Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

BEHAVIOR OF HOUSEHOLD WASTE MANAGEMENT Henni Febriawati; Wulan Angraini; Ivan Ahmad Nurcholis; Sarkawi
Proceeding B-ICON Vol. 2 No. 1 (2023): Proceeding of The 3rd Bengkulu International Conference on Health (B-ICON 2023)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/bicon.v2i1.201

Abstract

Bengkulu province experiences an annual accumulation of waste amounting to 38,417.16 tons. The issue of garbage is not something to be taken lightly as it concerns the livelihoods of many people. Practically all waste management leads to landfills, imposing a tremendous burden on these waste disposal sites. It requires not only extensive land but also expensive environmental protection facilities. The increasing volume of waste being sent to the landfill is one of the reasons why there hasn't been a concerted effort to reduce the amount of waste at its source. The aim is to understand the factors that influence household waste management behavior. This study employed a community-based approach with a cross-sectional research design conducted in June and July 2023. The study's population consists of households in the city of Bengkulu in the year 2021. A sample of 542 households was chosen using the simple random sampling method. This study has received an ethical clearance certificate from Bengkulu Health Polytechnic with Reference No. KEPK.BKL/416/06/2023 dated June 30, 2023. The data analysis involves univariate and bivariate analysis, including the chi-square test. The majority of households in Bengkulu City are aged between 29 and 58 years old. They are mostly married, have educational levels below high school, are unemployed, possess limited household knowledge, exhibit a less favorable attitude, and most households demonstrate insufficient behavior regarding household waste management. Age, marital status, education, and occupation show no correlation with behavior in household waste management. There is a relationship between knowledge and attitude with behavior in household waste management. Households with limited knowledge are at an 8.4 times higher risk of displaying insufficient behavior in waste management. Additionally, households with inadequate knowledge face a 8.94 times higher risk of demonstrating deficient behavior in waste management. Regular education-based socialization and accompanying support in waste management can serve as an alternative to enhance households' knowledge and attitude towards waste management. Providing facilities and infrastructure support, such as composters or biopores for organic waste management, as well as offering training on the utilization of inorganic waste, can be a solution to transform community behavior regarding waste management. This will ultimately lead to th
KEAKTIFAN KUNJUNGAN POSYANDU DENGAN STATUS GIZI BALITA: THE ACTIVENESS OF POSYANDU VISITS AND NUTRITIONAL STATUS OF TODDLERS Wulan Angraini; Henni Febriawati; Riska Yanuarti; Tresna Fatmawati; Zulaikha Agustinawati; Sarkawi
Quality: Jurnal Kesehatan Vol 20 No 1 (2026): Quality: Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/qjk.v20i1.2040

Abstract

Introduction: Posyandu (Integrated Health Post) functions as a facility for health consultations and early detection of developmental disorders in toddlers, enabling prompt intervention if problems are found. Toddler compliance in attending Posyandu visits is positively associated with their nutritional status. Objective: To analyze the relationship between the frequency of Posyandu visits and the nutritional status of toddlers. Methods: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design through observation. The study population consisted of mothers of toddlers who visited Posyandu. The sampling technique used was non-probability accidental sampling, with a total of 23 respondents. Data analysis was conducted using the chi-square test. Results: There was a significant relationship between the frequency of Posyandu visits and the nutritional status of toddlers. The more frequently toddlers attended Posyandu, the better their nutritional status. Among the respondents, 5 toddlers with infrequent visits had stunted nutritional status, while 12 toddlers with frequent visits showed normal nutritional status. Conclusion: Regular education and guidance, including home visits, are more effective in monitoring and improving toddlers’ nutritional status. toddlers.
OPTIMALISASI POSYANDU LANSIA MELATI VI TALANG JAMBE MELALUI EDUKASI PTM, TEH SIRIH CINA DAN SENAM PROLANIS Henni Febriawati; Achmad Faisal Rizal; Ike Sri Wahyuni; Sarkawi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 9 No. 1 (2026): APRIL: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/bumir.v9i1.10014

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan layanan Posyandu Lansia Melati VI Kampung Sugih Waras, Kelurahan Talang Jambe, melalui penyuluhan Penyakit Tidak Menular (PTM), edukasi pemanfaatan teh sirih cina (Peperomia pellucida), pemeriksaan tekanan darah, dan senam Prolanis. Metode kegiatan meliputi tahap perencanaan–persiapan, pelaksanaan edukasi menggunakan media leaflet dan diskusi interaktif, skrining tekanan darah, praktik/pendampingan senam Prolanis, serta pemberian teh sirih cina dan pemantauan tekanan darah selama tiga hari berturut-turut. Peserta kegiatan berjumlah 22 pralansia dan lansia. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman peserta tentang faktor risiko, pencegahan, dan pengendalian PTM serta cara pengolahan teh sirih cina. Secara klinis, terjadi penurunan rerata tekanan darah sistolik/diastolik dari 142,95/90,91 mmHg (hari ke-1) menjadi 126,36/81,36 mmHg (hari ke-3). Sebanyak 95,5% peserta mengalami penurunan tekanan darah sistolik setelah pemantauan tiga hari. Kegiatan didukung oleh peran kader posyandu dan kolaborasi dengan UPTD Puskesmas Talang Jambe, namun masih ditemui kendala partisipasi sebagian lansia karena keterbatasan waktu dan kondisi kesehatan. Disimpulkan bahwa pendekatan edukatif, herbal, dan aktivitas fisik terstruktur berpotensi meningkatkan pengetahuan, keterlibatan, serta pengendalian faktor risiko PTM pada lansia; keberlanjutan program memerlukan pendampingan kader dan monitoring berkala.Kata Kunci: Hipertensi, Posyandu lansia, Penyakit Tidak Menular, Senam Prolanis, Teh Sirih Cina.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN SAMPAH RUMAH TANGGA MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR Wulan Angraini; Henni Febriawati; Iis Suryani; Sarkawi; Tresna Fatmawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 7 No. 1 (2024): April : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan sampah rumah tangga untuk dijadikan pupuk organik cair merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk memitigasi dampak buruk limbah tersebut terhadap lingkungan. Memanfaatkan sampah rumah tangga sebagai sumber daya utama untuk pembuatan pupuk organik cair memungkinkan individu menciptakan produk berharga yang secara efektif meningkatkan kesuburan tanah dan mendorong perkembangan tanaman. Inisiatif pengabdian masyarakat ini menggunakan teknik edukasi untuk memberikan panduan mengenai konversi sampah rumah tangga menjadi pupuk organik cair secara tepat dan akurat. Kegiatan ini meliputi sesi penyuluhan mengenai tata cara pengolahan yang tepat, sesi pelatihan produksi pupuk organik cair, serta pengenalan manfaat dan nilai ekonomis produk tersebut. Temuan proyek pengabdian masyarakat ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai produksi pupuk organik cair. Pengetahuan baru ini memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang merugikan lingkungan. Disamping itu, terjadi peningkatan keterampilan masyarakat sehingga mampu membuat pupuk organik cair secara mandiri. Diharapkan adanya dukungan dan tindak lanjut dari pihak terkait dalam memfasilitasi masyarakat dapat mengaplikasikan keterampilan yang telah diperoleh. Selain itu, pihak terkait juga dapat membantu dalam meningkatkan akses pasar bagi produk pupuk organik cair yang dihasilkan oleh masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dalam jangka panjang, diharapkan adanya program pembelajaran yang terus menerus bagi masyarakat dalam mengembangkan keterampilan pembuatan pupuk organik cair, sehingga dapat meningkatkan kualitas produk dan inovasi dalam penggunaan pupuk organik cair yang lebih luas.Kata Kunci: pemberdayaan masyarakat, pupuk organik cair, sampah rumah tangga.
KEAKTIFAN KUNJUNGAN POSYANDU DENGAN STATUS GIZI BALITA: THE ACTIVENESS OF POSYANDU VISITS AND NUTRITIONAL STATUS OF TODDLERS Wulan Angraini; Henni Febriawati; Tresna Fatmawati; Sarkawi; Betrianita Betrianita; Riska Yanuarti
Quality: Jurnal Kesehatan Vol 20 No 1 (2026): Quality: Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/qjk.v20i1.2040

Abstract

Introduction: Posyandu (Integrated Health Post) functions as a facility for health consultations and early detection of developmental disorders in toddlers, enabling prompt intervention if problems are found. Toddler compliance in attending Posyandu visits is positively associated with their nutritional status. Objective: To analyze the relationship between the frequency of Posyandu visits and the nutritional status of toddlers. Methods: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design through observation. The study population consisted of mothers of toddlers who visited Posyandu. The sampling technique used was non-probability accidental sampling, with a total of 23 respondents. Data analysis was conducted using the chi-square test. Results: There was a significant relationship between the frequency of Posyandu visits and the nutritional status of toddlers. The more frequently toddlers attended Posyandu, the better their nutritional status. Among the respondents, 5 toddlers with infrequent visits had stunted nutritional status, while 12 toddlers with frequent visits showed normal nutritional status. Conclusion: Regular education and guidance, including home visits, are more effective in monitoring and improving toddlers’ nutritional status. toddlers.