Meril Valentine Manangkot
Universitas Udayana

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA GIGITAN ULAR PADA KELOMPOK PETANI DI BANJAR PALAK DESA SUKAWATI Ni Made Dwiyana Sinta; Meril Valentine Manangkot; Made Oka Ari Kamayani; I Made Suindrayasa
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i03.p01

Abstract

Gigitan ular merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di daerah pedesaan, terutama di kalangan masyarakat yang bekerja sebagai petani. Minimnya pengetahuan tentang pertolongan pertama dapat memperburuk kondisi korban. Pertolongan pertama wajib dilakukan untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang pertolongan pertama gigitan ular pada kelompok petani di Banjar Palak Desa Sukawati. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2025 dengan metode analisis deskriptif. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 60 orang yang didapatkan melalui teknik total sampling. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan kuesioner Pengetahuan Pertolongan Pertama Gigitan Ular yang dibuat oleh peneliti dan sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukan tingkat pengetahuan tentang pertolongan pertama gigitan ular mayoritas pada kategori pengetahuan tinggi sebanyak 46 orang (76,70%), kategori pengetahuan sedang sebanyak 11 orang (18,30%), dan kategori pengetahuan rendah sebanyak 3 orang (5%). Dapat disimpulkan meskipun mayoritas memiliki pengetahuan kategori tingkat tinggi akan tetapi masih ada sebagian kecil memiliki pemahaman yang kurang tepat mengenai pertolongan pertama. Intervensi lebih lanjut diperlukan baik dalam bentuk penyuluhan atau paparan informasi yang lebih luas melalui berbagai media agar pemahaman masyarakat semakin baik dan dapat mengurangi risiko komplikasi akibat kesalahan dalam melakukan pertolongan pertama gigitan ular gigitan ular.
PENGARUH EDUKASI DENGAN VIDEO MELALUI PLATFORM TIKTOK TERHADAP EFIKASI DIRI SISWA DALAM MEMBERIKAN PERTOLONGAN PERTAMA KECELAKAAN LALU LINTAS Ni Luh Putu Yunita Kristina; Made Oka Ari Kamayani; Meril Valentine Manangkot; I Kadek Saputra
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p13

Abstract

Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab utama kematian dan cedera di dunia, termasuk di Kota Denpasar yang mencatat angka kecelakaan tertinggi di Bali. Pengetahuan tentang pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas adalah segala sesuatu yang diketahui seseorang terkait dengan pertolongan segera yang diberikan kepada korban kecelakaan sebelum ditangani oleh paramedis. Pengetahuan erat kaitannya dengan efikasi diri. Kurangnya pengetahuan khususnya siswa, dalam memberikan pertolongan pertama. Edukasi melalui media digital seperti video di platform TikTok menjadi salah satu inovasi untuk meningkatkan efikasi diri siswa dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan video melalui platform TikTok terhadap efikasi diri siswa dalam memberikan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas di SMK N 1 Denpasar. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan Pre-Test dan Post-Test. Sampel penelitian adalah siswa SMK N 1 Denpasar yang diambil menggunakan teknik cluster sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner efikasi diri yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Intervensi yang diberikan berupa edukasi melalui video animasi TikTok, diberikan sebanyak satu kali selama 15 menit. Setelah itu diberikan link TikTok agar siswa bisa menonton edukasi berulang kali. Analisis data dilakukan dengan uji statistik untuk membandingkan skor efikasi diri sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok responden. Responden berjumlah 41 orang didapatkan hasil dari Pre-Test efikasi diri sebagian besar dengan kategori sedang yaitu 33 orang (80,5%) sedangkan hasil dari Post-Test efikasi diri sebagian besar dengan kategori tinggi yaitu 29 orang (70,7%).
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN PERILAKU PERTOLONGAN PERTAMA KECELAKAAN PADA PELAKU WISATA DI OBYEK WISATA CEKING DESA TEGALLALANG Nikadek Pramesti Dewi Puspita Sari; Made Oka Ari Kamayani; I Made Suindrayasa; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p07

Abstract

Kecelakaan saat berwisata merupakan hal yang tidak diinginkan namun dapat terjadi. Salah satu obyek wisata yang memiliki potensi terjadinya kecelakaan yaitu obyek wisata Ceking. Lingkungannya yang panas karena berada di pinggir sawah, area lahan yang tidak rata, serta lokasi yang berdekatan dengan jalan raya, meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengunjung. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan perilaku pertolongan pertama, yaitu tindakan cepat yang dilakukan seseorang untuk menyelamatkan korban kecelakaan. Tindakan ini memerlukan efikasi diri, yakni keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengambil tindakan yang dapat memengaruhi keselamatan diri maupun orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan perilaku pertolongan pertama kecelakaan pada pelaku wisata. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelatif yang menggunakan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pelaku wisata yang berada di obyek wisata dengan jumlah sampel 100 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner efikasi diri dan kuesioner perilaku pertolongan pertama kecelakaan. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian didapatkan berdasarkan uji Spearman Rank menunjukkan p = 0,000 dengan nilai r = 0,427, dapat diartikan terdapat hubungan dengan kekuatan sedang antara efikasi diri dengan perilaku pertolongan pertama kecelakaan dengan arah hubungan positif, maka semakin tinggi efikasi diri semakin tinggi juga perilaku dalam memberikan pertolongan pertama kecelakaan. 
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN DIABETES DISTRESS PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II DENPASAR BARAT I Kadek Wira Yoga Prasetya; Meril Valentine Manangkot; Kadek Eka Swedarma
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p10

Abstract

Pasien diabetes melitus tipe 2 sering mengalami stres dalam menghadapi penyakitnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan diabetes distress pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas II Denpasar Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 93 orang yang dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner Diabetes Management Self Efficacy Scale (DMSES) dan Diabetes Distress Scale (DDS). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki efikasi diri yang rendah (62,37%), sedangkan diabetes distress sebagian besar berada dalam kategori sedang (96,8%). Hasil analisis dengan uji Spearman Rank menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara efikasi diri dengan diabetes distress (p value = 0,000, nilai r = -0,677). Berdasarkan hasil analisis ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan diabetes distress pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas II Denpasar Barat. Saran yang dapat diberikan adalah agar perawatan pasien dioptimalkan dengan mempertimbangkan tingkat distress yang dialami oleh pasien diabetes melitus.
HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN KUALITAS TIDUR PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RSUD WANGAYA KOTA DENPASAR Dewa Ayu Putu Dhita Indah Pradhani; Made Oka Ari Kamayani; I Kadek Saputra; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p04

Abstract

Resiliensi merupakan kemampuan individu beradaptasi terhadap kesulitan, ini terkait dengan kualitas tidur terutama dalam menghadapi stres. Resiliensi yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup karena individu lebih mampu mengatasi stres sehingga memengaruhi kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan resiliensi dengan kualitas tidur pasien di ruang rawat inap RSUD Wangaya Kota Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelatif yang menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien rawat inap di RSUD Wangaya, dengan sampel sebanyak 118 pasien yang dipilih dengan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan pada Desember 2024 hingga Januari 2025. Data dikumpulkan melalui lembar kuesioner CD-RISC-10 dan PSQI, hubungan antara resiliensi dengan kualitas tidur kemudian dianalisis dengan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 57 responden (48,3%) mendapatkan skor resiliensi ≥38, sedangkan hasil analisis kualitas tidur didapatkan sebanyak 74 responden (62,7%) mendapatkan skor <5. Uji Spearman Rank menunjukkan p = 0,000 dengan nilai r=-486, maka artinya ada hubungan dengan kekuatan sedang antara variabel resiliensi dengan kualitas tidur pasien di ruang rawat inap RSUD Wangaya. Arah korelasi yaitu negatif, sehingga dapat diartikan ketika semakin tinggi skor resiliensi maka semakin rendah skor kualitas tidur, begitupun sebaliknya. Berdasarkan hasil ini diharapkan perawat dapat merencanakan asuhan keperawatan yang lebih komprehensif dan individual, tidak hanya fokus pada gejala fisik tetapi juga mempertahankan resiliensi dan memperbaiki kualitas tidur pasien.
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN BURNOUT PADA PERAWAT DI RUANG PERAWATAN INTENSIF RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGLI Ida Ayu Putu Puspa Lestari; Meril Valentine Manangkot; Komang Menik Sri Krisnawati; Made Oka Ari Kamayani
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p05

Abstract

Efikasi diri adalah keyakinan bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dalam mengatasi masalah dan melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu. Perawat dengan tingkat efikasi diri yang tinggi cenderung memiliki keyakinan terhadap kemampuannya, dapat mengantisipasi kemungkinan burnout, menemukan solusi terbaik, melaksanakan tugas dengan efektif, dan mendukung orientasi mereka untuk mencapai kesuksesan. Sebaliknya, perawat dengan tingkat efikasi diri rendah cenderung menghindari tugas dan masalah untuk mengurangi tekanan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan burnout pada perawat di Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Daerah Bangli. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasi dan pendekatan cross-sectional. Teknik yang digunakan yaitu total populasi, didapatkan 35 perawat di ruang perawatan intensif RSUD Bangli. Penelitian ini menggunakan uji uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan negatif yang sangat kuat antara efikasi diri dengan burnout perawat di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Umum Daerah Bangli (p-value=0,000 ; r = -0,868). Saran yang dapat diberikan peneliti adalah bagi perawat untuk meningkatkan efikasi diri melalui pelatihan pengembangan diri, menetapkan tujuan realistis, dan mencari dukungan sosial dari rekan kerja.  
HUBUNGAN LITERASI KESEHATAN DENGAN PEMANTAUAN GULA MANDIRI (PGDM) PADA PASIEN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS 1 DENPASAR BARAT Ni Komang Ana Puspa Sari; Meril Valentine Manangkot; Putu Oka Yuli Nurhesti; Desak Made Widyanthari
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p13

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan seumur hidup untuk mengontrol kadar gula darah dan mencegah komplikasi. Pengelolaan penyakit DM memerlukan pemahaman yang baik salah satunya adalah literasi kesehatan. Literasi kesehatan membantu pasien dalam menentukan keputusan untuk mengelola kadar gula darah tetap dalam batas normal. Pengelolaan penyakit DM dapat dilakukan salah satunya dengan melakukan Pemantauan Gula Darah Mandiri (PGDM). Literasi kesehatan dikatakan mendukung pelaksanaan PGDM karena literasi kesehatan yang tinggi akan mendukung praktik PGDM yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan dengan PGDM pada pasien DM tipe 2. Jenis penelitian deskriptif korelatif dengan desain cross sectional pada 71 pasien DM tipe 2 di Puskesmas 1 Denpasar Barat yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu Health Literacy Survey Europe 16 Questionnaire (HLS-EU 16 Q) dan Self Monitoring Blood Glucose Questionnaire (SMBG-Q). Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas responden memiliki literasi kesehatan sedang 31 orang (43,7%). Mayoritas responden memiliki PGDM cukup 36 orang (50,8%). Berdasarkan hasil analisis, didapatkan hubungan positif yang sedang antara literasi kesehatan dengan PGDM pada pasien DM tipe 2 (p-value = 0,000 ; r = 0,463) yang artinya semakin baik literasi kesehatan maka semakin baik PGDM responden. Kesimpulan ada hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan dengan PGDM pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas 1 Denpasar Barat.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT LOKAL MENGENAI BANTUAN HIDUP DASAR PADA KORBAN TENGGELAM DI DAERAH WISATA PESISIR PANTAI SANUR Ni Putu Arin Wirasantini; I Kadek Saputra; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p07

Abstract

Kejadian keterlambatan pemberian pertolongan pada kondisi kegawatdaruratan seperti tenggelam, masih banyak dilaporkan diwisata pesisir pantai salah satunya pada Pantai Sanur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat lokal mengenai bantuan hidup dasar pada korban tenggelam di daerah wisata pesisir Pantai Sanur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observatif yang dilakukan di daerah wisata pesisir Pantai Sanur. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 96 orang masyarakat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data pengetahuan dilakukan pada 27 April sampai 11 Mei 2023 dengan alat ukur berupa kuesioner pengetahuan bantuan hidup dasar. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil mayoritas responden memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 44 orang (45,8%). Mayoritas berusia 46-55 tahun (36,5%), berjenis kelamin perempuan (53,1%), bekerja sebagai pedagang (50%), dan memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA (51%). Sebagian besar tidak memiliki pengalaman menolong korban tenggelam (72,9%) dan belum pernah mengikuti pelatihan bantuan hidup dasar (70,8%). Berdasarkan hasil analisis soal kuesioner, sub pertanyaan mengenai langkah-langkah dan pelaksanaan pemberian bantuan hidup dasar mayoritas dijawab keliru oleh responden. Peneliti merekomendasikan agar masyarakat dapat lebih aktif mencari informasi mengenai pemberian bantuan hidup dasar yang dapat diperoleh dari berbagai media sehingga dapat mengetahui dan dapat memberikan bantuan pada kondisi kegawatdaruratan.
GAMBARAN TINGKAT KEBAHAGIAAN LANSIA YANG TINGGAL PADA PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA DI PROVINSI BALI Octaviana Timorisa Aruan; Putu Ayu Sani Utami; Meril Valentine Manangkot; Putu Ayu Asri Damayanti
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p06

Abstract

Panti Werdha “merupakan” bentuk usaha dari pemerintah dalam memerangi permasalahan sosial seperti lansia yang terlantar. PSTW memberikan pelayanan jaminan hidup, pemeliharaan kesehatan, bimbingan mental, dan spiritual kepada lansia. Lansia merupakan fase akhir dalam kehidupan manusia. Hal ini membuat lansia mengalami banyak kemunduran yang mengakibatkan keluarga harus memberikan perawatan yang optimal kepada lansia. Namun, tidak semua lansia memiliki keluarga ataupun orang yang dapat merawat lansia pada masa tuanya sehingga PSTW menjadi tempat pilihan lansia untuk tinggal. Berbagai kemunduran yang dialami lansia memengaruhi aspek-aspek kehidupannya salah satunya adalah tingkat kebahagiaannya. “Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kebahagiaan lansia yang tinggal” pada PSTW “di” Provinsi Bali. “Metode penelitian” menggunakan desain kuantitatif “deskriptif”, dengan “pendekatan cross-sectional”. Populasi “penelitian ini” “adalah lansia” yang tinggal “di PSTW Wana Seraya dan” PSTW “Jara Mara Pati” menggunakan teknik pengambilan “sampel” purposive sampling sejumlah 40 lansia. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Oxford Happiness Questionnaire. Sebagian besar lansia “merupakan lansia madya dengan rentang” usia “70-79 tahun” sebanyak 42,5%. “Lansia” paling banyak berjenis kelamin perempuan (62,5%). Sebagian besar lansia tidak bersekolah (45%), tidak memiliki penghasilan (65%), masih memiliki keluarga (52,5%), mayoritas beragama Hindu (75%), sehat (62,5%), serta merupakan janda/duda (67,5%). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas lansia tidak bahagia (52,5%) dan paling banyak berada di PSTW Jara Mara Pati (40%). Peran perawat yang dapat dilakukan terhadap penemuan penelitian ini adalah pemberian advokasi hasil untuk dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan lansia secara keseluruhan di PSTW. Adapun juga rekomendasi peneliti untuk peneliti selanjutnya adalah mencari tahu tingkat kebahagiaan lansia berdasarkan spesifikasi penyakit yang diderita lansia.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN EFIKASI DIRI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS 2 DENPASAR BARAT Meirina Novitasari; Meril Valentine Manangkot; Putu Ayu Emmy Savitri Karin; Made Oka Ari Kamayani
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 4 (2025): Agustus 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i04.p01

Abstract

Penyakit diabetes mellitus dapat menjadi pemicu timbulnya dampak negatif baik secara fisik, ekonomi, maupun emosional. Dukungan sosial didefinisikan sebagai rasa memiliki, penerimaan, dan bantuan psikologis yang meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengatasi kondisi stres dengan lebih baik. Dukungan sosial yang baik akan berdampak positif bagi individu, seperti peningkatan kepercayaan diri (efikasi diri). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan dukungan sosial dengan efikasi diri pasien dalam manajemen pengobatan DM Tipe 2 di Puskesmas 2 Denpasar Barat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 73 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menemukan bahwa mayoritas dukungan sosial dan efikasi diri pasien dalam kategori tinggi. Uji statistik hasil penelitian menggunakan Spearman’s Rank Correlation Test. Hasil dari penelitian ditemukan p-value 0,003 < a (0,05) dengan nilai kekuatan 0,339 yang artinya terdapat hubungan yang cukup kuat antara dukungan sosial dengan efikasi diri pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas 2 Denpasar Barat.