Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Love-Based Curriculum For The Study of Arbain Nawawi Hadith Number 13, 17, 31 Asmara Windu Azkia; Abdul Rosyad
Edusoshum : Journal of Islamic Education and Social Humanities Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Ikatan Cendikiawan Ilmu Pendidikan Islam (ICIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52366/edusoshum.v5i3.278

Abstract

The rapid development of technology and globalization has contributed to the decline of empathy, love, and compassion in social life, including attitudes toward fellow human beings, animals, and the environment. This condition indicates that contemporary educational challenges are not limited to cognitive aspects but also involve a crisis of humanistic and ecological values. This study aims to examine the values of love and compassion contained in Hadith Al-Arba'in An-Nawawiyyah numbers 13, 17, and 31, and to analyze their relevance to the substance of the Love-Based Curriculum (KBC). This research employs a qualitative descriptive approach using library research methods, with Al-Arba'in An-Nawawiyyah by Imam An-Nawawi as the primary source. The findings reveal that these hadiths emphasize love for fellow human beings, compassion toward animals, concern for the natural environment (kauniyah values), and self-restraint from excessive attachment to worldly matters. These values are closely aligned with the substance and objectives of the Love-Based Curriculum, which positions love and compassion as the foundation of the educational process. Thus, the Love-Based Curriculum can be understood as an educational approach that integrates love, empathy, and socio-ecological awareness, whereby Islamic character education emerges as an implication of the internalization of these values. Hadith Al-Arba'in An-Nawawiyyah, particularly numbers 13, 17, and 31, is therefore relevant as a normative reference for developing humanistic, ethical, and sustainable education.
The Role of Murabbi in Developing the Intelligence of Santri: A Comparative Study of Traditional and Modern Pesantren Abdul Rosyad; Wawan Wahyudin; Endad Musaddad; Wasehuddin Wasehuddin
Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education Vol. 7 No. 3 (2026): Integrative Islamic Education
Publisher : Pascasarjana Universitas KH. Abdul Chalim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/tijie.v7i3.2985

Abstract

Amid rapid socio-technological shifts, Islamic boarding schools (pesantren) face increasing demands to cultivate graduates who are intellectually competent, emotionally resilient, and spiritually grounded. Addressing this need, this study examines the role of the murabbi in developing santri intelligence through a comparative analysis of traditional and modern pesantren in Indonesia. Utilizing a qualitative comparative case study design, data were collected via in-depth interviews, participatory observation, and document analysis involving murabbi, institutional leaders, and santri. Findings reveal that the murabbi acts as a central pedagogical agent in fostering holistic intelligence across intellectual, emotional, and spiritual dimensions. In traditional pesantren, this role is profoundly relational, prioritizing spiritual mentoring and moral exemplarity to nurture emotional and spiritual growth. Conversely, modern pesantren employ structured curricula, academic assessments, and organized character-building programs to systematically integrate all three intelligences. Despite these methodological distinctions, both models share a foundational philosophy anchored in Islamic humanistic values. This research emphasizes the murabbi’s pedagogical agency as a critical determinant of holistic santri development. Practically, it provides strategic recommendations for pesantren leaders to enhance murabbi professional development, institutionalize compassionate mentoring practices, and align academic programs with spiritual-emotional formation, thereby strengthening value-based Islamic education in contemporary contexts.
Urgensi Kecerdasan Emosional dan Spiritual dalam Memperkokoh Ukhuwah Islamiah: Tinjauan Hadist Arbain Nawawi No. 35-36 Zaki Humaidi; Abdul Rosyad
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2301

Abstract

Ukhuwah Islamiyah merupakan elemen fundamental dalam kehidupan umat Islam yang berfungsi menjaga keharmonisan, persatuan, dan solidaritas sosial. Namun, perkembangan zaman menunjukkan bahwa nilai ukhuwah kerap melemah akibat konflik, egoisme, dan rendahnya kesadaran sosial-keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kecerdasan emosional dan spiritual sebagai fondasi dalam membangun persaudaraan yang kokoh. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis urgensi kecerdasan emosional dan spiritual dalam memperkokoh ukhuwah Islamiyah melalui kajian Hadis Arbain Nawawi ke-35 dan ke-36 ditinjau dari aspek tarbawi. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap teks hadis dan literatur pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa Hadis Arbain Nawawi ke-35 mengandung nilai tarbawi berupa pendidikan pengendalian emosi, larangan sikap hasad, kebencian, dan permusuhan yang mencerminkan kecerdasan emosional dalam hubungan sosial. Sementara itu, Hadis ke-36 menekankan pentingnya empati, kepedulian, dan tolong-menolong sebagai manifestasi kecerdasan spiritual yang berorientasi pada kesadaran akan balasan Allah di dunia dan akhirat. Integrasi kecerdasan emosional dan spiritual sebagaimana diajarkan dalam kedua hadis tersebut berperan penting dalam membentuk pribadi Muslim yang berakhlak mulia dan mampu menjaga ukhuwah Islamiyah secara berkelanjutan.
PERAN KURIKULUM BERBASIS CINTA DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL Sandy Andesta Saputra; Abdul Rosyad
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.13470

Abstract

This study aims to explore the strategic role of a love-based curriculum in developing students' emotional intelligence amidst educational challenges that tend to be mechanistic. The research method employed is library research with a qualitative-descriptive approach, where data were collected through content analysis of various primary and secondary literatures relevant to the pedagogy of love and emotional intelligence. The results indicate that the implementation of a love-based curriculum is capable of transforming the learning environment into a psychologically safe ecosystem, thereby significantly stimulating students' self-awareness, emotional regulation, and intrinsic motivation. Love, integrated into the curricular structure, is proven to act as a catalyst for the growth of empathy and social skills through role modeling demonstrated by educators. The resulting behavioral changes are not a form of external compliance but rather a manifestation of new awareness and authentic emotional maturity. In conclusion, a love-based curriculum is a crucial instrument in carrying out social transformation within the educational environment to produce a generation that is not only intellectually superior but also possesses high mental resilience and social sensitivity. This study recommends the importance of affective competence training for educators as a main pillar for the success of this curriculum
EDUKASI PENCEGAHAN PERUNDUNGAN SEBAGAI UPAYA PENGUATAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR DI DESA SUKAMANAH, KECAMATAN MALINGPING, KABUPATEN LEBAK Rizki Amalia; Tika Muslikha Risqiani; Alya Zalfa Zahidah; Muhtaji; Ahmad Hikam; Abdul Rosyad
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perundungan (bullying) merupakan salah satu permasalahan di lingkungan sekolah dasar yang dapat memengaruhi kenyamanan, hubungan sosial, dan pembentukan karakter siswa. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bentuk, dampak, dan pencegahan perundungan sekaligus menanamkan nilai empati, kepedulian, tanggung jawab, toleransi, dan saling menghargai. Kegiatan dilaksanakan di SDN 01 Sukamanah, Kabupaten Lebak, pada 27–29 Juli 2026 dengan melibatkan 359 siswa kelas IV, V, dan VI. Metode yang digunakan berupa edukasi interaktif melalui penyampaian materi, contoh situasi, tanya jawab, dan diskusi. Materi disampaikan dengan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa agar mereka dapat mengenali perilaku perundungan, memahami dampaknya, serta menentukan sikap yang tepat ketika mengalami atau menyaksikannya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya keterlibatan aktif siswa dalam memahami berbagai bentuk perundungan dan cara menyikapinya dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi ini menjadi langkah preventif dalam membangun kesadaran sosial dan mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.