Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat pada Pasien Tuberkulosis di Rumah Sakit Mayjen H. A Thalib Kabupaten Kerinci. Puspa Pameswari; Auzal Halim; Lisa Yustika
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 2, No 2 (2016): J Sains Farm Klin 2(2), Mei 2016
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.376 KB) | DOI: 10.29208/jsfk.2016.2.2.60

Abstract

Kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat secara teratur sampai tuntas merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengobatan tuberkulosis paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat Kepatuhan Pemakaian Obat pada Pasien Penderita TB paru di Rumah Sakit Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci, pada bulan April–Juni 2015. Penelitian ini termasuk penelitian observasional (non eksperimental). Pengambilan data menggunakan kuisioner yang dibuat berdasarkan MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) dan CSA (Continous Single-Interval Medication Avaibility). Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 55,56% responden patuh; 33,33% responden cukup patuh dan 11,11% responden tidak patuh dalam pengunaan obat.
UJI AKTIVITAS SISTEM SARAF PUSAT DECOCTA BATANG BROTOWALI (Tinospora Crispa (L.) Hook. f. & Thomson) PADA MENCIT PUTIH JANTAN Selvi Merwanta; Puspa Pameswari; Ozy Maria
Jurnal Akademi Farmasi Prayoga Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Akademi Farmasi Prayoga
Publisher : Jurnal Akademi Farmasi Prayoga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.436 KB)

Abstract

Plants are raw materials that are widely used as herbal medicines. One of the plants used as herbal medicine is brotowali (Tinospora Crispa (L.) Hook. F. & Thomson) The aim of the study was to see the effectiveness of central nervous system stimulants from brotowali stem decocta in male white mice. Tests were carried out with concentrations of brotowali stem dekokta 6.5%, 13%, 26%, negative control (aquadest), and positive control (caffeine). Test parameters observed were motor activity, curiosity test, hanging test, and rotary road test. The results of the study were analyzed using Two-Way ANOVA and continued with the Duncan test. The results showed that decocta of brotowali stem with a concentration of 6.5%, 13%, 26% gave an effect on central nervous system stimulants. The smallest concentration of decocta brotowali stem that can give effect is 6.5% (close to the positive control effect (caffeine).
ANALISIS KUALITATIF WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP PADA PASIEN BPJS DI INSTALASI FARMASI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG Isra Reslina; Puspa Pameswari; Rima An Nisa
Jurnal Akademi Farmasi Prayoga Vol 6 No 1 (2021): Jurnal Akademi Farmasi Prayoga
Publisher : Akademi Farmasi Prayoga Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.131 KB)

Abstract

Instalasi Farmasi di Rumah Sakit merupakan salah satu pelayanan utama karena lebih dari 90% pelayanan kesehatan di rumah sakit menggunakan perbekalan farmasi sehingga pelayanan farmasi yang kurang bermutu akan menimbulkan kerugian. Salah satu upaya pelayanan pasien di Instalasi Farmasi adalah memperoleh obat yang diresepkan oleh dokter dalam waktu singkat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi RSUP Dr. Djamil Padang dengan standar pelayanan minimal rumah sakit. Jenis penelitian ini adalah kualitatif, dengan menggunakan metode Non Probability Accidental Sampling terhadap resep pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi RSUP Dr. M. Djamil Padang, jumlah sampel yang didapatkan sebanyak 349 resep yang diambil selama waktu 1 bulan, yaitu pada bulan maret 2020 dengan 320 resep jadi dan 29 resep racikan. Hasil dari penelitian ini adalah lamanya waktu tunggu pelayanan resep jadi dengan rata-rata mencapai 36 menit 23 detik, sedangkan pada standar pelayanan minimal waktu tunggu pelayanan resep jadi yaitu ≤30 menit. Waktu tunggu pelayanan resep racik dengan rata-rata mencapai 1 jam 9 menit 48 detik, sedangkan pada standar pelayanan minimal waktu tunggu pelayanan resep racik yaitu ≤60 menit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah waktu tunggu pelayanan resep jadi belum sesuai standar, dan untuk waktu tunggu pelayanan resep racikan juga belum sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
Cost-Effectiveness Analysis of Antibiotic Use in Patients with Chronic Obstructive Pulmonary Desease (COPD) Pameswari, Puspa; Aria, Mimi; Zuhriah, Aminah
Jurnal Riset Multidisiplin dan Inovasi Teknologi Том 3 № 01 (2025): Jurnal Riset Multidisiplin dan Inovasi Teknologi
Publisher : PT. Riset Press International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59653/jimat.v3i01.1474

Abstract

Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is a disease with airway limitations that are not completely reversible due to harmful substances or gases. The most common cause of acute exacerbations of COPD is bacterial infection, so treatment that can be done is to use antibiotics. Ineffective drug therapy will affect the effectiveness and costs incurred by patients. The purpose of this study is to find out how cost-effective and antibiotic treatment are in patients with acute exacerbations of COPD. This study uses an observational descriptive method with retrospective data collection based on medical record data and the cost of using antibiotics for Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) acute exacerbations of hospitalization at hospitals. Dr. M. Djamil Padang in 2019-2021. The calculation result with the lowest CER was the combination of levofloxacin and ceftriaxone of Rp. 323.6 and an outcome value of 100%. It can be concluded that the most effective use of antibiotic therapy models in COPD patients with acute exacerbations is the combination of levofloxacin and ceftriaxone.
Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Geriatri Dengan Diabetes Melitus Tipe-2 dan Hipertensi di RSUP Dr. M. Djamil Padang Pameswari, Puspa; Azyenela, Lola
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.820

Abstract

Angka kesakitan pada pasien geriatri cenderung meningkat karena terjadinya penurunan fisiologi tubuh dari pasien geriatri. Penyakit  yang sering diderita pasien geriatri adalah diabetes mellitus dan hipertensi. Interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat, akibat obat lain yang diberikan secara bersamaan sehingga keefektifan atau toksisitas obat berubah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi dan jenis interaksi obat yang terjadi. Sampel pada penelitian ini adalah pasien geriatri dengan penyakit diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi di instalasi rawat inap penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis dengan pengambilan data secara retrospektif, dan dianalisis menggunakan aplikasi drugs.com dan medscape.  Jumlah populasi pada penelitian ini adalah 136 pasien, dan sampel yang memenuhi kriteria inklusi adalah sebanyak 60 pasien. Hasil analisa data didapatkan 47 pasien berpotensi mengalami interaksi obat, dimana terdapat 131 kasus potensi interaksi obat.  Jenis interaksi obat yang terjadi adalah interaksi obat farmakokinetik sebanyak 32 kasus (24,43%), interaksi obat farmakodinamik sebanyak 88 kasus (67,17%) dan interaksi obat yang tidak diketahui ada 11 kasus (8,4%). Tingkat keparahan interaksi obat menunjukkan 23  kasus (17,56%) dengan potensi keparahan minor, 98  kasus (74,81%) dengan potensi keparahan moderat dan 10 kasus (7,63%) dengan potensi keparahan mayor. Penelitian menyimpulkan bahwa ada obat-obat yang berpotensi berinteraksi pada pasien geriatri dengan penyakit diabetes melitus tipe-2 di instalasi rawat inap penyakit dalam RSUP Dr.M.Djamil  Padang tahun 2022 yang dikhawatirkan dapat meningkatkan morbiditas pada pasien geriatri. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi tenega kesehatan untuk mencegah terjadinya interaksi obat.