Ni Luh Putu Eva Yanti
Universitas Udayana

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

GAMBARAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA PRASEKOLAH DI PAUD GANESWARA, KARANGASEM Galuh Suryati Nareswari; Luh Mira Puspita; Ni Luh Putu Eva Yanti; Kadek Cahya Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p06

Abstract

Perkembangan sosial emosional pada anak merupakan aspek penting yang dapat memengaruhi hubungan ataupun interaksi sosial individu dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Keterlambatan perkembangan sosial emosional dapat menyebabkan terjadinya masalah sosial emosional berupa penyimpangan perilaku seperti perilaku agresif, gangguan kecemasan, dan tidak mampu mengontrol emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel 42 orang. Instrumen pengambilan data yang digunakan adalah kuesioner The Ages and Stages Questionnaries Social Emotional 2 (ASQ-SE:2) versi Bahasa Indonesia dengan dua kategori usia yaitu tahapan usia 48 bulan dan 72 bulan. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah di PAUD Ganeswara dalam kategori normal yaitu 16 responden (38,1%), monitor 14 responden (33,3%), dan perlu rujukan ahli 12 responden (28,6%). Orang tua/wali diharapkan dapat meningkatkan interaksi untuk memberikan stimulus danmengoptimalkan perkembangan sosial emosional anak.
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN IDE BUNUH DIRI PADA LANSIA DI DESA PEMOGAN KECAMATAN DENPASAR SELATAN Baiq Elsa Astina Martiana; Kadek Eka Swedarma; Ni Made Dian Sulistiowati; Ni Luh Putu Eva Yanti
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p08

Abstract

Kecemasan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi ide bunuh diri pada lansia cenderung masih diabaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan ide bunuh diri pada lansia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan 97 responden yang didapatkan menggunakan metode multistage random sampling. Jumlah responden pada penelitian ini adalah 97 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Geriatric Anxiety Inventory (GAI) untuk mengukur kecemasan dan Geriatric Suicide Ideation Scale (GSIS) untuk mengukur ide bunuh diri pada lansia. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Sebagian besar responden memiliki kecemasan pada kategori ringan (57,7%) dan tidak memilki ide bunuh diri (55,7%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dengan ide bunuh diri pada lansia (p=0,019) di Desa Pemogan Denpasar Selatan. Selain itu, pihak puskesmas diharapkan membuat program konseling yang berfokus pada manajemen cemas, konflik antar pasangan, serta edukasi terkait perkembangan lansia untuk mengatasi kecemasan dan mencegah ide bunuh diri pada lansia.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN RASA KESEPIAN PADA MAHASISWA YANG SEDANG MERANTAU DI UNIVERSITAS UDAYANA Ni Made Diah Pradnyani; Made Oka Ari Kamayani; Ni Luh Putu Eva Yanti; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p05

Abstract

Mahasiswa perantau tinggal di tempat yang berbeda dari tempat tinggal sebelumnya. Hal ini menyebabkan mahasiswa perantau mengalami beberapa permasalahan, salah satunya kesepian. Hubungan interpersonal atau sosial yang baik dengan teman sebaya maupun lingkungan sekitar akan menimbulkan dukungan sosial atau support system bagi mahasiswa yang dapat dijadikan sebagai salah satu strategi untuk mengatasi rasa kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan rasa kesepian pada mahasiswa yang merantau di Universitas Udayana. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-korelatif dengan metode kuantitatif dan menggunakan desain cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini total sampling dengan jumlah sampel 95 orang mahasiswa rantau yang tinggal di Rusunawa dan Asrama Universitas Udayana. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,001 (p<0,05). Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan rasa kesepian pada mahasiswa yang sedang merantau di Universitas Udayana. Nilai koefisien korelasi dalam penelitian ini menunjukkan nilai negatif yang berarti semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya pada mahasiswa rantau, maka semakin rendah rasa kesepian yang dialami oleh mahasiswa tersebut.
ANALISIS BEBAN PENGASUHAN KELUARGA YANG MERAWAT LANSIA DENGAN DEMENSIA Nyoman Anggun Anggraini Sukma; Putu Ayu Sani Utami; Ni Luh Putu Eva Yanti; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p10

Abstract

Keluarga merupakan pengasuh utama yang memberikan perawatan pada lansia demensia di rumah. Merawat penderita demensia dipandang sebagai salah satu bentuk perawatan yang sulit dan menegangkan, karena anggota keluarga yang merawat lansia dengan demensia sering mengalami kesulitan saat menghadapi perubahan besar dalam kepribadian dan perilaku lansia, hal tersebut dapat menimbulkan beban psikologis dan ketegangan fisik atau disebut sebagai beban pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran beban pengasuhan pada keluarga yang merawat lansia dengan demensia di Desa Lebih, Gianyar. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah keluarga yang merawat lansia demensia, menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling sejumlah 96 keluarga. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas beban pengasuhan yang dialami keluarga yang merawat lansia demensia berada pada kategori sedikit atau tidak ada sebanyak 53 orang (55,2%), ringan-sedang sebanyak 25 orang (26%), sedang-berat sebanyak 4 orang (4,2%) dan berat sebanyak 14 orang (14,6%). Lansia dengan kategori demensia berat, beban pengasuhan yang mayoritas dirasakan keluarga yaitu kategori berat (83,3%). Beban pengasuhan dapat dialami oleh keluarga, dimana demensia dengan kategori apapun dapat memberikan beban bagi keluarga. Skrining rutin perlu dilakukan bagi lansia untuk mendeteksi dini sebaran demensia, bagi keluarga dapat mencari kegiatan pengalihan peran dan mengoptimalkan dukungan anggota keluarga lain.
PERBEDAAN SUCCESSFUL AGING PADA LANSIA YANG TINGGAL DI PEDESAAN KAWASAN PARIWISATA DAN NON PARIWISATA Desak Made Novi Andayani; Ni Luh Putu Eva Yanti; Kadek Eka Swedarma; Putu Ayu Sani Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p09

Abstract

Indonesia memasuki periode aging population. Peningkatan pertumbuhan lansia secara kuantitas belum tentu diikuti dengan peningkatan kualitas hidup. Successful aging merupakan tujuan dari perkembangan tahap akhir pada lansia. Perbedaan pencapaian successful aging salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan successful aging pada lansia yang tinggal di pedesaan kawasan pariwisata dan non pariwisata. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif pada 86 lansia yang tinggal di kawasan pariwisata dan 82 lansia yang tinggal di kawasan non pariwisata yang dipilih melalui proportionate random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner successful aging. Hasil penelitian yang diperoleh dengan uji t tidak berpasangan (tingkat kepercayaan 95%) adalah p-value = 0,004 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan successful aging pada lansia yang tinggal di pedesaan kawasan pariwisata dan non pariwisata. Perbedaan successful aging lansia disebabkan oleh kondisi lingkungan tempat tinggal lansia. Lansia yang tinggal di kawasan pariwisata lebih bersifat individu dibandingkan lansia yang tinggal di kawasan non pariwisata yang lebih berfokus pada aktivitas sosial bermasyarakat. Diharapkan lansia dapat meningkatkan hubungan sosialnya dan lingkungan tempat tinggal lansia dapat menciptakan lingkungan yang positif bagi lansia sehingga lansia mudah dalam beradaptasi.
GAMBARAN PENGETAHUAN PEMANDU WISATA TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN WISATA ALL-TERRAIN VEHICLES (ATV) DI WILAYAH DESA SINGAPADU KALER Ni Kadek Alya Damayanti; Ni Luh Putu Eva Yanti; Ni Komang Ari Sawitri; Putu Ayu Sani Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p04

Abstract

Ekowisata dengan menggunakan All-Terrain Vehicles (ATV) memiliki risiko kecelakaan bagi wisatawan seperti terguling, perdarahan, patah tulang, dan pingsan. Pemandu wisata ATV belum pernah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan saat berwisata ATV. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan pemandu wisata tentang pertolongan pertama pada kecelakaan pada wisata ATV di wilayah Desa Singapadu Kaler. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif yang melibatkan 36 responden berdasarkan total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan konsep teori yang ada. Penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan pertolongan pertama pada kecelakaan wisata ATV berada pada ketegori baik 75%, kategori cukup 16,7%, dan kategori kurang 8,3%. Pengetahuan P3K pemandu wisata ATV ada beberapa aspek yang sudah baik dipahami seperti penanganan terjatuh, perdarahan, dan saat pingsan. Namun, ada pengetahuan pemandu wisata ATV yang masih kurang dalam menangani patah tulang. Seluruh pemandu wisata ATV menyatakan belum pernah mendapatkan pelatihan P3K dari petugas kesehatan. Peran perawat komunitas di puskemas diperlukan untuk membuat program promosi kesehatan bagi pelayanan upaya kesehatan kerja di wilayah Desa Singapadu Kaler.
GAMBARAN KEMAMPUAN PERSONAL GENITAL HYGIENE PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDA WANA SERAYA Candra Vali Devi Dasi; Ni Luh Putu Eva Yanti; Putu Ayu Sani Utami; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p11

Abstract

Kelompok lansia mengalami proses penuaan sehingga terjadi penurunan fungsional. Kemampuan fungsional lansia yang menurun berpotensi terhadap penurunan kemampuan lansia melakukan personal hygiene khususnya personal genital hygiene. Genital hygiene pada lansia penting untuk diperhatikan karena jika tidak dilakukan dengan baik dapat menimbulkan masalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan personal genital hygiene lansia di Panti Sosial Tresna Werda Wana Seraya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini menggunakan metode total sampling dengan 28 responden. Hasil penelitian ditemukan rata-rata usia lansia adalah 73,39 tahun. Karakteristik lansia didominasi perempuan (78,6%), mayoritas tidak bersekolah (64,29%), dan tingkat kemandirian lansia sebagian besar (67,9%) termasuk dalam tingkat kemandirian tinggi. Kemampuan personal genital hygiene lansia dengan kategori positif ada 18 lansia (64,3%). Namun, masih terdapat lansia yang kemampuannya dikategorikan negatif, lansia perempuan tidak memastikan area genital kering sebelum menggunakan celana dalam 54%. Lansia perempuan juga tidak menggunakan celana dalam dengan bahan yang nyaman serta tidak mengganti celana dalam minimal 2 kali sehari atau popok rutin setiap 4 jam (63%). Lansia perempuan tidak mencukur rambut kemaluan (77%). Saran untuk penelitian ini, diharapkan lansia lebih memperhatikan personal genital hygiene. Keterlibatan pihak pengurus panti sosial untuk membantu dan memperhatikan kemampuan personal genital hygiene lansia kearah yang lebih positif.