiko burnout syndrome.
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN IDE BUNUH DIRI PADA LANSIA DI DESA PEMOGAN KECAMATAN DENPASAR SELATAN Baiq Elsa Astina Martiana; Kadek Eka Swedarma; Ni Made Dian Sulistiowati; Ni Luh Putu Eva Yanti
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p08

Abstract

Kecemasan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi ide bunuh diri pada lansia cenderung masih diabaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan ide bunuh diri pada lansia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan 97 responden yang didapatkan menggunakan metode multistage random sampling. Jumlah responden pada penelitian ini adalah 97 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Geriatric Anxiety Inventory (GAI) untuk mengukur kecemasan dan Geriatric Suicide Ideation Scale (GSIS) untuk mengukur ide bunuh diri pada lansia. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Sebagian besar responden memiliki kecemasan pada kategori ringan (57,7%) dan tidak memilki ide bunuh diri (55,7%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dengan ide bunuh diri pada lansia (p=0,019) di Desa Pemogan Denpasar Selatan. Selain itu, pihak puskesmas diharapkan membuat program konseling yang berfokus pada manajemen cemas, konflik antar pasangan, serta edukasi terkait perkembangan lansia untuk mengatasi kecemasan dan mencegah ide bunuh diri pada lansia.
HUBUNGAN CULTURAL COMPETENCE DENGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PERAWAT DI RSUD BALI MANDARA Komang Chintya Trisna Devi; Ni Putu Emy Darma Yanti; Komang Menik Sri Krisnawati; Ni Made Dian Sulistiowati
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p12

Abstract

Komunikasi terapeutik perawat di wilayah medical tourism menjadi kompetensi yang wajib dimiliki. Adanya pasien yang berasal dari berbagai latar belakang budaya menyebabkan komunikasi terapeutik ini dapat dipengaruhi oleh cultural competence perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cultural competence dengan komunikasi terapeutik pada perawat di RSUD Bali Mandara. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari-Juni 2024. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Sampel berjumlah 62 perawat yang diperoleh melalui teknik proportionate stratified random sampling. Cultural competence dan komunikasi terapeutik diukur menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar perawat berjenis kelamin perempuan, berpendidikan diploma keperawatan, beragama Hindu, bersuku Bali, berbahasa Bali, Indonesia, dan Inggris, pernah merawat pasien dari berbagai budaya hampir setiap hari, dan memiliki cultural competence serta komunikasi terapeutik yang cukup baik. Rata-rata perawat berusia 30,71 tahun dan lama kerja 7,82 tahun. Nilai tengah dari lama mengikuti pelatihan/seminar perawatan kompeten secara budaya adalah 2 jam. Uji statistik yang digunakan adalah Pearson Product Moment. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan yang kuat dan bernilai positif antara cultural competence dengan komunikasi terapeutik perawat (nilai p = 0,000; r = 0,592; α = 0,05). Hubungan positif tersebut memiliki arti bahwa semakin baik cultural competence perawat maka semakin baik pula kemampuan komunikasi terapeutiknya, begitu sebaliknya. Perawat yang memahami budaya pasien dapat memberikan perawatan yang lebih optimal dan mampu menghindari terjadinya kesalahpahaman komunikasi dengan pasien dan keluarganya.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT STRES MAHASISWA TINGKAT SATU PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA I Made Sucitayasa; Ni Made Dian Sulistiowati; Kadek Eka Swedarma; Putu Ayu Emmy Savitri Karin
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p14

Abstract

Mahasiswa awal merupakan mahasiswa yang berada pada tahap awal studi di perguruan tinggi, biasanya pada tahun pertama atau kedua yang rentan terjadi stres. Salah satu faktor yang berhubungan yaitu dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat stres mahasiswa tingkat satu Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 94 orang sebagai responden dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner tentang tingkat stres dan dukungan sosial. Hasil uji analisis dilakukan dengan menggunakan spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan 77,6% mengalami stres sedang, 62,8% dengan dukungan sosial yang tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan tingkat stres mahasiswa tingkat satu Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan nilai r = -0,301 dan p = 0,003. Oleh karena itu, dukungan sosial sangat diperlukan oleh mahasiswa tingkat satu untuk beradaptasi di lingkungan perkuliahan yang baru.
HUBUNGAN SELF-COMPASSION DENGAN RESILIENSI CAREGIVER ORANG DENGAN SKIZOFRENIA (ODS) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS III DENPASAR UTARA Ni Kadek Shanti Widya Pertiwi; Putu Ayu Emmy Savitri Karin; Ni Made Dian Sulistiowati; Kadek Eka Swedarma; I Nyoman Dharma Wisnawa
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p10

Abstract

Caregiver dalam merawat Orang Dengan Skizofrenia (ODS) akan merasakan beban berat yang mengharuskan caregiver memiliki kemampuan resiliensi yang baik. Self-compassion merupakan faktor yang dapat memengaruhi resiliensi caregiver. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-compassion dan resiliensi caregiver ODS. Metode penelitian ini merupakan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif korelatif dan desain penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 84 orang caregiver di wilayah kerja Puskesmas III Denpasar Utara. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Skala Welas Diri (SWD) dan Connor-Davidson Resilience Scale short version (CD-RISC-10) dalam versi bahasa Indonesia. Responden dalam penelitian ini sebagian besar merupakan laki-laki (67%) dan orang tua dari ODS (48%). Caregiver mayoritas berusia 48 tahun dan telah merawat ODS selama 1 tahun. Hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan bahwa nilai korelasi (r) sebesar 0,726 dan p-value sebesar 0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara self-compassion dan resiliensi. Diharapkan bagi keluarga untuk mempertahankan tingkat self-compassion dengan mengikuti pelatihan di fasyankes terdekat.
PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI PENCEGAHAN BUNUH DIRI (PBD) TERHADAP SELF-AWARENESS REMAJA DI SMAN 1 DAWAN Gusti Ayu Putu Mira Trisnayanthi; Ni Made Dian Sulistiowati; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p01

Abstract

Bunuh diri adalah tindakan melukai diri sendiri dengan sengaja untuk mengakhiri hidup, dan sering terjadi di kalangan remaja. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan meningkatkan kesadaran diri (self-awareness) remaja, yang merupakan kemampuan memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar. Peningkatan kesadaran diri dapat dicapai melalui edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi pencegahan bunuh diri terhadap kesadaran diri remaja di SMAN 1 Dawan, yang dilakukan dalam dua kali pertemuan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi eksperimental one group pretest and posttest. Teknik pengambilan sampel adalah simple random sampling dengan 27 siswa SMAN 1 Dawan sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SAOQ (Self-Awareness Outcome Questionnaire). Hasil uji paired t-test menunjukkan p = 0,364 (p > 0,05) yang berarti tidak signifikan. Simpulannya, tidak ada pengaruh edukasi pencegahan bunuh diri terhadap kesadaran diri remaja di SMAN 1 Dawan. Pihak sekolah disarankan untuk lebih menonjolkan program konseling dan memberikan edukasi tentang kesehatan mental kepada siswa.